seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Sisa Napas di Ambang Batas
Lorong rumah sakit yang tadinya tenang kini berubah menjadi medan perang tanpa suara.
Bunyi alarm dari berbagai monitor pasien bersahutan dengan teriakan instruksi para perawat. Di kamar VVIP, pemandangan itu menghancurkan hati:
Pak Rahman tampak berjuang menghirup udara yang kian menipis, sementara mesin ventilator di sampingnya menunjukkan garis peringatan merah.
Shafira membeku di ambang pintu. Seluruh dunianya terasa runtuh melihat sang ayah kembali di ambang maut.
Namun, di saat ketakutan mulai melumpuhkan logika Shafira, Dave justru melangkah maju. Ia bukan lagi CEO yang menunggu laporan; ia adalah seorang pria yang tidak akan membiarkan kebahagiaan wanitanya direnggut untuk kedua kalinya.
Dave segera mendekati ranjang Pak Rahman, membantu perawat memasangkan tabung oksigen manual.
"Shafira, tatap aku!" suara Dave tegas, menembus isak tangis yang mulai pecah.
"Ayahmu adalah pejuang. Dia tidak akan menyerah, dan aku juga tidak. Sekarang, berdoa. Biarkan aku yang menjadi tangan-Nya di sini."
Dave segera menghubungi Rio melalui ear piece nya.
"Rio, lupakan soal mengejar pelaku. Prioritas utama adalah distribusi tabung oksigen portabel dari gudang cadangan Mahesa Group.
Aku tahu kita punya stok darurat untuk proyek tambang. Bawa semuanya ke sini dalam sepuluh menit! Gunakan helikopter jika jalanan macet!"
Sembari menunggu bantuan, Dave tidak tinggal diam. Ia berlari menuju ruang teknisi di lantai bawah, mengabaikan jasnya yang kini basah oleh keringat. Di sana, ia menemukan seorang teknisi yang tampak gemetar di depan panel sistem yang disabotase.
"Biar aku lihat," geram Dave.
Ia menggunakan pengetahuan teknisnya, sisa-sisa pelajaran teknik mesin yang dulu ia ambil sebelum beralih ke manajemen bisnis.
Tangannya yang biasa memegang pena mahal kini berlumuran oli dan debu, mencoba mem-bypass sistem digital yang terkunci virus.
Ia tahu, jika ia gagal di sini, ia tidak hanya kehilangan kepercayaan Pak Rahman, tapi juga kehilangan hak untuk mencintai Shafira.
Di tengah kekacauan itu, tim media yang sudah disiapkan oleh Bu Sarah mulai berdatangan di lobi rumah sakit. Mereka mulai menyebarkan narasi bahwa Mahesa Group sengaja memutus aliran oksigen untuk menutupi jejak malapraktik pada pasien-pasien tertentu.
Namun, Bu Sarah meremehkan satu hal: Gigihnya seorang pria yang sedang jatuh cinta.
Dave berhasil mengaktifkan kembali katup manual oksigen tepat saat bantuan oksigen portabel dari helikopter Mahesa Group mendarat di atap rumah sakit.
Ia kembali ke atas, napasnya memburu, wajahnya cemong oleh debu, namun matanya bercahaya saat melihat indikator detak jantung Pak Rahman mulai stabil kembali.
Shafira yang sedang bersujud di sudut ruangan, perlahan berdiri. Ia menatap Dave, pria yang tadinya sangat ia ragukan, kini berdiri di depannya dengan penampilan yang jauh dari kata rapi, namun tampak sangat mulia di matanya.
Setelah situasi mulai kondusif, Dave dan Shafira duduk di kursi tunggu lorong yang kini mulai sepi. Dave menyandarkan kepalanya ke dinding, merasa energinya benar-benar terkuras.
"Pak Dave," panggil Shafira pelan.
Ia menyodorkan sebotol air mineral dan selembar tisu. "Wajah Bapak... sangat kotor."
Dave terkekeh lemas, menerima tisu itu. "Setidaknya aku tidak sekotor rencana ibuku, kan?"
Ia menatap Shafira dengan pandangan yang dalam. "Shafira, hari ini aku menyadari sesuatu. Kekuasaan itu tidak ada artinya jika aku tidak bisa menyelamatkan satu nyawa yang paling berarti bagi wanita yang kucintai.
Aku bersedia kehilangan seluruh aset Mahesa Group, asalkan aku tidak kehilangan kesempatan untuk melihatmu tersenyum besok pagi."
Shafira menunduk, hatinya bergetar hebat. Perjuangan Dave yang totalitas dari bersimpuh di depan ayahnya hingga berjibaku dengan mesin oksigen telah meruntuhkan sisa-sisa tembok di hatinya.
"Bapak sudah membuktikan lebih dari cukup," bisik Shafira.
"Tapi perjuangan kita belum selesai. Ibunda Bapak tidak akan berhenti sampai Bapak menyerah."
"Maka aku tidak akan pernah menyerah," tegas Dave. Ia mencondongkan tubuhnya, meskipun tetap menjaga jarak.
"Aku akan menghadapi media di bawah sekarang. Aku akan membersihkan nama rumah sakit ini dan namamu. Setelah itu, aku ingin kita bicara, bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai dua orang yang ingin menata masa depan bersama.
Apakah kau bersedia menunggu, meskipun aku mungkin akan keluar dari sini dengan status 'bukan siapa-siapa'?"
Shafira menatap mata Dave, dan untuk pertama kalinya, ia memberikan jawaban yang pasti melalui sorot matanya yang teduh.
"Saya tidak pernah mencintai jabatan Bapak, Dave. Jadi, apa pun status Bapak saat keluar dari pintu itu, saya akan tetap berada di sini."
Dave melangkah menuju lobi dengan penuh percaya diri. Di depan puluhan kamera, ia tidak menghindar. Ia justru menunjukkan tangan dan bajunya yang kotor.
"Kalian ingin berita?" ujar Dave dingin di hadapan jurnalis. "Beritanya adalah: Mahesa Group sedang dibersihkan. Dan pembersihan itu dimulai dari saya, yang menolak menjadi budak harta, dan berakhir pada mereka yang mencoba bermain dengan nyawa manusia.
Siapa pun yang berada di balik sabotase ini, saya pastikan mereka akan membusuk di penjara, siapa pun orangnya."
Di balik jeruji penjara, Bu Sarah membanting ponselnya saat melihat siaran langsung itu. Ia menyadari bahwa Dave bukan lagi putranya yang bisa ia kendalikan. Dave telah menemukan sumber kekuatan baru yang jauh lebih dahsyat dari uang: Cinta dari seorang wanita bernama Shafira.
.