Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Lampu kristal di lorong apartemen berkedip pelan saat Rose melangkah masuk ke kamarnya, berniat menutup pintu dan mengunci dunia luar. Namun, sebuah tangan menahan daun pintu itu. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, Asher Hudson melangkah masuk ke ruang pribadi Rose. Kamar yang selama ini ia hindari dengan alasan lelah, kini ia masuki dengan langkah yang penuh tuntutan.
Asher tidak melihat ke arah tempat tidur atau dekorasi kamar yang elegan. Matanya terpaku pada tas belanjaan mewah dan, yang paling utama, dompet Rose yang tergeletak di atas meja rias.
"Rose, kartu siapa yang kau pegang?" suara Asher rendah, namun ada nada desakan yang sangat familiar di sana. "Aku tahu penghasilan Moore Designs. Aku tahu arus kasmu. Kau tidak akan mungkin memegang Black Card dengan akses tanpa batas seperti itu kecuali itu milik seseorang. Siapa dia?"
Rose berbalik, menatap suaminya dengan tatapan kosong. "Keluar dari kamarku, Asher. Kau punya istri yang sedang hamil di kamar sebelah. Urus dia."
Asher justru mendekat. Ia tidak peduli pada pengusiran itu. "Kumohon katakan padaku, Rose. Kau tahu aku tidak suka rahasia. Apakah ini dari mitra bisnismu? Atau dari pria lain?"
Rose menatap mata Asher, dan seketika, ia merasa ditarik kembali ke sebuah lubang hitam setahun yang lalu. Kilas balik itu menghantamnya seperti ombak yang menyesakkan.
Kilas Balik: Pertanyaan Gila
Setahun yang lalu, saat mereka masih pengantin baru, Rose mengira ia telah menemukan pria yang benar-benar menerimanya. Namun, di balik kata-kata manis Asher di depan publik, di dalam kamar mereka, Asher berubah menjadi sosok yang obsesif dan masokis secara mental.
Ia ingat malam itu, setelah mereka bercinta. Bukannya memeluk Rose, Asher justru menatap langit-langit dan mulai melontarkan pertanyaan yang awalnya terdengar konyol, namun perlahan berubah menjadi racun.
"Aku tidak pernah bisa berhenti membayangkan bagaimana pria pertama itu menyentuhmu, Rose," bisik Asher saat itu, jemarinya mengusap bahu Rose dengan kasar. "Apakah dia lebih kasar dariku? Aku sering membayangkan kau secara tidak sengaja meneriakkan namanya saat kita sedang bersama. Kau melakukannya, bukan? Di dalam kepalamu, kau membandingkan kami."
Rose saat itu mencoba tertawa, menganggapnya sebagai rasa cemburu yang aneh. "Tidak, Asher. Itu masa lalu. Kau adalah suamiku sekarang."
Tapi Asher tidak berhenti. Malam demi malam, interogasi itu berlanjut ke hal-hal yang sangat intim dan memuakkan.
"Berapa kali kau melakukannya dengannya dalam semalam? Apakah kau pernah hamil anaknya dan menggugurkannya tanpa memberitahuku? Katakan padaku, Rose, siapa yang lebih perkasa? Aku atau mantan kekasihmu?"
Rose selalu mencoba berbohong. Ia mencoba melindungi sucinya ingatan masa lalunya dengan Nikolai dari mulut kotor Asher. Empat, lima kali ia mengatakan bahwa semuanya biasa saja, bahwa mantan kekasihnya tidak ada apa-apanya dibanding Asher. Namun Asher terus menuntut. Ia menggunakan nada memohon yang sama seperti malam ini.
"Kumohon jujurlah, Rose. Aku tidak akan marah. Aku hanya ingin tahu kebenarannya agar aku bisa menerimamu seutuhnya. Jika kau jujur, beban ini akan hilang dari kita berdua. Jujurlah..."
Dan Rose, yang saat itu masih naif dan ingin menyelamatkan pernikahannya, akhirnya menyerah. Ia memberikan kejujuran yang diminta Asher.
"Baiklah! Kau ingin tahu? Mantan kekasihku jauh lebih perkasa, Asher. Puas?" jawab Rose saat itu dengan air mata mengalir.
Bukannya berhenti, Asher justru semakin bersemangat dalam kegilaannya. "Apa kalian pernah bermain sampai pagi? Apa kau pernah melayaninya dengan cara yang tidak mau kau lakukan denganku?"
Rose, yang sudah kehilangan kesabaran, menjawab dengan jujur, "Kami bahkan pernah tidak keluar dari apartemen selama Lima hari berturut-turut hanya untuk bercinta. Dia mencintaiku dengan cara yang tidak akan pernah kau pahami."
Sejak kejujuran itu terucap, segalanya berubah. Asher mulai merasa jijik. Ia mulai merasa setiap inci tubuh Rose telah dicemari oleh bayang-bayang pria lain yang lebih hebat darinya. Itulah alasan sebenarnya ia malas menyentuh Rose. Itulah kenyataan pahit di balik kata "menerima masa lalu" yang ia gembar-gemborkan di media. Asher bukan menerima, ia sedang mengumpulkan amunisi untuk membenci Rose.
Kembali ke masa kini, Rose menatap mata Asher yang sekarang sedang menuntut jawaban tentang kartu hitam itu. Binar di mata Asher masih sama—binar penasaran yang haus akan detail yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan mental Rose.
"Jawab aku, Rose. Pria mana yang memberikan kartu itu padamu? Apakah dia pria dari masa lalumu itu? Apakah dia ada di Boston?" Asher mencengkeram lengan Rose.
Rose tersenyum miring, sebuah senyum yang mengandung semua rasa sakit dari setahun interogasi gila itu. "Kau ingin kejujuran lagi, Asher? Setelah kau menggunakan kejujuranku setahun lalu sebagai alasan untuk menelantarkanku dan menghamili wanita lain?"
"Aku hanya ingin tahu siapa yang menyokongmu!" bentak Asher.
"Kartu ini milik seorang pria yang tidak pernah bertanya berapa kali aku tidur dengan orang lain," ucap Rose dengan suara dingin yang menusuk. "Dia adalah pria yang melihatku sebagai ratu, bukan sebagai barang bekas yang perlu diinterogasi. Dia memberikan kartu ini karena dia ingin aku memiliki dunia, sementara kau hanya memberiku sisa-sisa gajimu setelah kau gunakan untuk memanjakan gundikmu."
Asher terengah-engah, wajahnya merah padam. "Jadi kau benar-benar berselingkuh? Berita di TV itu... ternyata aku tidak sepenuhnya berbohong?"
"Aku tidak pernah berselingkuh sampai kau yang memulainya dengan Mia," balas Rose. "Tapi sekarang, setelah kau memfitnahku di depan seluruh dunia, setelah kau menghinaku dengan menyebutku mandul, dan setelah kau masuk ke kamarku hanya untuk menanyakan harta pria lain... aku menyadari satu hal."
Rose melangkah maju, menekan dadanya ke dada Asher, menatap pria itu tepat di bola matanya.
"Pria yang memiliki kartu ini... dia membuatku tidak keluar dari kamar selama beberapa jam di kantor tadi siang. Dan kau benar, Asher. Dia jauh lebih perkasa darimu. Jauh lebih jantan. Dan yang paling penting, dia tidak perlu bertanya siapa yang lebih baik, karena dia tahu dialah pemenangnya."
Asher tertegun, tangannya yang mencengkeram lengan Rose perlahan melemah. Ia tampak hancur sekaligus murka. Kebenaran yang ia tuntut kembali menjadi bumerang yang menghancurkan harga dirinya yang rapuh.
"Keluar dari kamarku, Asher Hudson," bisik Rose. "Pergilah ke istri mudamu yang suci itu. Berikan dia makanan yang kau suapkan dengan tanganmu yang gemetar karena kalah telak dariku."
Asher mundur selangkah, lalu dua langkah. Ia melihat Rose bukan lagi sebagai wanita yang bisa ia intimidasi dengan pertanyaan-pertanyaan intim yang memuakkan. Rose telah berubah menjadi sosok yang memiliki kekuasaan di balik punggungnya.
Begitu Asher keluar dan menutup pintu, Rose langsung menguncinya. Ia jatuh terduduk di depan pintu, napasnya memburu. Ia teringat kembali betapa gilanya setahun lalu, betapa ia merasa sangat kotor karena pertanyaan-pertanyaan Asher yang merendahkan.
Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk Nikolai.
"Dia baru saja menanyakannya lagi, Nik. Dia menanyakan tentangmu lewat kartu itu. Dia mencoba menghancurkanku dengan masa lalu kita lagi."
Hanya butuh sepuluh detik bagi Nikolai untuk membalas.
"Biarkan dia bertanya, Rosemary. Biarkan dia tenggelam dalam rasa penasarannya sampai dia gila. Aku ada di bawah apartemenmu sekarang. Jika kau merasa sesak di sana, keluar dan ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan padanya apa arti 'perkasa' yang sebenarnya jika dia berani menyentuhmu lagi."
Rose menatap pesan itu dan tersenyum. Ia tidak lagi takut pada pertanyaan gila Asher. Karena sekarang, ia memiliki Nikolai Volkov—pria yang tidak butuh jawaban dari masa lalu, karena dia adalah masa depan yang akan menghancurkan siapa saja yang berani menyakiti Rosemary-nya.
Malam itu, di apartemen Hudson, Asher terduduk di ruang tamu dengan kepala di antara kedua tangannya, dihantui oleh bayangan Rose dan pria pemilik kartu hitam itu. Sementara di kamar sebelah, Mia mengeluh karena bayi mereka, tak menyadari bahwa singgasana yang ia tempati sedang digerogoti oleh api dendam dan cinta lama yang tak pernah padam.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰