Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumble Group
Maureen menyerahkan sebuah kartu hitam berbingkai emas kepada Hans.
“Pak Rinaldi, ini kartu platinum keluarga Wiraningrat. Tolong terima sebagai tanda terima kasih kami. Dengan kartu ini, Anda akan diperlakukan sebagai tamu kehormatan di semua tempat usaha milik keluarga Wiraningrat.”
Hans menggeleng pelan. “Nona Wiraningrat, Aku gak butuh ini.”
“Tenang saja, Pak Rinaldi. Ini cuma tanda pribadi dari saya. Soal permintaan Pak Palumbo tentang canscora, besok saya kirim ramuan itu ke tempat Anda,” ujar Maureen sambil tersenyum.
“Baik sekali, Nona Wiraningrat. Terima kasih banyak.” Hans tertawa kecil dan menerima kartu itu.
Karena pemberian darinya, kartu itu pasti berguna suatu saat nanti.
Saat mereka masih berbincang, mobil tiba-tiba menepi.
“Saya minta maaf, Nyonya Wiraningrat! Saya terpaksa melakukan ini!” sopir itu berteriak sebelum keluar dan melarikan diri.
Pada saat yang sama, dua SUV hitam melaju cepat dan berhenti. Kendaraan itu menghalangi sedan Benz perak dari depan dan belakang. Lebih dari sepuluh pria keluar dari mobil, mendekat dengan wajah tertutup dan senjata di tangan.
Seorang pria botak bertubuh besar yang tampaknya pemimpin mereka menginjak kap mobil.
Sambil mengacungkan pisau, dia mengancam, “Nyonya Wiraningrat, bos saya ingin bertemu Anda. Kami akan mengantar Anda.”
Maureen tetap tenang. “Berani sekali kalian membajak mobilku.”
Aura wibawanya tetap terpancar, anggun dan berkuasa seperti seorang ratu.
“Kami tidak akan berani kalau pengawal Anda masih ada. Tapi sekarang mereka lagi di rumah sakit menjaga kakek Anda. Anda cuma sendirian sama bocah peliharaan Anda. Mana mungkin kami melewatkan kesempatan emas ini?” pria botak itu menyeringai.
Maureen menatapnya tenang. “Lumayan juga otak di kepala kosongmu itu sampai bisa nyuap sopirku. Tapi tolong puaskan rasa penasaranku. Siapa bos kalian?”
“Kalian akan tahu setelah kita sampai! Sekarang, mau turun atau tidak?” desak pria botak itu.
“Kamu gak punya hak menyuruhku!” Maureen tetap tidak bergeming.
“Kalau Anda mau mempersulit, saya terpaksa pakai cara kasar!”
Pria botak itu memberi isyarat meminta palu besar. Saat hendak menghantam kaca depan, Hans membuka pintu mobil dan turun.
“Nyonya Wiraningrat, bocah peliharaan Anda ternyata pengecut. Saya bahkan belum mulai, dia sudah kencing di celana karena takut. Apa yang Anda lihat dari dia?” ejek pria botak itu.
Maureen mengerutkan kening dan diam-diam merogoh tasnya.
“Kalian punya lima detik buat pergi,” kata Hans dingin.
“Heh, bocah, kamu tahu apa yang kamu omongin? Mau jadi pahlawan? Pergi aja mampus!”
Sebelum kalimatnya selesai, sebuah tamparan mendarat keras di wajahnya. Tekanan dahsyat itu hampir membuat rahangnya lepas. Tubuhnya terhuyung, pandangannya berkunang-kunang.
“Sial! Berani-beraninya bocah ini melawan! Bunuh dia!”
Anak buahnya langsung menyerbu Hans dengan senjata di tangan.
Hans menghadap mereka tanpa rasa takut. Ia bergerak lincah menembus kerumunan, langkahnya ringan seperti tak berbobot. Setiap kali seseorang mendekat dalam jangkauan lengannya, sebuah tamparan keras langsung melayang.
Suara tamparan nyaring bercampur jeritan kesakitan terdengar beruntun. Satu per satu mereka tumbang. Tak satu pun masih berdiri setelah menerima tamparan Hans. Menghajar lebih dari sepuluh pria kekar terasa semudah membalikkan telapak tangan baginya.
Pria botak itu ketakutan setengah mati. Dalam mimpi terliarnya pun ia tak pernah membayangkan pemuda di depannya adalah monster mengerikan.
Meski mereka menyerang bersamaan, sehelai rambut di kepala Hans pun tak tersentuh.
“Menarik.”
Mata Maureen berkilat penuh minat, senyum tipis bermain di bibirnya. Ia memasukkan kembali pistol yang tadi sudah siap di dalam tas. Awalnya ia mengira Hans akan kesulitan menghadapi sekelompok pria brutal sendirian.
Siapa sangka pria itu petarung sehebat ini?
Kemampuannya bahkan melampaui para pengawalnya. Ia mahir dalam pengobatan, piawai bertarung, dan juga tampan. Pria seperti itu benar-benar langka.
“Berhenti! Jangan mendekat!” teriak pria botak itu memohon saat Hans berjalan ke arahnya. “Jangan dekat-dekat! Aku bakal bikin kamu—”
Sebelum sempat menyelesaikan ancamannya, Hans menghantam perutnya. Pria itu langsung muntah dan berlutut kesakitan.
“Sekarang dia milik Anda, Nyonya Wiraningrat.”
Hans menyingkir ke samping.
“Terima kasih.” Maureen mengangguk lalu menatap pria botak itu. “Sekarang katakan, siapa bos kalian?”
Keringat mengalir di dahinya. Pria itu ragu-ragu.
“Masih gak mau bicara?” Maureen menyeringai sambil mengambil pisau dari tanah. Ia menempelkan bilahnya ke leher pria itu. “Kalau begitu, aku akan menyiksamu perlahan sampai kamu mengaku.”
Ia mengangkat tangan dan mengayunkan pisau.
Di detik terakhir, pria botak itu menjerit, “Jangan bunuh saya! Saya akan bicara! Bos kami Bimbo Langodai dari Rumble Group!”
Nyawanya jauh lebih penting daripada kesetiaan.
“Seperti dugaanku.” Maureen tersenyum. “Kembali dan sampaikan pada Bimbo, kalau aku akan mengingat ini. Kalau aku punya waktu luang, aku akan menemuinya. Sekarang pergi!”
Pria botak itu dan anak buahnya kabur tunggang-langgang.
“Nona Wiraningrat, semuanya tidak sesederhana kelihatannya. Pertama kakekmu dikutuk. Lalu mobilmu dibajak. Bimbo bukan lawan yang mudah,” kata Hans memperingatkan.
“Bimbo Langodai memang bajingan. Tapi dia punya sekutu kuat di belakangnya. Aku juga belum akan bergerak sekarang. Lebih baik menunggu kesempatan untuk menyingkirkan mereka semua sekaligus.”
Maureen menyipitkan mata. Menyerang sekarang adalah tindakan gegabah. Ia ingin menjatuhkan mereka semua dalam satu pukulan.
“Kalau kamu sudah punya rencana, itu sudah cukup,” kata Hans sambil mengangguk.
Ia tidak tertarik pada konflik antar keluarga besar.
“Pak Rinaldi, sepertinya Anda benar-benar penyelamat keluarga kami. Anda menyelamatkan kakek saya, dan sekarang menyelamatkan saya dari penculikan. Saya tidak punya cara untuk membalasnya.” Maureen mengedipkan mata.
“Ah, itu bukan masalah,” jawab Hans santai.
“Tidak, kami berutang terlalu banyak pada Anda! Saya harus membalasnya!” Maureen melemparkan senyum menggoda. “Sebagai tanda ketulusan saya … bagaimana kalau saya membalasnya dengan tubuh saya?”