Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Jejak Darah Masa Lalu
Suasana di Alun-Alun Astagina telah berubah menjadi lautan kekacauan yang tak terkendali. Teriakan warga desa yang ketakutan beradu dengan derap langkah sepatu yang berat dari para prajurit elit kerajaan.
Debu yang tadinya tenang di permukaan tanah kini beterbangan, menciptakan kabut tipis yang menyesakkan napas.
Lebih dari lima puluh prajurit bersenjata tombak panjang dan perisai baja berat membentuk lingkaran rapat, mengurung Wira yang masih berdiri santai di tengah panggung yang sudah mulai retak akibat hantaman energi sebelumnya.
"Serahkan dirimu, Bocah Sialan! Atau kau akan mati dengan tubuh penuh lubang tombak!" teriak sang Komandan pasukan dari bawah panggung. Suaranya menggelegar, diperkuat oleh sedikit tenaga dalam yang membuat telinga orang-orang di sekitarnya berdenging.
Wira menatap sekeliling dengan tatapan malas. Ia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang dikepung oleh pasukan paling mematikan di kerajaan tersebut.
Dengan gerakan lambat, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat caping bambunya sedikit miring. Ia sempat melirik ke arah Panglima Mahesa yang masih terduduk lemas di sudut panggung, mencoba mengatur napasnya yang sesak akibat aliran energinya yang dikacaukan oleh tongkat kayu Wira.
"Aduh, Paman Komandan, bicaranya jangan keras-keras begitu. Nanti kalau tenggorokannya sakit, siapa yang mau memarahi prajurit baru besok pagi? Lagipula, saya ini cuma tamu undangan yang kebetulan terlalu berbakat, tidak perlu disambut dengan tombak sebanyak itu, kan?" ucap Wira sambil menyeringai jenaka. Matanya berkilat penuh kenakalan, seolah ia sedang menikmati permainan kucing dan tikus ini.
"Lancang! Serang!" perintah sang Komandan tanpa ampun lagi. Ia merasa martabat militer kerajaan sedang diinjak-injak oleh seorang remaja yang bahkan tidak memiliki alas kaki yang layak.
Sepuluh prajurit barisan depan merangsek maju secara serentak. Ujung tombak mereka yang terbuat dari baja hitam berkilau dingin di bawah cahaya matahari, mengarah tepat ke titik-titik vital tubuh Wira.
Koordinasi mereka sempurna, tidak menyisakan ruang bagi lawan biasa untuk menghindar. Namun, Wira bukanlah manusia biasa yang bisa dikepung dengan taktik militer standar.
Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan energi murni yang selama ini dipupuk di Hutan Terlarang mengalir deras dari pusat batinnya ke seluruh pembuluh darah, hingga ke ujung-ujung jarinya.
"Maaf ya, Paman-paman Prajurit, aku benar-benar sedang buru-buru. Ada janji makan malam dengan beberapa teman siluman di pinggir kota!"
Wira menghentakkan kakinya ke lantai panggung dengan satu gerakan pendek namun berbobot. Kekuatan hentakannya begitu dahsyat hingga papan jati setebal lima inci yang dikenal sangat kuat itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.
Serpihan kayu beterbangan ke udara, menciptakan tabir asap dan material yang pekat, menghalangi pandangan para prajurit. Di tengah kekacauan itu, Wira menggunakan 'Jurus Langkah Angin Tanpa Jejak', sebuah teknik pergerakan tingkat tinggi yang diajarkan oleh Dewi Shinta Aruna.
Wush!
Tubuh Wira melesat ke udara dengan kecepatan yang mustahil, melewati kepala para prajurit seolah-olah berat tubuhnya tidak lebih dari sehelai bulu yang tertiup angin puyuh.
Namun, di antara kerumunan penonton, terdapat beberapa pemanah handal kerajaan yang sudah bersiap. Saat Wira berada di puncak lompatannya, sebuah anak panah berujung perak melesat ke arah jantungnya dengan kecepatan suara. Anak panah itu bukan senjata biasa, itu dialiri energi kanuragan tingkat perunggu yang sangat tajam.
Ting!
Tanpa perlu melihat, Wira memutar tongkat kayu lusuhnya di udara. Suara benturan kayu dan logam itu terdengar nyaring. Anak panah itu terpental jauh, menghantam tiang bendera utama kerajaan hingga patah menjadi dua bagian.
Wira mendarat dengan seringan kapas di atas atap tribun penonton yang tinggi, tepat di samping seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya dengan jantung yang berdegup kencang.
"Kenapa diam saja di sini, Kakak Cantik? Mau menonton pertunjukan gratis sampai selesai atau mau ikut aku mencari udara segar?" goda Wira pada Sekar Arum yang berdiri di sana dengan wajah yang tertutup cadar biru.
Sekar Arum mendengus kesal, namun tangannya sudah menggenggam erat gagang sepasang pedang pendeknya.
"Kau terlalu banyak bicara, Wira! Lihat ke bawah, mereka mulai menyiapkan jaring penjerat energi! Cepat ikuti aku lewat jalur atap belakang, para penjaga gerbang kota sudah mulai menutup akses keluar!" ucap Sekar dengan sedikit kesal namun lucu.
Keduanya mulai melompat dari satu atap ke atap lainnya dengan lincah. Gerakan mereka bagaikan dua bayangan yang menari di atas genting-genting ibu kota yang megah.
Di bawah mereka, ratusan prajurit berlarian mencoba mengejar, namun kecepatan para praktisi kanuragan yang sudah terlatih di alam liar seperti Wira bukanlah tandingan bagi pasukan darat yang terbebani zirah berat.
Setelah beberapa menit melakukan aksi pelarian yang mendebarkan, mereka sampai di pinggiran kota, tepat di dekat sebuah reruntuhan kuil tua yang sudah lama terbengkalai.
Tempat itu sunyi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin malam yang mulai turun. Langkah Sekar terhenti di depan sebuah pilar batu yang sudah retak. Ia menatap Wira dengan wajah yang sangat serius, jauh dari kesan ramah atau jenaka yang biasanya ia tunjukkan saat mereka bertemu di perbatasan hutan.
"Wira, berhenti sebentar. Ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum kita benar-benar meninggalkan ibu kota ini," ucap Sekar, suaranya sedikit gemetar karena emosi yang tertahan.
Wira berhenti memutar tongkatnya. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer dari nada bicara Sekar. Hawa ceria yang biasanya menyelimuti Wira perlahan menyusut, digantikan oleh kewaspadaan yang tajam. "Ada apa, Kak? Wajahmu serius sekali. Apa ubi bakarnya benar-benar ketinggalan di penginapan? Kalau iya, biarkan aku kembali sebentar, sayang kalau tidak di makan."
"Ini bukan waktunya untuk bercanda, Wira!" bentak Sekar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tadi, saat kau bertarung dengan Mahesa di panggung utama, aku melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Ayah Mahesa, sang Menteri Pertahanan, mengeluarkan sebuah lencana rahasia dari balik jubahnya untuk memanggil pasukan elit pemusnah. Lencana itu terbuat dari emas hitam dengan gambar burung elang yang memiliki mata merah darah dari batu delima. Wira... itu adalah lencana yang sama dengan yang kulihat tujuh tahun lalu, di pakaian prajurit-prajurit yang membantai keluargamu di desa itu!"
Wajah Wira yang biasanya penuh dengan senyum komedi seketika membeku.
Matanya yang tadinya cerah dan penuh binar kenakalan berubah menjadi gelap, sedalam sumur tua yang tak berdasar.
Udara di sekitar reruntuhan kuil itu mendadak menjadi sangat dingin, hingga rumput-rumput liar di bawah kaki Wira mulai tertutup lapisan es tipis yang merambat dengan cepat.
"Lencana elang mata merah..." gumam Wira pelan.
Suaranya kini tidak lagi seperti suara remaja dua belas tahun yang santai, melainkan seperti suara guntur yang tertahan jauh di balik awan hitam yang siap meledak.
"Jadi... orang-orang yang menyeret mayat ayah dan ibuku hari itu bukan sekadar prajurit yang salah paham saat menjalankan tugas? Jadi, pembantaian itu adalah sebuah perintah resmi dari pejabat tinggi kerajaan?"
Sekar mengangguk pelan, air matanya kini jatuh membasahi cadarnya.
"Namanya adalah Adipati Kalingga. Dia bukan hanya Menteri Pertahanan, tapi juga tangan kanan Raja Astagina yang paling dipercaya. Dialah yang memegang kendali atas intelijen dan pasukan hitam kerajaan. Wira, jika kau tetap di sini atau mencoba menyerang istana sekarang, kau akan melawan seluruh kekuatan negara ini sendirian. Kau tidak akan selamat."
Wira mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemeretak.
Tongkat kayu lusuh di tangannya mulai bergetar hebat, mengeluarkan dengungan rendah yang sangat kuat hingga membuat burung-burung malam yang hinggap di reruntuhan kuil terbang ketakutan.
"Terima kasih atas informasinya, Kak Sekar," ucap Wira pelan, namun setiap katanya mengandung penekanan yang bisa meruntuhkan mental orang biasa.
"Balas dendam memang tidak akan pernah bisa mengembalikan senyum orang tuaku, tapi membiarkan iblis berbaju pejabat itu tetap hidup dan menghirup udara yang sama denganku adalah sebuah penghinaan bagi keadilan di muka bumi ini. Guru benar... saat ini aku belum cukup kuat untuk meruntuhkan seluruh fondasi kerajaan ini dalam semalam. Aku butuh waktu."
Tiba-tiba, dari arah kegelapan di balik pilar kuil yang paling besar, terdengar suara tawa yang parau dan kering.
"Hahaha... benar sekali, Nak. Kau memang cukup pintar untuk menyadari batasanmu sendiri. Sayangnya, kau tidak akan pernah memiliki waktu yang kau dambakan itu."
Seorang pria tua dengan jubah hitam panjang yang menjuntai hingga ke tanah muncul dari balik bayang-bayang.
Wajahnya dipenuhi kerutan, namun matanya bersinar dengan cahaya kuning yang menyeramkan.
Di dadanya, tersemat lencana burung elang dengan mata merah darah yang berkilau di bawah sinar rembulan yang pucat. Aura yang dipancarkannya begitu menyesakkan, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat Sekar Arum hampir berlutut karena sesak napas.
Ini adalah seorang praktisi tingkat tinggi Ranah Emas tingkat awal.
"Jadi, sisa-sisa dari keluarga Wisanggeni masih ada yang hidup dan bahkan berani menampakkan diri di ibu kota?" ucap pria tua itu dengan senyum kejam yang memperlihatkan giginya yang kuning.
"Adipati Kalingga sudah mengira bahwa bocah di panggung tadi memiliki kaitan dengan kejadian tujuh tahun lalu. Sayang sekali, malam ini sejarah keluargamu akan benar-benar berakhir di tempat sampah ini." lanjutnya dengan sinis.
Wira bergeser ke depan Sekar, melindungi gadis itu dari tekanan aura sang tetua. Ia mengangkat tongkat kayu lusuhnya, tidak lagi dengan gaya yang konyol, melainkan dengan kuda-kuda kokoh yang memancarkan kewibawaan seorang pendekar sejati.
Wajah komedinya kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh aura seorang pembalas dendam yang sedang bangkit dari tidurnya yang panjang.
"Kak Sekar, mundur dan bersiaplah untuk segera lari jika aku memberi aba-aba," bisik Wira tanpa menoleh.
"Kenapa, Wira? Kita bisa menghadapinya bersama!" sahut Sekar dengan cemas.
"Tidak. Orang tua ini adalah monster yang berbeda. Ini adalah pertama kalinya aku harus melepaskan sedikit segel yang diberikan Guru. Ini mungkin akan menjadi sangat berisik, dan aku tidak ingin kau terluka karena percikan energinya."
Wira menatap pria tua itu dengan mata yang kini mulai berpendar kebiruan.
Di dalam tubuhnya, segel energi dewa yang dipasang Dewi Shinta mulai bergetar hebat, siap untuk melepaskan kekuatan yang akan mengguncang malam itu.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁