Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Flower Resia Alexandra
Ketika Reyhan tiba di rumahnya, hari sudah malam dan Reyhan melihat gerobak baru di depan kostnya.
Reyhan tersenyum lebar lalu masuk ke dalam dengan bersemangat. "Ibu, apa itu gerobak baru milik ibu?" Tanyanya dengan senang.
Alisa tertawa geli. "Ya, pergilah mandi kamu bau alam. Entah ngapain aja kamu"
Reyhan menggaruk kepalanya dengan jahil. "Iya ibu, nanti kalau butuh bantuan masak gorengan nya serahkan padaku"
Alisa mengangguk, setelah itu Reyhan pergi mandi dan setelah itu membantu ibunya menyiapkan adonan untuk gorengan.
Saat jam 9, Reyhan pergi ijin keluar lagi untuk bertanya tentang hadiah dari sistem.
Untung di jalan desa berbeda dengan jalan kota, jadi agak sepi.
"Sistem, pedang petir putih yang kamu beri waktu itu bagaimana caraku memakainya?" Tanyanya.
"Host bisa ke lapangan untuk mencari tahu sendiri"
Reyhan tersentak dan jadi sedikit kesal. "Ayolah lapangan cukup jauh dari sini" Reyhan menghela nafas karena tidak ada pilihan lain ia berlari untuk sampai.
Saat tiba di lapangan, Reyhan tertegun karena di lapangan ada 3 orang berpakaian jas hitam seperti pengawal mengepung gadis remaja seumuran Zahra di kepung, gadis itu terlihat ketakutan.
Reyhan tidak bisa membiarkan itu terjadi, dia masuk ke lapangan. "Hei!" Teriaknya dengan memegang tongkat kayu.
Ke-3 pengawal itu menatap Reyhan, ketua yang di tengah menatap bawahan di sebelahnya.
"Urus dia"
"Siap bos" dia berjalan menuju Reyhan. "Pergilah nak, kamu tidak ada hubungan nya dengan ini atau kau akan mengalami rasa sakit"
Reyhan menatap gadis yang ketakutan itu dengan dahi berkerut. "Apa yang kalian lakukan dengan anak itu"
"Kubilang pergi bocah!" Teriak orang di depannya untuk menakuti Reyhan.
Reyhan terdiam. "Aku paling benci saat ada yang berteriak di depanku, rasanya sama seperti orang itu" menatap nya dengan mata tajam.
Sontak orang itu terkejut melihat pandangan mata Reyhan seperti orang yang ahli bertarung bukan sekedar silat.
"Roger! Cepat urus dia!" Tegur bosnya.
"B-baik bos" orang bernama Roger itu langsung melayangkan pukulannya.
Namun Reyhan menghindar nya dengan mudah lalu memukul wajah Roger dengan tongkat kayu, Reyhan langsung berjalan ke arah dua orang tersisa seperti Roger sudah beres.
Bos Roger terkejut karena Roger berdiri diam sebelum dia jatuh ke tanah dengan kacamata terbelah dua. Kondisi Roger seperti pingsan.
"Sial, siapa dia?" Bos itu langsung maju ke depan dengan memegang pisau. "Jangan salahkan aku bocah!"
Gadis yang di kepung berteriak pada Reyhan. "Hati-hati! Orang-orang ini berbahaya!"
Reyhan tersenyum sinis. "Mari kita lihat, predator mana yang lebih kuat" Reyhan masih maju.
Segera orang itu menendang ke depan, Reyhan memegang kaki orang itu.
Sontak dia terkejut lalu menusuk ke depan, tapi Reyhan memegang jari nya dan mematahkan nya.
"Akkhh!" Teriaknya karena jarinya patah, dia mundur ke belakang memegangi jarinya. "S-sialan ini sakit bocah!"
Reyhan tersenyum sinis, dia berdiri menghadapnya yang berlutut, dari pandangan nya Reyhan seperti predator mematikan.
"Selesai" Reyhan memukul kepala nya dengan keras sampai pingsan dengan kepala bocor.
Reyhan menghela nafas lalu menatap ke satu yang tersisa.
Namun saat Reyhan menatap nya, suara tembakan keras terjadi dan mata Reyhan terbelakak karena bahunya terasa dingin.
Ia hanya melihat gadis itu menangis dan pria berjas tersisa menembaknya dengan pistol.
Bahu kanan Reyhan tertembak pistol dan terjadi pendarahan nya serta luka cukup dalam.
"Woi, ada suara tembakan!" Warga sekitar berlari menuju lapangan karena ada suara tembakan.
Segera tetangga sekitar juga membawa alat-alat lain dan sebagainya karena mereka kira ada tawuran.
Namun Reyhan tidak akan membiarkan mangsanya di ambil orang lain.
"Aku pasti akan membuatmu menyesalinya" Reyhan bangkit seperti Iblis.
Pria berjas itu terkejut dan hendak menembak lagi, namun Reyhan melempar kayunya sehingga pistol itu terlepas dari tangannya.
"Gawat!" Ia hendak mengambil dengan berjongkok.
Namun Reyhan berlari dan menendang perutnya dengan lutut.
"Rasakan itu!" Reyhan membuatnya berdiri lalu melompat dan menendang tornado sampai dia berputar-putar di udara sebelum jatuh ke tanah.
Reyhan menatap gadis itu dengan senyum lemah. "Kau baik-baik saja?"
Gadis itu menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku"
Reyhan merasa pandangan nya kabur lalu jatuh ke tanah, saat itulah dia melihat warga datang membawa senter dan alat lainnya.
"Ah... Padahal gadis sebelum nya terlihat cantik, kulitnya putih bak mutiara" ucapnya dalam hati.
"Tapi sayang sekali aku akan mati disini..." Reyhan terpejam.
....
Namun itu semua tidak benar, mata Reyhan beberapa kali terbuka dan dia melihat ke atas dimana dia ada di rumah sakit.
Reyhan tahu dia sedang di bawa ke ruangan ICU dan dia melihat ibunya yang menangis mengikuti nya yang di bawa ke ICU bersama dokter.
Dan saat dia di ruangan ICU, Reyhan dari dalam dapat melihat gadis itu berbicara dengan pria tinggi dan gagah berambut kuning emas, lalu pria itu menatap nya seperti tahu dia menatap nya.
Saat itulah pintu di tutup dan Reyhan merasa ngantuk karena di bius.
....
3 jam kemudian, sama halnya pukul 12 malam. Operasi telah selesai, namun Alisia belum boleh masuk sampai besok pagi.
Gadis sebelum nya yang di selamatkan Reyhan mendekati Alisa dengan takut karena itulah dia ditemani pria sebelum nya.
"P-permisi bibi, n-nama Flower Resia Alexandra. S-saya orang yang di selamatkan anak anda"
Alisa menatapnya dengan mata lebam. "Ya, aku ingin bertemu Reyhan tapi tidak bisa" berkaca-kaca.
Flower berlutut setelah itu memeluk Alisa. "A-ayah ku selalu melakukan ini saat aku sedih"
Pria tinggi di belakang nya menghela nafas lalu berkata dengan tegas. "Saya berterimakasih pada anak anda karena telah menyelamatkan nyawa anak saya"
Alisa menoleh ke pria itu. "Sama-sama" Alisa mengusap air matanya.
Flower berdiri lalu berbisik. "Ayah, apa ayah tidak bisa berikan hal lain selain terima kasih?"
Alisa mendengarnya dengan jelas. "Tidak perlu, aku bisa memakai kartu asuransi sekolah Reyhan"
Pria itu maju ke depan. "Jadi nama anakmu Reyhan ya, maaf aku belum perkenalkan diri. Namaku Daimen Retina Alexandra"
Daimen memberikan kartu namanya. "Saya bersama Flower sebenarnya berasal dari Italia dan ke Indonesia untuk membahas urusan bisnis"
Alisa melihat kartu nama Daimen terbuat dari emas dengan agak tertegun. "S-saya tak menyangka jika anak saya menyelematkan anak orang kaya"
Daimen tersenyum. "Sebenarnya saya memberikan penjaga sendiri untuk anak saya, tapi saya tidak menyangka jika penjaga yang saya sewa berkhianat" menggeleng kecewa.
Flower mengangguk dan menambahkan. "Saya sebenarnya tidak menyangka jika anak anda bisa bertarung seperti itu, tapi saya merasa anak anda sangat keren" tersenyum malu.
Alisa berkedip beberapa kali lalu berdiri dan duduk di kursi. "Aku akan istirahat disini" matanya terpejam.
Daimen dan Flower saling menatap lalu Daimen mengangguk. "Tenang saja Flower, ayah akan pastikan pelakunya akan dapat ganjaran"
Flower mengangguk pelan. "Aku tidak berniat memfitnah tapi apa ini ulah Vica"
"Vica Reiner?" Daiman membuang nafas dengan kedua tangan di sakunya. "Vica yang punya dendam denganmu kan? Tapi aku dan ayahnya bersahabat baik"
Flower menekan tangan nya di dadanya tepat di hatinya. "Ini hanya firasat ku saja, ayah" menatap nya dengan tegas.
"Berikan keluarga Reyhan rumah yang kita miliki di Indonesia, atau kita beli untuk mereka agar kita bisa awasi mereka"
Daimen menaikan alisnya. "Apa jangan-jangan kamu berniat-
Flower mengangguk tegas. "Ya, aku akan sekolah disini bersamanya" ucapnya serius. "Karena Vica pasti tidak akan membiarkan orang yang membantuku hidup dengan mudah"
Daimen mengangguk mengerti lalu dia berdiri di sebelah Flower dan memegang bahunya. "Tapi lebih baik jika kamu gunakan uangmu saja"
Flower tersenyum malu. "Uangku tidak sebanyak uang ayah"
Daimen tertawa pelan. "Ayolah kamu anak orang terkaya di Italia, Daimen Retina Alexandra. Flower Resia Alexandra kamu memiliki bisnis Properti kan?" Tersenyum jahil.
Flower menghela nafas lalu mengangguk tak berdaya. "Aku ada 10 Properti Villa di Italia, tapi ayah uangku disini setara 10 Miliar Rupiah saja"
Daimen mengusap kepala Flower agar tidak gugup. "Justru lebih bagus kalau kamu gunakan usahamu sendiri untuk menolong orang yang sudah menolong mu"
Flower mengangguk pelan. "Baik ayah, aku akan melakukan nya"
Flower mengambil ponselnya lalu berjalan ke tempat privasi dan berbicara dengan orang Italia dengan bahasa Italia.
Setelah beberapa menit, Flower berhenti menelpon dan menatap Daimen dengan wajah tersenyum.
"Sudah selesai, hanya menunggu tanda tangan mereka berdua maka selesailah"
Daimen mengangguk mengerti. "Kamu sudah dewasa Flower, dan ya kau harus balas budi jadi ini keputusan benar"
"Aku mengerti ayah" angguk Flower.
.....
Keesokan harinya, Reyhan bangun saat waktu siang hari, dan saat dia bangun dia melihat ibunya di sofa kamar rumah sakit.
"Ibu?" Gumamnya, matanya masih sedikit terbuka.
Tapi samar-samar dia melihat gadis yang dia selamatkan memberi air untuk ibunya.
Tak cuma itu saja, ada pria tinggi berambut kuning emas bersama mereka tapi sedang masa panggilan.
"Ugh, kalian siapa?" Tanya Reyhan lemah.
Flower dan Daimen serta Alisa langsung melihat Reyhan yang sadar.
"Reyhan!" Alisa berdiri dengan semangat lalu berlari memeluk Reyhan. "Syukurlah kamu sudah sadar, ibu sangat cemas padamu. Kamu baik-baik saja kan?" Ia menatap wajah Reyhan.
Reyhan mengangguk. "Ya aku masih agak lemah tapi aku tidak apa-apa"
"Syukurlah" Alisa menangis di bahu Reyhan. "Kau sangat membuatku khawatir, kenapa kau melakukan itu?"
Reyhan tak menyangka jika ibunya akan manangis di bahunya. Lalu pertanyaan Alisa, Reyhan menatap Flower.
"Karena seseorang butuh bantuanku, ibu"
Alisa mengangguk lalu menatap wajah Reyhan dengan senyuman lebar. "Kamu sudah jadi pria tangguh, luka peluru di bahumu ada bukti kamu bukan penakut"
Reyhan mengusap hidung nya. "Jadi, siapa mereka?"
Alisa berdehem lalu melepas pelukannya dan berdiri. "Mereka adalah orang-orang dari Italia"
Flower mengangguk tersenyum. "Aku yang kamu selamatkan kemarin, aku Flower Resia Alexandra"
"Kalau aku ayahnya Flower, Daimen Retina Alexandra" Daimen mengayunkan tangan nya untuk berjabat.
"Terima kasih telah menyelamatkan nyawa putriku satu-satunya" tersenyum ramah.
"A-ah ya tentu" Reyhan menjabat tangannya dengan rasa rak percaya, mereka berdua berasal dari Italia bahkan terlihat orang kaya.
"Oh ya ibu, bagaiamana dengan sekolahku?" Tanya Reyhan.
"Bukan masalah besar, tragedi ini telah menyebar di internet jadi kamu artist sekarang" tawanya jahil.
Reyhan tersentak. "Astaga itu bahkan terdengar lebih buruk"
Flower tertawa pelan. "Ayolah tidak seburuk itu, ngomong-ngomong aku ingin memberikan mu sesuatu karena telah menyelamatkan ku"
Reyhan dan Alisa bingung apa yang akan diberikan Flower, padahal bagi mereka Flower seperti gadis biasa.
Flower menatap ke pintu lalu menjentikkan jarinya dengan semangat.
Lalu pria berjas hitam dan kacamata masuk menyerahkan kertas putih dokumen pada Flower lalu pergi.
Flower mendekat lalu menyerahkan itu pada Reyhan. "Ini adalah surat properti, aku memberikan mu properti milikku padamu" tersenyum.
"Apa?!" Reyhan tercengang saat mendengarnya, bahkan Alisa juga tercengang.
"Tidak tidak, kami tidak bisa menerimanya" Alisa menolak pemberian nya.
Flower menggeleng. "Tidak bibi, ini hanya hadiah kecil untukku, terima lah"
Alisa menatap Reyhan untuk persetujuan darinya, Reyhan menghela nafas lalu membacanya.
"Baiklah akan aku tanda tangani"
"Tunggu dulu, Reyhan apa kamu serius?" Tegur Alisa.
Namun Daimen menepuk bahu Alisa untuk tetap tenang. "Biarkan saja nyonya, mereka berdua harus belajar menerima dan memberi"
"Tapi aku merasa sungkan pada kalian, apalagi kalian memberi properti"
Damien tertawa pelan. "Bukan saya tapi hanya Flower, dia itu pebisnis muda yang menjual properti rumah, dan hotel"
"Apa? Jadi Flower ternyata sukses?!" Alisa menutup mulutnya yang melebar.
Daimen mengangguk. "Ya karena itulah ada orang yang membencinya karena usahanya"
Alisa menggeleng cepat. "Enggak bisa, kalau kalian melakukan ini demi Reyhan bisa balas budi aku tidak bisa terima itu"
Alisa tidak bisa menerima nya, jika Reyhan menerima itu maka Reyhan harus balas budi dengan menjaga Flower dari musuhnya.
Damian mengerutkan kening. "Nyonya jangan khawatir kan itu, keamanan kami lengah di waktu yang tak terduga. Justru pengawal kami banyak sehingga Flower bisa lebih terlindungi"
Damien menatap Flower yang terlihat senang saat dekat dengan Reyhan.
"Apalagi Flower melakukan ini demi keamanan kalian berdua, hanya kami saya yang tau konsekuensi melawan orang besar"
Damien menatap Alisa lagi dengan serius. "Jadi nyonya, jangan tolak pemberian Flower. Karena ini demi keselamatan kalian"
Alisa menggigit bibirnya. "Baiklah, asalkan tidak berlebihan"
Sedangkan Reyhan terkejut saat membaca dokumen itu properti rumah Villa di Gunung Putri.
Reyhan tersenyum canggung. "Apa aku kembali lagi kesana?" Batinnya.
Flower yang tahu jika Reyhan tak paham, dia segera duduk di sebelah Reyhan dan menjelaskan nya.
"Nama vila Gunung Putri sebenarnya hanya nama saja tapi letaknya masih di Jakarta Timur tapi di kota"
Reyhan tertegun karena dari jarak sedekat ini, Reyhan dapat mencium bau aroma parfum Flower, kulit bersih Flower dan wajah cantik serta rambut ikatan Flower.
Reyhan menatap leher Flower dengan gugup. "O-oh begitu ya" Reyhan merasa dadanya berdegup kencang jadi dia memalingkan mukanya.
Flower menatap dengan tak mengerti kenapa eskpresi Reyhan bisa seperti itu.
"Baiklah, karena kamu sudah mengerti tanda tangani lah"
Reyhan mengangguk lalu memberi tanda tangan.
Tapi siapapun bisa salah paham apa yang terjadi pada mereka jika ada orang yang masuk saking dekatnya mereka.
"Reyhan, ini aku Zahra aku datang untuk-
Zahra masuk tanpa mengetuk pintu, Zahra berkedip beberapa kali karena melihat dekatnya Reyhan dengan wanita cantik lain dengan pupil mata biru.
"Maaf menganggu" Zahra hendak menutup pintu.
"Tunggu dulu!" Tahan Reyhan. "Zahra kenapa kamu datang kesini?"
Zahra menghela nafas. "Tentu saja untuk menjenguk mu, kudengar kamu terluka karena tertembak" ia masuk ke dalam.
Zahra menatap tipis Damien dan Alisa tapi tidak bertanya, ia langsung ke Reyhan.
Zahra menatap gadis asing baginya duduk di ranjang yang sama dengan Reyhan.
"Jadi... Apa kalian menikmatinya?" Tanyanya dengan ekspresi datar.
Reyhan tersentak dan malu, Flower merasakan hal yang sama langsung turun.
"Maafkan saya, nama saya Flower Resia Alexandra"
"Apa? Alexandra?" Zahra mundur selangkah karena mengenal marga itu.
....