Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Hmm ... dia berbaik hati memasak untuk kita semua?" Kak Charles mendengus sinis. Sorot matanya kembali menajam, menepis jauh-jauh rasa bersalah yang sempat melintas. "Olivia, kalau bukan karena dia, dulu Mama, Papa, dan juga Kakek tidak akan meninggal! Sebaiknya kamu jauhi dia, Olivia. Dia itu pembawa sial!" ucap Kak Charles pada Olivia dengan nada kebencian yang teramat pekat ke arahku.
Mendengar makian yang tak pernah berubah itu, aku hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Air mataku luruh semakin deras, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.
Dari kecil hingga tumbuh besar, hanya Kak Charles yang begitu membenciku ..., batinku dengan rasa sedih yang teramat dalam. Mungkin, kalau kemarin aku benar-benar mati, orang yang akan tertawa paling keras dan merasa sangat bahagia adalah Kak Charles.
Tuduhan itu kembali membuka luka lama yang membusuk di dadaku. Selama belasan tahun, tidak peduli seberapa tulus aku menyayangi mereka, di mata Kak Charles aku tetaplah monster yang merenggut kebahagiaan keluarga ini. Di saat ragaku baru saja merangkak kembali dari ambang kematian, dia tetap berdiri di sana, mengutuk keberadaanku seolah bernapas pun adalah sebuah kesalahan besar bagiku.
"Kak, ini zaman apa coba? Mana mungkin ada hal aneh seperti itu," ucap Olivia tiba-tiba.
Ia mengubah strateginya. Nada suaranya yang tadi berapi-api kini mendadak melunak, digantikan oleh cengkeraman lembut di lengan Kak Charles dan nada bicara yang sengaja dibuat imut. Olivia mencoba mencairkan amarah kakak ketiganya itu. "Olivia kan bintang keberuntungan di keluarga kita. Percaya sama Olivia, semuanya tidak akan terjadi apa-apa, Kak."
Kak Charles tertegun. Bentakan yang sudah siap ia muntahkan kembali tertahan di tenggorokan begitu melihat kilat mata polos dari adik bungsu kesayangannya itu. Selama ini, bagi Charles, Aaron, dan Ethan, Olivia memang dianggap sebagai satu-satunya penawar rasa sakit dan 'bintang keberuntungan' setelah tragedi masa lalu menghancurkan orang tua mereka.
Dari atas brankar, aku hanya bisa menatap interaksi mereka dengan dada yang terasa kian berdenyut nyeri.
Zaman apa coba? Kalimat Olivia terngiang di kepalanya.
Adik kecilku benar, di dunia modern ini, tidak akan ada orang luar yang percaya tentang takdir mistis di telapak tangan kiriku. Sialnya, kutukan itu nyata. Kak Charles dan kakak-kakakku yang lain tidak sedang berhalusinasi; mereka mengurungku di gudang lantai tiga karena mereka tahu persis bahwa tanggal kematian yang kulihat pada Kakek, Papa, dan Mama tidak pernah meleset. Keberanian Olivia membujuk Kak Charles dengan membawa-bawa gelar 'bintang keberuntungan' adalah hal yang sangat manis, tetapi sekaligus membuatku takut jika suatu saat nanti, kutukan di tanganku ini justru akan berbalik mencoreng senyum polosnya.
Bujukan imut dan tatapan polos dari Olivia rupanya benar-benar menjadi senjata paling ampuh untuk meruntuhkan dinding amarah Kak Charles. Perlahan, tangan Kak Charles yang tadi menudingku dengan kasar mulai diturunkannya. Ketegangan pada urat-urat lehernya berangsur memudar, meski napasnya masih terdengar sedikit memburu.
Ia menatap Olivia sesaat, lalu beralih menatapku yang masih terbaring lemah di atas brankar dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipi.
Kak Charles mendengus ketus, membuang muka seolah-olah melihat wajahku adalah sebuah kesialan tersendiri baginya.
"Terserah kamu saja, Olivia," sahut Kak Charles dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar aku mendengarnya. "Kakak lakukan ini semua juga untuk melindungimu dari pengaruh buruk anak ini. Ingat ya, jangan pernah terlalu dekat dengannya kalau kamu tidak mau tertimpa kesialan yang sama!"
Mendengar dengusan ketus dan peringatan kasar yang keluar dari bibirnya, aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Aku menggigit bibir bawahku dengan rapat, menyembunyikan telapak tangan kiriku ke balik lipatan selimut putih rumah sakit yang tebal.
Rasa sakit hati yang amat sangat kembali merayap di dadaku, berkejaran dengan denyutan nyeri di lambungku yang belum sepenuhnya pulih. Di balik kelegaan karena Kak Charles tidak lagi membentak-bentak, ada sebuah kenyataan pahit yang harus kembali kutelan bulat-bulat: sekeras apa pun usaha Olivia untuk menjembatani hubungan kami, di mata Kak Charles, aku akan selalu menjadi monster pembawa petaka yang tidak pernah diinginkan kehadirannya di keluarga ini.
Sementara itu, di sudut ruangan, Kak Ethan yang sejak tadi memperhatikan interaksi kami dari sofa mulai menegakkan posisi duduknya. Mata elangnya menatap Kak Charles dengan tajam, bersiap untuk mengakhiri drama keributan yang sudah terlalu lama mengusik ketenangan di dalam ruang ICU ini.
"Tumben-tumbenan kamu mau makan bersama kami? Biasanya juga cuma tahu mengurung diri di kamar seharian, tidak pernah kelihatan. Lalu kemarin tiba-tiba bersikap aneh. Pasti ada maksud terselubung, kan?" ucap Kak Charles ketus, menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kecurigaan sinis.
"Sudah, sudah! Jangan berdebat lagi!" Kak Ethan tiba-tiba bangkit berdiri dari sofa, memotong ucapan Kak Charles dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa. Atmosfer di dalam ruangan seketika menegang. "Kemarin itu hari ulang tahun Bella. Dia hanya ingin kita semua berkumpul di hari ulang tahunnya."
Mendengar ucapan Kak Ethan, Kak Charles langsung terbungkam seketika. Sepasang matanya melebar karena terkejut. Ego besar yang sejak tadi membentengi dirinya tampak runtuh, digantikan oleh kecanggungan yang amat sangat setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
Ia mematung selama beberapa detik, menatapku yang hanya bisa menunduk diam menahan tangis di atas brankar.
"Kalau memang kemarin ulang tahunmu, kenapa tidak bilang dari awal? Bikin orang lain khawatir saja," gumam Kak Charles dengan nada suara yang mendadak merendah, kehilangan seluruh urat marahnya. Ia salah tingkah, buru-buru memalingkan muka demi menyembunyikan rasa bersalah yang mulai merayap di dadanya. "Aku pergi sekarang. Kamu istirahat dengan baik biar cepat sembuh. Aku... masih ada urusan."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar kaku namun menyiratkan kepedulian yang teramat langka itu, Kak Charles langsung berbalik dan melangkah tergesa-gesa keluar dari kamar rawatku, menutup pintu kaca di belakangnya dengan rapat.
Aku menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan campur aduk. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk mataku perlahan luruh. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun berlalu, kata-kata "...biar cepat sembuh" keluar dari bibir Kak Charles yang biasanya selalu mengutukku sebagai pembawa sial.
"Kak Charles, tunggu! Kakak mau pergi ke mana? Kita baru saja bertemu Kak Bella!" seru Olivia lantang. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari kecil, mencoba mengejar Kak Charles yang melangkah pergi begitu saja.
Namun, Kak Charles tidak memedulikan teriakan adiknya. Pria itu mengabaikan panggilan Olivia sepenuhnya dan terus melangkah lebar membelah koridor rumah sakit, tenggelam bersama rasa canggung dan bersalah yang tak sanggup ia akui secara jujur.
Olivia kembali ke samping brankarku dengan napas sedikit terengah-engah. Wajahnya ditekuk lesu melihat kekerasan kepala kakak ketiga kami, tetapi ia segera menguasai diri. Ia menarik kursinya mendekat, lalu kembali mengambil pisau dan buah apel yang tadi sempat tertunda.
"Kak, jangan dimasukkan ke dalam hati, ya," ucap Olivia lembut sembari fokus mengupas kulit apel di tangannya. Ia mendongak sekilas, menatapku dengan binar mata yang penuh dengan binar penenteram. "Kak Charles memang sifatnya seperti itu. Padahal, aslinya dia hanya mengkhawatirkan Kakak, kok."
Aku tersenyum tipis, menatap gerakan jemari halusnya yang dengan telaten memutari permukaan buah. Rasa perih di lambungku perlahan tersamar oleh kehangatan murni yang dialirkan oleh kalimat tulus dari adik kecilku.
Aku tahu Olivia hanya ingin menghiburku agar aku tidak berkecil hati. Namun, mengetahui bahwa di balik bentakan kasar Kak Charles tadi terselip secercah rasa panik yang membuat pria angkuh itu goyah, sudah lebih dari cukup untuk membuat dadaku terasa hangat. Setidaknya, di malam ulang tahunku yang hampir merenggut nyawa ini, aku menyadari bahwa aku tidak sepenuhnya menjadi sosok yang tak diinginkan di dunia ini.
"Coba deh, Kak. Buahnya manis sekali, manisnya mirip seperti Olivia!" ucap Olivia dengan nada bercanda yang sangat percaya diri. Ia menyodorkan potongan apel itu ke hadapanku sambil menaik-turunkan alisnya yang menggemaskan.
Mendengar lelucon narsis dari adik bungsu kami, dinding ketegangan yang sejak sore tadi membeku di dalam kamar rawat mendadak mencair sepenuhnya.
Suara tawa kecil spontan lolos dari bibirku. Di sudut ruangan, Kak Ethan bahkan tidak bisa lagi menahan topeng dinginnya. Pria yang biasanya selalu kaku itu ikut terkekeh pelan, membiarkan guratan lelah di wajahnya sirna digantikan oleh senyuman tulus yang teramat langka.
"Kamu ini ada-ada saja, Olivia," ucap Kak Ethan dari sofa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib adiknya.
"Benar, kan? Iya, kan, Kak Bella?" seru Olivia tidak mau kalah. Ia langsung memutar tubuhnya menghadapku, menuntut kebenaran demi membela klaim narsisnya tadi.
Aku mengunyah potongan apel manis itu perlahan, lalu menatap wajah polosnya yang penuh harap. "Iya, deh. Kamu memang adik perempuan yang paling manis di seluruh dunia," ucapku tulus.
Mendengar pujian yang keluar langsung dari mulutku, Olivia yang tadinya gencar menggoda kami mendadak terbungkam. Kedua pipinya seketika merona merah jambu karena malu. Ia mendadak salah tingkah sendiri, buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk merapikan sisa kulit buah di atas meja nakas demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Melihat reaksi malunya, tawaku dan Kak Ethan kembali pecah, mengisi ruang rawat rumah sakit yang putih ini dengan kehangatan sebuah keluarga yang utuh—sebuah momen magis yang selama dua puluh dua tahun ini hanya bisa kuimpikan dalam kesunyian gudang lantai tiga.
"Sudah, sudah. Kakak masih ada rapat sekarang," ucap Kak Ethan menyela tawa kami sambil melirik jam tangan peraknya. Topeng tegasnya kembali terpasang, tetapi sorot matanya tidak lagi sedingin dulu. "Kakak tinggal dulu ya," katanya padaku dan Olivia.
Kak Ethan menatap Olivia dengan pandangan protektif. "Kamu di sini saja, temani Kak Bella. Nanti kalau mau pulang, naik taksi saja, ya."
"Iya, Kak. Aku akan tetap tinggal dan menemani Kak Bella di sini," jawab Olivia patuh sembari mengangguk mantap.
Setelah kepergian Kak Ethan, suasana di dalam kamar rawat kembali terasa santai. Aku dan Olivia terus mengobrol dan bercanda ria, menepis sisa-sisa ketegangan yang sempat dibawa oleh Kak Charles tadi. Namun, kehangatan murni itu mendadak sirna saat ponselku yang tergeletak di atas kasur bergetar dan berbunyi nyaring, menandakan ada sebuah pesan masuk.
Aku meraih benda pipih itu dengan kening berkerut. Begitu membuka ruang obrolan, deretan kalimat yang tertera di layar seketika membuat darahku serasa membeku:
Katanya kamu sakit sampai masuk rumah sakit? Bisa tidak, sih, kamu tidak usah bikin kami repot? Jangan selalu menyusahkan dan jangan selalu bermain-main dengan tubuhmu sendiri supaya melemah demi menarik perhatian kami! Perhatikan tubuhmu dan jaga kesehatan, jangan bikin repot keluarga lagi.
Dada bagian kiriku mendadak dihantam oleh rasa nyeri yang luar biasa parah, bahkan jauh lebih menyakitkan daripada peradangan kronis di lambungku. Ternyata, pesan kejam itu dikirim oleh Kak Aaron, kakak kedua kami.
Bikin repot ... menyusahkan ... mencari perhatian? tanyaku pilu, meremas ponsel di genggamanku hingga buku-buku jariku memutih.
Air mata yang sejak sore tadi kuhalau kini kembali mendesak di sudut mataku. Penyakit misterius akibat kutukan tanggal kematian yang hampir saja merenggut nyawaku malam kemarin, ternyata ... ternyata cuma dianggap sebagai cara menjijikkan untuk mencari perhatian di mata Kak Aaron.
Aku menurunkan ponselku dengan perlahan, membiarkan tubuhku membeku dan termenung menatap kosong ke arah selimut putih rumah sakit.
"Kak? Kak Bella kenapa?" suara Olivia yang mendadak cemas seketika membuyarkan lamunan kelamku. Adik kecilku itu meletakkan potongan apelnya, menatapku dengan kening berkerut dalam begitu menyadari perubahan raut wajahku yang mendadak memucat pasi.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~