NovelToon NovelToon
The Big Families 2

The Big Families 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:798.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Sekuel ke empat Terra The Best Mother, sekuel ke tiga Sang Pewaris, dan sekuel ke dua The Big Families.

Bagaimana kisah kelanjutan keluarga Dougher Young, Triatmodjo, Hovert Pratama, Sanz dan Dewangga.
Saksikan keseruan kisah pasukan berpopok dari new generasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERSIAPAN LAMARAN

"Gunakan hotelku!" ujar Virgou ketika ingin menggelar acara lamaran.

"Daddy, apa perlu seramai itu?" tanya Seroja sungkan.

"Tentu saja," jawab Virgou tak mau dibantah.

"Keluarga aja sih, kan cuma lamaran. Pestanya ketika resepsi," pinta Seroja memohon.

"Baby!" protes Virgou.

"Waktu Kak Al dan Kak Calvin lamaran juga datang ke rumahnya. Kak Raini juga Kak Jelita semua di rumah," sahut Seroja.

Akhirnya Virgou menurut, hunian Bart dihias indah sesuai dengan keinginan pria tua itu. Semua anak diungsikan ke rumah Leon.

Rumah besar Bart yang biasanya riuh dengan celoteh bayi dan tawa anak-anak kini berubah sunyi. Hari itu, semua anak-anak sudah diungsikan ke rumah Leon. Hanya suara gesekan kursi, langkah para pekerja, dan aroma bunga melati yang memenuhi udara.

Di tengah ruang utama, Bart berdiri dengan tangan di pinggang, memandangi hasil kerja para dekorator.

“Lampu itu miring dua derajat,” komentarnya tajam.

“Tuan besar, itu tidak terlihat kok…” sahut dekorator gemetar.

“Aku bilang miring, berarti miring!”

“Baik, baik, Tuan besar,” jawabnya

cepat sambil memperbaiki posisi lampu gantung.

Frans, yang duduk sambil menyeruput teh, menggeleng tak percaya.

“Dia itu lebih cerewet dari pengantin perempuan,” gumamnya ke Herman.

“Diam kau, sebelum jadi korban berikutnya,” balas Herman datar sambil membaca koran.

"Tuan besar, apa lagi yang kurang?" tanya pendekor yang sudah kenal Bart.

"Kurang rangkai bunga. Aku mau sofa-sofa itu dihias dengan rangkaian bunga melati. Aku juga mau tirai ditutupi bunga melati!" jawab pria itu.

"Baik Tuan besar," angguk kepala pendekor.

Bart ingin nuansa serba putih, bunga melati jadi pilihan. Seroja yang cantik dengan wajah bersih bak pualam. Warna putih melaraskan kesucian dan kemurnian.

"Jangan semua putih, Dad," ujar Frans menyarankan.

"Jangan mengajariku!" sentak Bart.

Frans hendak menyahuti, tapi Herman menahannya. Ia menggeleng.

"Sudah, biarkan saja apa maunya."

"Tapi nanti kalau salah. Kita juga yang dimarahi, Mas!" seru Frans dan Leon mengangguk setuju.

Akhirnya dekorasi selesai, Bart nampak mengangguk puas. Tetapi kemudian keningnya berkerut.

"Ini kenapa warnanya putih semua? Leon, Frans, Herman!" teriaknya.

"Tuh, kan!" bisik Leon kesal.

"Apa lagi, Dad. Itu semua kan maumu!" sahutnya kemudian pada ayahnya.

"Kenapa tak kau ingatkan, Anak sialan!" sentak Bart tak mau disalahkan.

Lalu ocehan pria itu terdengar, Virgou pulang bersama Seroja. Mendengar suara Bart yang mengoceh membuat Virgou menatap dua pamannya, Leon dan Frans.

"Ada apa?" tanyanya.

"Dia protes dengan hasil karyanya sendiri!" jawab Frans ketus.

"Ini indah sekali!" seru Seroja memandang hasil dekorasi. Bart langsung diam, dagunya terangkat.

"Bagus kan?" Seroja mengangguk dengan mata berbinar.

"Papa sendiri yang merangkaikannya untukmu, kamu suka?"

Lagi-lagi Seroja mengangguk, ia suka dengan apa yang Bart berikan untuknya.

"Tapi kok putih semua?" tanya Seroja.

"Itu karena mereka tak ada yang mau membantuku!" adu Bart sambil menunjuk Herman, Frans, Leon juga Virgou yang baru datang.

"Dad!" protes Herman.

"Lihat, Nak. Dia belum apa-apa sudah memarahiku!" adu Bart mengada-ada.

Seroja tersenyum, ia memeluk ayah angkatnya. Baginya Bart bukan lagi seperti ayah angkat. Tapi pria itu juga sudah seperti ayah kandungnya.

"Papa, Ba bowu," ujarnya lirih.

Bart masih duduk di kursi besar di ruang tengah, memandangi Seroja yang kini sibuk memeriksa setiap sudut dekorasi. Wajah gadis itu bulat dan bersih. Kepalanya dibungkus hijab lebar menutupi dada dan bokong.

“Jangan tegang begitu,” ujar Bart lembut. “Kau ini bukan mau sidang, cuma lamaran.”

"Papa, ini lamaran Pa," sahut Seroja dengan mata bulat.

"Mestinya kamu di kamar, Baby. Di pingit!" sahut Frans.

"Sana, masuk kamar. Sebentar lagi makan siang. Dimas pasti datang untuk makan di rumah," suruh Frans.

Seroja menurut, ia pergi ke kamarnya yang ada di lantai tiga. Benar saja, tak lama para pria pekerja datang bersama Mai, Kaila dan Dewi.

Dewi membawa kebaya warna pink dengan taburan manik-manik berkilau. Kebaya modern yang disesuaikan dengan keinginan Seroja.

"Ini baju untuk lamaran besok?" tanya Bart menatap kebaya yang dibungkus plastik itu.

"Iya Grandpa, ini adalah kebaya yang dimaui Kak Roja!" jawab Dewi.

"Bi!" Dewi memanggil seorang maid dan menyuruhnya membawa kebaya itu ke kamar Seroja.

Wanita itu mengambilnya dan membawanya. Dewi mengucap terima kasih.

Dimas tak banyak bicara, tapi bibirnya terus bergerak. Ia banyak berdzikir istighfar.

"Apa susah kamu siapkan Baby?" tanya Herman.

"Sudah, ayah. Semua sudah siap. Tinggal lamarannya saja, lusa!" jawab Dimas.

Mereka makan dengan tenang, usai makan semua sholat dhuhur berjamaah dan selesainya mereka pergi kembali ke perusahaan.

Bart masuk ke kamarnya, ia sudah sangat tua. Tubuhnya cepat sekali lelah. Ia merebahkan diri di ranjangnya.

Suasana sepi dan dingin, ia berbaring menatap langit-langit kamar dan lampu gantung di sana.

'Ah, usiaku sudah terlalu tua," keluhnya.

"Kapan Kau panggil aku ya Allah? Tapi kapanpun itu. Pastikan semua keturunanku sudah bahagia dengan pilihannya," gumamnya berdoa penuh harap.

Sore itu langit perlahan berubah jingga. Cahaya matahari menembus sela tirai melati dan jatuh di lantai marmer, menciptakan bayangan putih kekuningan seperti cahaya surga. Seroja menatapnya dari balik jendela kamarnya.

Di atas meja rias, kebaya pink yang dibawa Dewi kini terlipat rapi. Gadis itu menyentuh kain lembutnya, lalu menghela napas panjang.

“Aku benar-benar akan menikah, ya?” bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin.

Seroja ingat, dulu ia hidup bersama yang lain di panti. Ditemukan ketika tali pusatnya belum puput. Almarhumah Erna menemukannya di tumpukan sampah.

Ia dibawa ke panti, dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Hingga ia menatap Bart pertama kali. Pria itu membawa empat puluh anak dalan asuhannya.

Dididik, dibesarkan dan tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Seroja besar di tangan Terra, Khasya dan Maria.

Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mendukungnya penuh. Tak ada perbedaan, semua kasih sayang sama dengan anak-anak kandung lainnya.

Baik Terra, Khasya dan Maria akan memihak siapa yang benar. Ketiga perempuan itu akan memarahi siapapun yang salah walau itu anak kandungnya sendiri.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan terdengar, Seroja bangkit dan membuka pintu. Wajah lembut Khasya hadir di ambang.

“Bunda…”

“Baby, boleh Bunda masuk?”

Seroja tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar. Khasya melangkah pelan lalu duduk di pinggir ranjang, sementara Seroja tanpa segan merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu.

“Nak, sebentar lagi kamu akan jadi putriku. Bunda senang sekali. Sejak dulu, salah satu doa Bunda adalah membawamu ke pangkuan Bunda,” ucap Khasya lirih, jari-jarinya mengusap lembut rambut Seroja.

Seroja terdiam, menatap bayangan senja yang menembus tirai dan jatuh di lantai kamar. “Bunda… kalau bukan karena kasih kalian, mungkin aku nggak akan tahu rasanya punya rumah,” bisiknya pelan.

Khasya menunduk, menatap gadis yang hampir menjadi putrinya itu. “Rumah bukan soal dinding dan atap, Baby. Rumah adalah pelukan tempat kau kembali tanpa takut dihakimi.”

Seroja menatap wajah Khasya dari pangkuannya, cahaya sore menari di mata mereka.

“Bunda, Seroja nggak tahu bagaimana membalas semuanya.”

Khasya tersenyum kecil. “Cukup hidup dengan cinta, Nak. Itu sudah lebih dari cukup bagi seorang ibu.”

Di luar, angin sore berhembus lembut membawa harum melati, seolah turut mengamini doa di antara keduanya.

Bersambung.

Ah ...

Next?

1
Dandelion
next ka
Dee
next kakkkk
Reny Saputro
semangat
Rokhyati Mamih
eh bapak salah sogok nih nyogok rambutan aja yuk🤭🤭🤭
Eni Istiarsi
siapa disini yang tertipu sama judul 🤣🤭
Eni Istiarsi
diiih,bukan puasanya yang lancar. tapi bukanya kaliiii😄
Nengs
yahhhh blm tau itu orang siapa baby kean😄🤣😍
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
et dah... lo pikir mereka butuh duit lo, giyo? baaah....
Forian Sari
yahhh.... hari gini masih pake sogok menyogok..... capek deh.....🤦🫣
Dian Susantie
yaahh.. dia mau nyogok Kean?
ibarat menghargai lautan.. 🤪🤪🤪
Erma Erpiyana
pukul orang ini, hajar orang ini, usir orang ini, 💪💪💪, ayo ayo, hah mengganggu saja,
Diah205L
ini daddy Virgou kemasan sedang
Dewi Mahabbah
ka ada yg typo ya,ko grup neraka sih🤣
Cindy
lanjut kak
Aghitsna Agis
langsung up.lagi thor
Aghitsna Agis
dikira judul mencoba menggida itu ada perempuan yg menggoda anak douger young tetnyata menggoda juri ngasih pelicin jangan diterima kalau ditetima juga nga salah sih oan untuk kelancaran acara ya tapi ttp aja dalam lomba sesuai aturan lalau kalah ya kalah kalau menang ya menang nga melihat udah ngasih uang kan bilangnya untuka kelancaran acara ya bukan untuk pribadi
Nancy Nurwezia: sama kak, aq kira juga begitu..🤭🤭
total 1 replies
diyah
hohoho.. ada yg coba2 utk main suap menyuap.. cari masalah besar😁
Yuni
duhhh kok jdi serammm ginibbbh
Yuni
duhhhh kok seremmmm kk mayy
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
author, kak Maya. kenapa emosi berjilid di hapus kak?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!