NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Hari yang paling ditakuti oleh Lin Fan akhirnya tiba.

Matahari pagi di atas Sekte Awan Mengalir memancarkan cahaya yang luar biasa benderang, seolah-olah bola api raksasa itu pun ikut antusias menyaksikan Turnamen Sekte Luar yang legendaris. Langit bersih tanpa awan, berwarna biru safir yang jernih, menciptakan latar belakang yang megah bagi ribuan murid yang berkumpul di Arena Utama Puncak Awan.

Arena tersebut adalah sebuah amfiteater raksasa yang dibangun dari bongkahan batu gunung yang diperkuat oleh formasi pelindung. Di tengahnya terdapat panggung utama yang sangat luas, dikelilingi oleh tribun bertingkat yang kini penuh sesak oleh tiga ribu murid luar, ratusan murid dalam, dan para tetua yang duduk di barisan paling atas dengan jubah mereka yang berkibar tertiup angin gunung.

Suasananya sangat bising. Suara ribuan orang yang berbicara, dentingan senjata yang sedang disiapkan, dan musik perkusi dari genderang perang menciptakan getaran yang bisa dirasakan di ulu hati. Di bagian tengah tribun kehormatan, Su Qingxue duduk dengan anggun, matanya yang sebiru es menyapu kerumunan, mencari satu sosok yang kini menjadi pusat dari seluruh obsesi spiritualnya.

Namun, di tengah kemeriahan yang memekakkan telinga itu, ada satu keanehan yang mencolok.

Tepat di tengah-tengah panggung utama, di tempat yang biasanya disediakan untuk wasit atau petarung yang sedang berlaga, berdiri sebuah objek yang dibungkus kain perak tebal. Di sekelilingnya, empat murid penegak hukum berdiri tegak, menjaga objek tersebut seolah-olah itu adalah jantung dari sekte mereka.

"Di mana dia? Apakah 'Master Dapur' itu benar-benar akan datang?" bisik seorang murid luar kepada rekannya.

"Entahlah. Aku mendengar dia menolak untuk berjalan kaki karena takut debu di jalanan akan mengotori tidurnya," jawab yang lain dengan nada antara skeptis dan kagum.

Tiba-tiba, suara terompet kerang raksasa bergema panjang, membungkam kegaduhan arena.

"Peserta terakhir dari Babak Unggulan... Lin Fan dari Puncak Dapur Luar!" seru wasit turnamen, suaranya diperkuat oleh teknik Singa Mengaum.

Semua mata tertuju ke arah koridor pintu masuk sebelah selatan. Keheningan yang aneh menyebar, mulai dari tribun bawah hingga ke barisan para tetua.

Dari kegelapan koridor, munculah sebuah pemandangan yang akan tercatat dalam sejarah Sekte Awan Mengalir sebagai momen paling absurd sekaligus mengguncang jiwa.

Bukan seorang prajurit gagah dengan pedang terhunus yang muncul. Melainkan sekelompok pria bertubuh gempal dan berotot—para koki dan pelayan Dapur Luar—yang berjalan dengan langkah seragam yang sangat lambat dan penuh penghayatan. Di pimpinan barisan adalah Wang Ta, yang mengenakan celemek bersih dan wajah yang sangat serius, seolah-olah dia sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya.

Mereka membawa sebuah tandu kayu raksasa yang dibuat secara dadakan namun sangat kokoh. Dan di atas tandu itu, duduklah sebuah kursi goyang rotan.

Di atas kursi goyang itu, Lin Fan sedang meringkuk dengan posisi menyamping. Sebuah selimut linen putih menutupi kakinya, dan sebuah bantal sutra es menghimpit pipi kirinya. Matanya tertutup rapat. Tangannya memegang sebuah kipas bulu spiritual yang bergerak pelan secara otomatis, memberikan angin sejuk pada wajahnya yang tampak sangat damai.

Kreeet... kreeet...

Hanya suara deritan kursi goyang itu yang memecah keheningan arena saat tandu itu perlahan menaiki tangga panggung utama.

Lin Fan sama sekali tidak bangun. Dia bahkan tidak terbangun saat tandu itu berhenti tepat di tengah arena.

Wang Ta dan Zhao Er menurunkan tandu itu dengan kehati-hatian yang sangat ekstrem, seolah-olah jika kursi itu bergoyang satu milimeter lebih keras, langit akan runtuh. Setelah kursi diletakkan dengan stabil, Wang Ta melangkah maju, membungkuk dalam-dalam ke arah Lin Fan yang masih mendengkur halus, lalu berbalik menghadap tribun para tetua.

"Melapor kepada Pemimpin Sekte dan para Tetua!" suara Wang Ta menggelegar, dipenuhi kebanggaan. "Master Lin Fan telah tiba! Beliau saat ini sedang berada dalam tahap 'Meditasi Penyatuan Tidur dan Alam'. Beliau meminta agar pertandingannya segera dimulai tanpa harus mengganggu ritme pernapasan sucinya!"

Seluruh arena seolah-olah membeku.

Ribuan murid luar menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. Mereka mengharapkan seorang ahli yang misterius, tapi yang mereka dapatkan adalah seorang pemuda yang membawa tempat tidurnya ke medan perang.

"Dia... dia benar-benar tidur?!" teriak seorang murid dari tribun belakang. "Ini penghinaan! Ini turnamen suci, bukan kamar asrama!"

Namun, kemarahan murid-murid itu terhenti seketika saat mereka melihat reaksi dari tribun kehormatan.

Pemimpin Sekte Linghu perlahan berdiri dari kursinya. Matanya yang tajam menatap Lin Fan yang sedang tidur. Dia tidak marah. Sebaliknya, senyuman tipis muncul di bibirnya. Dia menoleh ke arah Tetua Inspeksi yang berdiri di sampingnya.

"Lihat itu," bisik Linghu, suaranya bergetar oleh kekaguman yang dalam. "Duduk di tengah ribuan orang yang berteriak, di bawah terik matahari, dan tetap mampu mempertahankan ritme napas yang begitu tenang dan kosong. Ini bukan sekadar tidur... ini adalah demonstrasi dari 'Ketidakpedulian terhadap Duniawi'. Dia sedang mengajari kita bahwa semua kebisingan ini hanyalah ilusi."

Tetua Inspeksi mengangguk mantap. "Benar, Pemimpin Sekte. Dan perhatikan bagaimana dia memosisikan tubuhnya. Meski terlihat malas, namun setiap sudut sendinya sejajar dengan aliran Qi bumi di bawah panggung ini. Dia tidak perlu berdiri untuk bertarung, karena panggung ini sudah menjadi bagian dari tubuhnya."

Di tribun lain, Su Qingxue menatap Lin Fan dengan mata yang berbinar. Ia mencengkeram pegangan kursinya hingga kayu gioknya retak. Senior... jadi ini cara Anda menghadapi dunia? Anda bahkan tidak menganggap turnamen ini layak untuk membuat Anda membuka mata. Begitu mendalam... begitu tenang.

Sementara itu, di dalam pikiran Lin Fan yang sedang terlelap...

Lin Fan sebenarnya sedang menggerutu dalam hati. Dia tidak sedang melakukan meditasi tingkat tinggi. Dia hanya sedang berusaha keras untuk tidak muntah karena rasa mual akibat ayunan tandu Wang Ta yang sedikit tidak stabil saat menaiki tangga tadi.

Sialan, Wang Ta... aku bilang pelan-pelan, bukan goyang-goyang seperti kapal dilanda badai, keluh Lin Fan dalam mimpinya.

Ia bisa merasakan panas matahari mulai membakar kulitnya, namun untungnya 'Kipas Angin Otomatis' miliknya bekerja dengan baik. Ia juga merasakan ribuan tatapan mata yang menusuknya, namun ia sudah memutuskan: selama sistem tidak memaksanya bangun, dia akan berpura-pura mati sampai turnamen ini selesai.

[Ding! Misi Turnamen Dimulai!]

[Pertandingan Pertama: Lin Fan vs. Chen Hu (Murid Luar Tingkat 7).]

[Syarat Kemenangan: Menangkan pertandingan tanpa melepaskan bantal dari wajah Host.]

[Hadiah: Teknik 'Langkah Bayangan Malas' dan Pengalaman Kultivasi +1500.]

Lin Fan merintih secara mental. Chen Hu? Tingkat 7? Itu adalah orang yang sama yang kabarnya bisa menghancurkan batu besar dengan satu pukulan. Dan aku harus menang tanpa melepas bantal? Sistem, kau ingin aku menjadi badut atau menjadi Master?

"Chen Hu! Naik ke panggung!" seru wasit.

Seorang pemuda bertubuh raksasa dengan otot-otot yang menonjol seperti lilitan ular sanca melompat ke atas panggung. Setiap langkahnya membuat panggung batu itu bergetar. Dia memegang sebuah kapak raksasa di punggungnya, dan wajahnya dipenuhi oleh amarah yang membara.

Chen Hu menatap Lin Fan yang sedang tidur di kursi goyang dengan rasa jijik yang luar biasa.

"Oi, Pelayan!" teriak Chen Hu, suaranya menggelegar. "Bangun! Kau pikir kau siapa, berani meremehkanku seperti ini? Aku akan menghancurkan kursi rongsokanmu itu beserta tulang-tulang malasmu!"

Lin Fan tidak bergeming. Ia hanya menggeser posisi tidurnya sedikit, membuat bantal sutra esnya menutupi hidungnya lebih rapat.

"Wasit! Apakah aku boleh menyerang orang yang sedang tidur?" tanya Chen Hu dengan geram.

Wasit melirik ke arah tribun Tetua. Setelah mendapatkan anggukan dari Tetua Inspeksi, wasit mengangkat tangannya.

"Pertandingan... DIMULAI!"

Chen Hu tidak membuang waktu. Dia meraung seperti binatang buas, energi Qi berwarna cokelat tanah meledak dari tubuhnya, menciptakan tekanan udara yang kuat di sekitar panggung. Dia menarik kapak raksasanya dan menerjang maju.

"Mati kau!"

Chen Hu mengayunkan kapaknya dalam gerakan vertikal yang sangat kuat, bertujuan untuk membelah Lin Fan dan kursi goyangnya menjadi dua bagian simetris.

Namun, tepat saat mata kapak itu berjarak satu inci dari kepala Lin Fan, terjadi sesuatu yang tidak masuk akal.

Lin Fan, yang masih dalam keadaan mata tertutup dan memeluk bantal, secara tidak sadar mengaktifkan pasif 'Aura Bantalan Awan' dan 'Kursi Goyang Energi Qi'.

Kursi goyang itu tiba-tiba berayun ke belakang dengan sendirinya, digerakkan oleh aliran Qi yang ditarik secara paksa dari serangan Chen Hu. Ayunan itu terjadi begitu cepat namun halus, membuat kapak Chen Hu hanya menebas udara kosong di depan hidung Lin Fan.

Wush!

Karena tenaga yang dikeluarkan Chen Hu terlalu besar dan tidak mengenai sasaran, gravitasi dan momentum menyeret tubuh raksasanya ke depan. Dia kehilangan keseimbangan.

Lin Fan, dalam tidurnya, merasa ada hembusan angin yang sangat kencang (dari kapak Chen Hu) yang mengganggu kenyamanannya. Secara refleks, Lin Fan menggerakkan tangan kirinya yang bebas untuk menghalau angin tersebut, seolah-olah dia sedang mengusir lalat yang mengganggu tidurnya.

Gerakan tangan Lin Fan sangat lambat, loyo, dan sama sekali tidak terlihat bertenaga.

Namun, tangan itu secara tidak sengaja menyentuh pergelangan tangan Chen Hu yang sedang limbung.

Ting.

Melalui 'Mata Persepsi Malas' yang aktif secara bawah sadar, sentuhan jari Lin Fan tepat mengenai titik pusat saraf di pergelangan tangan Chen Hu—sebuah titik lemah di mana seluruh energi Qi Chen Hu sedang berkumpul untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Sentuhan kecil itu merusak sirkulasi energi Chen Hu seketika.

BOOM!

Bukan Lin Fan yang meledak, melainkan energi Chen Hu sendiri yang berbalik menyerang tubuhnya karena jalurnya terputus secara mendadak. Tubuh raksasa Chen Hu tiba-tiba terpental ke belakang dengan kecepatan yang jauh lebih besar dari saat dia menyerang tadi.

Chen Hu terbang melintasi panggung, melewati pembatas arena, dan mendarat dengan keras di tumpukan pasir di luar area pertandingan. Dia langsung pingsan dengan mata putih yang terlihat, sementara kapak raksasanya tertancap jauh di dinding tribun.

Arena Utama mendadak menjadi sunyi senyap. Lebih sunyi daripada kuburan di tengah malam.

Bahkan angin seolah-olah berhenti berhembus.

Tiga ribu murid luar berdiri mematung. Para murid dalam menelan ludah dengan susah payah. Su Qingxue menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca karena pencerahan yang baru saja ia saksikan.

Di tengah panggung, Lin Fan hanya mendengus pelan dalam tidurnya. Dia menarik selimutnya sedikit lebih rapat karena merasakan udara menjadi sedikit lebih dingin setelah ledakan energi tadi.

"Satu sentuhan..." bisik Tetua Puncak Pedang dari tribun atas, suaranya gemetar. "Dia bahkan tidak membuka mata. Dia menggunakan kekuatan lawan untuk menghancurkan lawan itu sendiri. 'Bertarung tanpa Bertarung'... 'Menang tanpa Bergerak'. Inilah puncak dari segala teknik bela diri!"

Pemimpin Sekte Linghu perlahan duduk kembali, napasnya berat. "Dia tidak hanya menang. Dia menang sambil tetap mempertahankan kondisi meditasi tidurnya. Master Lin... Anda benar-benar sedang menunjukkan kepada kami semua betapa dangkalnya usaha kami selama ini."

Wasit, yang tangannya gemetar hebat, akhirnya mengangkat benderanya.

"Pemenangnya... LIN FAN!"

Sorak-sorai yang memekakkan telinga meledak dari tribun Dapur Luar. Wang Ta, Zhao Er, dan ratusan pelayan lainnya menangis dan berpelukan, meneriakkan nama Lin Fan seolah-olah dia adalah kaisar mereka yang baru saja menaklukkan sebuah benua.

Lin Fan terbangun sedikit karena suara teriakan yang sangat bising itu. Dia membuka matanya satu milimeter, melihat langit biru di atasnya, lalu melihat Wang Ta yang sedang menari-nari di pinggir panggung.

"Berisik..." gumam Lin Fan.

Ia membalikkan tubuhnya ke posisi miring yang lain, membelakangi kerumunan, dan kembali tenggelam ke dalam tidur yang lebih dalam, sama sekali tidak menyadari bahwa di hari pertamanya di turnamen, dia baru saja menjadi legenda yang membuat seluruh sekte gemetar hanya dengan satu kibasan tangan malas.

[Ding! Pertandingan Pertama Selesai!]

[Hadiah dikirimkan: Teknik 'Langkah Bayangan Malas' berhasil dipelajari secara otomatis.]

[Pengalaman Kultivasi +1500. Inisiasi Terobosan Otomatis: Selamat! Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 8!]

Lin Fan merengut dalam tidurnya saat merasakan tubuhnya kembali menjadi lebih kuat dan padat. Berhenti membuatku kuat, sistem sialan... aku hanya ingin tidur.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!