NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: tamat
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PERJAMUAN TERAKHIR PARA RAJA

Gedung Putih, Washington D.C. – Namun bukan di dalam kantor oval yang ikonik itu. Di atas halaman rumput yang luas, sebuah struktur kristal merah transparan mendadak muncul dari udara tipis, menciptakan sebuah aula perjamuan melayang yang menaungi kediaman Presiden Amerika Serikat. Ini adalah manifestasi kekuatan spasial Julian dan energi Sanguine Arkan—sebuah undangan yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun.

Di dalam aula melayang tersebut, meja panjang yang terbuat dari marmer darah telah disiapkan. Di sana duduk para pemimpin dari sepuluh negara terkuat di dunia, Sekretaris Jenderal WHA, dan para Hunter Kelas SSS yang tersisa. Mereka semua tampak kerdil, wajah mereka pucat pasi, dikelilingi oleh pasukan penjaga Akademi Sanguine yang berdiri tegak dengan zirah hitam mereka.

"Terima kasih telah datang tepat waktu," suara Arkan bergema dari ujung meja.

Arkan duduk di takhta pusat, didampingi oleh Liora yang memancarkan aura emas menenangkan. Di belakang mereka, lima bawahan utama—The Five Sovereigns—berdiri seperti patung kematian yang siap mencabut nyawa dalam satu kedipan mata.

"Sovereign," ucap Presiden Amerika dengan suara yang bergetar. "Anda memanggil kami semua ke sini secara paksa. Apa tujuan dari pertemuan ini? Ekonomi kami sudah hancur, Hunter kami sudah tunduk. Apa lagi yang Anda inginkan?"

Arkan menyesap cairan merah dari cawan emasnya, matanya menatap tajam ke arah para pemimpin itu satu per satu. "Aku tidak menginginkan pajak kalian. Aku tidak menginginkan tanah kalian. Aku memanggil kalian ke sini untuk memberikan satu instruksi terakhir sebelum aku menutup gerbang bumi selama tujuh hari."

Seluruh ruangan mendadak gaduh. "Menutup gerbang bumi?! Apa maksud Anda?!" teriak perwakilan dari Uni Eropa.

"Abyss telah mengirimkan The Herald," jawab Arkan, nadanya dingin dan mematikan. "Tentara pemakan bintang sedang menuju ke sini. Jika aku tidak membawa perang ini ke dimensi mereka, maka bumi ini akan menjadi debu dalam waktu dua minggu. Aku akan membawa pasukanku masuk ke jantung Abyss untuk menghancurkan The Great One."

Arkan berdiri, jubahnya menyapu lantai marmer dengan suara desisan yang menyeramkan. "Selama aku pergi, kalian adalah orang-orang yang bertanggung jawab menjaga ketertiban di permukaan. Jika aku menemukan ada satu saja kerusuhan, satu saja pengkhianatan terhadap perbatasan yang telah kutetapkan, atau satu saja eksperimen ilegal yang kalian lakukan saat aku tidak ada..."

Arkan menghentakkan kakinya. Seketika, seluruh kaca di aula melayang itu retak. Tekanan gravitasi meningkat drastis hingga para pemimpin dunia itu terpaksa menunduk di atas meja.

"Aku akan memastikan bahwa saat aku kembali, aku tidak akan menemukan satu pun dari kalian masih memegang jabatan. Kalian paham?"

"P-Paham, Sovereign..." jawab mereka serempak, keringat dingin membasahi jas mahal mereka.

The Blood Fortress – Ruang Persiapan Perang, Pukul 22.00.

Setelah pertemuan di Washington, Arkan kembali ke bentengnya. Suasana di sini jauh lebih sibuk. Ribuan ksatria dari Akademi Sanguine sedang memuat perbekalan ke dalam portal-portal raksasa. Bastian sedang memeriksa barisan zirah berat, sementara Hana memberikan instruksi terakhir pada unit intelijennya.

Liora menghampiri Arkan yang sedang menatap peta bintang Abyss di ruang kendali pusat. "Arkan, kamu benar-benar akan menutup akses bumi? Bagaimana jika mereka menyerang dari titik yang tidak kita duga?"

Arkan menoleh, membelai rambut emas Liora dengan lembut. "Itulah sebabnya aku meninggalkanmu di sini, Liora. Kau adalah matahari bumi. Selama kau berada di benteng ini, auramu akan menjadi perisai yang membakar setiap monster yang mencoba merangkak keluar dari retakan kecil. Kau akan menjadi pemimpin tertinggi selama aku di sana."

"Aku tidak ikut?" Liora tampak kecewa.

"Tidak kali ini. Aku butuh jangkar di dunia ini. Jika aku tersesat di kegelapan Abyss, cahaya kaulah yang akan menuntunku pulang," ucap Arkan. "Julian akan tetap bersamamu untuk mengelola data. Bastian, Hana, Rehan, dan Elara akan ikut denganku untuk melakukan serangan bedah ke pusat jantung Abyss."

Julian muncul di samping mereka, wajahnya tampak sangat serius. "Ayah, armada The Herald telah melewati orbit Bulan. Mereka akan mencapai atmosfer dalam waktu enam jam. Portal invasi kita sudah stabil."

Arkan mengangguk. Ia mengenakan helm perangnya yang berbentuk tengkorak naga darah. Penampilannya kini benar-benar murni sebagai dewa perang yang tak kenal ampun.

"Kirimkan sinyal ke seluruh dunia," perintah Arkan. "Aktifkan Protokol 'World Eclipse'."

Di seluruh penjuru bumi, orang-orang melihat fenomena yang luar biasa. Bulan yang tadinya putih perak mendadak berubah warna menjadi merah darah yang pekat. Sebuah kubah energi merah raksasa mulai menyelimuti seluruh atmosfer bumi, memutus seluruh sinyal satelit dan komunikasi luar angkasa. Bumi secara resmi diisolasi dari alam semesta.

Arkan melangkah menuju portal utama di aula benteng. Di belakangnya, seratus ksatria elit yang dipimpin oleh Rian sudah berbaris.

"Kalian adalah anak-anakku yang terpilih," suara Arkan menggelegar, membangkitkan semangat tempur mereka. "Di sana tidak ada oksigen. Di sana tidak ada ampun. Yang ada hanya musnah atau menang. Apakah kalian siap mewarnai kegelapan Abyss dengan darah kalian?!"

"SEGALA KEMULIAAN BAGI SANG SOVEREIGN!" teriak mereka dengan satu suara yang mampu menggetarkan pegunungan Himalaya.

Arkan menatap Liora untuk terakhir kalinya, memberikan anggukan kecil yang penuh arti. Kemudian, dengan lambaian tangan yang membelah ruang, Arkan melompat masuk ke dalam portal gelap yang menuju ke jantung neraka.

DHUAAAARRRR!

Portal tertutup, meninggalkan aura merah yang membekas di udara.

Liora berdiri di singgasananya, menggenggam lencana matahari di dadanya. Ia menatap ke arah para penjaga yang tersisa di benteng. Matanya yang emas kini menyala dengan otoritas yang baru.

"Julian, aktifkan mode pertahanan penuh benteng," perintah Liora. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun lalat yang boleh melintasi langit Himalaya tanpa izinku. Sang Raja telah pergi berperang, dan aku tidak akan membiarkan rumahnya ternoda sedikit pun."

Alice Pendragon, yang berdiri di samping Liora, membungkuk sangat rendah. "Sesuai perintah Anda, Permaisuri."

Perang besar antar dimensi telah resmi pecah. Bumi kini berada di bawah perlindungan sang Cahaya, sementara sang Darah sedang melakukan perjalanan menuju inti kegelapan untuk memenggal kepala tuhan para monster.

1
Nh4Fi
alur yg menarik
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Ling Yi
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Ling Yi: owhhh
total 4 replies
Xiao Ling Yi
Eh... Julian?
Xiao Ling Yi
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Ling Yi
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!