Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembuktian berdarah
Suasana di dalam gudang terasa begitu mencekam. Kalingga menoleh perlahan ke arah Elara. Gadis itu mencoba mundur, namun tatapan tajam dari Zelene dan Talishia seolah mengunci langkahnya.
"Elara... apa benar yang mereka bilang?" suara Kalingga rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.
"K-Kak, mereka cuma mau mengalihkan perhatian! Lihat itu!" Elara menunjuk ke arah motor Nyx. "Faktanya Cassia membohongi Kakak! Galaksi juga!"
Kalingga kembali menatap Cassia, lalu ke arah Galaksi yang masih mengusap darah di sudut bibirnya akibat pukulan tadi. Amarahnya masih membara, namun ada keraguan yang mulai menyusup. Rasa kecewa karena dibohongi bertarung dengan rasa bersalah karena tidak tahu penderitaan adiknya.
"Cukup," Kalingga mengangkat tangannya. Ia menatap Cassia dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu mau jadi pembalap, Cassia? Kamu mau membuktikan kalau kamu bukan lagi 'adik kecil' yang lemah?"
Cassia menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri tegak, menentang tatapan kakaknya. "Iya. Aku bukan lagi boneka pajangan siapa pun."
Kalingga mengambil kunci motor dari saku jaketnya dan melemparkannya ke atas meja kerja. "Besok malam. Di jalur Devil's Curve. Satu lawan satu dengan gue. Kalau lo menang, gue bakal biarkan lo tetap balapan dan gue nggak akan ganggu Valkyries lagi."
"Ling! Dia adik lo, jalur itu terlalu bahaya!" potong Galaksi dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan. Jalur Devil's Curve adalah jalanan tebing dengan tikungan tajam yang sering memakan korban.
"Diam lo, Sheq! Ini urusan keluarga gue!" Kalingga membentak, lalu kembali menatap Cassia. "Tapi kalau lo kalah... lo harus jual motor itu, berhenti berteman dengan 'geng' ini, dan ikut gue pindah sekolah ke luar kota. Kita mulai hidup baru tanpa motor, tanpa balapan. Gimana?"
Cassia terdiam sejenak. Taruhannya terlalu besar. Jika ia kalah, ia kehilangan segalanya—kebebasannya dan sahabat-sahabatnya. Namun, jika ia lari sekarang, ia akan selamanya menjadi pengecut di mata kakaknya.
"Oke. Aku terima," sahut Cassia mantap.
"Cassie!" Talishia mencoba mencegah, tapi Cassia memberikan kode agar ia diam.
Kalingga berbalik, melewati Elara tanpa menoleh sedikit pun. "Jangan pernah muncul di depan gue lagi, Elara. Sebelum gue benar-benar lupa kalau lo itu perempuan."
Elara mematung, wajahnya memucat. Rencananya untuk menghancurkan Cassia justru menjadi bumerang yang menghancurkan posisinya sendiri di mata Kalingga dan Acheron.
Setelah Kalingga pergi, Galaksi mendekati Cassia. "Lo gila. Devil's Curve itu bukan sirkuit biasa. Ada satu tikungan yang nggak punya pembatas jalan."
"Aku tahu, Kak," jawab Cassia tanpa menatap Galaksi. Ia mulai memeriksa mesin Nyx kembali.
"Kenapa lo terima?!" Galaksi mencengkeram bahu Cassia, memaksanya berbalik.
Cassia menatap Galaksi dengan mata yang berkilat. "Karena ini satu-satunya cara supaya Kak Lingga melihatku sebagai manusia, bukan sebagai barang pecah belah. Terima kasih sudah menutupiku sejauh ini, Kak. Tapi besok malam... aku harus berdiri di atas kakiku sendiri."
Galaksi menatap mata itu lama, lalu ia melepaskan cengkeramannya dan menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan tekad gadis ini.
"Zelene," panggil Galaksi tanpa menoleh.
"Iya, Kak?" jawab Zelene siaga.
"Bawa Nyx ke markas pribadi gue. Gue bakal ganti sistem pengeremannya dengan standar internasional. Kalau dia mau mati di tikungan itu, setidaknya gue pastikan remnya nggak blong."
Malam Pertarungan: Devil's Curve.
Seluruh anggota Acheron hadir, namun suasana tidak meriah. Mereka semua tahu ini adalah pertarungan antara kakak dan adik. Di satu sisi ada Kalingga dengan motor sport hijaunya yang ikonik, dan di sisi lain ada Nyx hitam yang tampak lebih gahar setelah disentuh oleh tangan Galaksi.
Galaksi berdiri di tengah sebagai pemberi aba-aba. Ia menatap Cassia yang sudah memakai helmnya. "Hati-hati," bisiknya lewat frekuensi radio yang hanya bisa didengar Cassia.
Kalingga memutar gasnya, raungan motornya memecah kesunyian malam di atas tebing. "Siap, Cassie?"
"Siap, Kak."
Galaksi mengangkat tangannya, lalu menjatuhkannya dengan cepat.
BUM!
Kedua motor melesat membelah kegelapan. Kalingga memimpin di depan, ia tahu setiap inci jalur ini. Namun, Cassia menempel ketat di belakangnya. Di setiap tikungan, Cassia mengambil risiko yang membuat jantung siapa pun yang melihatnya nyaris berhenti.
Saat mendekati tikungan maut tanpa pembatas, Kalingga mulai menurunkan kecepatan, ia ingin mengetes apakah adiknya cukup waras untuk tidak mati. Tapi Cassia... ia justru menambah kecepatannya.
"Cassie, rem!" teriak Kalingga dari balik helmnya, namun Cassia justru memiringkan motornya hingga tingkat yang mustahil.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...