"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pelarian di Gua
Dyah Ayu melepas selendang perak dari bahunya dan melilitkannya di bawah kedua ketiak sang Raja.
Simpulnya ia kunci di depan dada, di atas sisik zirah yang licin oleh keringat dan darah. Lambang matahari emas bersulam di ujung selendang kini berlumur debu kapur. Ia menarik simpul itu dengan seluruh berat tubuhnya, menguji. Sutra itu menegang, berderit, tetapi tidak robek.
Sutra raja. Ditenun untuk tahan seratus tahun.
Ia memutar ujung selendang di pergelangan tangannya dua kali, menancapkan tumitnya ke tanah, lalu menarik.
Tubuh Hayam Vira bergeser sejengkal. Hanya sejengkal. Zirah kulit kerbau menggerus kerikil, meninggalkan alur basah berwarna gelap di atas tanah putih.
Langkah-langkah di atas daun jati semakin dekat.
***
Jalan setapak kambing itu lebih curam daripada yang terlihat dari atas.
Celah batu sempit, selebar dua telapak kaki, menurun tajam di sepanjang dinding tebing. Di satu sisi, batu kapur yang kasar dan menonjol-nonjol. Di sisi lain, udara kosong dan gelap.
Dyah Ayu turun lebih dulu, mundur, menghadap ke atas. Selendang perak terbelit di kedua lengannya. Ia membiarkan tubuh Raja tergelincir mengikutinya, perlahan, menahan beratnya dengan seluruh otot punggung dan bahu.
Kemiringan itu membantu. Tanpanya, ia tidak akan mampu menggeser lelaki ini satu langkah pun.
Tetapi kemiringan itu juga berbahaya. Setiap kali tubuh berzirah itu meluncur terlalu cepat, sutra yang melilit lengannya menyentak, mengiris kulit sampai perih. Telapak kakinya yang sudah teriris kerikil di atas tebing kini meninggalkan noda merah di setiap pijakan batu.
Lengannya gemetar. Bahunya terasa seperti dicabut dari sendinya.
Lima belas langkah ke bawah, celah itu melebar menjadi sebuah ceruk. Di baliknya, mulut gua yang rendah, setengah tertutup juntaian akar dan lumut. Udara dingin dan lembap mengalir keluar dari dalamnya, berbau tanah basah dan batu.
Air. Di suatu tempat di dalam sana, ada rembesan air.
Ia menyeret Hayam Vira melewati juntaian akar, masuk ke dalam gelap, sampai tubuh itu tersembunyi di balik tonjolan batu. Lalu ia melepas selendang dari lengannya. Kulit di bawahnya melepuh merah, terkelupas di beberapa tempat.
Ia tidak berhenti.
***
Di atas, di bibir tebing, alur darah dan tanah yang terbongkar masih terlihat jelas.
Dyah Ayu memanjat kembali ke atas setengah jalan. Ia meraup debu kapur dari dinding batu, menaburkannya ke atas noda-noda gelap di jalan setapak. Lalu ia mengumpulkan serasah daun yang menumpuk di ceruk dekat mulut gua. Daun-daun itu lembap, lengket, membusuk oleh rembesan air dari dalam batu. Ia menyebarkannya di atas alur bekas seretan, menutupi goresan zirah di tanah.
Di atas, cahaya obor mulai menari di tepi tebing.
Suara-suara. Kasar, berlogat pesisir. Seseorang menendang batu kerikil, dan kerikil itu jatuh melewati kepala Dyah Ayu, berdenting di dinding jurang.
Ia meraba tanah di sekitarnya. Jemarinya menemukan sebongkah batu kapur sebesar kepala bayi yang sudah longgar dari dinding. Ia mencabutnya, mengangkatnya dengan kedua tangan, lalu melemparkannya ke dalam jurang di sebelah barat. Jauh dari jalan setapak.
Batu itu jatuh, membentur dinding tebing, terpantul, membentur lagi. Bunyi gemuruh panjang menggema ke bawah, bersama longsoran kerikil yang ikut terseret. Lalu bunyi semak-semak berduri di dasar jurang yang patah.
Di atas, suara-suara itu terdiam.
Cahaya obor bergerak ke barat, ke arah suara itu. Seseorang berteriak sesuatu. Seseorang lain tertawa pendek.
Dyah Ayu tidak menunggu untuk mendengar sisanya. Ia merangkak kembali ke dalam gua, dalam gelap, dan menempelkan punggungnya ke dinding batu yang basah. Ia menahan napas.
Di atas, langkah-langkah itu berhenti di bibir tebing. Lama. Cahaya obor mengintip ke bawah, menyapu jurang, menyapu dinding batu. Melewati mulut gua yang tertutup akar dan lumut, tanpa berhenti.
Lalu dari arah utara, terdengar bunyi lain. Derap kuda. Banyak. Teriakan dalam bahasa Kagendra yang tegas, dan dentang logam bertemu logam.
Cahaya obor di atas tebing padam. Langkah-langkah menjauh, tergesa-gesa, ke arah timur.
Sunyi.
***
Di dalam gua, satu-satunya cahaya berasal dari bulan yang menyelinap melalui celah di langit-langit batu. Seberkas pucat jatuh tepat di atas tubuh sang Raja.
Dyah Ayu berlutut di sampingnya.
Ia memotong tali-tali kulit yang mengikat zirah di sisi tubuh Hayam Vira dengan belati naga emas. Satu per satu. Ketika zirah bagian belakang terlepas, ia harus mematahkan sisa batang anak panah yang masih menancap, lalu mengangkat lapisan kulit kerbau itu dengan hati-hati melewati bekas lubangnya.
Raja itu mengerang. Rendah, panjang, dari dasar dadanya.
Di bawah zirah, kain dalamnya basah kuyup oleh darah dan keringat. Dyah Ayu merobeknya dari kerah sampai ke pinggang. Bau yang naik dari luka itu membuatnya mengernyit. Amis darah, dan di bawahnya, bau pahit getah yang mulai membusuk.
Kulit di sekitar luka sudah berubah warna. Ungu kehitaman, membengkak keras, dengan garis-garis gelap yang merayap keluar seperti akar beringin. Ke arah leher. Ke arah jantung.
Mata panah itu tertanam dalam di daging di atas tulang belikat. Dyah Ayu meraba sekelilingnya dengan ujung jari. Ia merasakan ujung-ujung duri baliknya di bawah kulit. Tiga. Melengkung seperti kail pancing.
Kalau ditarik begitu saja, durinya akan membawa serta segumpal daging.
Ia menyeka bilah belati di ujung kain jariknya. Lalu menekan ujungnya ke tepi luka.
Hayam Vira tersentak. Tangannya mencakar lantai gua.
"Gigit ini," ucap Dyah Ayu, menyelipkan sebatang kayu kering di antara gigi Raja itu. "Dan jangan bergerak. Kalau Gusti bergerak, hamba akan memotong lebih dalam dari yang diperlukan."
Ia membuat sayatan pertama. Pendek, tepat di samping duri pertama. Darah gelap meleleh keluar. Ia membuat sayatan kedua. Ketiga. Melebarkan luka cukup untuk membebaskan ketiga duri dari cengkeraman daging.
Kayu di mulut Raja itu berderak. Seluruh tubuhnya menegang seperti tali busur.
Dyah Ayu menjepit pangkal mata panah dengan ujung jarinya yang licin oleh darah. Ia memutarnya sedikit, menyelaraskan duri-duri itu dengan sayatan yang ia buat. Lalu ia menariknya keluar dalam satu gerakan.
Mata panah itu terlepas dengan bunyi basah. Hitam, berduri, berlumur darah yang hampir seperti ter.
Hayam Vira melepaskan kayu dari mulutnya dan terbatuk-batuk, seluruh tubuhnya bergetar.
***
Racunnya masih di sana.
Dyah Ayu bisa melihatnya dari warna darah yang mengalir. Terlalu gelap. Terlalu kental. Garis-garis hitam di bawah kulit masih merayap menuju leher.
Ia meraba bibirnya sendiri dengan ujung lidah.
Kering. Pecah-pecah oleh kemarau dan debu tanah merah. Di sudut bibir kanannya, ada retakan kecil yang tadi siang masih berdarah tipis.
Ibunya tidak pernah menceritakan apa yang terjadi pada orang yang menyedot racun dengan bibir yang pecah. Ibunya tidak perlu menceritakannya.
Dyah Ayu merangkak ke dinding gua, ke tempat rembesan air menetes dari celah batu ke sebuah cekungan kecil. Ia berkumur. Sekali. Dua kali. Ia menggosok bibirnya dengan lumut basah sampai yang terasa hanya dingin dan perih.
Lalu ia kembali ke sisi Hayam Vira. Membungkuk. Menempelkan mulutnya ke luka itu.
Rasa yang pertama memenuhi mulutnya adalah asin dan besi, darah hangat yang kental. Lalu pahit. Pahit yang tajam dan menyengat, seperti mengunyah kulit kina mentah, menempel di langit-langit mulut dan pangkal lidah.
Ia menyedot keras. Lalu memalingkan wajah dan meludahkannya ke lantai batu.
Lagi. Dan lagi.
Pada sedotan kelima, ia merasakan sudut bibir kanannya mulai kebas. Seperti digigit semut, lalu mati rasa. Ia berhenti sejenak, menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Kebas itu menyebar sedikit, lalu berhenti.
Ia berkumur lagi dengan air rembesan. Lalu kembali membungkuk.
Pada sedotan kesembilan, darah yang ia ludahkan tidak lagi sepahit tadi. Merah. Lebih encer.
Dyah Ayu duduk bersandar di dinding gua, napasnya tersengal. Rasa pahit itu masih melekat di mulutnya, tidak mau hilang.
***
"Kenapa?"
Suara itu serak dan pelan. Dyah Ayu menoleh.
Hayam Vira berbaring miring, wajahnya menghadap ke arahnya. Matanya setengah terbuka. Di bawah cahaya bulan yang pucat, kulitnya berkilau oleh keringat dingin. Bibirnya tidak lagi sebiru tadi.
"Kau bisa lari." Setiap kata keluar dengan susah payah. "Kau bisa biarkan aku mati di atas sana. Watugaluh terbalas. Tidak ada yang akan menyalahkanmu. Semua orang akan mengira aku dibunuh orang-orang Kawi."
Dyah Ayu tidak menjawab. Ia mengambil segumpal lumut basah dari dinding gua, meremasnya, lalu mencampurnya dengan tanah kapur yang lembap dari lantai. Ia menekan gumpalan itu ke atas luka di bahu Raja.
Hayam Vira mendesis.
"Kalau Gusti mati di atas sana," ucap Dyah Ayu datar, sambil merobek ujung kain jariknya untuk membalut, "Gusti mati karena anak panah murahan yang dibeli Rakryan Wiradipa dari pemburu gajah di pasar gelap. Bukan karena Watugaluh."
Ia melilitkan kain itu di bahu dan dada Raja. Ketat. Lebih ketat dari yang diperlukan.
"Ayah hamba bertahan sebelas hari melawan Gusti. Ibu hamba mati di dalam balai kadipaten yang Gusti bakar. Tiga ratus orang hamba masih berdiri di alun-alun selatan." Ia menarik simpul balutan itu sampai Hayam Vira mengernyit. "Gusti berutang darah pada Watugaluh. Dan hamba tidak akan membiarkan musuh kita berdua merampok hak hamba untuk menagihnya."
Ia menatap mata Raja itu.
"Gusti tidak boleh mati sebelum utang itu lunas. Di gua ini, hamba yang memberi perintah."
Hayam Vira menatapnya lama. Sudut bibirnya yang pecah bergerak sedikit.
"Kau perempuan paling kejam yang pernah kutemui."
"Hamba belajar dari yang terbaik, Gusti."
***
Demam itu datang setelah bulan bergeser dari celah langit-langit.
Pertama, Dyah Ayu merasakannya dari panas yang memancar dari kulit Hayam Vira, bahkan tanpa menyentuhnya. Lalu tubuh itu mulai bergetar. Pelan pada awalnya, lalu semakin keras. Giginya bergemeletuk. Jemarinya mengepal dan terbuka, mengepal dan terbuka.
Keringat mengalir deras dari pelipisnya, tetapi tubuhnya menggigil seolah berbaring di atas es.
Dyah Ayu membasahi sobekan kain di rembesan air dan meletakkannya di dahi Raja itu. Kain itu menjadi hangat dalam beberapa tarikan napas.
Hayam Vira mulai bergumam. Kata-kata yang tidak lengkap. Nama-nama tempat. Perintah-perintah perang. Sayap kiri, tahan di sungai. Jangan bakar lumbungnya. Lalu sesuatu yang tidak bisa Dyah Ayu tangkap.
Tubuh yang dulu mengangkatnya seringan selembar kain kini berguncang tanpa daya di lantai batu. Lelaki yang dulu meremukkan pergelangan tangannya dengan satu cengkeraman kini bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri.
Dyah Ayu mengulurkan tangan untuk mengganti kain di dahinya.
Jemari Hayam Vira menangkap tangannya.
Cengkeramannya gemetar, panas seperti bara. Tetapi lebih kuat dari yang seharusnya mungkin bagi lelaki yang sedang sekarat. Ia menarik tangan Dyah Ayu, lalu menarik tubuhnya, sampai Dyah Ayu jatuh ke atas dadanya yang bergetar.
Detak jantung di bawah telinganya tidak lagi pelan dan teratur seperti dulu. Cepat, tidak beraturan, seperti genderang yang ditabuh oleh tangan yang mabuk.
Lengan Raja itu melingkari punggungnya, mengunci. Wajahnya yang basah oleh keringat demam terbenam di rambut Dyah Ayu.
"Jangan," bisiknya. Suaranya pecah, berbeda dari suara mana pun yang pernah Dyah Ayu dengar keluar dari mulut lelaki ini. Suara seorang anak kecil. "Jangan naik ke menara barat, Bu. Jangan minum wedangnya lagi."
Dyah Ayu berhenti bernapas.
Lengan yang memeluknya semakin erat. Tubuh panas itu bergetar di bawahnya.
"Aku melihatnya, Bu," racau Hayam Vira, nyaris tak terdengar, ke dalam rambutnya. "Aku melihat siapa yang membawanya setiap malam."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..