NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pedang Bulan Beku dan Tiga Bayangan Kiamat

​Matahari baru saja menyembul dari ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menembus kaca rumah Keluarga Kusuma.

​Pintu rumah kaca yang semalaman tertutup rapat akhirnya terbuka perlahan. Arya melangkah keluar. Penampilannya sekilas tidak berubah—masih mengenakan pakaian kasual yang sama—namun bagi siapa pun yang memiliki kepekaan spiritual, ia tampak seperti jurang tak berdasar. Auranya telah menyatu sempurna dengan alam berkat terobosan Inti Emas (Golden Core). Di mata manusia fana, ia tampak semakin tenang dan tidak mencolok.

​Nadia sedang menyiram bunga di teras. Mendengar langkah kaki, ia segera menoleh dan tersenyum cerah.

​Namun, senyumnya sedikit terhenti saat matanya tertuju pada benda yang dipegang Arya.

​Sebilah pedang ramping dan elegan melayang beberapa inci di atas telapak tangan Arya. Bilahnya terbuat dari bahan yang menyerupai kristal perak semi-transparan, memancarkan kabut dingin yang membuat udara di sekitarnya mengkristal.

​"Ini..." Nadia meletakkan alat penyiram tanamannya, melangkah mendekat dengan mata berbinar penuh ketakjuban. Ia bisa merasakan resonansi aneh dari pedang itu, seolah benda mati tersebut memanggil elemen Yin di dalam tubuhnya.

​"Aku menamainya Bulan Beku," ucap Arya lembut. Ia mengarahkan pedang itu ke hadapan Nadia. "Ditempa dari Baja Bintang Meteorit dan didinginkan dengan Qi murni. Pedang ini tidak akan bisa dihancurkan oleh senjata militer fana mana pun di dunia ini."

​Nadia ragu-ragu mengulurkan tangannya. Begitu jemarinya menyentuh gagang pedang yang berukir motif teratai, hawa dingin yang luar biasa menyengat kulitnya. Namun, bukannya melukai, hawa dingin itu justru menyatu dengan Qi di Dantian-nya, memberikan perasaan nyaman yang sulit dilukiskan.

​"Sangat indah," bisik Nadia, mengayunkan pedang itu perlahan.

​Tanpa ia sadari, sedikit energi spiritualnya mengalir ke dalam bilah pedang.

​SRETTT!

​Sebuah lengkungan cahaya perak setipis kertas melesat dari ujung pedang, membelah udara dan menghantam kolam ikan hias di ujung taman.

​KRAK! KRAK!

​Dalam hitungan detik, seluruh air di kolam seluas lima meter persegi itu membeku seketika menjadi balok es padat. Ikan-ikan koi di dalamnya membeku dalam posisi berenang, terperangkap dalam waktu.

​Nadia tersentak mundur, nyaris menjatuhkan pedang itu jika Arya tidak menahan tangannya. Mulutnya terbuka lebar menatap kolam yang kini menjadi monumen es batu.

​"A-aku... aku tidak bermaksud..." Nadia menatap suaminya dengan panik. "Aku hanya mengayunkannya pelan!"

​Arya tertawa renyah, tawa yang jarang sekali ia perlihatkan. Ia mengambil sehelai daun, meneteskan setitik darah dari ujung jari Nadia menggunakan daun tajam itu, lalu mengoleskan darah tersebut ke bilah Bulan Beku.

​Pedang itu berdengung riang menyerap darah Nadia. Cahaya peraknya meredup, lalu secara ajaib, pedang sepanjang satu meter itu menyusut dengan cepat hingga berubah menjadi sebuah gelang perak bermotif sisik naga kecil yang melingkar manis di pergelangan tangan kiri Nadia.

​"Pedang spiritual tingkat tinggi bisa mengenali tuannya dan mengubah bentuk asalkan ada ikatan darah," jelas Arya, mengusap pergelangan tangan istrinya yang kini dihiasi gelang perak itu. "Sekarang, pedang itu tidak akan melukai siapa pun tanpa izinmu, dan kau bisa memanggilnya kapan saja hanya dengan menjentikkan pikiran."

​Nadia menyentuh gelang itu dengan ibu jarinya, masih tak percaya dengan kekuatan yang baru saja ia saksikan. "Arya... dengan kekuatan seperti ini, aku bahkan merasa bisa meratakan seluruh gedung saingan bisnisku dalam satu malam."

​"Kekuatan sejati bukan untuk menindas semut, Nadia," ucap Arya tenang, menatap kolam yang perlahan mulai ia cairkan kembali dengan jentikan jarinya. "Tapi untuk memastikan bahwa kau tidak akan pernah lagi dipaksa menunduk pada siapa pun. Kau adalah Ratu Emerald. Sekarang, baik di dunia bisnis maupun di dunia nyata, kau memiliki taringmu sendiri."

​Nadia tersenyum tulus. Tembok es di hatinya benar-benar telah sirna tak berbekas. Di matanya kini hanya ada satu sosok pria yang memegang seluruh dunianya.

​Di saat kedamaian menyelimuti kediaman Kusuma, sebuah ancaman gelap baru saja menginjakkan kakinya di perbatasan negara.

​Di sebuah pelabuhan tikus terpencil di Kepulauan Riau, jauh dari radar militer, sebuah kapal penyelundup merapat di tengah malam yang diwarnai badai rintik-rintik.

​Tiga sosok tinggi besar yang mengenakan jubah hitam tebal turun dari geladak. Tudung jubah menutupi wajah mereka, namun setiap langkah yang mereka ambil membuat genangan air hujan di dermaga kayu itu mendidih dan menguap seketika.

​Bos penyelundup lokal, seorang pria tambun dengan bekas luka sayatan di wajah, berjalan menghampiri mereka sambil menghisap cerutu, diapit oleh belasan preman bersenjata api.

​"Kalian orang-orang bule yang menyewa kapalku dari perairan internasional, kan?" sang bos mendengus arogan. "Bayarannya naik tiga kali lipat. Penjagaan angkatan laut sedang gila-gilaan gara-gara insiden di Laut Selatan kemarin. Mana uangnya?"

​Sosok yang berdiri di tengah—pria dengan jubah yang ujungnya memancarkan pendar merah darah—perlahan mengangkat kepalanya. Matanya berwarna merah menyala di dalam kegelapan. Ia adalah Sirius, Kesatria Darah, satu dari Tiga Kesatria Kiamat utusan Kuil Barat.

​"Uang fana?" suara Sirius serak, berat, dan penuh dengan ejekan. "Kami datang membawa keselamatan dari Tuhan, dan kau meminta selembar kertas kotor?"

​Bos penyelundup itu mengerutkan kening. Ia mencabut pistol dari pinggangnya. "Jangan main-main denganku, bule gila! Tembak mereka!"

​Belum sempat ada pelatuk yang ditarik, sosok di sebelah kanan Sirius—Orion, Kesatria Penghakiman—hanya menghentakkan tongkat besinya ke lantai kayu dermaga.

​DUM!

​Sebuah gelombang kejut transparan meledak. Tidak ada suara tembakan, hanya suara tulang yang hancur serentak.

​Belasan preman bersenjata itu beserta bos mereka seketika meledak menjadi kabut darah. Daging dan tulang mereka hancur berkeping-keping, tidak menyisakan satu pun tubuh yang utuh. Hujan malam itu seketika berubah warna menjadi merah pekat, menyiram dermaga yang kini telah menjadi rumah jagal.

​Tiga Kesatria itu bahkan tidak mengedipkan mata, seolah mereka baru saja menginjak sekawanan semut yang menghalangi jalan.

​"Dunia Timur benar-benar penuh dengan manusia kotor dan lemah," dengus sosok ketiga di sebelah kiri, Vega, Kesatria Bayangan, yang suaranya terdengar seperti bisikan ular. "Aku tidak mengerti mengapa Saint membangunkan kita dari tidur panjang hanya untuk mengurus satu orang bidat."

​Sirius berjalan melewati genangan darah tanpa membuat sepatunya kotor sedikit pun.

​"Jangan meremehkan target kita. Mutan tingkat S dan tiga kapal perusak dihancurkan dalam satu menit," ucap Sirius dingin. "Intelijen Kuil menyebutnya 'Sang Naga dari Emerald'. Kekuatannya mungkin setara dengan Uskup Agung."

​Orion memanggul tongkat besinya, tertawa kejam. "Naga? Kita adalah pembantai naga. Kita akan merobek jantungnya, mengambil Baja Bintang yang ia curi dari Reruntuhan Kuno, dan membakar kotanya sebagai peringatan untuk seluruh dunia Timur."

​"Kita tidak akan menyerangnya secara langsung," sela Vega, matanya menyipit melihat peta digital di lengannya. "Kuil memerintahkan kita untuk menyiksa jiwanya terlebih dahulu. Kita akan pergi ke Kota Emerald. Hancurkan pusat kekuasaannya, Menara Emerald, dan tangkap wanita yang menyandang nama istrinya. Kita akan menyalib wanita itu di puncak gedung tertinggi agar si bidat itu datang menyerahkan nyawanya sendiri."

​Ketiga iblis dari Barat itu menyeringai di bawah guyuran hujan lebat. Dalam sekejap, tubuh mereka berubah menjadi bayangan dan melesat menghilang ke dalam kegelapan malam, menuju ke arah Kota Emerald.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!