Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17. Sebuah Ancaman
Happy Reading
"Aily Marsela." Ucap bu Luna.
"Sakit, bu."
Itu suara Bintang, Alderza langsung membulatkan matanya. Bagaimana mungkin Bintang tahu keadaan Aily, sementara dia tidak? Apa Aily mengabarinya?
Bukan hanya Alderza yang kaget, satu kelas dibuat kaget karena Bintang, yang termasuk genk Alderza itu mengetahui bahwa Aily sakit.
"Ada suratnya?" Tanya bu Luna.
"Ada bu."
Tiba-tiba saja, hal yang tak terduga terjadi, Bintang maju dan memberikan surat kepada bu Luna.
Ada apa ini? Kenapa Bintang mendadak jadi pahlawan? Kenapa hati Alderza berkecamuk seolah dia tidak terima atas apa yang sudah terjadi?
Aily lo kenapa? Ada hubungan apa lo sama Bintang? Tanya Alderza dalam hati.
Alderza kini beralih menatap Bintang dengan tatapan tajamnya. Tangannya mengepal menahan emosi. Apalagi saat Bintang membisikkan sesuatu kepada bu Luna. Mereka berdua seperti sedang membicarakan hal penting yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Menyebalkan.
Sial dua jam pelajaran terlewatkan begitu saja dengan memikirkan Bintang dan Aily. Alderza seolah terguncang dengan semua itu.
Yang sedang ia lakukan sejak tadi hanyalah memutar-mutar pulpen yang ada di tangannya dengan mata kosong dan hampa.
"Woi, lo kenapa diem gitu? Galau gak ada yang bisa di bully?" Tanya Rafa sambil menaikkan alis kanannya dan sebelah tangannya merangkul baju Alderza.
"Lo gak ngerasa aneh apa sama Bintang yang tiba-tiba bilang tu cewek sakit?" Tanya Alderza penasaran akan reaksi teman-temannya.
"Nggak."
"Kenapa?" Tanya Alderza.
"Udahlah, ngapain juga ngurusin si Bintang. Mending kita makan ke kantin aja." Ucap Sinta sembari menarik tangan Alderza.
"Karena tadi malem lo gak dateng, hari ini lo wajib traktir. Iya gak?" Tanya Riska kepada Alderza berusaha meyakinkan.
Alderza mengangguk, dia pun keluar kelas bersama teman-temannya. Saat di kantin, hal mengejutkan kembali terjadi, matanya langsung menuju kepada Bintang yang tengah duduk bersama Wulan.
"Itu Wulan temennya si Aily kan?" Tanya Sinta kepada Riska.
"Gak ngerti lagi gue sama si Bintang. Semua cewek jadi inceran!" Jawab Riska seolah tidak peduli.
"Halah, Pura-pura gak ngerti. Kalo cemburu ya cemburu aja." Balas Sinta sambil merangkul Riska.
Meskipun dia berusaha tidak peduli pada Bintang, tetap saja dia sangat tidak suka kepada Wulan.
"Kalau aja dia bukan anak pak Kepsek..." Ucap Sinta berusaha mendukung Riska.
"Kalo menurut gue sih, si Bintang lagi ngomongin Aily. Soalnya kalian tau kan, Bintang itu-" Jawab Rafa tiba-tiba terpotong.
"Kenapa lo bisa yakin Bintang ngomongin Aily? Ada hubungan apa dia? Sok care banget. Najis!" Tanya Alderza memotong ucapan Rafa.
Sontak, pernyataan itu membuat Sinta melotot ke arah Alderza. Kata-kata itu keluar dari mulut Alderza tanpa sadar. Alderza langsung menutup mulut saat menyadari teman-temannya menatapnya dengan tatapan aneh.
Gue ngomong apa sih? Bego! Bego! Batin Alderza.
"Apaan sih? Lebay banget cuman sehari gak masuk doang langsung heboh!"
"Udah, udah. Ayo duduk!" Ucap Rafa.
Sinta memutar bola matanya lalu menatap mata Alderza. Dia menyukai cowok itu sejak 2 tahun lalu. Dia tidak mau menghancurkan persahabatan mereka. Oleh karena itu, sekuat tenaga dia berusaha menahan perasaan tersebut. Debaran rasa yang selalu hadir saat Sinta menatap wajah Alderza yang tampan.
Sinta menyadari ada yang berbeda, dari sorot matanya yang tajam dan mimik wajahnya pun terlihat frustrasi. Dari sikapnya yang lemas, sepertinya ada yang aneh dengan Alderza.
Kenapa dia terlihat sangat ingin tahu tentang cewek itu?
Riska terus terdiam, sementara Sinta masih menatao Alderza.
"Lo kenapa? Ada masalah? Lo bisa cerita sama gue." Perlahan tapi pasti, Sinta meletakkan tangan mungilnya di atas tangan Alderza.
Raut wajahnya penuh harapan kepada Alderza. Dia ingin menjadi sandaran untuk cowok itu, menjadi orang yang mendengar keluh kesahnya. Setidaknya, Sinta ingin mendengar bahwa Alderza tidak sedang memikirkan Aily.
"Gak ada hiburan aja." Ucap Alderza sambil perlahan menyingkirkan tangan Sinta.
"Kita ini udah kelas 12, bentar lagi kelulusan. Pasti banyak acara-acara sekolah yang hibur kita, contohnya acara camping lusa nanti.
Benar, akan ada acara camping di gunung bagi anak kelas XII. Alderza baru sadar acara itu diadakan lusa.
Seluruh murid kelas XII pada akhirnya memilih gunung sebagai tempat pengambilan foto untuk buku kenangan dan juga acara pemadam.
Satu hal yang ada di pikiran Alderza, jika Aily sakit, apa dia bisa ikut acara itu?
Harus, Aily harus ikut.
"Oh iya, kemaren lo kemana? Nyusulin.... Aily?" Tanya Sinta sembari memakan mie ayam yang dia pesan.
"Gak. Tiba-tiba aja, orang rumah nelpon."
Sinta mengangguk, bibirnya berbentuk o untuk meyakinkan Alderza bahwa dia sudah mengerti.
Namun sebenarnya tidak, hatinya kembali berkecamuk saat Alderza mulai berani membohonginya.
Karena Sinta tahu, Alderza sangat membenci keluarganya. Tidak mungkin dia pergi dengan cepat hanya sekedar menuruti perintah orangtuanya, tidak mungkin.
"Gue harap lo gak datengin Aily kemarin."
"Gak lah. Itu nyokap yang nelpon."
Sinta tersenyum miris. Dia tidak ingin kejadian yang dahulu dia rasakan terulang lagi. Alderza harus menjadi miliknya, tidak ada yang boleh merebutnya.
Sampai kapan pun, dia tida akan pernah kalah, apalagi dengan Aily. Dia tidak akan membiarkan Aily tersenyum sedikit pun.
"Sinta, lo kenapa?" Tanya Rafa.
"Gue gak papa."
Sinta melirik cowok yang ada di sampingnya. Cowok itu memainkan ponsel tanpa memedulikan hati Sinta yang kacau, malah Rafa yang bertanya kepadanya.
Padahal, satu-satunya cowok yang dia harapkan bertanya seperti itu adalah Alderza.
***
5 jam berlalu, bel pulang pun berbunyi, membuat semua wajah yang mulanya kusam, menjadi cerah gembira menyambut suara bel tersebut.
"Lo kenapa sih hari ini diem terus?" Tanya Rafa penasaran dengan sahabatnya.
"Lagi gak fokus belajar." Alderza tidak bisa fokus karena terus-menerus memikirkan Aily.
"Emangnya lo pernah fokus belajar?" Tanya Rafa sembari memicingkan matanya dengan senyuman meledek.
Alderza tersenyum, lalu menepuk kencang bahu Rafa.
"Gue langsung pulang ya. Bye Sinta, Rafa, Ris... Eh, Riska kemana?" Tanya Alderza.
"Tau tuh sama si Bintang." Ucap Sinta sambil cemberut.
"Oh, yaudah gue-"
"Lo gak kemana-mana kan?" Tanya Sinta berusaha menahannya.
Alderza mengerutkan kening. "Gak kok, cuma ada urusan keluarga aja."
Alderza tidak pernah langsung pulang ke rumah setelah sekolah selesai. Ada yang aneh dengan sikapnya. Ditambah lagi Alderza menolak tangan Sinta. Ini tidak seperti biasanya.
Lagi-lagi alasan yang tidak masuk akal keluar dari mulutnya. Ya, keluarganya. Sinta bukanlah anak kecil yang bodoh. Sinta sangat tahu bahwa Alderza sedang membodohinya.
"Oke bye. Gue pulang."
Alderza tidak peduli kepada Sinta yang cemberut. Dia juga tidak peduli kepada Riska yang pergi mengejar Bintang. Dia hanya ingin bertemu dengan Aily.
Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan. Ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya sampai membuatnya tidak tenang. Dan Alderza akan tenang jika sudah mendapatkan jawabannya dari Aily.
***
Malam ini, bukan bersinar terang. Kali ini ada yang berbeda, Aily membiarkan jendela kamarnya tertutup saat dia sedang menulis.
Bulan, aku menutup jendela bukan karena tak ingin bertatap muka denganmu.
Angin, aku menutup jendela bukan karena tak ingin disapa olehmu.
Hanya saja, aku ingin ada seseorang yang datang dan mengetuk jendela ini.
Seperti malam sebelumnya.
Aily menutup buku, lalu memangku dagu dengan kedua tangan mungilnya di depan jendela. Andaikan ada suara ketukan di luar sana, dia bisa langsung segera membukakan jendela tersebut.
Aily menunggu, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetuk jendelanya.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Dan....
Tok... tok... tok...
Tidak ada jawaban dari Aily, Alderza mengetuk jendela beberapa kali tapi masih tidak ada suara.
Perlahan dia mendorong jendela tersebut, dan seperti biasa jendela itu hanya tertutup tapi tidak terkunci.
Alderza kaget saat melihat Aily tertidur di meja belajar, tepat di depan jendela. Secara tidak langsung, Aily tidur tepat dihadapannya.
"Aily..." Panggil Alderza, tetapi Aily masih bergeming.
Alderza turun dari jendela tersebut, lalu mendekati Aily. Dia memegang kening cewek itu, tidak panas sama sekali, suhu tubuhnya masih normal.
Senyuman tipis muncul di wajah Alderza saat melihat Aily tertidur lelap dan tahu kondisinya baik-baik saja. Oke, sepertinya dia tidak ingin mengganggunya. Saat Alderza mau beranjak pergi, tubuhnya berhenti seketika.
Bukan karena ketahuan macan betina karena dia menyelinap masuk ke kamar anak gadisnya, tetapi dia tidak tega melihat Aily tidur di meja.
Alderza luluh, dia mengangkat Aily yang tertidur lelap ke tempat tidurnya. Tangan kekarnya memangku Aily ke tempat tidur lalu menyelimutinya dengan selimut ungu nya.
Oke...ungu.
Tiba-tiba saja saat sudah di depan jendela, matanya terfokus pada buku ungu di atas meja. Hatinya ragu untuk membaca buku tersebut. Bagaimana jika isinya hanya hujatan untuk dirinya?
Tidak, lebih baik dia tidak membacanya agar semuanya baik-baik saja.
Karena Alderza tidak ingin menghilang tanpa jejak, dia pun mengambil secarik kertas dari buku tersebut, lalu menulis.
Lo tau, kita udah lakuin skandal dua kali sama malem ini. Kalo lo gak mau rahasia kita kesebar, add nomor gue di WA 08xxxxxxxxxx abis itu chat gue kalo lo udah add nomor gue. Ditunggu!
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, jangan lupa di koreksi ya. Love you guys.