NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Lia melepaskan genggaman tangan Ghea dengan perlahan, seolah ingin segera memutus segala bentuk koneksi dengan dunia Regas. Ia berdiri tegak, membalas tatapan kacau laki-laki di hadapannya dengan ekspresi sedingin batu pualam.

"Ghea tidak ada yang menjemput. Sebagai gurunya, saya merasa bertanggung jawab mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah Anda," ujar Lia. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti seorang kurir yang baru saja menyelesaikan pengiriman barang.

Regas melangkah maju, tangannya terjulur seolah ingin menahan Lia agar tidak segera berbalik. "Lia, tunggu... maafkan aku. Ponselku mati dan di dalam sedang kacau, Elena—"

"Saya tidak butuh penjelasan mengenai urusan domestik Anda, Pak Regas," potong Lia cepat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang ia pasang untuk melindungi dirinya sendiri. "Tugas saya sudah selesai. Ghea sudah aman di rumahnya."

"Bu Lia... tidak mau masuk dulu? Minum sebentar?" suara kecil Ghea memohon, membuat hati Lia sedikit berdesir, namun ia segera menguatkan mentalnya.

Lia menunduk, memberikan senyum tipis yang hanya ditujukan untuk anak itu. "Terima kasih, Ghea. Tapi Ibu masih ada urusan penting. Selamat istirahat, ya."

Lia kembali menatap Regas, namun hanya sekilas—seperti melihat orang asing yang tak sengaja berpapasan di jalan. Ia tidak ingin melihat kemeja kusut itu, tidak ingin mencium aroma tubuh Regas yang bercampur keringat karena panik, dan yang paling penting, ia tidak ingin mendengar nama Elena lagi.

"Permisi," ucap Lia singkat.

Ia membalikkan badan dengan gerakan anggun namun tegas, melangkah menjauh menuju taksi yang masih menunggu di depan gerbang megah itu. Ia bisa merasakan tatapan Regas menusuk punggungnya, sebuah tatapan yang penuh dengan kata-kata yang tak terucap, namun Lia tidak akan menoleh.

Baginya, rumah besar ini adalah monumen kegagalannya di masa lalu, dan ia tidak punya niat sedikit pun untuk menjadi bagian dari dekorasinya lagi. Begitu pintu taksi tertutup, Lia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau rasa sesak yang kembali menghantam dadanya.

Cukup, Lia. Jangan biarkan satu sore ini menghancurkan tembok yang kamu bangun selama lima tahun, batinnya keras.

Namun, di dalam rumah itu, Regas masih terpaku di ambang pintu, menatap bayangan taksi yang perlahan menghilang, sementara di dalam rumah, suara rintihan Elena kembali terdengar, menambah beban di pundaknya yang sudah hampir patah.

Regas menutup pintu jati itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Deru mesin taksi yang membawa Lia menjauh terdengar seperti vonis mati bagi harapannya. Di koridor rumah yang dingin dan luas ini, ia merasa seperti orang asing di istananya sendiri.

"Papa? Bu Lia benar-benar pergi?" suara kecil Ghea menarik ujung kemeja Regas yang sudah kusut masai.

Regas berjongkok, mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Iya, Ghea. Bu Lia ada urusan. Sekarang Ghea masuk kamar dulu ya, ganti baju lalu makan malam bersama Bibi."

Setelah mengantar Ghea dan memastikan putri kecilnya itu tenang, Regas melangkah menuju ruang kerjanya—satu-satunya ruangan di rumah ini di mana ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Ia mengunci pintu, lalu duduk di kursi kebesarannya. Dengan tangan bergetar, ia membuka laci paling bawah yang selalu terkunci rapat.

Di sana, di balik tumpukan dokumen perusahaan, ada sebuah bingkai foto kayu sederhana. Foto Azzalia yang sedang tertawa di perpustakaan universitas lima tahun lalu. Mata Lia dalam foto itu berbinar penuh mimpi, sangat kontras dengan tatapan sedingin es yang baru saja ia terima di gerbang tadi.

"Kenapa kamu harus kembali saat semuanya sudah hancur seperti ini, Lia?" bisiknya pedih.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja digedor dengan keras. Tanpa menunggu izin, Elena masuk dengan langkah yang dipaksakan meski tangannya terus memegangi perutnya yang buncit. Wajahnya yang pucat kini merah padam oleh amarah.

"Jadi benar?" suara Elena melengking, memecah kesunyian ruangan. "Wanita itu... guru sastra itu adalah dia? Azzalia yang selama lima tahun ini fotonya kamu sembunyikan di balik laci?!"

Regas tidak sempat menyembunyikan foto itu. Elena melangkah maju dan menyambar bingkai foto dari meja kerja Regas.

"Elena, kembalikan. Kamu sedang sakit, jangan emosi," ujar Regas dengan nada peringatan yang rendah.

"Sakit? Hatiku lebih sakit, Regas! Aku istrimu! Aku yang menemanimu saat perusahaan ayahmu hampir hancur, aku yang setuju menikah denganmu demi menenangkan orang tuamu, dan sekarang aku sedang mengandung anak kita!" Elena membanting foto itu ke lantai hingga kacanya pecah berkeping-keping. "Tapi matamu... matamu tadi menatapnya seolah aku tidak pernah ada di dunia ini!"

Regas berdiri, matanya menatap pecahan kaca yang kini menutupi wajah Lia di foto itu. "Kamu tahu sejak awal pernikahan ini dibangun di atas apa, Elena. Kita sepakat untuk menjalankan peran kita masing-masing."

"Tapi aku mencintaimu!" teriak Elena dengan air mata yang mulai mengalir. "Dan aku tidak akan membiarkan wanita miskin itu merusak keluarga yang sudah susah payah kubangun. Jika dia tidak pergi dari sekolah itu, aku sendiri yang akan memastikan dia kehilangan pekerjaannya!"

Regas mencengkeram pinggiran meja, kuku-kuku jarinya memutih. "Jangan sekali-kali menyentuhnya, Elena. Atau kamu akan tahu apa yang bisa dilakukan seorang insinyur untuk meruntuhkan struktur yang sudah ia bangun sendiri."

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!