Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
"Kau ingin tangan kananku, Wang Xiong?" tanya Xue Xiao pelan. Ia perlahan-lahan meremas leher pria itu. "Atau kau ingin aku meremukkan seluruh tulang di tubuhmu agar kau bisa merasakan apa yang dirasakan cucu Pak Tua Han?"
"Master Xiao! Cukup!" teriak Lin Qingyan yang baru saja tiba di pintu aula bersama kakeknya, Lin Jianhua.
Lin Jianhua melangkah masuk dengan napas terengah-engah. "Tuan Xiao, mohon ampunilah dia. Jika Anda membunuhnya di sini, asosiasi nasional tidak akan tinggal diam, dan itu akan memicu perang saudara di kalangan praktisi Tiongkok. Tolong, demi perdamaian Shanghai!"
Xue Xiao menatap Lin Jianhua sambil mengerutkan dahinya, "Pak tua, bukankah aku sudah bilang untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan orang lain?"
Lin Jianhua tersentak melihat tatapan dingin Xue Xiao, ia pun buru-buru menjelaskan agar tidak memasuki daftar buruk Xue Xiao,"Master Xiao, A-aku tidak bermaksud mencampuri urusan sang Master. T-tapi ini demi kedamaian dan kestabilan Shanghai! Tolong Master Xiao untuk mengabulkan permintaan orang tua ini."
Xue Xiao menatap Lin Jianhua, lalu menatap wajah ketakutan Wang Xiong. Ia mendengus jijik dan melempar tubuh Wang Xiong ke lantai seperti membuang sampah plastik.
"Hari ini, aku memberikan wajah pada keluarga Lin," ucap Xue Xiao. Ia kemudian berbalik menatap para tetua asosiasi. "Mulai hari ini, Klinik Medis Xue berada di bawah perlindunganku sendiri. Siapa pun, dari asosiasi mana pun, atau dari keluarga mana pun, yang mencoba mengganggu klinik atau pasienku, aku tidak akan hanya menghancurkan tangan mereka. Aku akan meratakan kediaman mereka hingga tidak ada satu batu pun yang tersisa di atas batu lainnya."
Xue Xiao mengambil payung bambunya, membuka payung itu meskipun ia masih berada di dalam ruangan, dan berjalan keluar melewati puing-puing lantai marmer yang hancur.
Para tetua hanya bisa duduk mematung, menyaksikan sosok punggung pria itu menghilang di balik rintik hujan. Mereka tahu, tatanan lama di Shanghai telah runtuh pagi ini. Seorang penguasa baru telah lahir, seorang Dokter Abadi yang tidak peduli pada aturan manusia, yang hanya peduli pada keseimbangan yang ia buat sendiri.
Di luar, Lin Qingyan berlari mengejar Xue Xiao. "Master Xiao! Tunggu! Anda benar-benar gila! Anda baru saja menantang seluruh asosiasi!"
Xue Xiao berhenti, ia menatap ke langit kelabu. "Lin Qingyan, naga tidak pernah peduli berapa banyak semut yang mencoba menantangnya. Mereka hanya perlu menginjakkan kaki sekali, dan semut-semut itu akan belajar tentang posisi mereka di dunia ini."
Xue Xiao kemudian melanjutkan perjalanannya, meninggalkan kehebohan di belakangnya. Ia tahu, ini barulah awal. Keluarga-keluarga besar lainnya akan mulai mengintainya, dan bahkan mungkin para petinggi negara juga akan mulai tertarik pada rahasia tubuhnya. Namun baginya, itu semua hanyalah bahan-bahan tambahan untuk memurnikan jalannya di dunia modern ini.
...
Hujan di Shanghai utara tidak pernah terasa sehangat di pusat kota. Di kediaman utama keluarga Wang, air hujan yang jatuh ke atap genteng hitam terdengar seperti ribuan jarum yang menusuk keheningan. Wang Xiong duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu gaharu hitam, namun tubuhnya tidak lagi tampak tegak seperti biasanya. Lehernya dibalut perban putih tebal, bekas cengkeraman jari-jari Xue Xiao yang hampir saja meremukkan jakunnya di Balai Asosiasi Beladiri.
Di depannya, Wang Ruo terbaring di sofa kulit dengan tangan kanan yang dibungkus gips tebal. Wajah pemuda itu cekung, matanya yang dulu penuh keangkuhan kini hanya menyisakan kebencian dan ketakutan yang mendalam.
"Ayah, apakah kita akan membiarkan begitu saja penghinaan ini?" suara Wang Ruo parau, hampir tidak terdengar di tengah deru hujan. "Asosiasi tidak melakukan apa-apa! Master Song hanya diam saat pria itu menginjak-injak harga diri kita! Kita adalah keluarga Wang! Kita tidak bisa menjadi bahan tertawaan di seluruh Shanghai!"
Wang Xiong mengepalkan tangan kirinya hingga kuku-kukunya memutih. "Asosiasi itu hanyalah sekumpulan orang tua pengecut yang takut kehilangan posisi mereka. Master Song melihat kekuatan Xue Xiao dan dia memilih untuk menyelamatkan kulitnya sendiri. Lin Jianhua juga... tua bangka itu sudah terang-terangan memasang badan untuk tabib liar itu."
Wang Xiong berdiri, langkahnya agak sempoyongan karena trauma di lehernya masih mengganggu aliran oksigen ke otaknya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang gelap. Di sana, di bawah guyuran hujan, berdiri sebuah kuil kecil yang pintunya selalu terkunci rapat.
"Jika jalur terang tidak bisa menghancurkannya, maka kita akan menggunakan jalur gelap," bisik Wang Xiong.
"Maksud Ayah... Sekte Gagak Hitam?" Wang Ruo tersentak, wajahnya yang pucat menjadi semakin putih. "Tapi Ayah, tetua agung pernah memperingatkan kita bahwa berurusan dengan mereka adalah mengundang iblis ke dalam rumah. Mereka tidak meminta uang, mereka meminta sesuatu yang lebih berharga, bahkan tidak masuk akal."
Wang Xiong berbalik, matanya berkilat dengan kegilaan yang dingin. "Sesuatu yang lebih berharga? Ruo-er, harga diri keluarga kita sudah diinjak-injak di depan umum! Jika kita tidak menghancurkan Xue Xiao, keluarga Wang akan kehilangan semua bisnis obat dan pengaruh politik kita dalam hitungan hari. Pesaing kita, keluarga Zhao dan keluarga Song, sudah mulai berbisik-bisik di belakang kita. Aku lebih baik menyerahkan separuh nyawaku pada sekte gelap daripada melihat keluarga ini runtuh!"
Wang Xiong mengambil sebuah lonceng perunggu kecil dari atas meja dan membunyikannya tiga kali. Suaranya berdenting aneh, seolah-olah suara itu tidak merambat di udara, melainkan langsung masuk ke kedalaman jiwa.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka tanpa suara. Seorang pria dengan jubah hitam yang sangat panjang hingga menyapu lantai masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tertutup oleh tudung, hanya menyisakan bagian dagu yang sangat runcing dan pucat seperti mayat yang sudah direndam air selama berhari-hari. Bau busuk yang samar, seperti bau daging yang mulai membusuk namun tertutupi oleh aroma melati yang tajam, mulai memenuhi ruangan.
"Tuan Besar Wang," suara pria berjubah itu terdengar seperti gesekan amplas pada kayu tua. "Lonceng itu tidak berbunyi selama sepuluh tahun. Mengapa Anda memanggil kami kembali ke kota yang penuh cahaya ini?"
Wang Xiong menundukkan kepalanya sedikit, sebuah tanda penghormatan yang jarang ia berikan kepada siapa pun. "Utusan Mo, saya memiliki masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh hukum manusia maupun hukum beladiri biasa. Seorang pria bernama Xue Xiao telah melukai putraku dan menghina keluargaku. Dia memiliki kekuatan fisik yang tidak masuk akal, tanpa Qi, namun bisa menghancurkan formasi dua belas murid Asosiasi Beladiri hanya dengan satu hentakan kaki."
Pria yang disebut Utusan Mo itu terdiam sejenak. Tangannya yang kurus dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam keluar dari balik jubah. "Tanpa Qi? Menarik. Di dunia ini, hanya ada dua kemungkinan bagi orang seperti itu. Dia adalah seorang praktisi tubuh fisik yang sudah mencapai tingkat legendaris, atau dia memiliki artefak kuno yang tertanam di dalam dagingnya."
"Saya tidak peduli apa rahasianya!" sela Wang Ruo dari sofa. "Aku ingin dia mati! Aku ingin dia melihat kliniknya yang berharga itu terbakar dan orang-orang di sekitarnya menderita sebelum dia menghembuskan napas terakhir!"
Utusan Mo mengeluarkan suara tertawa yang kecil dan dingin. "Kematian adalah hal yang terlalu mudah bagi seseorang yang memiliki tubuh spesial. Sekte kami sedang membutuhkan wadah baru untuk eksperimen pil pemurnian jiwa. Jika tubuh pria ini sekuat yang Anda katakan, dia akan menjadi bahan yang sangat berharga bagi Ketua Sekte kami."