Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pak Sutoyo
Suasana pusat perbelanjaan siang itu terasa hangat bagi Pak Sutoyo. Di wajahnya yang biasanya tegas dan berwibawa, tersirat binar kebahagiaan yang sulit disembunyikan, buah dari kembalinya putri dan cucu tercinta ke pelukannya. Saat Pak Sutoyo hendak beranjak dari kursinya, langkahnya terhenti. Dua orang pria seusianya datang menghampiri.
"Selamat siang, Pak Sutoyo!" sapa Sony dengan nada riang yang sedikit dipaksakan untuk menutupi kegugupannya. Di sampingnya, Ardi hanya mengangguk kecil, memberikan penghormatan formal.
Pak Sutoyo mengenali salah satunya. Beliau tersenyum ramah, aura kepemimpinannya tetap terpancar meski sedang dalam mode santai. "Anda Pak Sony, kan?"
"Betul sekali, Pak. Sepertinya Anda sedang menikmati quality time bersama keluarga," ucap Sony sopan.
"Ya, begitulah. Saya hanya sedang mengajak cucu saya jalan-jalan," ujar Pak Sutoyo. Pandangannya kemudian beralih, mengikuti arah mata Ardi yang sedari tadi justru terpaku pada El. Bocah kecil itu tampak sangat tenang dan asyik menikmati es krimnya, seolah punya dunianya sendiri.
Menyadari situasi tersebut, Sony segera memperkenalkan sahabatnya. "Oh iya Pak, perkenalkan ini Pak Ardi. Beliau berencana untuk ikut bekerja sama dalam proyek baru kita nanti."
Pak Sutoyo menyambut uluran tangan Ardi dengan mantap. "Wah, bagus sekali. Semakin banyak yang berinvestasi, perusahaan baru kita akan semakin kuat. Bagaimana kalau besok lusa kita adakan pertemuan resmi dengan para investor lainnya?"
"Saya sangat setuju, Pak," sahut Sony antusias. "Nanti saya akan didampingi asisten saya. Pak Ardi juga bisa melihat semua perencanaan proyek kita secara langsung. Saya ingin bersikap transparan agar para investor memiliki kepercayaan penuh pada proyek besar ini."
Di tengah pembicaraan bisnis itu, perhatian Ardi masih tertuju pada El. Pak Sutoyo yang menyadari hal itu kemudian memanggil cucunya. "Oh iya, El, perkenalkan... ini teman-temannya Kakek."
Dengan sigap, El meletakkan sisa es krimnya. Ia mengambil tisu basah, mengelap tangan dan mulutnya dengan rapi, lalu berdiri. Satu per satu, ia mencium punggung tangan Sony dan Ardi dengan sangat takzim.
Ardi terpaku. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat kesantunan bocah itu. "Tidak disangka, di usianya yang masih sangat kecil, cucu Anda memiliki attitude yang luar biasa baik," puji Ardi tulus.
Pak Sutoyo mengusap kepala El dengan bangga. "Ini semua berkat didikan putri saya. Bahkan, rencananya putri saya akan saya libatkan langsung untuk mengelola proyek kita ini."
Sejenak, Pak Sutoyo terdiam. Pikirannya melayang pada Hana. Ada sebuah tekad besar yang mulai tumbuh di benaknya.
'Sepertinya Hana harus mulai ku ajarkan cara menjadi pebisnis yang tangguh. Kelak, seluruh perusahaan dan aset berhargaku akan jatuh ke tangannya, dan selebihnya untuk Tama,' batin Pak Sutoyo penuh keyakinan.
Sore itu, aroma teh melati menguar di area balkon belakang. Hana dan Tama duduk berdampingan, menatap hamparan taman hijau yang menjadi oase di tengah kepenatan. Di sana, puluhan pot anggrek tertata rapi, menunjukkan kelas dan ketelatenan pemiliknya.
"Bunga anggrek ini sangat indah ya, Mas?" puji Hana tulus, matanya berbinar menatap kelopak-kelopak yang bermekaran.
"Kamu suka bunga anggrek?" tanya Tama sambil menyesap tehnya.
"Suka. Dulu aku pernah menanamnya, namanya Anggrek Bulan," kenang Hana dengan senyum tipis.
Tama menoleh, sedikit terkejut. "Wah, itu kan jenis yang cukup langka dan perawatannya sulit, Han."
"Katanya sih begitu. Aku dapat bibitnya dari Bude Minah. Beliau menemukannya di dekat tebing area perkebunan," cerita Hana antusias.
Tama memperhatikan wajah Hana yang tampak tenang. "Kalau nanti kamu merasa bosan, kita bisa menanam bunga anggrek bersama di sini. Bagaimana? Kebetulan, semua anggrek di taman ini aku yang tanam sendiri."
Hana tersentak. Ia menatap Tama dengan pandangan tidak percaya. Pria di sampingnya ini, pria yang ia kenal kaku, dingin, dan jarang tersenyum, ternyata memiliki sisi lembut yang mampu merawat bunga serumit anggrek.
Keheningan mereka terpecah saat suara riuh terdengar dari ruang tengah. Pak Sutoyo dan El telah kembali. Hana dan Tama segera beranjak menyambut mereka. Mata Hana membelalak melihat tumpukan kantong belanjaan yang dibawa oleh asisten rumah tangga di belakang mereka.
"Wah, banyak sekali mainannya?" tanya Hana, hampir tak percaya.
El mendekat ke arah bundanya, wajahnya tampak sedikit sungkan. "Kakek yang memaksa aku untuk membeli banyak mainan, Bun!" bisiknya, seolah takut Hana akan memarahinya karena terlalu boros.
Pak Sutoyo tertawa renyah, merangkul bahu kecil El dengan gemas. "Tidak apa-apa, Hana. Kalau perlu, pabrik mainannya pun akan Papah belikan untuk cucu kesayangan Papah ini!"
Hana hanya bisa menggelengkan kepala, tak mampu mendebat kasih sayang ayahnya yang meluap-luap. Pak Sutoyo kemudian mengalihkan pandangannya pada Tama.
"Kau sudah pulang, Nak? Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor hari ini?"
"Baik, Pah. Tidak ada kendala apa pun," jawab Tama tenang.
Setelah suasana sedikit mencair, Pak Sutoyo mengajak mereka duduk. Ekspresi wajahnya berubah serius. El yang sudah mendapatkan izin segera bermain dengan mainan barunya di karpet, sementara suasana di meja berubah menjadi formal.
"Hana, ada hal penting yang ingin Papah bicarakan padamu. Ini soal perusahaan," buka Pak Sutoyo.
Hana mengernyitkan keningnya, rasa cemas mulai merayap. "Hal penting apa, Pah? Apa hubungannya denganku?"
"Apakah kau mau membantu Papah mengelola perusahaan? Kebetulan Papa sedang memulai proyek baru yang sangat besar, dan Papa ingin melibatkan mu di dalamnya."
Hana terdiam. Jantungnya berdegup kencang. "Apa, Pah? Aku... aku tidak bisa, Pah. Aku takut mengecewakan Papah. Aku tidak tahu apa-apa soal bisnis."
"Kau jangan bilang begitu dulu, Hana. Apa salahnya mencoba? Ingat, suatu saat nanti, apa yang Papah miliki akan jatuh ke tanganmu dan juga Tama," ujar Pak Sutoyo tegas namun penuh kasih.
Tama ikut mengangguk, menguatkan ucapan ayahnya. "Apa yang dikatakan Papah benar, Hana. Ini saatnya kamu menunjukkan kepada dunia bahwa kau telah berbeda. Kau mampu menjadi pemimpin."
"Tapi Mas, aku benar-benar tidak punya pengalaman," sela Hana, suaranya sedikit bergetar.
"Kamu tenang saja. Nanti Raka dan Sekretaris Indah yang akan membimbing mu secara langsung. Mereka orang-orang kepercayaan Papah yang sangat ahli," jelas Pak Sutoyo.
Hana menatap Tama dengan bingung. "Lantas, kenapa bukan Mas Tama saja yang menjadi pemimpin? Mas kan sudah lama di sana."
Tama tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan rasa hormat. "Aku tidak tertarik menjadi pemimpin utama, Han. Papah sudah sering mendesak ku, tapi aku justru lebih tertarik dengan profesiku sekarang. Aku hanya ingin bisa menyokong Papah dari belakang dan melihatmu berkembang sehebat Papah."
Mendengar pengakuan tulus dari putra angkatnya, Pak Sutoyo tampak terharu. Matanya berkaca-kaca melihat kekompakan kedua anaknya itu.
Bersambung...