NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PAGI YANG MENCEKIK

Pukul setengah lima pagi. Langit masih gelap. Di pinggir jalan, dua lelaki muda berjalan pelan menyusuri batas kampung. Yang satu gagah, berpostur tegap meski memakai pakaian petani lusuh—celana digulung, baju hitam kusam, peci penyok. Yang satu lagi, di sampingnya, seorang lelaki dengan cangkul di pundak, sesekali menoleh ke kiri-kanan seperti mengawasi.

Mereka seperti petani biasa yang mau ke ladang. Tidak ada yang melirik. Tidak ada yang peduli.

Tapi mata pemuda itu—tajam, tenang, seperti elang yang mengintai mangsa—tidak pernah lepas dari rumah besar di ujung jalan. Rumah Datuk Sulaiman.

Ketukan keras terdengar dari pintu rumah itu. Pintu terbuka. Sulaiman muncul dengan wajah pucat, menerima utusan VOC. Pemuda itu berhenti sejenak, membetulkan peci yang hampir menutupi wajahnya, lalu tersenyum tipis. Senyum yang dingin. Senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun.

"Tepat waktu, Dullah," bisiknya pelan. "Pukul setengah lima. Seperti dugaanku."

Di sampingnya, Dullah—ajudan dan pendamping setia—mengangguk pelan. Mereka tidak perlu bicara. Rencana sudah berjalan.

---

Pagi baru setengah lima, tapi kekalutan sudah mencekik Datuk Sulaiman. Dan di pinggir jalan, dua lelaki yang tidak dikenali siapa pun—Datuk Maringgih dan Dullah—telah menyaksikan semuanya.

---

Dua jam sebelumnya, Maringgih sudah bangun. Ia duduk di beranda rumahnya, memandang langit yang masih gelap. Dullah datang dengan membawa dua set pakaian petani lusuh.

"Tuan, ini sudah siap."

Maringgih mengambil pakaian itu. Baju hitam kusam, celana digulung, peci penyok. Ia memakainya tanpa ragu.

"Kau yakin ini cukup, Tuan?" tanya Dullah. "Wajah Tuan masih muda. Orang mungkin curiga."

Maringgih tersenyum. "Petani muda juga banyak, Dullah. Yang penting kita tidak mencolok. Jangan bertingkah seperti saudagar. Bungkukkan badan. Bicaralah seperlunya."

Dullah mengangguk. Ia sendiri sudah berpakaian serupa. Cangkul di pundak. Peci penyok.

Mereka berangkat sebelum subuh. Berjalan kaki, seperti petani yang mau ke ladang. Melewati rumah-rumah petani yang mulai bangun. Melewati warung kopi yang baru buka. Tidak ada yang melirik.

Tujuan mereka hanya satu: mengawasi rumah Sulaiman dari kejauhan.

---

BRAK! BRAK! BRAK!

Ketukan keras di pintu rumah Sulaiman membuat Dullah menegang. Maringgih tetap tenang, hanya matanya yang bergerak—mengikuti setiap detail.

Pintu terbuka. Sulaiman muncul.

Dari jarak lima puluh meter, di tengah gelap yang mulai redup, Maringgih bisa melihat bahasa tubuh Sulaiman. Membeku. Gemetar. Wajah pucat meski tidak jelas.

Betang menyampaikan pesan singkat. Lalu pergi. Sulaiman menutup pintu.

"Tepat waktu, Dullah." Maringgih tersenyum. "Pukul setengah lima."

Dullah mengangguk kagum. "Tuan benar-benar tahu."

"Bukan tahu, Dullah. Tapi merasakan." Maringgih membetulkan cangkul di pundaknya. "Van der Berg pasti kalang kabut semalaman. Pagi-pagi sekali, sebelum orang banyak bangun, ia akan panggil Sulaiman. Karena ia ingin tekanan itu datang cepat."

"Luar biasa, Tuan."

Dua petani lain lewat di belakang mereka. Salah satu menyapa, "Loh, mau ke ladang juga? Ladangnya di mana?"

Dullah—dengan suara sedikit dibuat serak—menjawab, "Di seberang kali, Nak. Mau nanam ketela."

Petani itu mengangguk, lalu berlalu. Tidak curiga.

Maringgih dan Dullah melanjutkan langkah. Perlahan menjauh dari rumah Sulaiman. Tapi mereka tidak pergi ke ladang. Mereka kembali ke gudang Maringgih.

Menunggu.

---

Di dalam rumah besarnya, Sulaiman masih berdiri di balik pintu. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.

Ayo, Sulaiman. Kau bisa. Ini hanya tekanan biasa.

Tapi tangannya tetap gemetar.

Ia berjalan ke kamar utama. Istri pertamanya—Siti—terbangun karena suara pintu.

"Abang? Ada apa pagi-pagi?"

Sulaiman menoleh. Wajahnya dipaksakan tenang.

"Tidak apa-apa, Siti. Ada urusan kantor. Adik tidur lagi."

Siti duduk, matanya menyipit curiga. "Wajah Abang pucat. Ada masalah?"

"Tidak. Tidurlah."

Siti tidak memaksa. Tapi matanya terus mengikuti suaminya yang berganti pakaian dengan tangan gemetar. Ia tahu, sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tapi ia juga tahu, suaminya tidak akan bicara sekarang.

Sulaiman keluar kamar. Melewati kamar istri kedua—Zubaidah—yang masih tertidur lelap. Di kamar sebelah, dua anak laki-lakinya—Usman (sepuluh tahun) dan Hasan (tujuh tahun)—tidur dengan posisi khas anak-anak.

Di kamar paling ujung, kamar putri semata wayangnya—Halimah—masih gelap. Halimah tujuh belas tahun, cantik, cerdas, sedang bersiap masuk usia dewasa. Ia masih tidur lelap, tidak tahu bahwa pagi ini bapaknya sedang menghadapi badai.

Sulaiman berhenti sejenak di depan kamar Halimah. Tangannya terulur, ingin menyentuh pintu, tapi urung.

Andai kau tahu, Nak. Bapakmu ini... bapakmu ini sedang terdesak. Mungkin sebentar lagi kita kehilangan semua ini. Masa depanmu... sekolahmu... semua...

Hatinya nyeri. Perih.

Ia menutup pintu pelan-pelan, selembut mungkin. Lalu melangkah keluar.

Di halaman, kuda hitam mahalnya sudah siap. Hadiah dari Van der Berg dulu. Tanda kepercayaan. Kini jadi simbol beban.

Ia menaiki. Memacu cepat. Debu beterbangan.

---

Di kantor VOC, Van der Berg sudah menunggu.

Wajahnya merah padam. Mata sembab—tidak tidur semalaman. Di atas meja, surat dari Batavia terbuka, kusut karena dibaca berkali-kali.

Sulaiman masuk. Van der Berg langsung melempar surat itu ke arahnya.

"Lees dit! LEES!"

(Baca ini! BACA!)

Sulaiman menangkap surat itu. Membaca. Setiap kata seperti palu yang menghantam dadanya.

---

Aan: Mijnheer Van der Berg

Van: Raad van Koophandel, Batavia

"Mijnheer Van der Berg,

Wij hebben vernomen dat drie van uw opslagplaatsen volledig zijn afgebrand. Dit is een ramp voor de handel. Volgens de regels van de VOC kunnen wij geen specerijen naar Europa sturen voordat de verloren quota zijn aangevuld.

U moet de verbrande specerijen vervangen. Uit eigen middelen. Zoek handelaren die kunnen leveren. U heeft dertig dagen.

Als u faalt, wordt u verantwoordelijk gehouden voor alle verliezen. En u weet wat dat betekent.

Namens de Raad,

Jacob van Hemert"

---

(Kepada: Tuan Van der Berg

Dari: Dewan Dagang, Batavia

"Tuan Van der Berg,

Kami mendapat kabar bahwa tiga gudang penyimpanan di wilayah Anda habis terbakar. Ini adalah bencana bagi perdagangan. Sesuai aturan VOC, kami tidak bisa mengirim rempah-rempah ke Eropa sebelum kuota yang hilang diganti.

Anda harus mengganti rempah-rempah yang terbakar. Dari dana Anda sendiri. Cari pedagang yang bisa memasok. Anda punya waktu tiga puluh hari.

Jika gagal, Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh kerugian. Dan Anda tahu artinya.

Atas nama Dewan,

Jacob van Hemert")

---

Sulaiman diam. Tangannya gemetar.

"Dertig dagen!" Van der Berg berteriak. "Dertig dagen, Sulaiman! Drie pakhuizen! Hoe moet ik dat doen?"

(Tiga puluh hari! Tiga puluh hari, Sulaiman! Tiga gudang! Bagaimana mungkin?)

"Saya... saya bisa cari—"

"CARI DI MANA?!" Van der Berg memukul meja. "Satu-satunya yang punya stok besar di sini adalah Datuk Maringgih! En hij... hij... jij kent hem! Jij kent hem goed!"

(Dan dia... dia... kau kenal dia! Kau kenal dia baik!)

Sulaiman menelan ludah.

Maringgih. Nama itu lagi.

"Ga naar hem!" perintah Van der Berg. "Nu! Vraag om zijn specerijen! Wat de prijs ook is, we betalen!"

(Temui dia! Sekarang! Minta rempahnya! Berapa pun harganya, kita bayar!)

"Tapi—"

"GEEN MAAR!" Van der Berg mendekat. Wajahnya merah. Napasnya bau kopi pahit. "Dit is een bevel! Als je faalt, ben jij verantwoordelijk! Je huis! Je vrouwen! Je kinderen! Wil je dat?"

(TIDAK ADA TAPI! Ini perintah! Kau gagal, kau yang tanggung semua! Rumahmu! Istri-istrimu! Anak-anakmu! Kau rela?)

Sulaiman mundur selangkah. Ia memikirkan Siti. Zubaidah. Usman, Hasan, dan Halimah—putri semata wayangnya yang baru tujuh belas tahun, yang sedang bermimpi tentang masa depan. Rumah besarnya. Semua yang ia bangun selama bertahun-tahun.

"Tidak," bisiknya. "Saya tidak rela."

"DAN GA DAN! NU!"

(MAKA PERGI! SEKARANG!)

Sulaiman keluar. Surat itu masih di tangannya. Van der Berg mengizinkannya membawa, asal segera dikembalikan.

Di luar, matahari mulai naik. Tapi dunia terasa gelap.

---

Sulaiman berdiri di halaman kantor VOC. Ia memegang erat surat itu. Tangannya gemetar.

Ke mana sekarang?

Pikirannya melayang ke Maringgih. Satu-satunya harapan. Tapi kakinya tidak bisa bergerak.

Bagaimana kalau ia menolak? Bagaimana kalau ia mengusirku? Bagaimana kalau ia meludahi wajahku?

Ia menaiki kudanya. Perlahan, kuda itu berjalan meninggalkan kantor VOC. Tapi tidak menuju gudang Maringgih. Juga tidak pulang ke rumah.

Kuda itu berjalan tanpa arah. Menyusuri pinggir kampung. Melewati sawah-sawah yang mulai digarap petani. Melewati anak-anak yang bermain di pinggir jalan.

Sulaiman membiarkannya.

Pikirannya kacau. Satu sisi berkata: Kau harus ke Maringgih. Satu-satunya harapan. Sisi lain membisikkan: Kau sudah mengkhianatinya. Kau sudah memukuli rakyatnya. Kau sudah jadi algojo di matanya. Apa pantas kau minta tolong?

Kuda itu berhenti di tepi sungai. Sulaiman turun. Ia duduk di batu besar, memandangi air mengalir.

Surat dari Batavia masih di tangannya. Kata-kata itu berputar di kepalanya.

Tiga puluh hari. Tiga gudang. Rempah pengganti. Tanggung jawab pribadi. Rumah. Istri. Anak-anak.

Halimah. Putrinya yang baru tujuh belas tahun. Wajahnya muncul di benaknya—tersenyum, memakai kebaya, baru pulang dari pasar.

Ayah, nanti kalau Halimah besar, Halimah mau jadi guru.

Air matanya hampir tumpah.

---

Di gudang Maringgih, matahari semakin tinggi.

Maringgih masih duduk di kursinya. Kopi sudah tiga kali diganti. Tapi ia tetap tenang.

Dullah mondar-mandir di dekat pintu. "Tuan, sudah tiga jam. Mungkin dia tidak datang."

Maringgih tersenyum. "Dia datang, Dullah. Tapi belum berani melangkah."

"Maksud Tuan?"

"Dia sedang berkelahi dengan egonya." Maringgih menyesap kopi. "Antara ingin menyelamatkan keluarga, atau gengsi sebagai pejabat VOC. Antara datang sebagai kawan lama, atau sebagai utusan Van der Berg."

"Lalu?"

"Biarkan. Semakin lama ia menunda, semakin besar tekanannya. Dan ketika akhirnya ia datang..." Maringgih menjeda. "Ia akan datang dalam keadaan hancur. Dan aku bisa membaca, ia datang sebagai siapa."

Dullah mengangguk. Ia duduk di samping, ikut menunggu.

---

Satu jam lagi berlalu.

Sulaiman masih duduk di tepi sungai. Surat itu basah oleh keringat tangannya.

Seorang petani tua lewat, mengenalinya. "Loh, Datuk Sulaiman? Duduk di sini?"

Sulaiman tersentak. "Ah... iya. Cuma istirahat."

Petani itu menatapnya curiga, lalu pergi.

Sulaiman memandangi surat itu lagi.

Datang sebagai siapa? Sebagai utusan VOC? Atau sebagai kawan lama?

Ia ingat sembilan tahun lalu. Waktu ia menangis di rumah Maringgih. Waktu Maringgih memberinya uang tanpa diminta. Waktu ia berjanji tidak akan lupa.

Dan sekarang? Ia justru memukuli rakyat Maringgih. Menyiksa Salim. Menangkap Mahmud. Wajah-wajah itu muncul di benaknya. Darah. Tangis. Istri-istri yang menjerit.

Pantaskah aku minta tolong?

Ia memejamkan mata. Air mata akhirnya tumpah.

---

Di gudang Maringgih, Dullah melapor.

"Tuan, saya suruh Jafar mencari tahu. Kata orang, Sulaiman duduk di tepi sungai sejak dua jam lalu. Sendirian."

Maringgih tersenyum. Tidak terkejut.

"Biarkan. Ia sedang menghitung harga diri."

"Tuan yakin ia akan datang?"

Maringgih berdiri. Berjalan ke jendela. Memandang ke arah sungai yang tidak terlihat dari gudang.

"Ia akan datang, Dullah. Bukan karena ia ingin. Tapi karena ia tidak punya pilihan." Ia berbalik. "Siti, Zubaidah, Usman, Hasan, dan Halimah—mereka adalah alasan terkuat. Demi mereka, ia akan merendahkan harga diri."

Dullah mengangguk.

"Tapi kapan, Tuan?"

Maringgih kembali ke kursinya. Duduk tenang.

"Nanti sore. Atau besok pagi. Atau lusa." Ia tersenyum tipis. "Tapi ia akan datang. Dan ketika itu terjadi, aku akan lihat matanya. Dari matanya, aku akan tahu—ia datang sebagai apa."

---

Sore mulai turun.

Sulaiman masih duduk di tepi sungai. Surat itu kusut di tangannya.

Matahari mulai jingga. Sebentar lagi magrib.

Ia harus pulang. Atau pergi ke gudang Maringgih.

Tapi kakinya tidak bisa memilih.

---

[Bersambung ke Bab 10...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!