Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 19
"Mau bangun atau aku guyur pakai air es!" kesal Ayana saat membangunkan Gavin yang tidurnya seperti mayat hidup. padahal Ayana sedari tadi sudah berteriak dan mengguncang tubuh Gavin. Tak tahu saja Ayana, kalau Gavin meminum obat tidur karena sulit untuk tidur memikirkan Vania. Entah apalagi yang dia pikirkan tentang Vania kali ini.
byuuuurrr
Ayana benar-benar menyiram wajah Gavin dengan segelas air es. Membuat Gavin yang sedang nyenyak seketika terbangun karena kedinginan.
"Dingin ... Dingin ... dingin sekali!" teriak Gavin mengusap wajahnya yang kedinginan.
"Dingin kan? Suruh siapa tidur kayak kebo! Susah sekali di bangunin! Cepat mandi sana, hari ini kita ada Meeting jangan sampai membuat Papi Evan marah kepadamu! Dia masih kesal Maslaah Vania, jangan sampai dia semakin marah karena kamu nggak fokus kerja!" Cerocos Ayana.
"Keterlaluan sekali kamu bangunin Aku dengan air dingin! ini tu dingin sekali Ayana! dingin tau!" kesal Gavin.
"Lain kalian kalau susah di bangunin aku tak akan peduli kalau kamu sampai telat ke kantor atau meeting!" jawab Ayana.
"Tapi nggak harus pakai air dingin juga kali! Ini dingin banget wajah aku kebas tau! Nih coba kamu pegang sendiri!" kesal Gavin menarik tangan Ayana untuk memegang wajahnya yang sangat dingin.
Ayana merasa bersalah karena wajah Gavin benar-benar dingin. Dia menarik tangannya dari wajah Gavin.
"Udah tahu kamu kedinginan, ya susah sana mandi air hangat!" jawab Ayana beralih ke arah lemari untuk mengambil pakaian Gavin.
"ck! Lain kali pakai air panas aja biar melepuh sekalian!" Gavin masih sangat kesal.
"Boleh juga ide nya! Tapi jangan salahkan aku kalau nanti Vania tak mau sama kamu,n karena wajahmu jelek!" ada saja jawaban Ayana yang membaut Gavin kesal.
Gavin masuk ke dalam kamar mandi karena badannya mulai kedinginan dan butuh berendam air hangat. Sedangkan Ayana pergi dari sana menuju kamarnya mengambil tas kerja dan ke meja makan untuk menyiapkan sarapan mereka. Dia bukan berusaha menjadi istri yang baik untuk Gavin, tapi dia sudah terbiasa memasak sarapannya sendiri.
"Meeting kita hari ini kapan? Dengan perusahaan mana?" tanya Gavin saat mereka duduk di meja makan bersama.
"Aku sudah kirim semuanya ke email kamu!" jawab Ayana melirik sekolah ke arah Gavin.
"Di kantor ..." ujar Gavin.
"Jangan khawatir mereka tak akan tahu jika kita menikah tak terduga. Aku akan bersikap profesional. Jadi jangan khawatir, lagi pula pernikahan kita juga sementara saja! Semoga dua Minggu kedepan wanita kesayangan kamu ketemu! Lagi pula kamu sudah kirim uang banyak sehingga aku bisa mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan mereka," jawab Ayana mengerti.
"Syukurlah kalau kamu tahu dan sadar ...", ucapan Gavin terhenti saat ponsel Ayana berbunyi, nama Reiner kembali muncul di ponsel istri sementaranya.
"Apa dia nggak kerja? Pagi-pagi buta menghubungi istri orang lain!" kesal Gavin tapi Ayana tak peduli dia mengambil ponsel dan sedikit menjauh dari Gavin. Dia sengaja memunggungi Gavin karena males melihat ekspresi Gavin yang menyebalkan. Apalagi dia selalu emosi kepada Reiner.
"Baiklah, nanti siang kita bertemu! Kirim saja alamat cafenya!" jawab Ayana saat mendapatkan ajakan di sebrang sana dari Reiner.
"Aku tak mengizinkan! Kita akan makan siang bersama, sayang!" Gavin ternyata sedari tadi berada di belakang Ayana dan menguping pembicaraan mereka.
"Gaviiiiiiinnnnnn!" teriak Ayana kesal berbalik.
"Apa sayang? kita kan suami istri, kita harus makan bersama dan kemanapun bersama-sama bahkan bobok saja kita bersama kan? Maaf pebinor minggir dulu!" ujar Gavin sengaja saat melihat panggilan telepon masih terhubung.
"Kamu menyebalkan sekali, Gavin!" kesal Ayana setelah meminta maaf kepada Reiner.
Sedangkan Gavin terkekeh dan mengangkat kedua bahunya tampak acuh kembali duduk dan menikmati kopi hangat di cangkir. Sedangkan Mbak Mirna yang sedang beres-beres di ruang televisi menahan tawa dan geleng kepala dengan pasangan suami istri baru itu. Dia sudah mengenal Ayana juga semenjak menjadi asisten Gavin dan akhirnya sekarang berstatus istri Gavin. Dia tak banyak bertanya saat melihat kamar mereka terpisah, toh bukan ranahnya walau dia penasaran karena Gavin gagal menikah dengan Vania. Kekasih Gavin yang juga sering datang ke sana.
"Kamu yang nyetir!" Gavin melempar kunci mobil kepada Ayana dan duduk di sebelah kemudi seperti biasanya. Sifat tengil dan menyebalkan dari Gavin mulai terlihat kembali ke stelan awal menjadi atasan yang menyebalkan.
"Kenapa? Kamu marah karena aku bilang sayang tadi saat kamu bertelepon dengan dia?" tanya Gavin saat Ayana diam saja sambil cemberut kesal.
"Berisik!" jawab Ayana.
"Idih marah nih? Atau memang kamu belum pernah ada yang manggil sayang? Ya elah kasihan sekali! Kamu belum pernah pacaran? atau si Reiner itu satu-satunya pria yang dekat dengan kamu di sekolah? Ah, aku sih yakin kalau kamu saat sekolah nggak punya banyak teman! Lagian kelakuan kamu menyebalkan!" celoteh Gavin.
"Dia memang pria baik dan perhatian, berbeda dengan anda Pak Gavin! Mungkin saja kalau keluarganya setuju menerima mantan janda dan anak sebatang kara seperti saya ini. Saya akan menikah dengan Reiner. Toh walau aku Janda juga Reiner nggak akan rugi. Berbanding terbalik dengan nada yang mantan duda nantinya akan mendapatkan Vania yang janda bukan perawan juga bukan. Ups, maaf soalnya saya bicara fakta!"
Jleep
ucapan Ayana rasanya menghantam dada Gavin dan menyadarkannya dengan kenyataan itu. Jika Vania bukanlah wanita lemah lembut dan juga pandai menjaga diri seperti yang dia kira selama ini. Nyatanya, sebaliknya. Gavin memilih diam dan membuka ponselnya sedangkan Ayana tak peduli dengan Gavin yang sedang merajuk seperti bocah.
"Ini kita meeting di restoran?" tanya Gavin memastikan.
"Klien yang minta karena hanya itu jadwal yang dia punya hari ini," jawab Ayana.
"ck! Aku paling tak suka meeting di restoran karena pada akhirnya malah tak fokus karena banyaknya orang berlalu-lalang!" kesal Gavin.
"Ya mau gimana lagi? Jadwal dia mepet dan kita juga tak punya banyak waktu dan mengulurkan terus. Karen kita juga harus menyelesaikan proyek lainnya dan tak harus terus terfokus dengan satu klien yang seperti ini. Ribetnya bukan main,", Jawab Ayana membuat Gavin menghela napas panjang.
Sepertinya dia akan sedikit kesulitan dalam meeting hari ini. Karena pikirannya terfokus antara Vania dan pekerjaan. Semoga saja nanti saatnya tiba dia bisa kembali mengembalikan fokusnya.
"Aku pergi dengan siapa?", tanya Gavin saat mereka tiba di lobby.
"Pak Cakra!", jawab Ayana singkat.
"Lalu kamu?" tanya Gavin kembali.
"Aku di kantor!" jawab Ayana.
"Bu Ayana ... maaf menganggu," panggil seseorang saat Ayana berjalan di belakang Gavin membuat keduanya menoleh.
"Loh Andri? Kaki kamu sudah sembuh?" tanya Ayana.
"Alhamdulillah Bu, sudah sembuh berkat bantuan Bu Ayana Juga. Oh iya, ini ada titipan dari ibu,", ujar pria itu memberikan paper bag kepada Ayana.
"ini ..." ujar Ayana saat melihat isinya.
"Ibu saya dengan memasak makan siang untuk anda. Semoga anda suka, sekali lagi terima kasih Bu Ayana," Jawab Andri membuat Ayana tersenyum lebar dan mengangguk.
"Sampaikan terima kasih aku untuk ibumu ya," jawab Ayana.
Andri mengangguk dan pergi dari sana karena tak nyaman dengan tatapan tajam dari Gavin di belakang Ayana. Ngeri sekali takut kalau-kalau kedua mata Gavin copot saking ngerinya tatapan Gavin. Kesal sekali rasanya Gavin pagi ini, dia diam saja padahal ada banyak pertanyaan di dalam benaknya. Tapi rasanya malas menanyakannya kepada Ayana.