Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 11
Aku tetap terdiam saat Mama perlahan menarikku ke dalam pelukannya. Awalnya tubuhku terasa kaku, namun kehangatan dekapan itu meruntuhkan pertahananku.
Isak tangis Mama yang terasa tulus di bahuku membuat hatiku yang membatu perlahan mencair. Bagaimanapun juga, dia tetaplah wanita yang melahirkanku. Aku sangat mencintainya, meski luka yang ia goreskan sempat membuatku lupa akan rasa itu.
Aku balas memeluk Mama dengan erat, membenamkan wajahku di pundaknya.
"Iya, Ma... Hana juga minta maaf kalau selama ini Hana jadi anak yang pembangkang," bisikku lirih.
Mama melepaskan pelukan, mengusap air mataku, dan tersenyum dengan binar mata yang sudah lama tidak kulihat.
"Mama sama Papa janji akan berusaha memperbaiki semuanya, Sayang. Pelan-pelan ya?"
Mama kemudian pamit keluar dari kamar setelah mencium keningku.
Aku merasa dadaku sedikit lebih lapang aku membersihkan diri mandi sore dan memakai skincare ku Namun, kejutan hari ini belum berakhir.
Sekitar pukul 19.00, ketukan kembali terdengar di pintuku. Kali ini lebih berat dan ragu. Begitu pintu terbuka, sosok Papa berdiri di sana. Ia tidak banyak bicara seperti Mama, tapi matanya yang biasanya keras kini tampak sayu dan penuh penyesalan.
"Hana..." suara Papa berat. Ia mendekat dan tanpa diduga, ia merengkuhku dalam pelukan yang kokoh.
"Maafin Papa ya, Nak. Papa terlalu keras selama ini. Papa gagal jadi pelindung buat kamu."
Mendengar permohonan maaf dari sosok sedingin Papa membuat air mataku kembali tumpah. Aku merasakan kehangatan yang selama ini kurindukan sebuah rasa aman yang sempat hilang dari rumah ini. Untuk sejenak, semua kekacauan dan perdebatan hebat itu seolah menguap. Aku merasa memiliki orang tua kembali.
Dalam dekapan Papa yang hangat, aku sejenak benar-benar lupa tentang Wira. Aku lupa tentang telepon rahasia di bawah bantal, lupa tentang trauma masa lalu, dan lupa tentang badai yang mungkin akan datang esok hari. Malam ini, aku hanya ingin menjadi Hana, putri kecil yang merasa dicintai oleh kedua orang tuanya.
...----------------...
Pagi itu, sinar matahari yang masuk lewat celah jendela terasa lebih hangat. Aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih lega, meskipun ada rasa canggung yang masih menggelayut. Rasanya aneh melihat rumah sesunyi ini tanpa ada suara bentakan atau piring pecah.
Saat aku turun ke lantai bawah, pemandangan di meja makan benar-benar berbeda. Papa dan Mama sudah duduk di sana, tapi kali ini mereka tidak sibuk dengan ponsel atau wajah cemberut.
"Pagi, Hana. Sini, Nak, sarapan dulu. Mama tadi buatkan sandwich tuna kesukaan kamu," sapa Mama dengan senyum tulus.
Aku menarik kursi, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana baru ini.
"Pagi, Ma. Makasih."
"Hana, nanti kalau kuliahnya sudah selesai, kabari Papa ya? Kalau Papa nggak sibuk, biar Papa jemput," ucap Papa sambil menyesap kopinya, mencoba seakrab mungkin.
"Iya, Pa. Tapi kayaknya hari ini Hana bawa motor sendiri aja, ada urusan kelompok soalnya," jawabku pelan.
Kami sempat berbincang sedikit tentang jadwal kuliahku, hal-hal ringan yang selama ini terasa mustahil untuk dibahas di meja makan ini. Ada usaha keras dari mereka untuk berubah, dan aku menghargai itu.
Namun, begitu aku berpamitan dan memacu motorku membelah jalanan kota, pikiran itu kembali menyerang. Suara berat di telepon semalam mulai bergema lagi di telingaku.
Wira.
Jujur, separuh hatiku bergetar hebat. Di balik rasa takutku pada Papa, ada kerinduan yang sangat dalam dan menyakitkan. Wira adalah laki-laki yang begitu aku cintai, sosok yang mengisi seluruh masa remajaku dengan kelembutan. Dia laki-laki yang baik, yang selalu menjagaku dengan caranya yang sederhana sebelum semuanya hancur karena kasta dan kesalahan kami.
Sejak dia pergi ke balik jeruji besi, hatiku seolah ikut terkunci. Itulah alasan kenapa aku tidak pernah benar-benar membuka hati untuk laki-laki lain. Bagiku, Wira adalah rumah yang sudah digusur paksa, tapi aku masih sering berdiri di atas puing-puingnya.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Wir?" bisikku di balik helm.
Rasa penasaran mulai menggerogoti ketenanganku. Dia menanyakan tentang anak itu. Dia bertanya tentang sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak sanggup untuk menceritakannya secara lengkap.
Tiba-tiba, getaran ponsel di saku jaketku terasa lagi. Aku menepi di pinggir jalan yang agak sepi, jantungku berdegup kencang. Apakah itu dia lagi?
Aku menarik napas lega saat melihat layar ponsel. Ternyata bukan nomor asing itu, melainkan nama Dhea yang berkedip di sana.
"Halo, Dhe? Kenapa?"
tanyaku begitu mengangkat telepon.
"Hana! Syukurlah diangkat. Kamu di mana sekarang?"
suara Dhea terdengar cempreng dan panik seperti biasanya.
"Lagi di jalan, baru setengah jalan ke kampus. Ada apa?"
"Aduhh, Hana sayang... aku mau repotin kamu boleh nggak? Tolong jemput aku ke rumah, ya? Si Diva nggak bisa jemput, motornya masuk bengkel pagi ini, jadi dia dianterin abangnya langsung ke kampus. Aku telantar nih, mau pesan ojol tapi aplikasinya lagi error terus!"
Aku tertawa kecil mendengar rengekannya.
"Iya, iya. Tunggu di depan gerbang ya, aku putar balik sekarang."
Perjalanan menuju rumah Dhea tidak terasa membosankan. Begitu dia naik ke boncengan motor, telingaku langsung "kenyang" dengan segala ceritanya. Dhea memang yang paling bawel di antara kami bertiga.
Dia bercerita tentang kucingnya yang tadi pagi buang air sembarangan sampai soal mimpinya ketemu artis Korea yang berakhir tragis karena dia terbangun tepat saat mau salaman
"Terus ya Han, kamu bayangin, pas aku udah mau pegang tangannya, eh Mamaku malah siram aku pake air doa biar bangun! Kan kesel!"
cerocosnya sambil memeluk pinggangku kencang.
Aku tertawa terbahak-bahak di balik helm.
"Makanya, Dhe, jangan kebanyakan halu pagi-pagi!"
Kehadiran Dhea benar-benar menjadi pengalihan yang sempurna. Untuk sejenak, bayangan Wira dan telepon misterius itu tergeser oleh obrolan konyol kami. Kami sampai di kampus dan disambut oleh pemandangan riuh yang sudah akrab di mata.
Begitu masuk ke dalam kelas, suasananya persis seperti pasar. Ada yang sedang konser dadakan di pojok kelas, ada yang sibuk menyontek tugas di menit-menit terakhir, dan tentu saja ada Diva yang sudah melambai-lambai dari kursi tengah.
"Lama banget sih kalian!"
gerutu Diva, tapi wajahnya tetap ceria.
"Biasa, jemput Tuan Putri Dhea dulu tadi," balasku sambil meletakkan tas.
Kami duduk bersama, tenggelam dalam kericuhan anak kampus pada umumnya. Tertawa, saling melempar candaan, dan sesekali mengomentari teman sekelas yang tingkahnya aneh. Di tengah hiruk-pikuk itu, aku merasa aman. Dunia kampus adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu menjadi
"Hana yang penuh rahasia" atau "Hana yang penuh luka".
Namun, di sela-sela tawaku, aku sempat melirik ke arah pintu kelas. Aku mencari seseorang sosok yang kemarin membuatku tersipu malu.
Mataku sesekali melirik ke arah pintu kelas. Ada rasa hampa yang aneh saat menyadari kursi di barisan belakang masih kosong. Ke mana dia? batin pelitaku. Aku mencoba fokus pada obrolan Diva dan Dhea, tapi fokusku terbagi.
Namun, perasaan aneh itu langsung menguap saat sosok yang kutunggu akhirnya muncul. Dari ambang pintu, Tomi berjalan masuk bersama Yogi. Harus kuakui, pagi ini dia terlihat sangat berbeda. Cara jalannya yang tegak, langkahnya yang mantap, dan gaya cool-nya membuat auranya terasa sangat maskulin. Sederhana, tapi keren.
"Woy, pagi semua! Masih pada napas, kan?" sapa Yogi dengan suara cemprengnya yang khas.
Tomi tersenyum, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, lalu berjalan menghampiri meja kami.
"Pagi, trio tangguh. Gimana nih pagi ini? Udah pada sarapan atau baru sarapan omelan dosen di grup WhatsApp?"
Dhea langsung menyambar,
"Hampir aja sarapan omelan kalau Hana nggak telat jemput aku, Tom!"
Tomi tertawa kecil, lalu matanya tertuju padaku. Tatapannya hangat, seolah menanyakan kabarku lewat binar matanya
"Hana, aman kan? Mukanya udah segeran, nggak kayak kemarin yang katanya 'bangun tidur kelamaan' itu."
"Aman kok, Tom,"
jawabku sambil berusaha menahan senyum agar tidak terlihat terlalu mencolok di depan teman-teman.
"Bagus deh. Eh, kalian tahu nggak? Tadi pagi aku ketemu kucing di parkiran, dia meong-meong terus ke aku. Aku tanya, 'Kenapa cing? Belum ngerjain skripsi juga?'. Eh, dia malah gigit ban motor aku. Kayaknya dia sensitif sama kata skripsi," ucap Tomi dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Receh banget sih, Tom!" teriak salah satu teman dari kursi belakang, disusul gelak tawa seisi kelas.
Meski receh, leluconnya selalu berhasil mencairkan suasana yang tadinya tegang karena menunggu dosen.
Tak lama kemudian, suasana kelas mendadak hening saat Pak Dosen masuk ke ruangan. Beliau tidak langsung membuka buku, melainkan menaruh tasnya dan menatap kami semua dengan senyum bangga.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini saya tidak akan membahas materi terlalu berat, karena saya tahu pikiran kalian sudah tidak di kelas lagi,"
ujar beliau yang disambut sorakan setuju.
"Kita akan membahas detail teknis untuk acara wisuda yang akan dilangsungkan beberapa minggu lagi."
Mendengar kata "wisuda", jantungku berdegup kencang. Ini adalah garis finish yang selama ini aku perjuangkan. Tapi di sela-sela penjelasan dosen tentang toga, urutan baris, dan undangan orang tua, pikiranku kembali bercabang.
Aku teringat Wira. Kalau aku wisuda nanti, apakah dia akan tahu? Dan kalau Papa-Mama datang dengan wajah bangga mereka, apakah mereka tahu bahwa di balik ijazahku ada luka yang belum sembuh karena perbuatan mereka dulu?
Tiba-tiba, sebuah kertas kecil yang dilipat rapi mendarat di atas mejaku. Aku membukanya pelan-pelan.
"Semangat ya buat wisudanya. Nanti aku yang bakal fotoin kamu paling cantik. – T"
Aku menoleh ke belakang, dan Tomi mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali berpura-pura mendengarkan dosen.