NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01.KEBANGKITAN

Aku membuka mata, dan hal pertama yang keluar dari mulutku adalah, "Oke, siapa yang mematikan AC-nya?"

Sesaat kemudian, kesadaranku pulih. Tidak ada suara dengung AC. Tidak ada aroma mie instan dari tempat sampah apartemenku. Yang ada hanyalah langit langit bebatuan hingga terlihat tidak nyata. Aku bangkit berdiri di sebuah gua kristal yang berpendar indah, namun perhatianku langsung tersita oleh panel hologram yang melayang tepat di depan hidungku.

Ting!

Nama: Arka

Level: 999 (MAX)

Pekerjaan: Void King

Keterangan: User Tunggal Sistem Terdeteksi. Selamat menikmati hidup, wahai Makhluk Paling Curang!

Aku terkekeh melihat keterangan sistem itu. "Makhluk paling curang, ya? Yah, setidaknya sistem ini punya selera humor yang jujur."

Aku menunduk memeriksa diriku. Aku tidak lagi memakai kaos oblong murahan. Tubuhku kini terbalut zirah biru gelap dengan ukiran emas yang sangat mendetail, lengkap dengan jubah merah yang menjuntai gagah. Di sampingku, sebuah pedang perak besar dengan ukiran kuno di bilahnya tergeletak begitu saja.

"Wah, kostum Top Player-ku ikut terbawa? Padahal zirah ini seharusnya beratnya ratusan kilogram, tapi di sini rasanya seringan kain sutra," gumamku sambil mengusap bekas goresan tipis di pipiku yang terasa sangat nyata.

Aku mulai gatal ingin mencoba sesuatu. "Mari tes sedikit... [Skill: Void Step]."

Niatku hanya ingin melangkah pelan ke depan, tapi—

BOOM!

Bukannya melangkah, tubuhku melesat seperti peluru dan menghantam dinding gua hingga hancur berkeping-keping. Seluruh gua kristal itu bergetar hebat sebelum akhirnya runtuh total karena tekanan energiku yang meluap.

Aku mendarat di luar gua dengan pendaratan yang sedikit kikuk, lalu menepuk-nepuk debu dari zirah biru emasku dengan wajah cemas. "Waduh, waduh. Arka, gawat ini. Sekali aku niat lari pagi, satu benua bisa gempa bumi kalau begini terus."

Aku mencoba mengecek skill pasifku, [Presence Suppression], tapi sistem memberikan peringatan merah. Level 999 milikku terlalu pekat untuk disembunyikan hanya dengan kontrol manual.

"Wah, kalau aku jalan-jalan dengan aura 'Dewa' yang bocor begini, dunia bakal kacau," batinku sambil menggaruk kepala. "Raja-raja pasti bakal datang bawa surat lamaran kerja paksa, atau pahlawan-pahlawan sok tahu bakal menantang duel setiap lima menit. Hidup santaiku bakal hancur total sebelum sempat dimulai!"

Aku segera mengecek penyimpanan dimensiku (Inventory). Di sana bertumpuk ribuan item legendaris. "Seingatku aku punya beberapa peralatan untuk menekan level dan menyegel kekuatan. Aku harus pakai itu nanti setelah ketemu tempat yang tenang. Untuk sekarang... mending aku menjauh dari reruntuhan gua ini dulu."

Malas berjalan kaki melalui semak-semak yang merepotkan, aku memilih cara yang lebih berkelas.

"Terbang mode hemat energi, aktifkan!"

Aku melayang perlahan ke angkasa, melesat santai dengan jubah merah yang berkibar gagah. Aku bersiul-siul kecil, menikmati aroma hutan yang sangat segar. "Nah, begini kan enak. Pemandangan bagus, udara segar, dan yang paling penting: tidak ada yang tahu kalau aku ini 'monster' berjalan."

Namun, saat aku sedang asyik memikirkan apakah di dunia ini ada kedai kopi yang enak, telinga tajamku menangkap suara yang merusak suasana damai itu.

“TOLONG! KAEL, JANGAN MATI!”

“JIRO, LARI KE KIRI! ELARA, SIAPKAN SIHIRNYA!”

Aku mengintip ke bawah dari balik awan. Di pinggiran hutan, tiga remaja petualang pemula—satu laki-laki dan dua wanita—sedang kocar-kacir dikejar seekor Beruang Taring Besi. Si pemuda tampak gemetar memegang pedang pendeknya, mencoba menjadi tameng bagi kedua temannya dengan sisa keberanian yang ada.

"Ya ampun, anak-anak zaman sekarang," gumamku sambil menggeleng-geleng. "Mainnya ke hutan terlarang tapi levelnya masih seukuran kerupuk warung."

Aku melihat gadis berambut perak itu tersandung akar pohon, dan si beruang sudah mengangkat cakarnya yang sebesar pintu rumah untuk mencabik mereka.

"Yah, mumpung aku lagi cari teman ngobrol," aku nyengir lebar. Aku melipat tanganku di depan dada dan mulai menukik turun dari langit dengan gaya santai, mendarat tepat di antara si beruang dan para remaja itu dengan dentuman yang sengaja kubatasi.

BUM!

Debu mengepul. Aku berdiri tegak dengan jubah merah yang berkibar, menatap monster itu dengan tatapan malas.

"Permisi! Butuh bantuan paman yang keren ini?"

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!