Charlotte, gadis yatim piatu ini tiba-tiba ditemukan oleh keluarganya dan dibawa pulang ke kerajaan Matahari, tempat kelahirannya. Alih-alih bahagia setelah ditemukan oleh keluarganya, gadis empat belas tahun justru mengalami kehidupan yang menyedihkan dibandingkan kehidupannya sebelumnya, sebagai tuna wisma di kerajaan cosmos dimana dia tinggal sebelumnya karena tak memiliki kekuatan dalam tubuhnya sehingga dianggap sampah dan aib bagi keluarganya.
Untungnya, ketika tengah berada diambang maut, ia tak sengaja bertemu dengan penyihir Beatrix yang juga mengalami nasib sama sepertinya.
Penyihir Beatrix yang tak ingin meninggal sia-sia dan ingin ada yang membalaskan dendamnya, memilih Charlotte sebagai orang yang dia warisi semua kekuatan hebat didalam tubuhnya.
Setelah diwarisi kekuatan dari penyihir Beatrix, bagaimana kehidupan Charlotte selanjutnya?
Apakah ia mampu mengubah garis takdirnya?
Ikuti semua kisahnya dalam cerita ini
Happy Reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGI KE PASAR
Andreas de Fleur sama sekali tak menyangka jika adiknya bisa berbuat nekat seperti itu hingga berani melukai pelayan didepan matanya.
Meski tahu jika pelayan dapur itulah yang tampaknya telah memprovokasi Charlotte, namun Andreas tetap pura-pura tuli dan buta serta menganggap jika tindakan yang dilakukan oleh adiknya itu sudah sangat keterlaluan dan terus menyalahkan Charlotte atas tindakannya.
"Cukup hentikan, Charlotte!”, teriak Andreas tajam.
Melihat sang kakak sama sekali tak membela dirinya, Charlotte yang tak ingin lepas kontrol pun segera menghentikan aksinya dan keluar dari dapur tanpa menoleh sedikitpun kearah Andreas yang merasa geram karena terus diabaikan oleh sang adik.
Setelah menginstruksikan salah satu pelayan dapur untuk membawa pelayan yang dilukai oleh Charlotte ke ruang pengobatan, Andreas pun bergegas menyusul sang adik untuk meminta penjelasan.
“Charlotte, berhenti!”, teriak Andreas.
Charlotte pura-pura tuli dan tetap melangkah menuju kamarnya tanpa sedikitpun mengindahkan teriakan Andreas yang menyuruhnya untuk berhenti.
Terus diabaikan membuat Andreas geram sehingga iapun terpaksa menggunakan kekuatannya untuk menghentikan langkah Charlotte.
Charlotte yang diserang berusaha menghindar dan berbalik, menatap Andreas dengan sangat tajam.
“Apa maumu sebenarnya, Andreas!”, Charlotte berkata sambil mengertakkan giginya dengan geram.
“Hey, aku kakak laki-laki mu. Bersikaplah sopan, Charlotte", tegur Andreas yang sudah tak tahan dengan tingkah pola adik perempuannya yang dianggap melewati batas kesabarannya hari ini.
"Kakak laki-laki? Coba ulang sekali lagi apa yang baru saja kau katakan Tuan Muda Andreas de Fleur?”, ucap Charlotte.
Gadis itu hampir saja tertawa dengan keras saat Andreas de Fleur menyebut dirinya sebagai kakak laki-lakinya.
"Charlotte, aku adalah kakak laki- laki mu. Suka atau tidak suka, itu merupakan fakta dan sebagai adik kau harus mendengar semua perkataan kakak laki-lakimu", tegas Andreas de Fleur dengan tatapan serius.
Charlotte terkekeh sinis, "Kakak laki-laki ya”.
“Apa yang bisa dibanggakan dari seorang kakak laki-laki yang membiarkan adiknya ditindas oleh seorang pelayan? jika saya adalah Anda maka saya akan merasa sangat malu saat mengucapkan kalimat itu", jawab Charlotte de Fleur yang langsung menusuk tepat di jantung Andreas de Fleur.
Perkataan gadis itu memang benar, selama ini kedua kakak laki-kakinya hanya tahu menyalahkannya saja.
Bahkan mereka hanya diam dan menyaksikan saat Charlotte direndahkan, di hina, ataupun dipukul oleh para pelayan.
Tak jarang keduanya justru ikut membully sang adik ketika di rundung oleh para pelayan sehingga membuat semua pekerja dikediaman de Fleur merasa jika menindas Charlotte adalah sesuatu yang sah.
Meski tahu salah, tapi Andreas tetap keras kepala. "Apapun yang telah kulakukan padamu, status ku tetaplah kakak laki-laki mu dan seorang adik perempuan harus patuh pada kakak laki-lakinya".
Charlotte de Fleur terkekeh pelan mendengar ucapan Andreas de Fleur yang tak tahu malu itu.
Pemuda itu sangat ingin dihormati oleh adik perempuannya meskipun sadar jika prilakunya lebih rendah dari binatang, membuat Charlotte de Fleur pun merasa sangat muak.
Charlotte yang tak ingin lepas kontrol dan berakhir menyakiti Andreas pun bisa menyimpan semua amarahnya dalam hati dan segera berbalik, meninggalkan Andreas de Fleur yang juga ikut pergi dari tempat itu begitu sang adik kembali mengabaikan semua perkataannya.
Andreas de Fleur segera pergi untuk menemui kakaknya, Yohannes de Fleur untuk menanyakan mengenai perubahan sikap sang adik yang baginya sedikit tak wajar itu.
Pelayan dapur yang bertengkar dengan Charlotte memiliki kekuatan elemen air, meski hanya tingkat dasar tapi itu sudah membuatnya lebih kuat dari sang adik yang tak memiliki kekuatan apapun didalam tubuhnya.
Tapi tadi, bukan hanya bisa menghancurkan perisai air yang dibuat tameng sang pelayan untuk menahan serangan Charlotte, tapi adiknya juga bisa melukai telinga sang pelayan dengan sabetan pisau yang dilemparkannya hingga menancap ditembok dapur.
Hal itu cukup membuktikan jika Charlotte bukan tak memiliki kekuatan apapun hanya saja batu sihir tak bisa mendeteksinya sehingga iapun mencari sang kakak untuk mendapatkan pencerahan.
Di sisi lain saat ini Charlotte de Fleur sedang dihadang oleh beberapa prajurit yang bekerja untuk Kediaman de Fleur karena gadis itu ingin keluar tanpa izin dari sang Duke.
"Saya hanya ingin keluar sebentar, mengapa kalian menahan saya seperti ini", ucap Charlotte de Fleur dengan tatapan geram.
Kesabarannya, pagi ini benar-benar diuji. Banyak sekali aturan-aturan yang tak berguna di Kediaman Duke de Fleur serta orang-orang menyebalkan di rumah ini.
"Anda tak bisa keluar sebelum mendapatkan ijin dari Duke. Lagipula, Anda tak memahami wilayah kerajaan matahari, jika tersesat bagaimana?", ucap salah seorang prajurit berusaha untuk memberi penjelasan agar Charlotte de Fleur mengerti mengenai kekhawatiran mereka.
Para prajurit yang bekerja untuk Kediaman Duke Aslan, sudah dilatih dengan sangat baik, kekuatan dan etika mereka patut untuk dijadikan contoh.
Meski tak senang dan menganggap Charllote sebagai orang tak berguna karena tak memiliki kekuatan seperti para anggota keluarga yang lain, setidaknya didepan gadis itu mereka tak menampakkan kebencian yang nyata.
Mendengar alasan itu, Charlotte de Fleur hanya bisa menghela nafas panjang. "Bagaimana jika salah satu diantara kalian mengawal saya saat berada di luar sehingga saya tak mungkin tersesat dijalan", Charlotte mencoba untuk bernegoisasi, setidaknya para prajurit yang menjaga pintu gerbang masuk kediaman de Fleur ini tak semenyebalkan orang-orang yang bekerja didalam kediaman sehingga iapun rela untuk berdiskusi.
Para prajurit yang sedang berjaga di gerbang masuk saling memandangi satu sama lain, mereka sedang mempertimbangkan saran yang diberikan oleh Nona Muda Charlotte de Fleur.
Sebenarnya para prajurit itu tak mengerti mengapa gadis yang biasanya senang berdiam diri di dalam kamar ingin keluar dari tempat ternyamannya, mungkinkah Charlotte sudah bosan terus menerus berada di dalam kediaman de Fleur tanpa melakukan apapun.
"Baiklah jika begitu saya akan ikut dengan Anda", ucap salah seorang prajurit dengan usia yang cukup muda.
Melihat ada mengalah dan bersedia menemaninya ke luar, tentu Charlotte merasa senang.
"Mari ikut dengan saya", ucap Charlotte de Fleur, gadis itu langsung keluar dari Kediaman de Fleur dengan ekspresi bahagia.
Gadis itu berjalan dengan sedikit meloncat loncat, sang prajurit yang mengikuti Charlotte dari belakang hanya tersenyum melihat tingkah polagadis itu. Charlotte de Fleur berjalan menuju sebuah pasar yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya.
Melihat jika pasar yang ada di dekat rumahnya termasuk pasar yang cukup besar, Charlotte pun bergerak lincah kesana kemari, melihat aneka barang yang dijajahkan para penjual disepanjang jalan.
Ia mencoba aneka macam kue dan melihat aneka pernak-pernik yang tak pernah ia temui selama berada di kerajaan Cosmos karena setiap kerajaan pasti memiliki makanan serta kebiasaan yang berbeda sehingga iapun sangat bersemangat untuk menjelajahi semuanya.
Prajurit yang melihat tingkah gadis berusia empat belas tahun itu hanya bisa menggeleng pelan.
Tampaknya kehidupan nona mudanya itu begiu terkekang didalam kediaman hingga ketika keluar ia seperti burung yang lepas dari snagkar.
Sebelumnya, prajurit itu sempat mendengar jika para pelayan sering merundung gadis cantik itu.
Tapi karena ia tak pernah melihatnya secara langsung, melihat bagaimana Duke Aslan dan Dunchess Ariana begitu menyayangi gadis itu hingga tak membiarkannya keluar karena takut terluka mendengar cemohan banyak orang, iapun tak mempercayainya.
Charlotte yang sadar jika pakaian yang digunakannya sudah usang pun segera masuk kesalah satu toko pakaian dan membeli beberapa.
Ia juga langsung memakainya satu dan membuang begitu saja pakaian usang yang dikenakannya tadi yang ia yakini merupkan baju bekas milik Bilna, anak dari Samantha.
"Nah bagus. Dengan begini, jika nanti ada yang mengenali identitasku aku tak sampai membuat keluarga de Fleur merasa malu", guman Charlote dalam hati.