Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Menjelang siang, sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Raya. Ia yang masih duduk malas di sofa kamarnya terkejut melihat pesan itu berasal dari Arya berisi titik lokasi tempat mereka akan bertemu untuk makan siang. Senyum tipis muncul di wajahnya. Meski pagi tadi mereka tak banyak bicara, ajakan itu membuat hatinya sedikit hangat. Dengan perlahan, ia berdiri dan membuka lemari pakaiannya.
Namun kebingungan segera melanda. Ia menatap deretan bajunya satu per satu, lalu memegang satu gaun favoritnya. Sayangnya, ketika ia mencoba memakainya, perutnya yang mulai membesar membuat gaun itu terasa sesak. Ia menghela napas panjang, kecewa.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. "Raya, ini Ibu," suara Bu Atika terdengar hangat dari balik pintu.
Raya segera membuka pintu dan tersenyum kecil. "Iya, Bu." Bu Atika mengerutkan alisnya ketika melihat Raya sedang memegang sebuah gaun dan beberapa pakaian di lemari berada di atas tempat tidurnya.
"Ada apa? Kamu seperti bingung memilih baju," tanya Bu Atika.
Raya mengangguk lemas. "Arya ngajak makan siang, Bu. Tapi bajuku udah nggak muat, perutku mulai besar, jadi banyak yang sesak."
Mendengar itu, Bu Atika tersenyum dan langsung menarik tangan Raya dengan lembut. "Ayo ikut Ibu. Kita ke butik langganan Ibu. Biar kamu punya baju yang nyaman dan tetap cantik."
Raya buru-buru menolak, "Nggak usah repot-repot, Bu. Aku bisa cari nanti-"
"Tidak. Sekarang ikut Ibu. Kamu ini sedang mengandung cucu Ibu, masa nggak boleh tampil cantik dan nyaman?"
Raya akhirnya menurut. Mereka pun pergi ke butik langganan Bu Atika yang terkenal dengan koleksi pakaian ibu hamil yang modis dan elegan. Sesampainya di sana, Raya dibuat kagum dengan deretan baju-baju cantik yang tidak hanya nyaman dipakai, tapi juga membuatnya merasa anggun.
Beberapa kali ia mencoba baju berbeda, dan setiap kali keluar dari ruang ganti, Bu Atika memberi pujian. "Cantik sekali, Nak. Arya pasti terpesona lihat kamu nanti."
Raya akhirnya memilih dua gaun longgar yang sangat cocok dengan tubuhnya sekarang. Tak hanya itu, Bu Atika juga membelikannya sepasang sepatu datar yang nyaman namun tetap elegan. Raya sempat menolak, tapi Bu Atika bersikeras.
Saat mereka hendak keluar dari butik, Raya menghentikan langkahnya dan memeluk Bu Atika dengan hangat. "Terima kasih banyak, Bu... Ibu terlalu baik buat saya."
Bu Atika membalas pelukan itu, menepuk lembut punggung Raya. "Kamu bagian dari keluarga ini, Nak. Jangan pernah merasa merepotkan."
Setelah selesai berbelanja di butik, Bu Atika tampak puas melihat wajah cerah Raya yang kini terlihat lebih segar dan percaya diri. Ia pun memberi arahan pada sopir untuk langsung menuju lokasi tempat Arya dan Raya janjian bertemu.
Mobil melaju pelan di antara jalanan siang yang cukup lengang. Di dalam mobil, Raya duduk tenang di samping Bu Atika. Sesekali ia melirik ponsel untuk memastikan lokasinya, sementara Bu Atika tampak seperti memikirkan sesuatu. Matanya menatap jendela, tapi pikirannya mengambang jauh.
Tiba-tiba, wanita itu menoleh ke arah Raya.
"Raya," panggilnya pelan.
Raya menoleh dengan lembut. "Iya, Bu?"
"Ibu jadi ingat... waktu itu, Arya sempat cerita sedikit tentang sesi foto kalian berdua, yang katanya cukup mesra," Bu Atika tersenyum kecil. "Tapi... ada satu hal yang Ibu masih penasaran."
Raya memiringkan kepalanya sedikit, menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Waktu itu... Arya bilang begini, katanya kalau Daffa lihat kemesraan kalian, pasti iri sekali. Ibu belum sempat tanya siapa Daffa itu... tapi sekarang jadi kepikiran lagi."
Raya terdiam sejenak. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, meskipun nada suara Bu Atika tidak menyudutkan, hanya penuh rasa ingin tahu. Dalam benaknya, Raya mencoba menakar jawaban yang paling tepat.
Setelah beberapa detik berpikir, ia menarik napas pelan dan menjawab dengan tenang.
"Daffa... itu mantan kekasih saya, Bu. Dulu, waktu saya masih kerja di kantor lama. Setelah kami putus, Daffa sempat masih sering muncul dan mencoba mendekati saya lagi. Tapi saya benar-benar sudah menutup pintu itu."
Bu Atika menatap wajah Raya dengan sorot lembut.
Raya melanjutkan, suaranya tulus dan mantap, "Saya tahu hubungan saya dengan Arya mungkin terlihat mendadak atau terkesan aneh di mata orang lain... tapi saya benar-benar tulus. Sekarang, satu-satunya yang saya pikirkan adalah Arya dan bayi ini. Tidak ada Daffa, atau lelaki manapun. Hanya Arya, Bu."
Ucapan itu membuat hati Bu Atika bergetar. Ia tak melihat sedikit pun keraguan di wajah Raya. Hanya ketulusan. Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia lalu menggenggam tangan Raya erat.
"Ibu senang mendengarnya, Nak. Ibu bisa lihat kamu wanita baik. Semoga semua ini berjalan lancar dan kalian bisa benar-benar bahagia."
"Terima kasih, Bu..."
Mobil pun perlahan berhenti di depan sebuah restoran elegan yang tak terlalu ramai. Suasana tampak tenang dan hangat, dengan tanaman hijau menghiasi sisi luar bangunan.
"Sudah sampai, Nyonya," ujar sopir dari depan.
Raya menarik napas sekali lagi, menenangkan dirinya. Ia menatap Bu Atika dan tersenyum.
"Selamat makan siang ya sayang," ucap Bu Atika lembut pada Raya.
"Ibu nggak turun ikut makan siang dengan kami?"
"Hehehe, Ibu nggak mau jadi obat nyamuk diantara kalian. Lagipula kekasih Ibu di rumah lagi nungguin untuk makan siang juga."
Raya tersenyum mendengar jawaban konyol calon mertuanya.
"Kalau begitu, saya turun dulu ya, Bu. Terimakasih bajunya."
Bu Atika membalas senyum itu, lalu mengangguk pelan. "Sama-sama sayang. Hati-hati.
Nikmati makan siangnya ya."
Raya turun dari mobil dengan hati sedikit berdebar. Bukan karena takut bertemu Arya, tapi karena pembicaraan dia dan Bu Atika. Lagi-lagi dia harus berbohong, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Bu Atika tahu jika Daffa itu adalah mantan suaminya dan dia adalah seorang janda serta anak yang dia kandung bukanlah keturunan keluarga Atmajaya.
Dalam hati Raya berdoa semoga, dia bisa menceritakan semuanya sebelum Bu Atika dan pak Harun mendengar masalah ini dari orang lain.
Tiba-tiba ponsel Raya yang sejak tadi ia genggam berdering. Ia menunduk, melihat nama yang muncul di layar. Arya. Jantungnya sempat berdetak lebih cepat. Dengan buru-buru, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?" ucap Raya, sedikit gugup.
Sebuah suara berat dan terdengar jengkel menyambutnya dari seberang, "Sampai kapan kamu mau berdiri di depan restoran?"
Raya terperanjat. Matanya melebar. Ia refleks menoleh ke arah pintu kaca restoran dan melihat bayangan dirinya sendiri berdiri mematung.
"Astaga," gumamnya lirih. "Maaf..."
Tanpa menunggu jawaban, ia segera melangkah masuk ke dalam. Suasana restoran tampak tenang, dengan pencahayaan hangat dan iringan musik pelan yang membuat segalanya terasa lebih nyaman. Namun, langkah Raya terasa berat bukan karena ragu, tapi karena perasaannya yang sedang campur aduk.
Matanya menelusuri ruangan, hingga akhirnya ia menemukan sosok Arya duduk di meja ujung, menghadap ke jendela besar. Saat pria itu menoleh dan melihat Raya, sejenak waktu terasa melambat.
Arya terkesiap. Matanya menatap lekat tanpa kedip. Bibirnya sedikit terbuka, namun tak satu kata pun keluar. Raya, dalam balutan dress midi warna dusty pink yang membingkai tubuhnya yang tengah berbadan dua dengan sangat anggun, terlihat... luar biasa. Hijabnya ditata rapi, wajahnya bersinar dengan riasan lembut. Bukan gaya berlebihan, tapi cukup untuk membuat Arya kehilangan fokus.
Ia tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Ini pertama kalinya sejak semua hal rumit terjadi... ia merasa tak bisa berkata apa-apa.
Raya menghampirinya dengan langkah pelan. "Maaf ya, aku agak lama."
Arya cepat-cepat mengalihkan pandangan, mencoba kembali ke dirinya yang biasanya. "Iya, lain kali jangan buat orang nunggu terlalu lama. Makan siang jadi sore nanti," katanya, setengah bercanda tapi nada suaranya masih terdengar datar.
Raya hanya tersenyum kecil. "Tadi Ibu ngajak ke butik. Bajuku udah mulai sempit, jadi..."
Arya meliriknya sebentar, lalu menoleh ke pelayan yang sudah berdiri di dekat meja. "Boleh dibawakan menunya sekarang."
Setelah pelayan pergi, mereka sempat terdiam.
Hanya suara gelas dan piring dari meja lain yang mengisi kekosongan.
Raya memberanikan diri bicara lebih dulu. "Makasih ya... udah ngajak makan siang."
Arya menyandarkan punggung ke kursinya, menatap keluar jendela sesaat, lalu menoleh padanya. "Aku cuma nggak mau kita terus-terusan kayak tadi pagi. Canggung. Kita harus tetap kelihatan baik-baik aja."
"Tetap berpura-pura?" tanya Raya, pelan.
Arya mengangkat alisnya sedikit. "Kalau itu memang jalan satu-satunya untuk menghindari masalah."
Raya menunduk, menatap tangannya sendiri.
Ada sesuatu dalam nada bicara Arya yang membuatnya... kecewa. Tapi dia terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawakan menu. Mereka mulai memilih makanan. Tapi bahkan setelah makanan dipesan, belum ada percakapan yang benar-benar hangat.
Arya seperti menjaga jarak, sedangkan Raya menahan banyak hal dalam hatinya.
Namun, di balik sikap cueknya, Arya sebenarnya tengah berjuang. Ia tidak bodoh, dia tahu betapa cantiknya Raya hari ini. Dan entah mengapa, itu membuat hatinya tidak tenang. Ia ingin memuji, ingin mengatakan bahwa Raya terlihat sangat memesona tapi gengsi dan keruwetan dalam pikirannya menahannya.
Alih-alih menunjukkan itu, ia justru membuka pembicaraan tentang hal lain.
"Kita harus mulai pikirin rencana selanjutnya," katanya tiba-tiba. "Biar semuanya tetap terlihat wajar, apalagi kalau nanti keluarga mulai banyak tanya."
Raya mengangguk pelan. "Maksudnya... kita harus lebih sering bersama?"
"Mungkin," jawab Arya singkat. "Atau, kamu bisa ikut beberapa pertemuan keluarga nanti. Biar mereka lihat kalau kita benar-benar serius."
Raya hanya menatapnya. Dalam hati, ia bertanya apa semua ini hanya untuk menutupi kebenaran? Atau Arya sebenarnya sedang mencari alasan untuk tetap bersamanya?
Sebelum sempat bertanya, makanan datang. Mereka pun mulai makan. Meski suasana belum benar-benar hangat, setidaknya tak sesuram tadi pagi. Dan meskipun Arya tak mengungkapkan apa pun, dia beberapa kali mencuri pandang ke arah Raya. Bahkan sempat tersenyum tipis saat melihat wanita itu tampak kesulitan memotong daging.
Raya meliriknya. "Kenapa liatin aku?"
Arya cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Enggak. Kamu aja yang ge-er."
Raya tertawa kecil, lalu menggeleng. Dalam hatinya, meski tidak sempurna... momen ini terasa cukup hangat. Setidaknya, ia merasa masih ada harapan sekecil apa pun itu.