Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kedatangan Khalid
Kali ini mereka pulang dengan membawa hati yang sedikit kecewa, di dalam perjalanan Zaki tak berhenti menasehati istrinya untuk sabar dan memaafkan meskipun istrinya hanya diam dan justru itu yang membuat Zaki tak tenang.
"Sayang, kamu gak papa kan," ujarnya sambil memegang punggung tangan Anisa yang melingkar diperutnya.
"Gak Mas," sahut Anisa singkat.
Kalimat itu lemah, bukan halus bukan pula lembut, Zaki tahu dari ekspresi wajah istrinya yang terlihat dari kaca sepion, raut wajah Anisa seperti seseorang yang menahan kekecewaan.
"Yank, aku tahu kamu kecewa, kamu boleh marah kok, tapi jangan lama-lama ya, aku takut hatimu merasa sakit berkelanjutan," kata Zaki dengan mengurangi kecepatan lajunya.
Anisa semakin mengeratkan pelukannya di perut Zaki, kepalanya menempel ke punggung pria itu seolah hanya itu sandaran yang tepat untuk saat ini.
"Aku tidak marah, aku hanya kecewa dengan ucapan beliau yang dibungkus dengan kata candaan," ungkap Anisa.
Zaki tertegun sambil menyetir air matanya jatuh setetes seolah merasakan apa yang saat ini istrinya rasakan. "Sabar ya, selama ada aku, tidak akan ku biarkan seseorang merendahkan mu termasuk ibukku."
"Tapi aku gak ingin kamu melawan orang tuamu," potong Anisa dengan cepat.
"Aku memang tidak ingin melawan siapapun, tapi aku juga gak mau kamu disakitin oleh siapapun Nis, kamu harga diriku," pungkas Zaki.
Motor Zaki mulai masuk ke jalan kecil menuju kosnya, angin malam berhembus kencang tapi tidak bisa memberi kesejukan, karena hati keduanya benar-benar merasa kecewa atas sikap orang tua Zaki yang benar-benar tidak terkontrol.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di dalam kost yang kecil, Anisa berbaring di dalam dekapan suaminya, hembusan nafasnya pelan, sedari tadi suaminya memastikan jika sang istri baik-baik saja, karena memang sebegitunya cinta Zaki pada Anisa.
"Mas," panggil Anisa.
"Iya Sayang."
"Peluk yang erat ya," pinta Anisa.
"Itu pasti."
"Aku takut," kata Anisa dengan suara lembut wajah yang tadinya teduh mendadak cemas.
"Selama aku ada, aku gak akan membiarkanmu ketakutan," tekan Zaki di kalimat akhirnya.
Suasana hening, mungkin Anisa masih sakit dan kecewa meskipun suaminya sudah menenangkan hatinya beberapa kali, tapi yang namanya hinaan bahkan sampai bertahun-tahun pun sang pemilik hati tidak akan mudah untuk melupakan.
Perempuan itu mencoba kuat mencoba sabar dengan perlakuan orang tua suaminya, meskipun kata orang jika suami ada dipihak kita dunia akan aman, tapi yang namanya hati tidak ada yang tahu hancurnya sedalam mana.
"Aku tidur ya, tolong jangan lepas pelukan itu," pinta Anisa.
"Aku gak akan lepas Nis," sahut Zaki sambil menepuk pelan kepala Anisa.
Malam sudah mulai larut, dan Zaki masih tetap terjaga, ia mendekap erat tubuh sang istri, menciumi beberapa kali kening Anisa, sebagai seorang suami ia merasa gagal karena tidak bisa meluluhkan hati kedua orang tuanya terhadap sang istri.
"Ya Allah sampai kapan harus seperti ini," ucap Zaki, dengan helaan nafas yang cukup berat.
"Bahkan aku tidak bisa memastikan mau sampai kapan kedua orang tuaku tidak menyukai istriku, dia pilihanku! Aku mencintainya melebihi apapun, tapi mengapa...?" Zaki terhenti kata-katanya seolah menggantung di udara.
Pria itu menatap kembali wajah Anisa, cantik dan teduh hembusan nafasnya sedikit tersenggal justru itu membuat hati Zaki tak tenang, ada ketakutan yang luar biasa di dalam hati pria itu. Ia takut jika selamanya keluarganya akan memperlakukan Anisa seperti itu.
"Tidak .... Ya Allah luluhkan hati kedua orang tuaku," pinta Zaki di sela-sela rasa takutnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya subuh mulai menyambut hari mereka, sepasang suami istri itu terlihat sedang menjalankan ibadah shalat berjamaah, terlihat khusuk, keduanya memanjatkan doa yang sama.
Zaki bersalaman dengan Anisa saat shalat sudah usai, begitu pula dengan Anisa yang langsung menyambut uluran tangan Zaki dengan menciumnya penuh takzim.
Seusai shalat keduanya duduk berjejer di tepi kasur spon mereka. "Sayang, hari ini gak usah masak ya," ucap Zaki.
Anisa mengerutkan keningnya dengan cepat. "Loh kenapa? Apa kamu udah bosan dengan masakanku."
Zaki segera meraih tangan Anisa. "Bukan seperti itu Yank, kamu masih capek, aku gak mau menambah beban itu," jelas Zaki.
Anisa menggeleng pelan. "Enggak Mas, aku tetap ingin masak, bahan-bahan sudah ada, lagian kita gak boleh boros, yang cari kerja cuma kamu, kita harus ada tabungan," ujar Anisa pelan.
"Tapi Yank," kata Zaki.
"Sudah, gak ada kata tapi-tapian, aku sudah baik-baik saja, dan biarkan pagi ini istrimu memasak ya," pungkas Anisa.
Ia segera melepas mukenanya, lalu keluar sambil membawa berapa bahan untuk di masak, dalam kantong plastik kecil.
Dapur umum masih lenggang di jam-jam seperti ini, lampu neon menyala pucat, udara subuh yang masih sejuk masih bisa ia rasakan di dapur ini.
Anisa segera meletakkan bahan-bahan di meja panjang. Bawang merah dan putih ia iris tipis serta cabe besar yang diirisnya dalam bentuk miring. Wajan kecil ditaruh diatas kompor segera ia menyalakan api sedang agar tidak terlalu berisik.
Anisa memasak dengan cekatan seolah sudah paham dengan ritmenya di dalam dapur, tidak ada takaran untuk bumbu-bumbu semuanya hanya dikira dengan sendirinya saja.
Saat semuanya sudah matang wanita itu langsung membawa masakan itu masuk ke dalam kosan, harum tumis buncis dan gorengan tahu tempe menyeruak di ruangan kos kecil itu.
"Pintunya jangan ditutup dulu, aroma makanannya biar keluar dulu," pesan Anisa Zaki hanya mengangguk.
"Wiiih, kayaknya enak itu," sahut Zaki.
"Mau sarapan sekarang?" tanya Anisa.
"Tentu dong, tapi seperti biasa kamu dulu ya yang makan," ucap Zaki. Seolah menjadi kebiasaan jika Anisa tidak kenyang ia tidak akan makan terlebih dahulu.
"Baiklah," sahut Anisa dengan senang hati.
Mereka menikmati makanan itu dalam sepiring berdua, tidak ada kenikmatan lain selain kebersamaan yang dimiliki oleh pasangan ini. Dan di tengah-tengah kebersamaan sederhana itu tiba-tiba terdengar langkah tergesa dari lorong kosan.
Zaki segera memberhentikan suapannya, ia langsung beranjak sekedar untuk mengintip, dan saat ia hendak melangkah tiba-tiba saja sosok abinya sudah berdiri diambang pintu dengan tatapan yang menghunus ke arah keduanya.
Anisa refleks ikut berdiri sejajar dengan suaminya, tatapan Anisa mulai bingung seolah menuntut jawaban pada suaminya, dan Zaki pun segera meraih tangan Anisa seolah memberi isyarat jika tidak terjadi apa-apa.
"Abi," sapa Zaki halus.
"Kalian berdua!" desis Khalid dengan tatapan tajam.
"Bi, duduk dulu," ucap Zaki.
"Tidak perlu," potongnya dengan cepat. "Kenapa tadi sore kamu meninggalkan acara sebelum dimulai?" tanya Khalid penuh tekanan.
Jika dulu Zaki selalu menunduk, namun saat ini ia memberanikan diri untuk menatap wajah abinya. "Aku pulang, karena mereka merendahkan istriku," sahut Zaki penuh keberanian.
Khalid memicingkan matanya. "Oh, jadi hanya karena perempuan itu kamu membuat malu di acara itu, semua keluarga berkumpul di momen setahun sekali, mereka hanya ingin melepas rindu karena tidak bisa bertemu setiap harinya, dan kamu mematahkan kerinduan mereka!" desis khalid.
"Kalau mereka rindu dengan kebersamaan setahun sekali itu, kenapa mereka membuat ulah dengan mengatasnamakan istriku," sahut Zaki singkat tapi cukup memicu amarah ayahnya.
"Memangnya apa yang salah dari mereka, dia memang pembantu dan salahnya dari mana!" gertak Khalid.
Kali ini suasana benar-benar mencengkam, Anisa semakin mengeratkan genggamannya meskipun Zaki tahu saat ini tangan istrinya sedang gemetar.
"Stop Bi, jangan terus menerus menyudutkan istriku, mungkin dulu dia pernah jadi pembantu, tapi tidak dengan sekarang, sekarang dia istriku, seharusnya mereka bisa mengerti, jangan mentang-mentang latar belakang istriku tidak sama dengan mereka lantas mereka mau seenaknya saja, oh tidak bisa," balas Zaki sambil sedikit menggelengkan kepalanya di kata terakhirnya.
Khalid menghempaskan napas dengan kasar, terlihat sekali amarah yang memenuhi pikirannya. "Oh jadi sekarang kau berani melawan Abi."
"Aku tidak berniat untuk melawan siapapun, tapi aku juga tidak akan diam jika istriku terus-terusan kalian sudutkan," sahut Zaki.
Khalid terdiam sejenak, tapi tidak dengan tatapannya, dan kali ini tatapan tajam itu tertuju pada Anisa.
"Dan kamu," kata Khalid sambil menunjuk wajah Anisa.
"Jangan seperti itu dengan istriku," tegur Zaki namun Khalid tidak menghiraukan.
"Andai kata, aku kehausan di gurun pasir dan kamu menjadi airnya, aku tidak akan meminumnya sama sekali, dan andai kata kamu mutiara, aku tidak akan tertarik sekali pun kamu berkilau."
Deg!
Air mata Anisa jatuh tanpa disuruh, sepanjang ia hidup tidak ada manusia yang merendahkan dirinya serendah itu.
Kejam.
Pernyataan itu sungguh teramat kejam untuk dirinya. ia segera mengusap air matanya, dan menatap wajah Khalid dengan berani.
"Mungkin aku bukan menantu yang Bapak inginkan, tapi ketahuilah, aku ada di sini karena anak Bapak yang menginginkan itu," sahut Anisa tidak keras juga tidak lemah tapi mampu membuat langkah Khalid mundur.
Bersambung ....
Selamat Pagi Kak ...
Semoga suka ya ....