Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hari Kompetisi
Hari Kompetisi Klan Lin akhirnya tiba.
Sejak fajar, seluruh kompleks Klan Lin sudah ramai. Sebuah arena raksasa yang terbuat dari batu granit hitam telah didirikan di lapangan latihan pusat. Di sekelilingnya, ribuan kursi telah diatur untuk para anggota klan, dan di sisi utara, sebuah panggung yang ditinggikan telah disiapkan untuk para tetua dan kepala klan, Lin Zhennan.
Suasananya meriah dan penuh antisipasi. Kompetisi tahunan ini bukan hanya ajang bagi para junior untuk menunjukkan kekuatan mereka, tetapi juga merupakan kesempatan untuk mendapatkan sumber daya, status, dan perhatian dari para tetua. Pemenang kompetisi tidak hanya akan menerima hadiah yang melimpah, tetapi juga akan dianggap sebagai wajah generasi muda klan.
Saat para murid mulai membanjiri area sekitar arena, mencari tempat duduk terbaik, sesosok tubuh berjalan dengan tenang dari arah pegunungan belakang.
Itu adalah Lin Feng.
Dia telah berganti pakaian, mengenakan jubah hitam sederhana dan bersih. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya yang kini tampak lebih tegas dan tampan tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Langkahnya tidak cepat dan tidak lambat, tetapi setiap langkahnya mengandung ritme yang mantap, seolah-olah menyatu dengan denyut nadi bumi.
Hal yang paling aneh adalah auranya. Dia tidak memancarkan aura apa pun. Dia tampak seperti orang biasa, seperti lembah yang dalam tanpa dasar yang terlihat. Justru ketidakjelasan inilah yang membuatnya tampak sangat misterius dan tak terduga.
Para murid yang berpapasan dengannya berhenti dan menatap. Mereka mengenali wajah itu, tetapi mereka merasa seperti melihat orang yang sama sekali berbeda. Sampah? Tidak. Misterius? Ya. Berbahaya? Pasti. Mereka secara naluriah menyingkir, memberinya jalan lebar.
Lin Feng tidak memedulikan tatapan mereka. Dia berjalan ke area yang diperuntukkan bagi para peserta kompetisi dan menemukan sebuah sudut yang sepi, lalu berdiri di sana dengan mata terpejam, menghemat energi dan menenangkan pikirannya.
Tak lama kemudian, keributan terjadi di pintu masuk.
"Lihat! Itu Tuan Muda Lin Tian!"
"Dia terlihat sangat kuat! Kudengar dia sudah berada di puncak tingkat delapan!"
Lin Tian, cucu Tetua Pertama, berjalan masuk dikelilingi oleh sekelompok pengagum. Dia mengenakan jubah sutra putih yang mewah, dagunya terangkat dengan angkuh. Dia melirik kerumunan dengan tatapan meremehkan, seolah-olah tidak ada seorang pun di sini yang layak menjadi lawannya. Pandangannya sekilas menyapu Lin Feng di sudut, tetapi karena tidak merasakan fluktuasi energi apa pun, dia langsung mengabaikannya, menganggapnya sebagai peserta rendahan yang tidak penting.
Di sisi lain, Lin Wei, dengan lengan yang masih digendong, menatap Lin Feng dari kejauhan. Matanya dipenuhi dengan kebencian dan kegembiraan yang sadis. "Sampah, tertawalah selagi kau bisa. Tuan Muda Tian akan membuatmu berharap kau tidak pernah dilahirkan!" bisiknya pada dirinya sendiri. Ayahnya, Lin Hu, berdiri di dekat panggung tetua, tatapannya yang dingin dan penuh niat membunuh juga tertuju pada Lin Feng.
Kemudian, kerumunan kembali riuh, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Peri Xue'er telah tiba!"
"Sangat cantik... dan sangat kuat! Dia adalah dewi di hatiku!"
Liu Xue'er muncul, mengenakan gaun biru langit yang membuatnya tampak seperti peri yang turun dari surga. Kehadirannya yang dingin namun mempesona langsung menarik perhatian semua orang. Namun, tidak seperti biasanya, tatapannya tidak menyapu kerumunan. Sebaliknya, matanya langsung tertuju pada satu titik—pada sosok Lin Feng yang berdiri dengan tenang di sudut.
Dia melihatnya. Dia melihat perubahan total dalam dirinya. Aura tenang dan tak terduga itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Ingatannya tentang pertemuan di Puncak Bambu Hijau kembali menghantuinya. Apakah dia benar-benar akan membuktikan kata-katanya di atas panggung hari ini? Hatinya, untuk pertama kalinya, dipenuhi dengan kerumitan yang tak terlukiskan: penghinaan, rasa ingin tahu, dan sedikit kegelisahan.
Lin Feng, seolah merasakan tatapannya, perlahan membuka matanya. Pandangannya bertemu dengan tatapan Liu Xue'er selama sepersekian detik. Tidak ada emosi di matanya—tidak ada cinta, tidak ada benci, hanya ketidakpedulian yang dalam. Dia kemudian memalingkan muka, seolah-olah melihatnya bahkan tidak sepadan dengan waktunya.
Sikapnya ini seperti tamparan tak terlihat bagi Liu Xue'er, membuat wajahnya yang cantik menjadi sedikit pucat.
Pada saat itu, lonceng besar berdentang tiga kali, menandakan dimulainya acara.
Di atas panggung utama, Kepala Klan Lin Zhennan berdiri. Dia adalah pria paruh baya yang agung dengan aura yang kuat. Di sampingnya duduk kelima tetua, termasuk Tetua Ketiga, Lin Bao, yang tatapannya juga tertuju pada Lin Feng dengan penuh minat.
"Aku, Lin Zhennan, menyatakan bahwa Kompetisi Klan Lin tahun ini... DIMULAI!" suara Kepala Klan bergema di seluruh arena.
"Babak pertama adalah seleksi acak!" seorang diaken mengumumkan dengan keras sambil memegang sebuah kotak besar berisi banyak bola kayu bernomor. "Setiap peserta akan menarik nomor. Mereka yang memiliki nomor yang sama akan menjadi lawan! Pertarungan akan dimulai dari Arena Nomor Satu hingga Arena Nomor Sepuluh secara bersamaan! Sekarang, para peserta, silakan maju dan ambil nomor kalian!"
Mata Lin Feng terbuka sepenuhnya, kilatan cahaya tajam melintas di kedalamannya.