Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: BARA DI PUNCAK LEMBAH
Langit Puncak malam itu tidak berbintang. Kabut tebal turun menyelimuti lereng, membawa hawa dingin yang biasanya menidurkan tanaman mawar dengan lelap. Namun, di dalam rumah tua Wijaya, kehangatan masih menyelimuti Juliet dan Gaara. Mereka baru saja tiba dari Jakarta, membawa piala penghargaan dan sertifikat hak paten mawar Golden Hope yang kini terbingkai rapi di meja ruang tamu.
Juliet menatap cincin perak di jari manisnya. Cahaya lilin di atas meja makan—karena listrik di Puncak sering naik-turun saat cuaca buruk—memantulkan ukiran dahan mawar yang ditempa sendiri oleh Gaara.
"Aku masih tidak percaya kita melakukannya," bisik Juliet. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Gaara, menghirup aroma kopi panas dan aroma tubuh pria itu yang menenangkan.
Gaara melingkarkan lengannya di bahu Juliet, menariknya lebih dekat. "Percayalah, Juliet. Ini baru permulaan. Besok, tim dari kementerian akan datang untuk memverifikasi taman rahasia Ibu. Setelah itu, tidak ada satu buldoser pun milik Adam yang bisa menyentuh tanah ini. Lahan ini akan menjadi cagar alam florikultura."
Juliet berbalik, menatap mata Gaara yang dalam. "Kau penyelamatku, Gaara. Dulu, sekarang, dan selamanya."
Gaara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merunduk, menangkup wajah Juliet dengan kedua tangannya yang kasar namun penuh kasih. Di bawah temaram cahaya lilin, ia mencium kening Juliet, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di bibirnya. Ciuman itu terasa lambat, seolah mereka ingin menghentikan waktu. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi bayang-bayang kemiskinan. Hanya ada dua jiwa yang telah menemukan akar mereka di tanah yang sama.
"Aku mencintaimu," gumam Gaara di sela ciumannya. "Lebih dari mawar mana pun yang pernah kutanam."
Juliet memeluk leher Gaara erat, merasakan degup jantung pria itu yang seirama dengan miliknya. Di tengah kesunyian pegunungan, mereka berbagi momen paling romantis yang pernah mereka rasakan—sebuah janji setia yang tidak membutuhkan saksi selain dinding-dinding kayu rumah tua itu.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.
Suara gemeretak aneh tiba-tiba terdengar dari arah taman belakang. Bukan suara ranting yang patah ditiup angin, melainkan suara lidah api yang menjilati kayu kering.
Gaara segera melepaskan pelukannya. Instingnya sebagai orang yang tumbuh di jalanan langsung waspada. Ia berlari menuju jendela belakang dan menyibakkan gorden. Matanya terbelalak.
"Juliet! Keluar sekarang! Bawa Ibu!" teriak Gaara.
Di luar, dinding Ivy yang menyelimuti taman rahasia sudah mulai terbakar. Api oranye kemerahan menjalar cepat, memakan tanaman rambat yang mengering akibat sabotase air Adam beberapa hari lalu. Seseorang telah menyiramkan bensin di sepanjang pagar pembatas.
Juliet berlari ke kamar Bu Ratna, membangunkan wanita tua itu yang masih terlelap. "Ibu, bangun! Ada api! Kita harus keluar!"
Gaara tidak langsung lari keluar. Ia mengambil ember besar dan berlari menuju taman rahasia. Ia melihat mawar Golden Hope yang baru saja mekar sempurna mulai dikelilingi oleh panas yang menyengat.
"Gaara! Tinggalkan itu! Nyawamu lebih berharga!" teriak Juliet dari teras depan sambil memapah Bu Ratna.
"Aku tidak bisa membiarkan warisan Ibumu terbakar, Juliet! Ini satu-satunya bukti otentik kita!"
Gaara menghantamkan air dari saluran kuno yang mereka gali kemarin ke arah api. Namun, api itu terlalu besar. Di kejauhan, di lahan proyek Adam, beberapa pria berdiri di balik bayangan, menonton dengan puas. Salah satu dari mereka memegang ponsel, seolah sedang melakukan panggilan video untuk menunjukkan tontonan ini kepada seseorang di Sydney.
Juliet melepaskan pegangan Bu Ratna di tempat yang aman dan berlari menyusul Gaara ke taman belakang. Ia melihat Gaara sedang mencoba menutupi pot utama mawar emas dengan karung goni basah di tengah kepungan asap hitam.
"Gaara, cukup! Keluar!" Juliet menarik lengan Gaara.
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terjadi dari gudang alat di dekat mereka—tampaknya Adam juga menyimpan kaleng-kaleng cat atau tinner di sana. Atap kayu taman rahasia mulai runtuh.
"Awas!" Gaara mendorong Juliet menjauh tepat saat sebuah balok kayu yang terbakar jatuh menimpa bahu Gaara.
"GAARA!" jerit Juliet.
Dengan kekuatan yang tidak ia duga sebelumnya, Juliet menarik balok kayu itu dari bahu Gaara. Ia tidak peduli tangannya yang halus kini melepuh terkena bara api. Ia membantu Gaara berdiri. Gaara merintih kesakitan, bajunya robek dan kulit bahunya mulai memerah.
Di tengah kepungan api itu, Juliet melihat mawar Golden Hope yang mereka lindungi. Anehnya, kelopak emasnya tidak layu. Justru, mawar itu tampak bercahaya di tengah panas yang ekstrem.
Juliet teringat catatan terakhir ibunya: "Mawar Golden Hope hanya akan mengeluarkan potensi penuhnya jika ditanam di tanah yang pernah mengalami kebakaran."
Ia meraih pot mawar itu bersama Gaara. Bersama-sama, mereka berlari menembus dinding api menuju halaman depan tepat saat atap taman rahasia itu ambruk sepenuhnya, menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan lembah.
Mereka terduduk di rumput halaman depan, terengah-engah dengan wajah yang menghitam karena jelaga. Rumah utama berhasil selamat karena arah angin yang berbelok, namun taman rahasia mereka kini hanya menyisakan abu dan asap.
Petugas pemadam kebakaran dari kota terdekat baru sampai sepuluh menit kemudian, bersama dengan polisi.
Gaara duduk bersandar di pohon pinus, membiarkan tim medis mengolesi bahunya dengan salep luka bakar. Juliet duduk di sampingnya, memegang erat tangan Gaara yang tidak terluka.
"Kita kehilangan tamannya, Gaara," bisik Juliet sedih, menatap reruntuhan di belakang rumah.
Gaara tersenyum pahit, namun matanya menatap ke arah pot mawar di depan mereka. Mawar itu tidak terbakar. Justru, kelopaknya kini berubah menjadi warna emas murni yang sangat pekat, seolah api tadi telah memurnikan warnanya.
"Kita tidak kehilangan apa-apa, Juliet," ucap Gaara parau. "Lihat mawar itu. Dia baru saja bermutasi menjadi bentuk sempurnanya. Adam pikir dia membakar harapan kita, padahal dia baru saja menyempurnakannya."
Polisi datang menghampiri mereka. Salah satu petugas membawa sebuah jerigen bensin yang ditemukan di dekat pagar lahan Adam.
"Nona Juliet, Tuan Gaara. Kami menemukan bukti sabotase. Dan lebih dari itu... kami menangkap pria yang melakukan pembakaran ini saat dia mencoba melarikan diri lewat hutan belakang. Dia mengaku diperintah oleh seorang bernama Adam lewat perantara."
Juliet berdiri. Rasa takutnya kini telah berubah menjadi kemarahan yang tenang. "Saya ingin dia diproses dengan tuntutan percobaan pembunuhan. Dan saya ingin media tahu apa yang dilakukan calon investor hotel ini pada lingkungan Puncak."
Keesokan paginya, berita tentang "Pembakaran Mawar Emas" menjadi headline di seluruh kanal berita nasional. Publik yang tadinya hanya penasaran dengan mawar itu kini berubah menjadi sangat simpatik. Adam tidak hanya menghadapi tuntutan hukum di Indonesia, tapi pemerintah Australia juga mulai melakukan penyelidikan atas aliran dana ilegalnya setelah dokumen yang dikirim Juliet sebelumnya divalidasi oleh kepolisian internasional.
Dua minggu kemudian.
Juliet dan Gaara berdiri di teras rumah Puncak yang kini sedang diperbaiki. Taman rahasia mereka tidak lagi tertutup Ivy. Kini, taman itu terbuka lebar, dipenuhi oleh bibit-bibit Golden Hope yang baru, yang tumbuh dengan sangat subur dari tanah yang kaya akan abu sisa kebakaran itu.
Gaara merangkul Juliet dari belakang, meletakkan dagunya di bahu gadis itu. Bahunya sudah mulai sembuh, menyisakan bekas luka yang ia banggakan sebagai "lencana perang" demi mawar mereka.
"Lihat itu," Gaara menunjuk ke lahan sebelah.
Proyek hotel Adam telah resmi dihentikan. Alat-alat beratnya sedang diangkut pergi. Lahan itu kini disita oleh negara karena pelanggaran izin lingkungan dan keterlibatan pemiliknya dalam kasus kriminal.
"Kita menang, kan?" tanya Juliet, memegang tangan Gaara yang melingkar di perutnya.
"Kita menang total," jawab Gaara. Ia memutar tubuh Juliet agar menghadapnya. Sinar matahari pagi Puncak menerangi wajah mereka berdua. "Adam sudah resmi menjadi buronan internasional. Ayahmu... dia mengirim surat lagi pagi ini. Dia bilang dia bangga padamu karena kau tidak membiarkan mawar itu mati."
Juliet tersenyum. Ia menatap kebun mawar yang kini mulai berwarna keemasan. Ia tidak lagi merasa seperti mawar yang dipetik paksa ke dalam vas. Ia adalah mawar yang berakar kuat di tanah kelahirannya.
Gaara merunduk, mencium bibir Juliet dengan kelembutan yang menjanjikan masa depan yang cerah. Di antara wangi mawar yang tertiup angin pegunungan, mereka menyadari bahwa duri memang menyakitkan, tapi tanpa duri, mawar tidak akan pernah tahu cara untuk tetap tegak di tengah badai.
"Ayo," ajak Gaara sambil menggenggam tangan Juliet. "Kita punya ribuan mawar lagi yang harus kita tanam."
Juliet tertawa, sebuah tawa yang merdu dan penuh harapan. "Tentu saja, Kapten. Tanah ini menunggu kita."
Di bawah langit Puncak yang kini cerah kebiruan, mawar Golden Hope terus mekar, menceritakan kisah tentang seorang putri yang menemukan cintanya di tangan seorang tukang kebun, dan seorang tukang kebun yang menemukan dunianya di dalam kelopak bunga mawar
...****************...