Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG TIDAK TERLIHAT
Seminggu setelah kemenangan besar melawan pasukan Hartono...
Desa Qinghe merayakan.
Bukan pesta besar, tapi syukuran sederhana di balai desa. Ibu-ibu memasak makanan terbaik mereka. Para pemuda bernyanyi dan bercerita tentang pertempuran. Anak-anak berlarian dengan gembira.
Wei Chen duduk di sudut ruangan, mengamati semua dengan senyum tipis. Mei Ling di sampingnya, sesekali menyuapi dia kue tradisional.
"Ini enak," kata Wei Chen.
"Buatan Mak Inah. Dia jago masak."
Wei Chen mengunyah pelan. Matanya tetap mengawasi sekeliling — kebiasaan lama yang tidak bisa hilang.
Pak Roto, pelatih para pemuda, mendekat dengan segelas arak.
"Tuan Wei, aku salut." Dia mengangkat gelas. "Strategimu kemarin luar biasa. Bahkan aku yang mantan prajurit tidak kepikiran pasang jebakan serapi itu."
Wei Chen mengangguk. "Terima kasih. Tapi itu kerja tim."
"Tim yang baik butuh pemimpin yang baik." Pak Roto menatapnya. "Kau pemimpin yang baik, Tuan."
Wei Chen tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ada rasa hangat.
Setelah Pak Roto pergi, Mei Ling berbisik, "Kau diterima, Chen."
"Apa?"
"Mereka terima kau. Sebagai pemimpin." Matanya lembut. "Dulu kau orang asing. Sekarang kau bagian dari mereka."
Wei Chen diam. Dia tidak pernah berpikir tentang itu. Tapi Mei Ling benar.
Dia bukan lagi orang asing di desa ini.
---
Tapi di balik kebahagiaan itu, ada luka yang tidak terlihat.
Jarwo.
Pemuda itu pergi dengan keluarga, ke desa lain. Tapi Wei Chen tahu dia tidak akan pernah benar-benar pulih. Pengkhianatan, meski terpaksa, meninggalkan bekas.
Lim Xiu duduk di samping Wei Chen. Wajahnya serius.
"Wei, ada kabar dari utara."
"Apa?"
"Jarwo dan keluarganya sampai dengan selamat. Tapi..." Dia ragu.
"Tapi apa?"
"Dia minta maaf. Lagi-lagi. Lewat surat." Lim Xiu menyerahkan secarik kertas.
Wei Chen membaca. Surat pendek, tulisan jelek, tapi isinya mengharukan.
"Tuan Wei, maafkan saya. Saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Tuan. Terima kasih sudah selamatkan keluarga saya. Saya akan berdoa untuk Tuan setiap hari."
Wei Chen diam. Melipat surat itu.
"Balas," katanya. "Bilang dia sudah dimaafkan. Dan kalau suatu hari dia ingin kembali, pintu selalu terbuka."
Lim Xiu mengangkat alis. "Kau yakin?"
"Dia korban, bukan pelaku." Wei Chen menatapnya. "Orang seperti itu pantas dapat kesempatan kedua."
Lim Xiu tersenyum. "Kau berubah, Wei."
"Aku tahu."
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.
Bulan purnama. Cahayanya perak. Angin sepoi-sepoi.
"Chen, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kau pernah punya teman? Di tempat asalmu?"
Wei Chen berpikir. Teman? Di bumi, dia punya kolega, mitra, pesaing. Tapi teman?
"Tidak."
"Tidak pernah?"
"Tidak pernah."
Mei Ling menghela napas. "Sedih."
"Mungkin. Tapi di sini..." Dia menatap Mei Ling. "Di sini aku punya."
Mei Ling tersenyum. Memeluknya.
"Aku juga."
Mereka diam. Menikmati malam.
---
Esok harinya, Wei Chen pergi ke klinik Guru Anta.
Guru Anta sedang sibuk dengan ramuan-ramuannya. Meja penuh dengan botol, daun, akar, dan bubuk-bubuk aneh.
"Wei Chen." Dia tersenyum. "Lihat ini."
Dia menunjukkan sebuah pil kecil berwarna putih susu.
"Apa itu?"
"Prototipe Pil Pemurni." Matanya berbinar. "Campuran Embun Giok dengan ramuan penguat. Belum sempurna, tapi..."
Wei Chen mengambil pil itu. Memandanginya.
"Sudah diuji?"
"Pada tikus. Hasilnya positif. Tikus yang kuberi racun sembuh setelah makan pil ini."
Wei Chen mengangkat alis. "Berani?"
"Untuk tikus, iya." Guru Anta tersenyum. "Untuk manusia... belum."
Wei Chen diam. Lalu, "Coba pada aku."
Guru Anta terkejut. "Apa?"
"Aku bilang, coba pada aku."
"Kau gila? Ini belum teruji!"
"Aku tahu. Tapi kalau berhasil, kita bisa lanjut ke Mei Ling." Wei Chen menatapnya. "Aku rela ambil risiko."
Guru Anta diam. Matanya berkaca-kaca.
"Kau benar-benar cinta padanya."
"Aku tahu."
Guru Anta menghela napas. "Baik. Tapi kita lakukan bertahap. Dosis kecil dulu."
Wei Chen mengangguk. "Kapan mulai?"
"Besok pagi. Perut kosong."
---
Esok paginya, Wei Chen datang ke klinik.
Guru Anta sudah siap dengan pil kecil dan segelas air.
"Kau yakin?"
"Yakin."
Wei Chen mengambil pil itu. Memasukkannya ke mulut. Menelan.
Diam.
Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Tidak ada efek.
Guru Anta mengamati dengan cemas. "Ada rasa aneh?"
"Tidak. Biasa saja."
Guru Anta menghela napas lega. "Syukurlah. Berarti tidak beracun."
"Tapi juga tidak berefek."
"Belum tentu. Mungkin butuh waktu." Guru Anta mencatat sesuatu. "Kita lihat perkembangannya."
---
Tiga hari kemudian, Wei Chen merasakan perubahan kecil.
Bukan fisik, tapi energinya. Qi-nya terasa lebih... halus. Lebih mudah dikendalikan.
Dia cerita pada Guru Anta.
Guru Anta tersenyum lebar. "Ini! Ini efeknya! Pil itu bekerja!"
"Maksudmu?"
"Pil itu tidak menyembuhkan, tapi memurnikan qi. Qi-mu jadi lebih bersih. Itu langkah pertama."
Wei Chen mengangguk. "Jadi untuk Mei Ling?"
"Kita perlu racik ulang. Dosis berbeda. Mungkin tambahan bahan lain." Guru Anta menatapnya. "Tapi kita di jalur yang benar."
Wei Chen lega. "Terima kasih, Guru."
"Jangan dulu berterima kasih. Masih panjang."
---
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia menangis. Bahagia.
"Chen... kau benar-benar lakukan ini untukku?"
"Iya."
"Kau rela jadi kelinci percobaan?"
"Untukmu, apa pun."
Mei Ling memeluknya erat. Menangis di dadanya.
"Aku tidak pantas."
"Kau pantas." Wei Chen mengusap rambutnya. "Kau satu-satunya yang pantas."
Mereka berpelukan lama. Malam itu, mereka berdua merasa lebih dekat dari sebelumnya.
---
Chapter 28 END.
---