NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Di Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Bandara selalu punya cara sendiri untuk membuat perpisahan terasa lebih besar dari seharusnya.

Pagi itu, Alya berdiri beberapa langkah dari Arka yang sedang menyerahkan tiket dan KTP pada petugas. Tas hitam sederhana tersampir di bahunya. Tidak banyak barang.

“Kamu cuma bawa segitu?” tanya Alya ketika Arka kembali ke sisinya.

“Aku cuma tiga hari,” jawabnya ringan. “Lagipula, kalau kurang, kan ada yang bisa dipinjemin.”

Alya mendengus pelan. “Jangan harap.”

Tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Pengumuman boarding terdengar. Waktu mereka tinggal sedikit.

Alya bukan tipe orang yang dramatis di tempat umum. Tapi entah kenapa, melihat Arka berdiri di depannya dengan tiket di tangan terasa berbeda.

Bukan seperti dulu ketika ia pergi sendiri tanpa menoleh.

Sekarang, ia yang menunggu.

“Lya,” suara Arka melembut, “jangan overthinking sebelum aku sampai ya.”

“Kamu yang jangan macam-macam di Jakarta.”

Arka tertawa kecil. “Serem amat.”

Hening satu detik.

Lalu Alya berkata pelan, “Hati-hati.”

Bukan cuma untuk perjalanan.

Tapi untuk dunia yang akan mereka satukan.

Arka mengangguk, lalu tanpa ragu memeluk Alya di tengah keramaian bandara. Pelukan cepat. Tapi cukup erat untuk meninggalkan jejak hangat.

“Jangan kabur lagi,” bisiknya.

“Kali ini nggak,” jawab Alya.

Dan Arka pergi.

Jakarta menyambutnya dengan suara klakson dan udara yang lebih berat dari kota kecil mereka.

Alya menunggu di area kedatangan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Gugup? Iya. Takut? Sedikit. Antusias? Juga.

Ketika Arka akhirnya muncul dari pintu keluar, mata mereka langsung bertemu.

Tidak ada adegan lari dramatis.

Hanya senyum yang tumbuh pelan.

“Selamat datang di hutan beton,” kata Alya ketika Arka berdiri di depannya.

“Lumayan. Nggak segalak yang aku bayangin.”

“Kamu belum lihat macetnya.”

Mereka tertawa kecil.

Di dalam mobil menuju apartemen Alya, Arka memperhatikan jalanan yang padat, gedung-gedung tinggi yang menjulang, papan reklame yang menyala bahkan di siang hari.

“Ini dunia kamu,” katanya pelan.

Alya mengangguk. “Capek ya?”

“Sedikit.” Arka menoleh. “Tapi aku ngerti sekarang kenapa kamu keras banget waktu dulu.”

Hening sebentar.

“Aku takut kalau tetap di kota kecil, mimpiku nggak cukup besar,” kata Alya jujur.

“Dan sekarang?”

Alya tersenyum tipis. “Sekarang aku sadar, mimpi besar nggak ada gunanya kalau nggak ada yang nungguin cerita pulangnya.”

Arka terdiam.

Kalimat itu bukan rayuan.

Itu pengakuan.

Apartemen Alya tidak luas, tapi rapi. Minimalis. Teratur. Terlihat seperti ruang seseorang yang mandiri dan terbiasa sendiri.

“Kamar tamu di sana,” kata Alya menunjuk.

Arka meliriknya, pura-pura kecewa. “Oh, jadi aku beneran di kamar tamu.”

Alya menyilangkan tangan. “Kamu berharap apa?”

“Ya siapa tahu dapat upgrade.”

“Jangan ngadi-ngadi.”

Mereka tertawa lagi.

Suasana terasa ringan.

Sampai malam tiba.

Setelah makan sederhana dan obrolan panjang tentang proyek Arka besok, mereka duduk di balkon kecil apartemen. Lampu kota berkelap-kelip di bawah.

“Indah juga,” kata Arka pelan.

“Iya.”

“Tapi sepi.”

Alya menoleh.

“Kamu sering duduk di sini sendirian?” tanya Arka.

“Sering.”

“Kenapa nggak pernah cerita?”

Alya terdiam beberapa detik.

“Karena aku yang milih jalan ini. Rasanya nggak adil kalau ngeluh.”

Arka menatapnya lama.

“Kamu boleh kuat tanpa harus sendirian.”

Kalimat itu menembus sesuatu dalam diri Alya.

Ia tidak menangis. Tapi matanya melembut.

“Ka,” katanya pelan, “kalau suatu hari aku harus pilih… antara karierku dan kemungkinan pindah ke kota kecil lagi…”

Arka langsung memotong lembut. “Aku nggak mau kamu milih karena aku.”

“Terus?”

“Aku mau kita cari cara. Bukan korban.”

Hening.

Angin malam menyentuh wajah mereka.

Lalu, tiba-tiba, ponsel Alya bergetar di meja.

Nama yang muncul membuatnya sedikit kaku.

Raka — Manager.

Arka melihat perubahan ekspresinya.

“Angkat aja,” katanya tenang.

Alya menerima panggilan itu.

“Iya, Kak?”

Suara di seberang terdengar serius.

Mata Alya perlahan berubah.

“Besok pagi?” ulangnya pelan. “Presentasi tambahan?”

Ia melirik Arka tanpa sadar.

“Iya… saya siap.”

Telepon ditutup.

“Kenapa?” tanya Arka.

Alya menarik napas. “Klien besar tiba-tiba minta revisi total. Aku harus presentasi ulang besok pagi.”

“Bukannya kamu udah cuti?”

“Iya. Tapi proyek ini… penting banget.”

Hening turun perlahan.

Besok pagi.

Di saat Arka juga punya meeting besar dengan kliennya sendiri.

Di kota yang sama.

Di waktu yang hampir bersamaan.

Dua dunia.

Dua tanggung jawab.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memutuskan mencoba lagi—

Mereka berdiri di persimpangan yang nyata.

Arka tersenyum tipis, berusaha ringan. “Ya udah. Kita berjuang masing-masing besok.”

Alya mengangguk.

Tapi di dalam hatinya, muncul pertanyaan yang lebih tajam dari sebelumnya—

Apakah mereka benar-benar bisa berjalan berdampingan di kota sebesar ini?

Atau cepat atau lambat—

Salah satu akan kembali merasa ditinggalkan?

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!