🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 | Skandal di Balik Layar
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Cahaya lampu kilat kamera biasa nya terasa seperti peluru yang menghujam harga diri ku. Selama berbulan-bulan, setiap kali aku melangkah keluar, aku merasa telanjang di bawah tatapan menghakimi publik karena skandal menjijikkan yang direkayasa itu. Namun malam ini, di depan karpet merah Grand Ballroom Peninsula Shanghai, lampu-lampu itu terasa seperti kembang api kemenangan.
Aku, Zhao Wei, sang Ratu Film Asia, telah kembali dari kematian karir.
Semua itu karena dia. Pria misterius dengan mata yang seolah bisa menembus waktu. Satya Samantha. Berkat bisikan satu nama pengkhianat di telinga ku malam itu di Bund, aku berhasil membalikkan keadaan. Manajer Li kini membusuk di sel interogasi setelah polisi menemukan bukti transfer rahasia yang aku beritahukan lokasi nya pada Detektif Chen.
"Aku berhutang segalanya pada nya," gumam ku sambil merapikan gaun backless sutra perak yang memeluk tubuh ku. "Tapi siapa dia sebenarnya? Seorang malaikat yang dikirim untuk menyelamatkan ku, atau iblis yang sedang menunggu ku di persimpangan jalan?"
Aku melihat ke arah pintu masuk utama. Jantung ku berdebar lebih kencang daripada saat aku memenangkan Best Actress di Cannes. Aku telah mengirimkan undangan pribadi paling eksklusif kepada nya. Di pesta ini, hanya orang-orang dengan kekayaan bersih di atas sembilan angka dan wajah yang menghiasi layar perak yang boleh masuk.
"Wei-wei! Kau tampak luar biasa!" suara parau itu membuat mual di perut ku kembali.
Itu adalah Produser Huang. Pria paruh baya dengan perut buncit yang disembunyikan di balik jas tuksedo sempit. Di industri ini, dia adalah Dewa. Dia bisa membuat mu menjadi bintang dalam semalam, atau mengubur mu di bawah tumpukan tuntutan hukum. Dan dia sudah lama mengincar ku.
"Terima kasih, Tuan Huang," jawab ku dingin, mencoba menjauh.
"Jangan dingin begitu, sayang," Huang mendekat, aroma cerutu dan alkohol mahal menguar dari mulut nya. Dia meletakkan tangan nya di pinggang ku, jari nya mulai meraba permukaan kulit punggung ku yang terbuka. "Ingat, posisi Ratu itu mudah goyah. Kau butuh perlindungan kuat di proyek besar berikutnya. Mari kita bicara di ruang privat lantai atas."
"Lepaskan saya, Tuan Huang. Saya sedang menunggu tamu," aku mencoba melepaskan tangan nya, tapi cengkeraman nya menguat.
"Tamu? Siapa? Pengusaha lokal? Jangan konyol. Di sini, aku lah yang memegang kendali."
Tepat saat aku merasa putus asa, kerumunan di dekat pintu masuk terbelah. Suasana yang tadinya bising oleh tawa palsu mendadak senyap.
Satya Samantha melangkah masuk.
Dia tidak mengenakan tuksedo klasik seperti pria-pria lain. Dia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi dengan kemeja sutra berwarna gelap yang sedikit terbuka di bagian kerah. Langkah nya tenang, namun setiap injakan sepatu nya seolah memberikan tekanan gravitasi di ruangan itu. Di samping nya, Wang Meiling menggandeng lengan nya dengan pose yang sangat posesif, seolah ingin mengumumkan pada dunia bahwa singa ini adalah milik nya.
Mata ku bertemu dengan mata Satya. Untuk sesaat, aku melihat kilatan merah di pupil nya, kilatan yang sama yang memberiku harapan malam itu.
"Satya!" aku berseru, tanpa sadar melepaskan diri dari Huang dan berlari kecil menuju ke arah nya.
Satya berhenti. Meiling menyipitkan mata, tatapan matanya tajam seperti pisau bedah saat melihat ku. "Nona Zhao, aku merasa senang bisa melihat mu tidak lagi menangis di sofa," sindir Meiling halus.
"Ini semua berkat Tuan Satya," jawab ku, mengabaikan sindiran Meiling. Aku menatap Satya dengan binar di mata ku. "Terima kasih sudah datang. Pesta ini tidak akan lengkap tanpa penyelamat ku."
Satya tersenyum tipis, senyuman yang sulit diartikan. "Pesta yang menarik, Zhao Wei. Banyak wajah di sini. Tapi ada satu wajah yang sudah busuk."
Tiba-tiba, Produser Huang melangkah maju dengan wajah merah padam. Dia merasa terhina karena diabaikan. "Heh, anak muda! Siapa kau? Berani nya kau datang ke pesta ku tanpa menyapa pemilik rumah?"
Satya menoleh perlahan. Dia menatap Huang dari atas ke bawah. Aku melihat ekspresi Satya berubah menjadi sangat dingin, seolah dia sedang menatap tumpukan sampah.
"Pemilik rumah?" Satya bertanya dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Aku tidak melihat pemilik di sini. Aku hanya melihat seorang pemangsa yang sedang gemetar karena buruan nya mulai melawan."
"Apa kata mu?!" Huang berteriak, menarik perhatian seluruh tamu. "Kau tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkan karir wanita ini lagi dalam satu telepon!"
Huang mencoba meraih lengan ku lagi, tapi sebelum tangan nya menyentuh ku, Satya sudah berdiri di depan ku. Dia tidak memukul Huang. Dia hanya berdiri di sana, namun kehadiran nya membuat Huang mundur selangkah karena ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.
"Tuan Huang," Satya berbicara dengan nada santai, namun setiap kata nya terdengar seperti vonis hakim. "Jangan bicara soal menghancurkan karir orang lain. Mari kita bicara tentang apa yang kau lakukan di Vila Xiamen pada tanggal 14 bulan lalu. Pukul dua pagi. Dengan dua aktris pendatang baru yang masih di bawah umur."
Wajah Huang mendadak seputih kertas. "Kau... apa yang kau bicarakan? Itu fitnah!"
"Fitnah?" Satya tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk ku meremang. "Kau pikir dengan kamera tersembunyi yang kau gunakan untuk memeras orang lain adalah satu-satu nya kamera di dunia? Kau lupa bahwa satelit dan jaringan data di kota ini punya mata yang lebih tajam. Haruskah aku sekarang menyebutkan nama bank di Swiss tempat kau mencuci uang suap dari rumah produksi saingan?"
Seluruh ruangan kini berbisik histeris. Para jurnalis yang hadir mulai menyalakan perekam mereka.
"Bagaimana bisa dia tahu?" gumam ku dalam hati, menatap punggung Satya. "Dia tidak membawa catatan, dan juga tidak membawa dokumen. Dia hanya menatap Huang dan rahasia paling kelam pria itu keluar begitu saja."
"Kau... kau iblis!" Huang berteriak frustrasi. Dia mencoba melayangkan pukulan ke arah wajah Satya.
Satya bahkan tidak berkedip. Dia hanya menggeser kepala nya sedikit, sebuah gerakan yang sangat presisi, seolah dia sudah tahu arah pukulan itu satu detik sebelum nya. Dengan satu gerakan cepat, Satya menangkap pergelangan tangan Huang dan menekan nya ke arah meja prasmanan.
"Iblis?" Satya berbisik, namun suara nya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Bukan, Huang. Aku adalah cermin. Dan apa yang kau lihat sekarang pada ku adalah kebusukan mu sendiri yang terpantul."
Satya melepaskan tangan Huang seolah membuang kotoran. "Dalam sepuluh menit, Detektif Chen akan tiba di depan pintu dengan surat perintah penangkapan atas kasus perdagangan manusia dan pencucian uang. Jika aku jadi kau, aku akan menikmati tegukan sampanye terakhir mu."
Huang jatuh terduduk di lantai, menangis meraung-raung. Keangkuhan nya hancur total.
Satya berbalik ke arah ku. Dia merapikan helai rambut ku yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut, yang mana sangat kontras dengan sikap kejam nya yang baru saja dia tunjukkan. "Zhao Wei, mawar tidak seharusnya tumbuh di dekat semak berduri seperti dia. Mulai besok, kau adalah wajah utama dari Samantha Holdings. Tidak ada produser di China yang berani menyentuh mu lagi."
Aku tertegun. "Samantha Holdings? Kau... Kau membangun perusahaan sendiri?"
Meiling, yang sejak tadi diam, melangkah maju dan merangkul lengan Satya kembali, seolah menandai wilayah nya. "Kami membangun nya, Nona Zhao. Dan sebagai Direktur Strategis, Satya memutuskan kau adalah investasi terbaik kami."
Aku melihat ketegangan antara Meiling dan Satya, lalu melihat ke arah Satya yang hanya menatap ku sebentar dengan mata merah-emas nya yang mistis. Aku tahu ini bukan lah sekadar urusan bisnis. Ini adalah awal dari sebuah rantai yang akan mengikat ku pada nya.
"Aku ingin dia," bisik hati ku yang terdalam. "Bukan hanya sebagai pelindung, tapi sebagai pria yang memiliki jiwa ku. Meskipun aku harus berbagi dengan wanita seperti Wang Meiling."
Pesta kembali berlanjut, tapi fokus nya telah berubah total. Satya Samantha bukan lagi orang asing; dia adalah penguasa baru di industri hiburan Shanghai malam itu.
Saat musik mulai mengalun kembali, aku memberanikan diri mendekati nya. "Tuan Satya... bolehkah saya meminta satu tarian? Sebagai tanda terima kasih yang tulus."
Meiling tampak ingin memprotes, tapi Satya memberikan isyarat agar dia tenang. Satya mengulurkan tangan nya pada ku. "Satu tarian, Zhao Wei. Tapi ingat, setiap langkah yang kau ambil bersama ku akan membawa mu lebih jauh ke dalam badai."
"Aku tidak takut pada badai," bisik ku sambil meletakkan tangan ku di bahu nya, merasakan kekuatan otot di balik jas sutra nya. "Selama badai itu bernama Satya."
Kami berdansa di tengah ruangan, di bawah tatapan iri dan kagum ratusan orang. Di pelukan nya, aku merasa aman sekaligus terancam, rasa takut yang manis yang hanya bisa diberikan oleh seorang pria yang memegang kunci masa depan di mata nya.
Malam itu, skandal di balik layar memang terbongkar, tapi skandal yang lebih besar baru saja dimulai: skandal tentang seorang penguasa baru yang mulai mengumpulkan ratu-ratu nya di atas papan catur Shanghai.
...----------------🍁----------------🍁----------------...