Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Matahari pagi di Arcandale terbit dengan rona oranye yang pucat, seolah enggan menyinari ketegangan yang masih menggantung di udara sekolah. Bagi Kenzie, pagi ini adalah pagi yang berat. Rasa sesak di dadanya akibat mimpi pukul tiga pagi tadi masih menyisakan nyeri imajiner.
Kenzie melangkah menyusuri koridor dengan langkah yang sengaja ia buat lebih lambat, matanya mencari sosok pria dengan jaket varsity hitam yang kemarin telah menjungkirbalikkan dunianya. Namun, saat ia melihat Julian di kejauhan, harapannya untuk mendapatkan jawaban pupus seketika.
Julian berdiri di depan lokernya, dikelilingi oleh beberapa anggota tim basket yang masih belum menyerah untuk mengajaknya bergabung dengan tim mereka. Namun, auranya tidak seperti biasanya. Julian tidak lagi menoleh saat Kenzie lewat. Bahkan, ketika jarak mereka hanya terpaut beberapa meter dan mata mereka hampir bertemu, Julian segera memalingkan wajah, menyibukkan diri dengan buku-buku di lokernya seolah Kenzie hanyalah udara kosong.
Julian sedang membangun tembok. Bukan tembok es yang rapuh, melainkan tembok beton yang tebal. Kejadian di atap dan tangisannya di pangkuan Elena semalam telah menyadarkannya bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang pengkhianatan. Menjaga jarak adalah satu-satunya cara Julian untuk tetap menjadi manusia bagi Elena.
Kenzie berhenti sejenak, tangannya terkepal di tali tasnya. Ia ingin menghampiri Julian, ingin bertanya apakah pria itu ada kaitannya dengan mimpinya semalam atau sekedar bertanya alasan mengapa ia tidak menceritakan keterlibatannya dengan Kenzie. Namun, melihat punggung Julian yang kaku dan sikap acuhnya yang terang-terangan, Kenzie menelan kembali pertanyaannya.
Mungkin itu memang hanya mimpi buruk. Mungkin pikiranku terlalu terobsesi pada laki-laki itu hingga alam bawah sadarku menciptakan drama yang tak ada, pikir Kenzie getir.
Kenzie memutuskan untuk mengubur niatnya. Ia tidak ingin terlibat lagi. Ciuman kemarin adalah kesalahan dan sikap dingin Julian hari ini adalah jawaban bahwa mereka memang tidak seharusnya bersama. Kenzie berbalik, memilih jalan memutar menuju kelas, mencoba membunuh desiran aneh di hatinya dengan logika dingin empat ratus tahunnya.
Pada jam istirahat. Di sudut kantin yang agak tersembunyi, Lyana duduk berhadapan dengan Hallen. Di depan mereka tersedia dua botol air mineral yang belum tersentuh. Lyana memperhatikan Hallen yang terus menatap ke arah meja tempat Julian berada.
"Kau lihat itu, Hallen?" bisik Lyana, suaranya semanis madu namun mengandung racun. "Dia bersikap seolah dia pemilik sekolah ini. Dia mengabaikan Kenzie pagi ini hanya untuk membuat gadis itu merasa bersalah. Itu teknik manipulasi yang klasik."
Hallen mengerutkan kening. "Aku tidak suka cara dia menatap Kenzie tadi pagi. Julian itu sombong. Dia pikir karena dia murid paling pintar, dia bisa mengatur siapa yang boleh mendekati Kenzie."
Lyana tersenyum, matanya berkilat licik. "Lalu kenapa kau tidak membuktikannya? Buktikan bahwa kau lebih baik darinya. Di depan Kenzie. Di depan semua orang."
"Bagaimana caranya?"
"Tantang dia." ujar Lyana mantap. "Duel basket satu lawan satu. Kau pernah bilang kalau dia juga bisa main basket, bukan? Basket itu duniamu. Kau pasti bisa mengalahkannya dengan mudah. Jika kau berhasil menang, dia tidak akan punya muka lagi untuk mendekati Kenzie. Buat taruhan yang mutlak, yang kalah harus menjauhi Kenzie selamanya."
Hallen menatap Lyana dengan tatapan yang terlihat menimbang. Mengingat kekuatan Julian di tangga kemarin, yang hampir membuatnya tidak bisa bernapas membuat Hallen ragu sejenak.
"Julian itu lebih hebat dari yang kau bayangkan, Lyana. Dia pernah mengalahkan Kak George, kapten senior sebelum aku menjabat, satu tahun lalu. Hanya karena Kak George tidak suka melihat Julian yang tampak sombong sejak hari pertamanya masuk sebagai junior. Kak George menantangnya basket, dia pikir Julian akan kalah dan Kak George bisa merundungnya. Tapi, di luar dugaan, Julian berhasil mengalahkannya. Hal itu sangat mempermalukan Kak George sampai laki-laki itu mundur dari posisinya, digantikan oleh ku. Itu sebabnya para anggota tim ku sering menawarkan Julian untuk bergabung ke tim kami. Tentunya Julian bersikeras menolak. Bisa jadi juga aku akan tersingkirkan jika dia benar-benar bergabung."
"Tapi kau adalah Hallen. Kapten basket masa depan yang keahliannya sudah dibicarakan seantero sekolah. Aku sangat yakin kau lebih hebat, lebih cepat dan kau punya motivasi yang lebih besar. Apa kau takut?"
Tantangan itu tentunya memicu ego Hallen. Ia menatap Julian yang sedang bersikap dingin di seberang sana. Rasa sukanya pada Kenzie yang selama ini ia pendam berubah menjadi amunisi keberanian yang berbahaya. "Baiklah. Akan kulakukan. Aku tidak takut."
...•••...
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, atmosfer di gedung olahraga SMA Arcandale berubah menjadi mencekam. Kabar tentang tantangan Hallen kepada Julian menyebar seperti api di atas bensin melalui grup percakapan siswa. Hallen, sang kapten tim basket kebanggaan sekolah, menantang Julian, si murid misterius, dingin dan selalu bersikap seolah ia berada di atas segalanya untuk duel satu lawan satu.
Bagi para siswa, ini adalah pertarungan harga diri. Hallen adalah pahlawan lapangan, sementara Julian adalah sosok yang dianggap terlalu sombong untuk ukuran murid yang jarang bersosialisasi.
Kenzie berdiri di pinggir lapangan, melipat tangan di dada dengan raut wajah kesal. Ia benci menjadi pusat dari taruhan konyol ini. Baginya, melihat dua laki-laki berebut hak untuk mendekatinya adalah penghinaan terhadap kemandiriannya selama empat ratus tahun terakhir.
Julian berdiri di tengah lapangan, memutar bola basket di ujung jarinya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia mengenakan kaos hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Julian sebenarnya ingin menolak, baginya, bertanding melawan seorang manusia remaja adalah hal yang sia-sia. Namun, ego Julian sebagai Aethern yang tak pernah kalah selama berabad-abad terusik saat Hallen menyebutnya pria pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik tatapan dingin.
"Dua belas poin. Siapa cepat dia menang." ucap Hallen, wajahnya penuh determinasi. "Yang kalah menjauh dari Kenzie. Jangan pernah bicara padanya lagi."
Julian menatap Hallen dengan tatapan meremehkan yang tajam. "Kau kapten basket di sini, Hallen. Kau yakin ingin mempertaruhkan reputasimu hanya untuk ini? Nasibmu mungkin akan sama dengan kapten tim mu yang sebelumnya."
"Aku tidak peduli soal reputasi. Aku hanya peduli padanya." balas Hallen tajam.
Pertandingan dimulai. Sebagai kapten tim, Hallen menunjukkan mengapa ia memegang jabatan itu. Ia bergerak seperti kilat. Teknik dribble-nya sangat bersih, rendah dan sulit direbut. Hallen memanfaatkan kelincahannya untuk memutar tubuh, melakukan step-back dan mencetak poin pertama dengan tembakan yang mulus.
Tribun langsung dipenuhi suara riuh rendah. Hallen memimpin 2-0.
Julian mulai bergerak. Ia tidak memiliki teknik seindah Hallen, namun ia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Julian menjaga Hallen dengan ketat, seolah-olah sebuah dinding batu sedang bergerak mengikuti setiap langkah sang Aethern itu. Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Julian. Setiap kali ia melihat ke arah tribun dan menangkap tatapan Kenzie yang tampak sangat kecewa padanya, konsentrasi Julian pecah.
Bayangan ciuman di atap kemarin, wajah Elena yang pucat saat ia pulang dan rasa bersalah yang menghujam jantungnya membuat fokus Julian berantakan.
Hallen memanfaatkan kegoyahan Julian. Dengan dukungan motivasi dari Lyana yang terus memperhatikannya dari tribun, Hallen bermain seolah sedang dirasuki sesuatu. Ia melakukan drive ke arah ring, melakukan lay-up yang sulit di bawah penjagaan Julian dan terus menambah angka. 9-8. 10-9. Hallen memimpin.
Julian mulai frustrasi. Baginya, kalah dari seorang remaja adalah penghinaan tertinggi. Saat poin penentuan, Hallen melakukan gerakan tipuan yang sangat cepat. Julian melompat untuk melakukan block, namun Hallen lebih cerdik. Ia menunggu Julian turun, lalu melakukan tembakan tiga angka yang masuk dengan suara swish yang tajam tepat saat bel berakhir.
Skor akhir: 13-10. Hallen menang.
...•••...