---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Us
---
Sabtu pagi di Griya Asri selalu memiliki ritme yang berbeda.
Jika hari kerja dipenuhi dengan rutinitas berangkat kantor, macet, dan pulang larut, maka Sabtu adalah hari di mana waktu seolah berjalan lebih lambat. Para suami bisa bangun lebih siang, sarapan lebih lama, dan—yang paling penting—meluangkan waktu untuk ngopi bareng.
Tradisi ini dimulai sekitar dua tahun lalu, saat Elgi mengajak Endy dan Mario ngopi di teras rumahnya. Awalnya hanya obrolan ringan antar tetangga. Tapi seiring waktu, ritual ini menjadi sesuatu yang dinanti-nanti. Menjadi ruang aman di mana para suami bisa berbagi cerita, curhat, bahkan meminta nasihat.
Sabtu ini, giliran rumah Endy dan Soo Young yang menjadi tempat berkumpul. Pukul 09.30, teras depan rumah nomor 11 sudah dipenuhi dengan beberapa kursi tambahan dan meja kecil yang dipenuhi cangkir-cangkir kopi.
Endy duduk di kursi favoritnya—kursi rotan tua yang sudah menemani belasan tahun pernikahannya. Di tangannya, segelas kopi tubruk dengan ampas yang masih mengendap di dasar. Di sampingnya, Mario menuang kopi untuk dirinya sendiri, sementara Elgi datang dengan membawa sekotak donat dari toko langganan.
"Donat lagi, Elgi?" goda Endy. "Istri-istri kita pada diet, kamu malah bawa donat."
"Ini buat kita, Om. Bukan buat mereka." Elgi menyeringai, membuka kotak donat. "Silakan, silakan. Biar semangat ngobrolnya."
Mario mengambil satu donat glaze, menggigitnya dengan lahap. "Enak juga. Ini dari toko dekat kompleks?"
"Iya. Yang baru buka bulan lalu. Rafa doyan banget sama donat ini."
Endy ikut mengambil satu. "Wah, nanti Soo Young marah kalau tahu aku makan donat. Katanya gula darahku harus dijaga."
"Ya udah, rahasia," bisik Elgi pura-pura.
Mereka tertawa. Suasana santai seperti ini selalu berhasil mencairkan kepenatan seminggu bekerja.
Dari dalam rumah, Soo Young muncul membawa teko berisi air panas. "Ini tambahan air panas. Kopinya habis, bilang, ya."
"Makasih, Sayang." Endy mengecup punggung tangan istrinya. Soo Young tersenyum, lalu kembali ke dalam—mungkin untuk berkebun atau membaca buku seperti rutinitas Sabtunya.
"Om Endy sama Tante Soo Young romantis banget, ya," komentar Mario. "Udah lama menikah masih kayak gitu."
Endy tersenyum. "Nanti kalian juga bisa. Kuncinya satu: jangan pernah berhenti pacaran."
"Pacaran?" Elgi mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Ya, pacaran. Kayak dulu pas masih PDKT. Saling perhatian, saling kejar, saling kangen." Endy menyesap kopinya. "Setelah menikah, banyak pasangan lupa gituan. Udah tinggal serumah, udah punya anak, udah merasa aman. Padahal justru di situ tantangannya."
Mario mengangguk-angguk, merenung. "Gue kadang suka khawatir, Om. Soalnya gue sama Jane lagi nunggu anak pertama. Gue takut... nggak bisa jadi ayah yang baik."
"Semua orang takut gitu, Nak." Endy menatap Mario dengan lembut. "Gue dulu juga takut pas Soo Young hamil. Tapi percaya deh, nanti naluri ayahmu akan muncul sendiri."
"Om Elgi gimana?" tanya Mario. "Pas Rafa lahir, takut nggak?"
Elgi tertawa. "Takut banget! Sampe gue baca puluhan buku parenting. Tapi ujung-ujungnya, Rafa ngajarin gue lebih banyak dari buku mana pun."
Mereka tertawa. Obrolan mengalir santai, dari soal anak hingga pekerjaan. Mario bercerita tentang proyek barunya yang menantang. Elgi curhat tentang bosnya yang makin tidak masuk akal. Endy berbagi pengalaman menghadapi krisis di kantornya beberapa tahun lalu.
"Om Endy udah kerja di perusahaan itu berapa lama?" tanya Elgi.
"25 tahun. Dari umur 23 sampai sekarang 48."
"Wah, lama banget. Nggak pernah pengen pindah?"
Endy menggeleng. "Pernah. Beberapa kali ditawarin tempat lain dengan gaji lebih besar. Tapi gue pikir, buat apa? Di sini udah nyaman, dekat rumah, bisa pulang tepat waktu buat ketemu Soo Young. Buat gue, itu lebih berharga dari uang."
Mario dan Elgi saling pandang. Ada kekaguman di mata mereka.
"Om, gue pengen bisa kayak Om," ucap Mario. "Punya prioritas yang jelas. Keluarga nomor satu."
"Kamu bisa, Nak. Asal inget terus, lo kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja." Endy menepuk bahu Mario. "Lo masih muda. Masih panjang perjalanan lo. Tapi jangan sampai kehilangan arah."
Mario mengangguk mantap. "Makasih, Om."
---
Pukul 10.30, satu orang lagi bergabung. Leon datang dengan sepeda ontel pinjaman dari Chaeyoung, keringat mengucur di dahinya meski baru pagi.
"Sorry I'm late! I went for a bike ride, lost track of time." Leon duduk di kursi kosong, menerima segelas air putih dari Endy. "Thanks."
"Gpp, Leon. Santai aja." Elgi menyodorkan kotak donat. "Donat?"
Leon mengambil satu, menggigitnya. "Mmm, this is good! What is it?"
"Donat glaze. Typical Indonesian donut."
"I love it." Leon mengunyah dengan lahap. "So, what did I miss?"
"Kita lagi ngomongin soal kerjaan dan keluarga," jelas Endy. "Gue tadi bilang, jangan sampe kerjaan ngalahin keluarga."
Leon mengangguk setuju. "That's true. In Australia, we have this term: 'work-life balance.' It's important. My dad worked too much when I was a kid. I barely saw him. I don't want that for my future family."
Mario menatap Leon. "Leon, lo sama Chaeyoung udah rencana kapan nikah?"
Leon tersenyum lebar. "Hopefully next year. She's coming to Sydney next month to meet my family. After that, we'll set the date."
"Wah, semoga lancar, ya."
"Thanks, man. I hope so too." Leon menyesap kopinya. "I love her, you know? She's the one. I've never felt this way about anyone."
Endy tersenyum mendengarnya. "Gue tahu perasaan lo, Leon. Gue juga gitu pas sama Soo Young. Padahal beda negara, beda budaya, tapi hati nggak bisa bohong."
"How did you make it work? The cultural differences?"
"With love and patience." Endy menjawab sederhana. "Sama mau belajar. Gue belajar budaya dia, dia belajar budaya gue. Saling menghargai. Itu kuncinya."
Leon mengangguk-angguk, merekam nasihat itu dalam pikirannya.
---
Obrolan berlanjut hingga siang. Mereka membahas berbagai topik: dari rencana liburan akhir tahun, hingga proyek gotong royong membersihkan kompleks. Endy mengusulkan untuk menanam lebih banyak pohon di taman. Elgi setuju dan menawarkan diri untuk mencari bibit. Mario bilang ia punya kenalan yang bisa menyediakan pupuk gratis. Leon dengan antusias menawarkan diri membantu desain taman karena hobi fotografinya.
"Ini dia enaknya punya tetangga kayak kalian," ucap Endy. "Semua pada mau bantu. Nggak ada yang pada sibuk sendiri."
"Iya, Om. Kita di sini saling support." Elgi mengangkat cangkirnya. "Yuk, toast buat persahabatan kita."
Mereka mengangkat cangkir masing-masing—kopi untuk Endy, Elgi, Mario; air putih untuk Leon.
"To friendship!" seru Leon.
"To keluarga pilihan!" tambah Mario.
Mereka tertawa, menyesap minuman masing-masing. Hangatnya persahabatan terasa meski hanya di teras sederhana dengan kopi seadanya.
---
Dari dalam rumah, Soo Young keluar membawa nampan berisi pisang goreng panas.
"Ini, temen ngobrolnya. Baru selesai goreng." Ia meletakkan nampan di meja.
"Wah, Tante Soo Young baik banget!" Elgi langsung mengambil satu, menggigitnya. "Panas-panas gini enak banget."
"Iya, makasih, Tante," sahut Mario.
Soo Young tersenyum. "Sama-sama. Kalian nikmatin, ya. Aku mau ke rumah Jane sebentar."
"Iya, Sayang. Hati-hati." Endy mengecup pipi Soo Young cepat.
Setelah Soo Young pergi, Leon berkomentar, "You two are so cute. Still like newlyweds after 15 years."
Endy tersenyum bangga. "Rahasia sederhana, Leon. Perlakukan dia seperti ratu setiap hari. Nggak perlu mahal-mahal. Cukup perhatian kecil."
"Seperti apa contohnya?"
"Ya, kayak tadi. Cium pipi sebelum pergi. Atau kadang gue bawain dia teh hangat ke kamar pas dia lagi baca buku. Atau inget tanggal-tanggal penting. Sederhana, tapi berarti."
Leon mencatat dalam ponselnya. "I'm taking notes. This is important."
Mario dan Elgi tertawa melihat keseriusan Leon.
"Lo bener-bener cinta sama Chaeyoung, ya, Leon?" tanya Mario.
"More than anything." Leon menjawab tanpa ragu. "She's my home. Being away from her is hard. But knowing she's waiting for me makes everything worth it."
Mereka terdiam sejenak, meresapi kata-kata Leon. Ada keindahan dalam kesederhanaan pernyataan itu. Cinta yang melintasi benua, melampaui jarak dan waktu.
---
Pukul 12.00, mereka memutuskan untuk bubar. Para istri sudah mulai mengirim pesan, menanyakan kapan suami-suami mereka pulang untuk makan siang.
"Nanti minggu depan di rumah gue, ya," ucap Mario. "Gue dan Jane mau traktir makan siang. Sekalian kita ngobrol-ngobrol lagi."
"Setuju!" sahut Elgi.
"I'll be there," kata Leon.
"Gue pasti datang." Endy berdiri, membereskan kursi-kursi. "Makasih udah mau ngopi di sini. Besok-besok lagi, ya."
Mereka bersalaman, berpelukan, lalu berpis menuju rumah masing-masing. Di tengah terik matahari, langkah mereka ringan. Bukan hanya karena kopi yang menghangatkan perut, tapi karena persahabatan yang menghangatkan hati.
Di rumah nomor 7, Mario disambut Jane yang sedang menyiapkan makan siang. Perutnya semakin membesar, gerakannya mulai sedikit lambat.
"Pulang?" sapa Jane.
"Iya, Sayang. Ngobrol seru sama yang lain." Mario mengecup perut Jane. "Apa kabar anak Ayah?"
"Baik. Udah nendang-nendang tadi."
Mario berlutut, menempelkan telinga ke perut Jane. "Halo, Nak. Ayah pulang. Maaf lama, tadi ngopi sama Om-Endy, Om Elgi, sama Om Leon."
Jane tertawa. "Om Leon? Panggilannya jadi Om?"
"Iya, kita udah anggap dia keluarga." Mario tersenyum. "Jane, kita beruntung banget, ya, punya tetangga kayak mereka."
Jane mengelus rambut suaminya. "Iya, Mas. Kita beruntung."
Di rumah nomor 9, Elgi disambut Rafa yang langsung melompat ke pelukannya. Irene tersenyum dari dapur, melihat kedua cowoknya berpelukan.
Di rumah nomor 11, Endy membantu Soo Young membereskan meja makan. Mereka makan siang berdua, ditemani obrolan ringan tentang pagi hari.
Dan di rumah nomor 5, Leon menelepon Chaeyoung yang sedang berkunjung ke rumah keluarganya di luar kota. Mereka berbicara lama, berbagi cerita tentang pagi mereka masing-masing.
Di Griya Asri, Sabtu sore berjalan damai. Para suami telah menjalankan ritual mereka: ngopi, ngobrol, dan menguatkan satu sama lain. Dan saat malam tiba, mereka akan kembali ke peran masing-masing: sebagai suami, sebagai ayah, sebagai kepala keluarga.
Tapi mereka tahu, di balik pagar-pagar rendah itu, ada saudara-saudara yang siap membantu. Ada keluarga pilihan yang selalu ada.
Kopi mungkin habis, obrolan mungkin usai. Tapi persahabatan, persahabatan akan terus mengalir. Seperti kopi yang selalu bisa diseduh lagi. Seperti hangat yang tak pernah benar-benar padam.
---