Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bertemu Anjing Kecil Lagi
"Memang angsa betina," jawabnya sambil membalik badan menatap sang kakak. "Dia tidak menganggu aku, jangan ganggu dia. Aku hanya penasaran saja apa yang tengah dia lakukan, dia banyak berubah."
"Kau mengenalnya? Suku mereka baru bergabung dengan klan serigala buas sejak adanya perkawinan dengan kepala sukunya. Suku-suku di klan serigala buas tidak pernah akur dengan klan kita," balas sang kakak.
"Ya, aku tahu, karena itu jangan ganggu dia." Dia kembali memutar badan, melihat apa yang dikerjakan Liyya.
"Baik, aku tidak akan menganggu dia. Tapi, jika ada apa-apa ... kabari kakak selalu." Dia mengelus lembut kepala adiknya, setelah berkata seperti itu.
"Iya. Terimakasih Kak."
Sang kakak pun kembali berbalik dan hilang entah kemana, meninggalkan dia yang kembali menatap Liya diam-diam dari kejauhan.
Usai membersihkan lahan dan menanam semua benih, Liya dan para suami makan bersama. Seperti biasa, Bayu dengan sombong memamerkan set tempat makanan pemberian Liya pada yang lain.
"Mmm, masakan Liya semuanya lezat, aku suka!" puji Bayu.
"Kamu mah si ular rakus, semuanya pasti di lahap, semua di bilang enak!" jawab Loki.
Liyya mulai memegang kening. Setiap makan, ada saja hal kecil yang mereka ributkan. "Sudah, kalau kalian ribut lagi, aku gak izinkan kalian temui aku lagi!" Liya mengancam.
"Kami diam nih. Diam!" Mereka bertiga duduk rapi dengan baik.
Mulai makan dengan lahap tanpa suara. Usai makan barulah Pidi bersuara. "Tugas cuci piring hari ini giliran kamu Bayu."
"Aku?" Menunjuk dadanya sendiri.
"Iya lah! Jangan makan aja mau, cuci piringnya harus gantian, masa habis makan langsung tidur, dasar ular hitam!" kata Loki mengejek Bayu.
"Kau—"
"Setelah ini, aku mau mencari beberapa tumbuhan dan bambu ke hutan di bagian utara sana!" potong Liya, sebelum mereka berdebat lagi.
"Aku ikut Liya." Pidi bersuara.
"Tidak, tugas kamu masih banyak, aku bisa sendiri," jawab Liya dan segera mengedarkan pandangan melotot pada Bayu dan Loki. "Kalian berdua juga tidak!" Liya sudah bisa menebak kepala mereka dan apa yang akan diucapkan setelahnya.
Bayu berdecak lidah karena ucapannya sudah dipotong sebelum keluar, Loki pun juga.
"Tapi hutan Utara banyak hewan besar liar, bahaya!" Pidi menatap Liya.
"Tidak apa-apa. Aku ini cukup kuat dan hebat. Jangan terlalu khawatir." Liya menepuk bahu Pidi.
Akhirnya mereka terlihat akur saat Liya hendak berangkat ke hutan bagian Utara, tetapi tidak setelah Liya menjauh, mereka mulai berdebat, dan ada saja masalahnya.
Liya sudah sampai di hutan, memungut beberapa tumbuhan untuk persiapan cadangan makanan, benih dan bahan obat. Dia sudah mampu berjalan dengan menyandang keranjang bambu. Badan Liya sekarang tidak lagi gemuk, badannya padat berisi, berotot kecil dibagian lengan karena sering dilatih angkat beban.
Setelah keranjangnya penuh, dia berhenti di bawah pohon jambu liar. Biji jambu itu besar mencolok keluar satu biji. Liya memetik yang berwarna paling merah dan masak ranum. Manis, air jambunya sedikit tidak terlalu banyak.
Tiba-tiba, Liya melempar biji jambu itu dengan kuat ke arah semak dalam. "Keluar!" teriaknya. Sejak tadi, Liya merasa benar-benar di ikuti.
Keluarlah seekor anjing kecil berwarna hitam. Di kakinya terlihat perban dengan ikatan pita yang sangat dikenali Liya. "Eh, kau anjing kecil yang aku tolong waktu itu 'kan? Bulu kamu berganti menjadi hitam pekat?" seru Liya setelah melihat seekor anak anjing keluar.
Anak anjing itu berjalan ke arah Liya, ukurannya jauh lebih besar beberapa kali dari pada waktu Liya sembuhkan kala itu.
Kini, dia sudah berada di depan Liya, duduk dengan patuh seperti anjing jinak. "Bulu tubuhku ini memang hitam pekat," jawabnya.
"Eh? Kamu bisa menjawab. Kamu anak anjing yang waktu itu 'kan?" Liya menunjuk bekas perban di kakinya. "Perbannya belum kamu lepaskan, sebaiknya kamu lepaskan!"
"Aku kesini memang ingin menyuruh kamu melepaskan ini!" balasnya.
Liya tertawa mendengus. "Kau terlihat sombong setelah sembuh anjing kecil, bahkan berani menyuruhku, seharusnya kau ucapkan tolong dan terimakasih padaku!" Liya melipat tangannya.
"Untuk apa aku harus melakukan itu padamu?"
"Tentu saja untuk kebaikan kamu. Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa, pergilah menjauh dariku!" Liya memutar tubuhnya, memangku kembali keranjang bambu dan pergi meninggalkan anjing sombong itu.
"Heh, Liya! Tunggu!" Dia mengekor dengan ekor bergoyang-goyang. "Liya, kau dengar tidak! Aku bilang tunggu!" Dia berteriak marah sambil mengejar langkah Liya. "Liya!"
Liya tidak peduli, terus berjalan sambil menggendong belakang keranjang bambunya. Sulur dari tubuh Liya keluar, merambat mendeteksi tumbuhan sekitar. Beberapa tangan Liya juga mengibas, elemen angin dan tanah dia pergunakan juga untuk mencari hal yang dia butuhkan.
Tiba-tiba, Liya mengehentikan langkah. Anjing kecil itu sampai menabrak betis Liya.
"Aduh, Liya kau sengaja kan! Tadi aku suruh berhenti kami tidak mau, saat aku berlari mengejar mu, kamu berhenti!" Dia mengelus kening dengan kaki anjing mungilnya.
"Brisik! Diam!" Liya menendang pelan tubuh anjing itu, hingga anjing itu termundur satu langkah ke belakang.
Plak! Liya berhasil melemparkan buah jambu ke arah ayam hutan. Ayam itu menjadi teler. Liya segera menangkap, mengikat sayap dan kakinya, lalu memasukkan ke keranjang. Sesekali mengibaskan tangan lagi di keranjang, memasukkan beberapa barang yang bisa ia simpan di ruang penyimpanan.
Liya berkacak pinggang menatap tajam anjing yang sejak tadi mengomel sambil mengikuti dirinya. "Anjing kecil siapa nama kamu?" tanyanya.
"Kau tidak perlu tahu siapa namaku!" Menjawab dengan dagu terangkat.
"Oh begitu ya! Aku sudah cukup sabar padamu! Lagian kamu sok akrab sekali denganmu. Memangnya aku mengizinkan kamu memanggil namaku?" Liya langsung mengikat anjing itu dengan sulur tanamannya, kemudian melempar anjing itu entah kemana.
"Liya, awas kamu!" Teriakan anjing itu terngiang-ngiang di udara sebelum hilang.
"Siapa suruh brisik dan mengikuti aku!" Liya menepuk-nepuk tangannya, kemudian kembali ke rumah.
Saat sampai di rumah, rumah Pidi dan Bayu sudah selesai, kebun baru buatan Loki juga sudah selesai, tapi rumah itu hening tanpa suara.
"Eh, tumben?" Liya merasa lega. Namun, baru saja meletakkan keranjang, si sudut sana sudah terdengar suara gemuruh.
Liya berjalan keluar, berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala. Pohon kayu dengan akar-akarnya tumbang, terbang melayang di udara. Itu pasti ulah Bayu, tengah melempar Loki. Lalu kayu itu terbakar, dan itu pasti ulah Loki. Batu terbang dan pecah di udara, itu pasti ulah Pidi.
"Kalian mau menghancurkan bukit ini? Mau menghancurkan rumah dan kebunku?" teriak Liya. Mendengar itu, semuanya langsung berhenti dan berlari ke arah Liya.
Loki dengan baju compang camping, tidak lupa ciri khasnya, dibagian bahu selalu merosot turun, rambut panjangnya acak-acakan. Bayu bengkak dan memar di bagian kening dan wajah, sementara Pidi luka gores di bagian tangan dan kaki.
lanjutt🙏
seru kak..
makasih up nya
semangat😍😍😍😍😍😍
semakin hari kekuatan Liya semwkin meningkat pesat dan semoga gak terkalahkan
up trus kak.. biar melek tu mata ta kasih kopi 😍😍😍😍
semangat..