Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krim Cukur dan Benteng yang Meruntuh
[Tiga Hari Kemudian]
Ruang Rawat Inap VVIP, RSPAD Gatot Soebroto.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden berbahan beludru tebal, melukis garis-garis keemasan di atas lantai marmer ruangan VVIP tersebut. Suara bising dan desisan mesin ventilator yang mengerikan sudah terganti oleh kicauan samar burung dari taman rumah sakit di bawah sana.
Dr. Lyra Andini bersandar di tumpukan bantal empuk. Wajahnya sudah kembali merona, selang intubasi telah lama dicabut, menyisakan hanya plester kecil penyembuh luka lecet di tulang pipinya. Ia memutar kepalanya ke kanan, menatap pemandangan yang telah menjadi rutinitas pagi favoritnya selama tiga hari terakhir.
Kolonel Rayyan Aksara tertidur dengan posisi duduk di kursi berlengan di samping ranjang,
Pria itu menolak ranjang pendamping yang disediakan rumah sakit. Ia bersikeras tidur di kursi itu, dengan tangan kanan Lyra yang terjalin erat di dalam genggaman kedua tangannya, bertumpu di tepi kasur.
Lyra tersenyum tipis. Ia mengamati wajah Rayyan dalam damai. Sang pembunuh elit itu kini tampak seperti pria biasa yang kelelahan. Kemeja hitam yang ia kenakan sedikit kusut. Bayangan cambang di rahang dan dagunya kini telah tumbuh menjadi rahang berjanggut pendek yang membuatnya terlihat sedikit liar, namun luar biasa seksi.
Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkannya, Lyra menggerakkan jari tangan kirinya yang bebas dari infus. Ia menjulurkan tangannya, menyusupkan jemarinya ke rambut gelap Rayyan yang berantakan, dan mengusapnya dengan kelembutan yang memuja.
Sentuhan itu seringan bulu, namun refleks tempur Rayyan tertanam terlalu dalam.
Dalam sepersekian detik, tubuh Rayyan menegang. Matanya terbuka lebar, langsung memancarkan kewaspadaan mutlak. Ia menegakkan tubuhnya, tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya terkunci pada wajah Lyra yang sedang tersenyum geli.
Seketika, seluruh ketegangan militer itu menguap dari bahu Rayyan. Ia menghembuskan napas lega yang sangat panjang, membalik telapak tangan Lyra yang sedari tadi ia genggam, lalu mengecup bagian dalamnya dengan dalam.
“Selamat pagi,” bisik Rayyan serak, suaranya dihiasi oleh sisa-sisa kantuk yang berat, menggetarkan perut Lyra.
“Selamat pagi, Komandan,” balas Lyra, suaranya sudah jauh lebih jernih meski masih menyisakan sedikit parau. Ia menarik tangannya dari rambut Rayyan, membelai rahang pria itu yang ditumbuhi rambut kasar. “Kau melanggar perintah medis lagi. Dokter menyuruhmu tidur di kasur, bukan di kursi.”
“Kasur itu berjarak tiga meter dari ranjangmu,” Rayyan beralasan, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Lyra. “Itu terlalu jauh.”
Lyra tertawa pelan, sebuah suara yang selalu berhasil membuat jantung Rayyan berdegup lebih tenang. “Tiga meter, Rayyan. Bukan tiga kilometer.”
“Sama saja,” Rayyan tidak memperdulikan argumen itu. Matanya menelusuri wajah Lyra, memastikan rona sehat itu benar-benar nyata.
Pria itu bangkit dari kursinya, merenggangkan otot-otot punggungnya yang kaku hingga terdengar bunyi bergemeletuk pelan. Ia berjalan menuju kamar mandi ruangan tersebut. Lima menit kemudian, Rayyan keluar membawa sebuah mangkok kecil berisi air hangat, handuk kecil bersih, dan sebuah alat cukur manual miliknya beserta krim cukur.
Rayyan meletakkan barang-barang itu di atas meja nakas tarik dan menggesernya ke atas pangkuan Lyra.
“Kau ingat kalimat pertamamu saat kau sadar dari koma?” Tanya Rayyan dengan sebelah alis terangkat, sebuah senyum miring yang menawan menghiasi bibirnya.
Lyra mengerjap, mengingat kembali. Rona merah perlahan menjalar di pipinya. “Bahwa… kau terlihat jelek dengan jenggot itu?”
“Tepat,” Rayyan menarik kursinya lebih dekat, nyaris merapat ke sisi ranjang Lyra. Pria besar itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, memosisikan wajahnya tepat di atas meja nakas, memberikan akses penuh pada leher dan rahangnya. “Kau yang protes, maka kau yang harus bertanggung jawab, Dokter. Bersihkan kekacauan ini.”
Lyra membelalakan matanya yang bulat. “Rayyan! Aku tidak pernah mencukur wajah pria sebelumnya. Bagaimana kalau aku menggorokmu dengan silet ini?”
“Kalau begitu, aku akan mati sebagai komandan paling bahagia karena mati di tanganmu,” goda Rayyan santai, matanya memancarkan kepercayaan yang nyata. “Lakukanlah. Tanganku terlalu kaku hari ini.”
Itu bohong, tentu saja. Tangan Rayyan bisa merakit senapan runduk dalam keadaan buta di tengah hujan badai. Namun Lyra mengerti apa yang sedang dilakukan pria itu. Rayyan sedang memberinya kendali. Pria itu ingin merasa Lyra berguna, merasa bahwa ia bukan sekadar pasien yang lemah.
Lyra menelan ludah. Hatinya membengkak oleh rasa cinta yang begitu besar. “Baiklah. Tapi jika kau berdarah, jangan salahkan aku.”
Lyra mengambil kaleng krim cukur, mengocoknya pelan, lalu menyemprotkan busa putih yang harum itu ke telapak tangannya. Aroma maskulin dari sandalwood dan peppermin seketika memenuhi udara.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lyra mulai mengoleskan busa itu ke rahang bawah, dagu, dan leher Rayyan. Kulit pria itu terasa hangat di bawah jemarinya. Setiap kali jari Lyra menyentuh kulitnya, Rayyan akan memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi sentuhan wanita yang ia cintai.
“Dongakkan kepalamu sedikit,” perintah Lyra pelan, suaranya otomatis merendah.
Rayyan menurut. Ia mendongakkan kepalanya, memperlihatkan jakunnya yang menonjol dan lehernya yang kokoh—sebuah gestur penyerahan diri yang luar biasa intim dari seorang predator yang mematikan.
Lyra mengambil alat cukur itu. Ia memegang rahang kiri Rayyan dengan tangan kirinya untuk menstabilkan posisi, lalu mulai menggerakkan pisau cukur itu dari bawah telinga menuju dagu dengan gerakan yang sangat berhati-hati.
Bunyi gesekan silet yang memotong rambut kasar terdengar konstan di ruangan yang sunyi itu.
Saat Lyra berkonsentrasi penuh, ia tidak menyadari bahwa kedua tangan Rayyan perlahan bergerak naik. Tangan besar dan kapalan itu menelusup masuk kedalam selimut tipis rumah sakit, lalu berlabuh di kedua sisi pinggang Lyra.
Sengatan listrik langsung menjalar ke tulang belakang Lyra saat tangan Rayyan meremas pelan pinggangnya secara posesif. Napas Lyra tercekat sedetik, tangannya yang memegang silet berhenti di udara.
“Rayyan…” bisik Lyra, menunduk menatap mata obsidian yang kini terbuka dan sedang menatap bibirnya dengan gairah yang menggelap. “Jangan mengganguku. Aku memegang benda tajam.”
“Aku tidak mengganggumu,” balas Rayyan dengan suara yang sangat rendah, serak, dan bergetar, ibu jarinya mulai membelai sisi pinggang Lyra dengan gerakan memutar yang memabukkan. “Aku hanya memastikan bahwa kau benar-benar nyata, Lyra.”
Lyra menelan ludah. Ia membilas alat cukurnya ke dalam mangkuk air hangat, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun kali ini, konsentrasinya terpecah belah oleh sentuhan tangan Rayyan di pinggangnya dan tatapan pria itu yang seolah membakar kulitnya.
Saat silet itu turun menyusuri leher Rayyan, Lyra bisa merasakan detak nadi sang komandan yang berpacu kencang di bawah jari-jarinya. Jantung pria ini berdetak hanya untuknya.
“Selesai,” bisik Lyra pada akhirnya. Ia mengambil handuk kecil yang sudah dicelupkan ke air hangat, memerasnya, lalu mengusap sisa krim cukur dari wajah Rayyan dengan sangat lembut.
Rahang setajam pahatan batu andesit itu kembali bersih, memperlihatkan lekukan maskulin yang begitu sempurna.
Rayyan tidak menjauh. Alih-alih mundur, ia justru menggeser meja nakas itu ke samping dengan siku kirinya hingga terdengar bunyi roda berderit. Penghalang di antara mereka hilang.
Rayyan berdiri, lalu duduk di tepi ranjang rawat Lyra, mengabaikan aturan rumah sakit. Ia mencondongkan tubuh besarnya ke arah Lyra, kedua tangannya kini menangkup wajah gadis itu dengan penuh kelembutan.
Lyra menengadah. Jarak mereka kini tak lebih dari embusan napas.
“Terima kasih,” bisik Rayyan, ibu jarinya membelai tulang pipi Lyra tepat di bawah plester lukanya. Mata pria itu memancarkan emosi yang begitu nyata, begitu rapuh, sesuatu yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini selain Lyra Andini.
“Saat pintu ruang resusitasi itu tertutup…” suara Rayyan pecah, tangannya sedikit gemetar di wajah Lyra. “Aku berdiri di lorong itu dan merasa seolah ada seseorang yang merobek jantungku dari dadaku. Aku telah menghadapi moncong peluncur roket, Lyra. Tapi tidak ada yang lebih membuatku ketakutan setengah mati dibandingkan melihat mesin itu harus bernapas untukmu.”
Mata Lyra berkaca-kaca. Ia mengangkat kedua tangannya, membalas sentuhan Rayyan dengan menangkup rahang pria yang baru saja ia cukur. Kulitnya terasa sangat halus dan bersih.
“Aku di sini, Rayyan,” bisik Lyra, air mata bahagia menetes dari sudut matanya. “Aku bernapas. Karena kau yang membawaku pulang.”
“Jangan pernah melakukannya lagi,” pinta Rayyan, menempelkan dahinya ke dahi Lyra. Napas mereka saling menyapu, hangat dan penuh damba. “Biarkan aku menjadi tamengmu. Biarkan aku melindungimu.”
“Aku berjanji,” balas Lyra tanpa ragu.
Mendengar janji itu, pertahanan Rayyan hancur sepenuhnya. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, dan menyatukan bibir mereka.
Ini bukan ciuman tergesa-gesa di tengah ancaman maut. Ini adalah ciuman yang lambat, dalam, dan luar biasa memuja. Bibir Rayyan melumat bibir Lyra dengan kelembutan yang melumpuhkan kewarasan, mengecap rasa manis yang telah ia rindukan dengan putus asa.
Tangan Rayyan turun dari wajah Lyra, menyelusup ke belakang tengkuk gadis itu, menahannya dengan posesif namun tetap berhati-hati agar tidak menyakiti sisa memarnya. Lyra merespons dengan gairah yang sama, jari-jarinya meremas bahu lebar Rayyan, menarik pria itu semakin dekat hingga dada mereka bersentuhan.
Di dalam ciuman itu, tidak ada lagi komandan Black Ops yang kaku atau arkeolog yang ceroboh. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah melewati batas antara hidup dan mati, dan menemukan bahwa rumah mereka yang sesungguhnya ada pada pelukan satu sama lain.
Rayyan memperdalam pagutannya, lidahnya menyapu bibir bawah Lyra, menuntut akses yang diberikan Lyra dengan erangan tertahan. Erangan itu menjadi bensin bagi api gairah sang komandan. Rayyan memindahkan sebelah tangannya dari tengkuk Lyra ke pinggangnya, menarik tubuh gadis itu merapat, memberikan sensasi hangat yang menjalar dari perut hingga ke dada Lyra.
Ruangan VVIP itu terasa memanas. Ciuman mereka semakin intens, penuh dengan rasa syukur, rindu, dan hasrat yang tertahan berhari-hari.
Ketika paru-paru mereka akhirnya menjerit meminta oksigen, Rayyan melepaskan bibir Lyra dengan enggan, namun tidak mundur sejengkal pun. Pria itu menelusurkan bibirnya ke sudut rahang Lyra, turun mengecup lembut perpotongan leher gadis itu, membuat Lyra memejamkan mata dan menarik napas tajam akibat sensasi menggelitik yang membakar.
“Rayyan…” bisik Lyra parau, tangannya mencengkeram kemeja pria itu dengan kuat.
Rayyan berhenti mengecup lehernya, namun tetap membenamkan wajahnya di sana, menghirup aroma vanila dari rambut Lyra yang sudah dicuci bersih oleh perawat kemarin. Pria itu terkekeh pelan, getaran suaranya terasa hangat di kulit leher Lyra.
“Sial,” gerutu Rayyan dengan suara sangat serak, perlahan menegakkan tubuhnya, matanya menatap bibir Lyra yang membengkak kemerahan akibat ulahnya. “Aku harus mengingat bahwa kau masih dalam tahap pemulihan, Lyra. Jika tidak, aku mungkin akan benar-benar mengunci pintu ruangan ini dari dalam.”
Wajah Lyra merona merah hingga ke telinga. Ia memukul pelan dada bidang pria itu, namun senyum lebar tak bisa lepas dari bibirnya. “Kau adalah ancaman bagi protokol rumah sakit, Kolonel.”
Rayyan menangkap tangan Lyra yang memukulnya, mengecup telapak tangan itu berulang kali. Seringai tampan yang mematikan itu kembali menghiasi wajahnya.
“Aku komandanmu. Aku tidak mengikuti protokol, aku yang membuatnya,” balas Rayyan dengan nada arogan yang selalu berhasil membuat Lyra jatuh cinta berkali kali lipat.
Rayyan kembali merengkuh tubuh Lyra ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu bersandar di dadanya sambil mendengarkan detak jantungnya yang berdebar kuat dan stabil.