NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB III—TEMAN?

Langkah kaki tenggelam riuh suara di dalam kelas. Sungguh berisik akan suara mulut-mulut yang tak sadar bahwa kondisi kelas seakan lebih dari ramainya pasar.

Saling sapa

Saling gurau

Saling Bercerita

Anehnya, di tengah kebisingan itu, seorang anak terdiam di bangku pojok paling belakang. Benar anak itu Chandra Barwara. Sendiri tanpa seorang pun yang mengajak bicara kecuali hanya jendela yang menemaninya dalam diam.

Suara nyaring terdengar menggema sebagai penanda dimulainya pembelajaran, namun suara riuh masih enggan untuk reda, hingga seorang pria dewasa melangkahkan kaki kedalam kelas dengan santai, riuh pun segera mereda. Dialah Pak Adi Wibowo, guru Sejarah juga wali kelas ini XI IPS 4.

Sosok guru yang dicap sebagai guru bermasalah, entah seperti apa perilaku sebelumnya hingga dilabeli seperti demikian. Di balik reputasi buruk itu, Pak Adi justru populer di kalangan para murid, karena paras rupawannya. Namun ketampanannya berseberangan dengan raut wajah yang selalu tampak layu dan sorot mata yang redup seakan tak memiliki gairah untuk menjalani kehidupannya.

Dengan kehadiran Pak Adi di kelas, suara riuh pun hilang seketika. Salam terucap di antara kedua bibirnya lalu mengabsen satu per satu murid di kelas dan pelajaran pun di mulai. Pembelajaran pagi itu tampak tenang-tenang saja, sebelum pematik korek menyala dalam kelas.

Kelas terasa sepi, hanya terdapat satu suara yang mendominasi, entah karena mereka terlalu memperhatikan materi atau karena mereka tak menggubris pemaparan materi pagi itu. Hingga Pak Adi pun muak dengan kondisi kelas yang seperti kamar mayat, ia pun melontarkan sebuah pertanyaan soal untuk dijawab salah satu murid yang ingin menjawab.

“Oke, saya rasa kalian sudah paham dengan materi yang saya paparkan tadi, maka dari itu sekarang bapak akan bertanya kepada kalian, Apa nama fosil pertama yang di temukan di Indonesia, tahun berapa di temukannya dan di mana kota penemuan fosil tersebut?”

Kelas semakin sunyi tanpa suara sedikit pun, mungkin sekarang bukan seperti ruang mayat lagi tetapi sudah menjadi kuburan.

Pak Adi melihat tak ada yang ingin mencoba menjawab. Ada yang pura-pura menulis, membaca bahkan berpikir tanpa ada keinginan menjawab, oleh karena itu menujuk murid secara acak ialah sebuah pilihan.

“Tak ada yang dapat menjawabnya? Jika memang tidak ada bapak tunjuk saja ya” Ujar Pak Adi.

Dug dug dug

Dug dug dug

Dug dug dug

“Oke tolong Mas Chandra, jawab pertanyaan Bapak tadi dengan jelas dan rinci ya, Mas Chandra boleh maju ke depan atau tetap di bangku dengan berdiri untuk menjawabnya, tanpa berlama-lama silahkan Mas Chandra”

Lirikan mereka serentak tertuju kepada Chandra, seakan tak percaya Chandra dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.

Chandra menguatkan kedua kaki untuk berdiri dan menjawab dengan perasaan campur aduk “Baik bapak saya akan jawab, fosil pertama yang di temukan di Indonesia yang saya ketahui itu adalah Pithecanthropus erectus, fosil ini di temukan pada tahun 1891 Dan di temukan di Ngawi tepatnya di Trinil Ngawi Jawa Timur, tapi mohon maaf bapak, sebelumnya apakah bapak memang sengaja memberikan pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan apa yang telah bapak paparkan tadi?”

Chandra memberikan jawaban dan meninggalkan sebuah pertanyaan lalu mengendorkan kakinya dan duduk kembali.

“Hahaha……ya memang bapak sengaja, tak bapak sangka kamu memperhatikannya ya, padahal bapak perhatikan kamu tadi liat ke jendela terus malah kamu bisa menjawabnya jadi bapak salah sasaran deh” Tawa dan heran seirama di wajah Pak Adi.

“Maaf pak”. Ujar Chandra sambil menunduk.

“Ya Bapak harap kalian selalu memperhatikan pembelajaran yang saya sampaikan tidak seperti tadi, mulai hari ini bapak akan memberikan pertanyaan dari setiap bapak selesai memaparkan materi”.

“Waduh bahaya nih” Ungkap salah satu murid sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.

“Apanya yang bahaya?” Sahut dari Pak Adi.

Seisi kelas pun renyah oleh tawa dan jam istirahat pun hadir setelahnya.

Mereka seperti semut saat waktu istirahat kecuali Chandra yang di ibaratkan seperti batu, diam tak bergerak maupun bersuara. Hingga seorang anak sekelas menghampirinya dengan wajah penasaran yang begitu mendalam.

Anak itu mengangkat tangan kanannya dan memberikan sapaan ke Chandra “Halo Chandra boleh kenalan gak?”

“Maksudnya?” Chandra mengangkat kedua alisnya seakan bicara, mengapa ada seorang yang mengajaknya bicara.

“Ya cuma mau kenalan” Jawab tegas dari anak tersebut.

“HAH?”

Anak itu sedikit geram dan angkat bicara “Gausah banyak tanya deh, aku Arka Mahendra ketua kelas di kelas ini, harusnya kamu sudah tahukan? tapi kamu selalu diam di kelas makanya aku ngajak kenalan kamu”

Arka Mahendra, remaja yang kharismatik nan kaya. Diantara banyak anak di sekolah dialah yang paling kaya, mereka memanggilnya dengan sebutan si kaya atau si pangeran karena sejajarnya kekayaan yang dia miliki dengan ketampanannya. Selain itu dia memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi untuk anak seumurannya.

Chandra ingin membalas memperkenalkan diri “Oh iya aku……”

“Iya aku tahu kamu Chandra Baswara, adik dari Kak Baskara Suryadipa kan?” Potongnya seolah tahu segalanya.

“Iya” Jawab singkat Chandra menjawab seakan tak penasaran mengapa ketua kelasnya tahu hubungannya dengan Baskara.

Arka memiringkan kepalanya seolah malah dia yang penasaran “Kau ga penasaran?”

“Gak”

“Hahaha sialan, justru aku malah penasaran sama kamu, kamu kog bisa menjawab tadi sedangkan kamu sendiri ga memperhatikannya.” Tanya Arka yang membuat dasar rasa penasarannya pada Chandra.

Chandra tak melihat sedikitpun kearah Arka dan dia menjawab langsung ke point “Aku memperhatikannya”

Arka semakin memiringkan kepalanya yang hampir menyetuh bahu “Mengapa Pak Adi bilang kamu ga memperhatikannya?.”

“Gak tahu, mungkin salah paham”

Jawaban dari Chandra yang setengah-setengah malah membuat Arka semakin meninggikan kedua alisnya dan iringan kepalanya “Kog bisa?, orang kamu saja katanya liat kearah jendela gak memperhatikan saat Pak Adi memaparkan materi, tapi kamu malah bisa jawab dan yang paling membuatku kaget pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Adi tak ada dalam materi yang di sampaikan”

“Karena aku mendengarkan pakai kuping gak pakai mata dan buat aku yang bisa jawab pertanyaan itu ya karena selalu membaca, simpel.”

“Ya Tuhan yang benar saja” Spontan Arka menampel dahinya sendiri dengan telapak tangannya “Oh jadi kau type anak yang rajin baca” Lanjutnya dengan tangan masih di dahi.

Saat berjalannya dialog mereka yang amburadul tersebut membuat sekelompok mata tertuju kepada mereka berdua, mulai dari sekelompok mata sampai satu mulut berkata keras dari jauh “Eh kalian berdua serius banget lagi bahas apa? Bahas yang hitam itu ya?.”

Tawa kecil yang ramai terdengar dengan muka yang terlihat merendahkan membuat sayatan di hati. Chandra langsung kembali menundukan dagunya hingga hampir menyentuh dada.

Arka menyipitkan matanya, melihat kearah sumber suara “Fino!!” Bentak Arka “Apa maksudmu?!”

“Loh kenapa, kog kamu marah sih, kan aku cuma tanya” dalih Fino tukang bullying keluar dengan kedua tangan diangkat di samping badan.

Arka mengangkat tangan dan menunjuk kearah Fino yang jaraknya agak jauh “Harusnya kamu ga…”

“Sudah”

“Tapi Chan mereka….”

Chandra sudah terbiasa dari kecil mendengar mulut busuk yang tertuju padanya dan ia juga terbiasa tak melawan “Yang di hina itu aku bukan kamu jadi tenang ga perlu emosi segala”.

Arka tersentak sepersekian detik lalu menjawab “Iya Chan.”

Bunyi nyaring bersuara dua kali menandakan jam istirahat telah selesai dan waktunya pelajaran lagi.

Waktu berlangsung terlalu cepat, sore telah datang dan waktu sekolah telah usai. Chandra sebagai siswa yang tidak mengikuti extrakulikuler, segera memasukan buku-buku kembali kedalam tasnya dan hendak beranjak pulang, namun kehendakannya sementara pupus karena Arka menghampirinya untuk kedua kalinya.

“Chan mau kemana ga extra?” Tanya Arka sambil menepuk bahu Chandra dari belakang.

Chandra menoleh lalu menjawab singkat “Enggak.”

“Masih kelas 10 loh, kataku sih eman.”

“Gak juga” lagi-lagi jawab dengan singkat.

“Yah kalau menurutmu seperti itu ya aku gak bisa jawab apa-apa lagi” Jawab pasrah Arka sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak terasa gatal.

Chandra tanpa basa basi langsung melangkahkan kaki keluar dari ruangan kelas.

Arka tak menahan langkah Chandra lagi namun ia hanya berdiam diri di tempat untuk berpikir sejenak lalu tiba-tiba ia tersenyum kecil dan segera pergi ke tempat extrakulikulernya.

Waktu berlalu

Chandra telah sampai di rumah, sepi tak ada orang di rumah entah ibunya kemana.

“Assalamualaikum bu”

Tak ada sahutan.

Menelusuri seisi rumah tak ada tanda ibunya di rumah dan dia berspekulasi mungkin ibunya ke rumah tantenya. Chandra pun segera beranjak membersihkan badan dengan mandi lalu menunaikan ibadah sore. Semua telah ia lakukan kecuali makan, namun lapar tak terasa di perutnya yang terasa malah pikiran tentang cacian di sekolah tadi dan satu lagi yang menjadi beban pikirannya daripada cacian tadi yaitu seseorang yang menghampirinya dan mengajak berbicara kepadanya.

Chandra memasuki kamar dan terlentang diatas ranjang dengan kedua tangan menyilang di bawah kepala sebagai tumpuan dan ia mengajak diri sendiri untuk berpikir dan berbicara.

“Mengapa dia tadi mengajaku bicara ya?.” Ucap Chandra sendiri menghadap ke arah langit-langit kamar.

“Dua kali lagi….yah mungkin hanya iseng saja” kata terakhir untuk sore ini dan tanpa sadar ia tertidur

Dua jam terlewati oleh tidur dan sore telah bersandingan dengan malam.

Getaran terasa oleh badan membuat Chandra terbangun dari tidur atas rasa lelahnya. Seseorang mengirim pesan di ponselnya, tanpa nama tertera dengan wajah bingung Chandra segera membalas “Siapa”.

Lima detik belum terlewati orang tersebut langsung segera membalas pesan lagi “Oi ini aku, Arka. Arka Mahendra.”

Setelah membacanya Chandra memiringkan kepala dan melirik keatas, merasa bingung dan aneh kenapa anak itu bisa punya nomornya, lalu ia menjawab dengan singkat “Oh iya”.

“Hah?? “Serius cuma ‘oh iya’ doang?”

“Iya”

“Gamau tanya aku dapet nomormu dari mana gitu?” Paksaan terlihat dalam kata-kata Arka

“Aku pikir nggak, cuma mau tanya saja kamu ada urusan apa denganku?”

“Urusan? Gaada sih mau chat aja biar kita sekontak hehe, lagi pula namanya juga teman, wajar dong chat” Timpal Arka.

Chandra hanya melihat balasan dari Arka dari luar aplikasi, ia tak membalasnya ataupun menanggapinya namun ia berpikir kapan mereka berdua menjadi teman? Jika memang iya, mengapa Arka harus mau berteman dengannya? Hal ini membuat malam nantinnya terganggu.

Setelah melihat pesan tersebut ia segera meletakan ponselnya di atas meja dan segera beranjak untuk mandi dan menunaikan kewajiban sore menjelang malam.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!