Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Kolam Renang
Astri bangun dengan tubuh yang lebih segar pagi itu. Semalam, suaminya itu sama sekali tak mengusiknya. Raden Daksa justru membuat Astri tidur dengan begitu nyaman dalam dekapan hangatnya.
Astri melihat ke sekelilingnya. Netranya tak mendapati sosok sang suami. Ia melangkah perlahan keluar dari kamar sambil meregangkan tubuhnya.
Begitu keluar dari kamar, perhatiannya langsung teralih ke kolam renang yang ada di balkon. Astri tersenyum kala mendapati suaminya sedang berenang di kolam itu. Dengan langkah santai, Astri menghampiri Raden Daksa.
"Sudah bangun, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa sambil menatap ke arah istrinya yang tersenyum manis sambil mengikat rambut panjangnya.
"Sampun, Mas. (Sudah, Mas)" Jawab Astri yang kemudian berjongkok di tepi kolam, mendekati suaminya.
"Memang ndak dingin?" Tanya Astri.
"Tidak, Sayang. Justru terasa segar." Jawab Raden Daksa.
"Kita pulang jam berapa, Mas?" Tanya Astri lagi.
"Aku kangen sama Sasa." Imbuhnya kemudian yang membuat Raden Daksa tersenyum.
"Setelah makan siang, kita check out dan langsung jemput Sasa." Jawab Raden Daksa yang membuat senyuman Astri makin lebar.
Astri kemudian memainkan tangannya di permukaan air kolam untuk merasakan suhu air kolam renang. Setelah memastikan jika tak terlalu dingin, Astri kemudian melepas gaun tidur sutra yang ia kenakan.
Gaun itu lolos dengan mudah dari tubuh Astri, menyisakan bra dan cd yang membuat Raden Daksa menelan ludah.
"Sabar Daksa, jangan kamu ulangi lagi kejadian kemarin." Batinnya sambil menatap Astri yang pelahan masuk ke kolam renang.
Perlahan namun pasti, Astri melangkah mendekati suaminya yang berdiri mematung sambil menatap ke arahnya. Saat berada di hadapan suaminya, Astri kemudian mengalungkan tangannya di leher Raden Daksa.
"Kamu sengaja mau menggoda Mas, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.
"Memangnya Mas tergoda?" Astri justru balik bertanya sambil tersenyum manis tanpa mengalihkan tatapannya dari Raden Daksa.
Raden Daksa tak langsung menjawab. Bagaimana mungkin tidak tergoda? Sedangkan semalaman ia mati-matian menahan hasrat dan berujung berenang di kolam untuk meredakan hasratnya.
Tanpa menjawab, Raden Daksa langsung mendekap tubuh Astri dan menyambar bibir istrinya. Tangannya terus bergerak mengusap tubuh mulus Astri yang terasa hangat.
Raden Daksa melepaskan pagutannya, saat nafas mereka mulai terengah. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang sayu, penuh gairah.
"Boleh, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa yang meminta izin istrinya terlebih dulu.
"Iya, Mas." Jawab Astri yang membuat Raden Daksa langsung menyambar lagi bibir istrinya itu.
Ciuman di dalam air itu terasa begitu menggairahkan. Suara riak air kolam pun beradu
pelan dengan desa han tertahan dari tenggorokan
wanitanya.
Raden Daksa membalas ciuman dengan
dominasi yang begitu penuh, menyapu bagian
dalam mulut istrinya sementara jemari besarnya
meraba dan meremas pinggul Astri yang berada
di dalam air.
"Mas... ah..." desa h Astri terputus saat Raden Daksa mengalihkan ciuman ke leher jenjangnya yang basah oleh air kolam.
Dengan satu gerakan cepat, Raden Daksa melepas kaitan pakaian dalam Astri di dalam air, membiarkan dada istrinya itu terbebas tanpa penghalang apa pun.
Raden Daksa meraup dada sang istri sepuas-puasnya, membuat Astri secara refleks melengkungkan punggungnya ke belakang sambil merintih nikmat tatkala jemari Raden Daksa mulai memilin-milin puncak dadanya.
"Mas, rasanya semakin nikmat sekali kalau sedang di dalam air seperti ini." Rintih Astri sembari meremas bahu suaminya yang licin dan
basah.
"Sensasinya lebih panas, kan, Sayangku?"
Sahut Raden Daksa.
Raden Daksa merendahkan tubuhnya sedikit,
membenamkan wajahnya di dada Astri, ia lalu mengisap puncak dada istrinya. Astri mendongak, merasakan nikmat yang luar biasa menjalar dari dadanya ke seluruh saraf-saraf tubuhnya.
Gairahnya membuncah detik demi detik. Wanita itu mendongakkan kepalanya lebih tinggi lagi, membiarkan helaian rambut basahnya yang sudah tergerai, menyentuh permukaan air kolam.
Desa han halus keluar dari sela bibirnya setiap kali lidah Raden Daksa bermain di atas kulit dadanya yang makin memerah akibat tarikan dan lilitan lidah yang begitu kuat.
Raden Daksa mengangkat wajahnya, menatap
mata istrinya yang kini sayu penuh nafsu. Napas pria itu sendiri sudah menderu begitu cepat.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raden Daksa
segera mengangkat tubuh istrinya dengan mudah. la mendudukkan Astri di atas undakan tepi kolam yang terendam air setinggi pinggang.
Raden Daksa merapatkan tubuhnya di antara kedua kaki istrinya yang terbuka lebar itu. Ia kemudian menyingkirkan sisa kain pakaian dalam Astri ke samping.
Pria itu menangkup pinggul istrinya, menarik
tubuh Astri agar tepat berada di ujung undakan
kolam. Ia memasukkan jari telunjuknya, begitu melesak Astri langsung melenguh lirih.
Selagi memainkan jemarinya di bawah sana Raden Daksa melumat bibir sang istri. Sambil masih menghisap lidah Astri, Raden Daksa mulai mengarahkan urat tegangnya dan kemudian melesakkan diri hanya dengan satu dorongan saja.
"Ahh! Mas Daksa!" Erang Astri tertahan, ia
tersentak begitu merasa milik suaminya memenuhi rongga intimnya.
Sensasi hangat dan penuh langsung merambat ke seluruh tubuh keduanya. Air kolam yang membasahi kulit mereka berdua sama sekali
tidak menurunkan suhu panas yang membakar
tubuh mereka sampai ke ujung kepala. Bermain di
dalam air seperti ini rasanya makin nikmat sebab
terasa semakin rapat.
"Enak, Sayang?" Tanya Raden Daksa.
Ia menatap lekat-lekat mata istrinya sementara
kedua tangannya meremas pinggul Astri dengan
kuat selagi mulai bergerak menghujam lembut
istrinya itu.
"Enak sekali, Mas... ahh..." Racau Astri jujur. Ia tidak lagi malu-malu menyuarakan kenikmatan yang ia rasakan.
Raden Daksa menggerakkan pinggulnya. Ritme
awal yang lambat dan dalam itu membuat air
bergolak, menciptakan riak-riak kecil di sekitar mereka.
Tubuh Astri tersentak-sentak, hujaman
Raden Daksa terus menyasar titik sensitifnya. Menit demi menit hilang, tergerus oleh nikmat yang makin meninggi.
"Mas... aku mau sampai... ahh... sebentar
lagi!" Erang Astri tertahan, kuku-kukunya
menancap kuat di kulit punggung telanjang Raden Daksa yang bergerak makin brutal.
"Tahan sebentar, Sayang. Ah enak sekali, Astri." Sahut Raden Daksa dengan napas yang sudah
memburu.
Raden Daksa memberikan beberapa hantaman
terakhir yang sangat dalam dan begitu cepat.
Tepat saat hantaman terakhir menghujam dalam-
dalam, tubuh Astri mengejang begitu hebat.
"Mas Daksa!" Desa h Astri yang mencapai
puncak kenikmatan dengan tubuh bergetar di pelukan sang suami.
Raden Daksa menyusul detik berikutnya dengan
erangan berat. la menghujamkan tubuhnya jauh
kedalam, merasakan nikmat dari cengkraman kewanitaan sang istri yang mengetat lantaran puncaknya.
Pasangan suami istri itu saling mendekap sembari menikmati sisa-sisa pelepasan yang begitu nikmat.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Raden Daksa dengan nafas yang sedikit memburu. Ia kemudian mengecup dahi dan kedua pipi istrinya sebelum membawa sang istri beranjak dari kolam.
🤔🤔
othor kie...🤣😄