Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Lagunya K-Pop, Kerjanya Kerja Bakti
Bagi seorang mahasiswa Teknik Informatika yang baru saja begadang menyelesaikan coding hingga subuh, lalu paginya dihajar tugas angkat galon dan jadi asisten dadakan Gendis, tidur siang bukan lagi sekadar keinginan—itu adalah kebutuhan biologis yang sakral. Arka merebahkan tubuhnya di kasur tipis kamarnya, memejamkan mata, dan baru saja akan meluncur ke alam mimpi yang tenang.
Namun, ketenangan adalah komoditas yang paling langka di Wisma Lavender.
BOOM!
Dinding kamar Arka bergetar. Sebuah dentuman bas yang sangat bertenaga tiba-tiba menghantam udara, diikuti oleh melodi ceria yang sangat familiar di telinga jutaan orang di seluruh dunia. Dari kamar sebelah—wilayah kekuasaan Chika—suara vokal grup BTS menggelegar melalui pengeras suara yang tampaknya memiliki spesifikasi untuk konser stadion.
"DYNAMITE!" teriak Chika dari balik dinding, mengikuti lirik lagu dengan semangat yang sanggup membangkitkan orang mati.
Arka mengerang, menarik bantalnya untuk menutupi kepala. Namun, suara itu tidak terbendung. Vokal tinggi Jungkook dan Jimin seolah menembus serat-serat bantalnya, mengejek usaha Arka untuk mencari kedamaian.
"Chikaaa... tolong, satu jam saja..." gumam Arka ke arah bantal.
Tak kunjung berhenti, lagu berganti menjadi "Butter", lalu "Permission to Dance". Arka merasa otaknya mulai menari mengikuti irama, padahal tubuhnya sudah tidak sanggup lagi bergerak. Dengan sisa tenaga yang ada, Arka bangkit, berjalan gontai, dan mengetuk pintu kamar Chika.
"Chik, Chika! Tolong volumenya, Chik! Gue mau tidur!" teriak Arka di depan pintu.
Pintu terbuka mendadak. Chika muncul dengan bando telinga kelinci, memegang lightstick resmi di tangan kanan, dan kemoceng di tangan kiri. Keringat bercucuran di dahinya, namun matanya berbinar penuh energi.
"Arka! Pas banget kamu ke sini!" seru Chika tanpa mengecilkan volume musiknya. "Ayo masuk! Aku lagi sesi 'Kerja Bakti Bangtan'. Aturannya: dilarang berhenti bersih-bersih sampai semua playlist ini habis!"
Arka melongok ke dalam kamar Chika. Kamar itu tampak seperti medan perang antara toko suvenir Seoul dan gudang logistik. Poster para member BTS menutupi hampir setiap inci dinding. Chika sedang memindahkan tumpukan kardus album yang beratnya mungkin setara dengan satu unit motor.
"Gue mau tidur, Chik. Sumpah, gue capek banget," rintih Arka.
"Tidur itu buat orang lemah, Arka! Lihat para member, mereka latihan belasan jam sehari!" Chika menarik lengan Arka masuk ke kamarnya. "Daripada kamu stres dengar suaranya, mending kamu bantu aku mindahin lemari pajangan koleksi photocard ini ke sudut sana. Habis itu baru boleh tidur!"
Arka menatap lemari kayu besar yang penuh dengan bingkai foto kecil-kecil itu. "Jadi, kalau gue bantu, lu bakal matiin musiknya?"
"Nggak dimatiin, tapi kita pindah ke mode slow bar habis ini," tawar Chika sambil mengedipkan mata. "Ayo, Arka! Fighting!"
Sekali lagi, Arka terjebak. Ia, yang niatnya mencari istirahat, justru berakhir menjadi kuli angkut di bawah komando seorang gadis remaja yang memiliki energi nuklir. Selama satu jam berikutnya, Arka mengangkat lemari, menggeser meja, dan menempelkan kembali poster-poster yang lepas, semuanya dilakukan sambil dipaksa mendengarkan kuliah singkat Chika tentang perbedaan antara bias dan bias wrecker.
"Lihat ini, Arka. Ini V. Tatap matanya. Kamu merasa terinspirasi nggak buat ngerjain skripsi?" tanya Chika sambil menyodorkan sebuah poster besar tepat ke wajah Arka yang kuyu.
"Gue merasa terinspirasi buat pingsan, Chik," jawab Arka datar.
Anehnya, saat lagu "Spring Day" mulai terputar—sebuah lagu yang lebih melankolis—Chika benar-benar sedikit mengecilkan volumenya. Ia mulai menyapu lantai dengan gerakan yang lebih santai. Arka, yang sudah terduduk lemas di atas tumpukan bantal BT21, akhirnya merasa suasana sedikit lebih manusiawi.
"Ternyata lu rapi juga ya kalau urusan ginian," komentar Arka melihat hasil kerja mereka.
"Bukan cuma rapi, Ka. Ini bentuk dedikasi. Kalau kamar bersih, aku nonton konten mereka juga lebih tenang," jawab Chika tulus. Ia menatap Arka dengan rasa kasihan yang jarang ia tunjukkan. "Oke, Arka. Tugas selesai. Kamu boleh balik ke kamar. Aku bakal pakai earphone sampai malam."
"Beneran?" Arka seolah tidak percaya.
"Iya. Makasih ya sudah bantu mindahin lemari berat itu. Aku nggak mungkin sanggup sendirian." Chika memberikan sebuah botol minuman vitamin ke arah Arka. "Semangat skripsinya, Penjaga Wisma!"
Arka kembali ke kamarnya dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Meskipun ototnya semakin pegal, setidaknya lorong lantai dua kini benar-benar sunyi. Ia kembali merebahkan diri, menarik selimut, dan dalam hitungan detik, ia benar-benar tertidur lelap.
Namun, di dalam mimpinya, Arka tidak melihat kode-kode pemrograman atau dosen pembimbing. Ia bermimpi sedang berada di atas panggung besar, mengenakan jaket almamater yang penuh bulu kucing Maya, sambil memegang galon di kedua tangan, dan menari breakdance diiringi lagu "Dynamite" di hadapan lima belas gadis Wisma Lavender yang bersorak histeris.
Bahkan di alam bawah sadar, Arka sudah tidak bisa lagi melarikan diri dari kegilaan rumah ini.