NovelToon NovelToon
Lima Sekawan Ginza

Lima Sekawan Ginza

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulan Separuh

"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."

Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.

Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5. Rencana di Balik Kabut Hutan

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kayu rumah aman dengan sangat tipis. Cahaya itu membawa debu-debu kecil yang beterbangan di dalam ruangan yang terasa sangat dingin. Hana Tanaka terbangun dengan perasaan yang masih sangat berat di dalam dadanya. Dia segera menoleh ke arah tempat tidur di sampingnya untuk memastikan keberadaan sang ibu.

Ibunya masih tertidur dengan napas yang terdengar sangat teratur meskipun wajahnya masih pucat. Hana menghela napas panjang karena merasa sangat bersyukur ibunya masih berada di sisinya. Dia menyentuh tangan ibunya yang terasa sangat kasar karena terlalu banyak bekerja keras selama ini.

Air mata Hana hampir jatuh lagi tapi dia segera mengusapnya dengan punggung tangannya. Dia harus menjadi sosok yang kuat demi keselamatan keluarga kecilnya yang kini sedang terancam.

Hana bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju area dapur yang sangat sempit. Lantai kayu rumah tua itu mengeluarkan suara derit yang sangat pelan pada setiap langkahnya. Di meja makan kayu yang sudah kusam, Akane Sato sudah duduk sambil menatap sebuah peta. Akane terlihat tidak tidur sama sekali karena lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas.

Dia sedang menandai beberapa titik di atas denah bangunan sekolah mereka dengan pulpen merah. Di sudut ruangan, Yuki Nakamura masih sibuk dengan laptopnya yang memancarkan cahaya biru terang. Suara ketikan papan ketik milik Yuki menjadi satu-satunya musik di dalam rumah yang sunyi itu. Ren Ishida tidak terlihat di dalam ruangan utama rumah aman tersebut pada pagi hari ini.

"Kau sudah bangun, Hana. Minumlah teh hangat ini agar tubuhmu merasa lebih nyaman," kata Akane pelan.

Akane menyodorkan sebuah gelas plastik berisi teh hijau yang masih mengeluarkan uap panas. Hana menerima gelas itu dan merasakan kehangatan merambat ke telapak tangannya yang kedinginan. Dia duduk di samping Akane dan mulai memperhatikan denah sekolah yang ada di atas meja. Denah itu menunjukkan struktur lantai tiga sekolah mereka secara sangat detail dan juga akurat.

Ruang kepala sekolah berada di ujung koridor yang paling jauh dari tangga utama bangunan tersebut. Ruangan itu dikelilingi oleh tembok beton yang sangat tebal dan pintu baja yang sangat kuat. Hana menyadari bahwa menyusup ke sana akan jauh lebih sulit daripada kejadian di pelabuhan kemarin. Sekolah mereka kini sudah berubah menjadi sebuah benteng pertahanan bagi para penguasa yang korup.

Yuki Nakamura memutar posisi laptopnya ke arah Hana dan juga Akane dengan gerakan kaku. Dia menunjukkan sebuah diagram sistem keamanan digital yang terpasang di seluruh area sekolah mereka. Ada lebih dari lima puluh kamera pengawas yang aktif selama dua puluh empat jam penuh. Sensor gerak juga terpasang di setiap pintu masuk dan juga di setiap jendela koridor sekolah.

Yuki menjelaskan bahwa sistem ini terhubung langsung dengan pusat keamanan kepolisian di wilayah tersebut. Jika satu sensor saja terpicu, maka bantuan polisi akan datang dalam waktu kurang dari lima menit. Mereka tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun saat melakukan aksi penyusupan nanti malam. Hana merasa tenggorokannya menjadi sangat kering saat mendengar penjelasan teknis dari Yuki yang dingin.

"Kita tidak bisa meretas sistem ini dari jarak jauh karena protokolnya sangat kuat," ujar Yuki.

Yuki menjelaskan bahwa mereka harus memasukkan perangkat fisik langsung ke dalam server utama sekolah. Server itu berada tepat di dalam ruang kerja kepala sekolah yang selalu terkunci rapat setiap harinya. Selain itu, mereka juga harus mengambil kartu enkripsi fisik yang disimpan di dalam brankas besi.

Kartu itu adalah kunci utama untuk membuka semua data korupsi yang selama ini sengaja disembunyikan. Tanpa kartu tersebut, data yang sudah diretas oleh Yuki tidak akan bisa dibaca oleh publik. Hana merasa beban tugas mereka menjadi berkali-kali lipat lebih berat dan juga sangat berbahaya. Dia bertanya-tanya apakah mereka benar-benar mampu melakukan tugas yang sangat mustahil ini nantinya.

Tiba-tiba pintu depan rumah aman terbuka dengan suara hantaman yang cukup keras dan mendadak. Ren Ishida masuk ke dalam ruangan dengan napas yang sedikit terengah-engah dan wajah yang waspada. Di belakang Ren, berdiri seorang remaja laki-laki yang mengenakan jaket mahal berwarna hitam pekat.

Hana dan Yuki langsung berdiri dari kursi mereka karena merasa sangat terkejut dengan tamu tersebut. Remaja itu adalah Kaito Fujiwara, putra dari politisi besar yang sering muncul di berita televisi nasional. Kaito menatap ruangan kumuh itu dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa penasaran yang besar. Dia melepaskan kacamata hitamnya dan menunjukkan wajah yang terlihat sangat lelah dan juga tertekan.

"Aku menemukan dia sedang mengintai di jalan masuk hutan ini tadi pagi," kata Ren tegas.

Ren Ishida mencengkeram lengan Kaito dengan sangat kuat seolah tidak ingin membiarkannya melarikan diri. Kaito tidak melakukan perlawanan fisik apa pun terhadap tindakan kasar yang dilakukan oleh Ren tersebut. Dia justru menarik napas panjang dan mencoba untuk menenangkan suasana yang sedang sangat tegang.

Akane Sato berdiri dan menatap Kaito dengan tatapan mata yang penuh dengan rasa kebencian yang nyata. Dia tahu bahwa ayah Kaito adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaan mereka. Ayah Kaito adalah otak di balik sistem gacha kehidupan yang sangat tidak adil bagi remaja miskin. Akane melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Kaito yang terlihat hanya diam membisu saja.

"Apa yang kau lakukan di sini, Kaito. Apakah kau datang untuk menyerahkan kami semua," tanya Akane sinis.

Kaito Fujiwara menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat lambat dan terlihat sangat tulus. Dia mengatakan bahwa dia sudah tidak tahan lagi hidup di dalam rumahnya yang penuh kebohongan. Dia menyaksikan ayahnya merencanakan penggusuran lahan sambil tertawa di atas penderitaan rakyat kecil setiap harinya. Kaito merasa sangat tercekik oleh harapan tinggi yang dibebankan ayahnya kepada dirinya sebagai pewaris politik.

Dia ingin membantu kelompok Hana untuk menghancurkan sistem korup yang telah dibangun oleh keluarganya sendiri. Kaito membawa sebuah tas kecil yang berisi dokumen-dokumen penting mengenai rencana pengamanan gedung sekolah tersebut. Dia memberikan tas itu kepada Akane sebagai bukti bahwa dia tidak memiliki niat jahat sedikit pun.

Yuki Nakamura segera mengambil dokumen dari dalam tas Kaito dan mulai memeriksanya dengan sangat teliti. Dia menemukan jadwal pergantian petugas keamanan sekolah yang sangat rahasia dan tidak diketahui publik. Dokumen itu juga berisi kode akses untuk lift pribadi yang menuju langsung ke lantai tiga bangunan.

Kaito menjelaskan bahwa ayahnya sering berkunjung ke sekolah untuk melakukan pertemuan rahasia dengan yayasan. Dia berhasil mencuri informasi ini dari meja kerja ayahnya saat ayahnya sedang menghadiri rapat partai. Hana merasa sedikit harapan mulai muncul kembali di dalam hatinya yang tadi sempat merasa ragu. Kaito Fujiwara ternyata bisa menjadi aset yang sangat berharga bagi kelancaran misi penyelamatan mereka nanti.

"Aku punya kunci cadangan untuk gerbang belakang sekolah yang jarang digunakan petugas," ujar Kaito.

Kaito menunjukkan sebuah kunci perak kecil yang dia simpan di dalam saku jaket hitam miliknya. Dia mengatakan bahwa dia sudah muak menjadi bagian dari sistem yang menghancurkan masa depan banyak orang. Kaito ingin membuktikan bahwa dia berbeda dari ayahnya yang sangat haus akan kekuasaan dan juga uang.

Hana melihat ada kejujuran di dalam mata Kaito saat dia menceritakan kegelisahan batin yang dia rasakan. Ren Ishida perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Kaito karena mulai merasa sedikit lebih percaya padanya. Mereka semua kembali duduk mengelilingi meja kayu untuk mulai merumuskan rencana aksi yang baru. Kehadiran Kaito mengubah banyak hal dalam strategi penyusupan yang sudah mereka susun sebelumnya secara mandiri.

Akane Sato mulai membagi tugas baru yang lebih spesifik bagi setiap anggota kelompok mereka yang sekarang. Kaito akan bertugas sebagai penunjuk jalan karena dia sangat mengenal setiap sudut bangunan sekolah tersebut. Dia tahu di mana letak kamera yang memiliki titik buta atau area yang tidak terpantau oleh sensor.

Ren akan tetap bertugas untuk melumpuhkan petugas keamanan jika terjadi keadaan darurat yang tidak diinginkan. Yuki akan tetap berada di pusat komando digital untuk memantau pergerakan mereka melalui sinyal satelit. Akane dan Hana akan menjadi tim inti yang masuk ke dalam ruangan kepala sekolah untuk mengambil kartu. Mereka berdua memiliki tubuh yang kecil sehingga lebih mudah untuk bergerak di dalam celah sempit.

Hana Tanaka merasa sangat takut saat membayangkan dirinya harus masuk ke dalam ruangan yang sangat dijaga. Namun dia melihat ke arah kamar tempat ibunya sedang beristirahat dengan penuh rasa sayang yang mendalam. Dia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan penggusuran rumah mereka yang sedang direncanakan.

Jika mereka berhasil mengungkap korupsi tersebut, maka proyek penggusuran lahan akan segera dihentikan oleh pemerintah pusat. Hana membulatkan tekadnya untuk tidak akan pernah mundur selangkah pun dari perjuangan yang sangat berat ini. Dia akan membuktikan bahwa remaja miskin sepertinya juga memiliki kekuatan untuk melawan balik pada penguasa. Gacha kehidupannya mungkin memberikan kartu yang buruk, namun dia akan memainkan kartu itu dengan cerdik.

"Kita akan melakukan aksi ini tepat pada jam dua pagi nanti saat hujan turun," kata Akane.

Yuki Nakamura memperkirakan bahwa hujan badai akan melanda Tokyo pada jam dua pagi nanti sesuai data cuaca. Suara hujan akan membantu menyamarkan suara langkah kaki dan juga gerakan mereka di area sekolah tersebut.

Selain itu, jarak pandang para penjaga akan berkurang drastis karena kabut yang tebal menyelimuti gedung sekolah. Mereka mulai mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti tali pendaki, alat peretas portabel, dan juga pakaian hitam. Hana belajar cara menggunakan alat peretas kecil yang diberikan oleh

Yuki dengan sangat penuh konsentrasi. Dia harus bisa memasukkan kode rahasia dalam waktu kurang dari tiga puluh detik untuk membuka brankas. Setiap detik akan sangat berharga bagi keselamatan nyawa mereka semua di dalam gedung sekolah nanti.

Ren Ishida mulai melatih gerakan fisik Hana dan juga Akane di halaman belakang rumah aman yang sepi. Dia mengajarkan cara berjalan tanpa suara di atas permukaan yang keras seperti lantai beton atau ubin. Ren juga memberikan teknik bela diri dasar untuk melepaskan diri jika tangan mereka ditangkap oleh musuh. Hana terjatuh berkali-kali saat mencoba melakukan gerakan berguling yang diajarkan oleh Ren dengan sangat disiplin.

Namun, dia selalu bangkit kembali dengan semangat yang tidak pernah padam sedikit pun di dalam dirinya. Dia tidak mempedulikan rasa sakit di lututnya yang kini sudah mulai membiru karena terlalu banyak berlatih. Keberanian Hana membuat Ren merasa sangat kagum meskipun dia tidak mengucapkannya secara langsung kepada Hana.

Kaito Fujiwara hanya berdiri di sudut halaman sambil menatap langit yang mulai berubah menjadi mendung dan gelap. Dia merasa ada beban yang sangat besar yang kini telah terangkat dari pundaknya setelah bertemu dengan kelompok ini. Dia merasa akhirnya memiliki tujuan hidup yang lebih bermakna daripada sekadar menjadi boneka politik ayahnya.

Kaito mendekati Hana yang sedang beristirahat sejenak setelah latihan fisik yang sangat melelahkan dan juga berat. Dia memberikan sebotol air mineral kepada Hana dengan gerakan tangan yang sedikit kaku tapi sangat sopan.

Hana menerima botol itu dan tersenyum tipis sebagai tanda terima kasih kepada teman barunya itu. Mereka berdua terdiam sejenak sambil menatap hutan yang mulai diselimuti oleh kabut putih yang sangat tebal.

"Terima kasih sudah mau mempercayai aku yang merupakan anak dari musuh kalian," ujar Kaito pelan.

Hana menatap Kaito dengan pandangan yang lembut dan tidak mengandung rasa kebencian sama sekali di dalamnya. Dia mengatakan bahwa setiap orang berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus terikat masa lalu. Kaito tidak bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh ayahnya selama menjabat sebagai politisi.

Hana merasa bahwa Kaito juga merupakan korban dari sistem gacha kehidupan yang sangat kaku di Jepang. Mereka semua adalah remaja yang sedang mencari jati diri di tengah dunia yang penuh dengan kemunafikan.

Persahabatan mereka yang unik ini menjadi simbol perlawanan terhadap batasan kelas sosial yang ada di masyarakat. Hana merasa jauh lebih siap menghadapi misi berbahaya malam ini bersama dengan teman-temannya yang hebat.

Malam akhirnya tiba dan suara guntur mulai terdengar bersahutan dari kejauhan arah pusat kota Tokyo. Hujan deras mulai turun membasahi bumi dan menciptakan suasana yang sangat mencekam di sekitar rumah aman. Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh bagian tubuh mereka dengan sangat rapat sekali.

Yuki Nakamura memberikan perangkat komunikasi kecil yang harus dipasang di dalam telinga setiap anggota kelompok mereka. Dia memastikan bahwa semua frekuensi radio sudah terenkripsi dengan aman agar tidak bisa disadap polisi. Mereka saling berpandangan satu sama lain untuk memberikan semangat dan juga kekuatan batin sebelum berangkat. Hana mencium kening ibunya yang masih tertidur lelap sebagai tanda pamit tanpa kata-kata yang terucap.

Mobil tua milik Ren Ishida perlahan keluar dari area hutan dan melaju menuju arah gedung sekolah mereka. Di dalam mobil, tidak ada yang berbicara karena mereka semua sedang fokus pada tugas masing-masing di pikiran. Hana menggenggam alat peretas kecil di tangannya dengan sangat kuat hingga jari-jarinya terasa sangat kaku. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdetak sangat kencang seperti suara genderang perang yang bertalu.

Cahaya lampu kota Tokyo terlihat buram karena tertutup oleh tetesan air hujan yang sangat deras di jendela. Mereka sedang menuju ke sebuah pertempuran yang akan menentukan nasib masa depan mereka sebagai warga negara. Gacha kehidupan akan segera diputar kembali dan kali ini mereka yang memegang kendali atas undiannya.

Gedung sekolah mereka terlihat berdiri dengan sangat angkuh di tengah kegelapan malam yang sangat pekat tersebut. Lampu-lampu sorot terlihat bergerak ke sana kemari seolah sedang mencari mangsa yang berani mendekat ke arahnya. Ren memarkir mobil di sebuah gang kecil yang letaknya cukup jauh dari pintu gerbang utama sekolah. Mereka berlima turun dari mobil dan mulai bergerak dengan sangat lincah di bawah naungan bayangan pohon besar.

Kaito memimpin di depan dan memberikan isyarat kapan mereka harus berhenti atau harus segera berlari cepat. Mereka berhasil mencapai gerbang belakang yang terkunci dan Kaito segera memasukkan kunci perak miliknya tadi. Pintu gerbang terbuka dengan suara yang sangat minim dan mereka segera masuk ke dalam area sekolah.

Hana Tanaka menatap bangunan tinggi di hadapannya dengan perasaan yang sangat campur aduk antara takut dan berani. Dia tahu bahwa di dalam ruangan di lantai paling atas sana, tersimpan kunci untuk kemerdekaan mereka. Langkah kaki mereka yang basah tidak menimbulkan suara sama sekali di atas permukaan rumput yang sangat tebal.

Mereka bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam yang sangat dingin dan juga basah ini. Misi penyusupan yang paling berbahaya dalam hidup mereka kini telah resmi dimulai pada detik yang sekarang. Mereka akan menunjukkan kepada dunia bahwa suara remaja memiliki kekuatan untuk menghancurkan tembok keadilan yang palsu.

1
Filan
sudahlah Hana. Persahabatan tidak bisa dimulai dengan kebohongan. Lagipula pura-pura kaya itu sulit dibanding orang kaya pura-pura miskin.
Three Flowers
aduh kasihan... gak kebayang gimana malunya saat perut berbunyi. Terima saja Hana, lagian juga sudah ketahuan kalo kamu lapar🤣
Three Flowers
Karena di sekolah elit, kemiskinan adalah hal yang sensitif. Kalau ketahuan bisa dibully, ya..
Filan
ga dapat mbg dia?
Filan
duh kasihan. Tokyo kota mahal /Grimace/
PrettyDuck
iya sihh. takutnya nanti mereka dicap radikal.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
PrettyDuck
tapi akane ini peduli loh sama keadaan negaranya
PrettyDuck
yaiyalahh. mereka gak terdesak.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
Mentariz
Ya ampun mirisnya 🥲
Mentariz
Bagus, gak usah gengsi, isi perut itu nomor satu 👍
Mentariz
Udah terima aja rotinya, han, lumayan loh
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
perut memang tidak bisa diajak kompromi. dia terlalu jujur, karena memang dia butuh asupan
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
tengah hari, lagi puasa. tentu lapar lah 🤭
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
Kayak kondisi dimana yaaa/Doge/
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
-Thiea-
Akane gak mungkin ngejauhin Hana kan.. secara dia vokal banget sama urusan politik. dia kan juga pengen bantu orang-orang susah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak..
-Thiea-
beruntung Hana punya teman kayak akane.. dia sangat perhatian .🥹
Miu Nuha.
dimana2 keadaan itu sama ya 😫
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍
😾🍟 𝒾Ř𝓪 𝐌𝐀ү𝓪 🐚
suka banget sama ceritanya. salut buat Hana. keren! tx kak bulan udah nulis cerita ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangat Kaito 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga akan menjadi sejarah yang baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!