Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Orang Suruhan
Siang itu café lagi rame.
Arsha sibuk ngasih kembalian.
Arkana lagi ngitung stok tepung.
Arven duduk di depan jendela, seperti biasa — posisinya strategis buat ngawasin jalan.
Aruna lagi ngaduk adonan ketika Arven tiba-tiba berhenti bergerak.
“Ma.”
“Napa?”
“Itu bukan pelanggan.”
Aruna nengok ke arah pintu.
Seorang pria sekitar 40-an masuk. Kemeja rapi, sepatu bersih banget buat ukuran kota kecil. Wajahnya terlalu tenang.
Tipe orang yang biasa mengamati dulu sebelum bicara.
Dia duduk di meja dekat jendela.
Pesan kopi.
Tapi matanya nggak pernah benar-benar lepas dari anak-anak.
Arven berdiri pelan.
“Aku yang anter.”
Aruna langsung tau.
Hatinya nggak enak.
Arven meletakkan kopi di depan pria itu.
“Silakan, Om.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Tatapannya turun ke name tag kecil di apron Arven.
“Arven.”
“Iya.”
“Kamu anak pemilik café?”
Arven santai.
“Kenapa? Mau beli saham?”
Pria itu hampir tersenyum.
“Kamu mirip seseorang.”
Arven nggak bereaksi.
“Oh ya?”
“Namanya Arka Alveros.”
Detik itu juga udara berubah.
Arven tetap berdiri tegak.
“Terus?”
“Kamu kenal?”
“Banyak orang kenal.”
Jawaban diplomatis.
Pria itu mengeluarkan ponsel pelan. Seolah-olah cuma cek pesan. Tapi kameranya mengarah ke meja kasir — ke arah Arsha dan Arkana.
Arven langsung geser sedikit, menghalangi sudutnya.
“Kalau mau foto, izin dulu.”
Pria itu berhenti.
“Kenapa defensif?”
“Karena ini café. Bukan kebun binatang.”
Nada Arven tenang. Tapi tajam.
Aruna keluar dari dapur.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Pria itu berdiri sopan.
“Perkenalkan. Saya Hendra. Dari Jakarta.”
Aruna menatapnya datar.
“Keperluannya?”
“Saya hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Memastikan apa?”
Hendra menatap ke arah anak-anak lagi.
“Apakah mereka… ada hubungan dengan Arka Alveros.”
Sunyi.
Beberapa pelanggan mulai memperhatikan.
Aruna menegakkan bahunya.
“Kalau iya, kenapa?”
Hendra tersenyum profesional.
“Karena keluarga beliau perlu kejelasan.”
Arsha langsung berhenti bergerak.
“Keluarga?”
Arkana menatap Hendra tanpa ekspresi.
“Yang kaya itu?”
Hendra sedikit terkejut.
“Kalian tau?”
Arven menjawab duluan.
“Kita nggak buta.”
Hendra menarik napas pelan.
“Pak Adrian hanya ingin memastikan bahwa tidak ada pihak yang memanfaatkan nama keluarga.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Aruna langsung dingin.
“Memanfaatkan?”
Hendra tetap tenang.
“Mohon jangan salah paham. Ini prosedur.”
Arven menyilangkan tangan.
“Prosedur buat apa? Tes DNA di tempat?”
Hendra diam sebentar.
“Jika diperlukan.”
Café benar-benar hening.
Aruna melangkah satu langkah ke depan.
“Kalau keluarga kalian ingin tau sesuatu, suruh mereka datang sendiri.”
Nada suaranya nggak tinggi.
Tapi tegas.
Hendra menatapnya beberapa detik.
“Kami hanya ingin memastikan anak-anak ini benar-benar darah Alveros.”
Arkana akhirnya bicara pelan,
“Kenapa? Takut warisan kepotong?”
Hendra kehilangan ekspresi netralnya sesaat.
Arven mendekat.
“Kita nggak pernah minta nama itu.”
Hendra melihat anak-anak itu satu per satu.
Wajah mereka.
Garis rahang.
Mata.
Kemiripan itu terlalu jelas untuk diabaikan.
“Ayah kalian tau saya di sini?” tanya Hendra.
Aruna menjawab duluan.
“Tidak.”
Hendra mengangguk pelan.
“Baik. Saya sudah mendapat jawaban yang saya butuhkan.”
“Jawaban apa?” tanya Arsha polos.
Hendra tersenyum tipis.
“Bahwa ini bukan kebetulan.”
Dia menaruh uang lebih di meja.
“Terima kasih kopinya.”
Dan pergi.
Begitu pintu tertutup—
Arsha langsung mendekat ke Aruna.
“Ma… mereka mau ambil kita?”
Aruna berlutut memeluk mereka bertiga.
“Nggak ada yang ambil kalian.”
Arven menatap ke arah jalan.
“Kita lagi diperiksa.”
Arkana mengangguk pelan.
“Dan mereka belum selesai.”
---
Sementara itu—
Di Jakarta.
Hendra masuk ke ruang kerja Adrian Alveros.
“Bagaimana?” tanya Adrian singkat.
Hendra menjawab tenang.
“Pak… anak-anak itu sangat jelas darah Anda.”
Nadira yang duduk di sebelah langsung memegang dadanya pelan.
“Berapa?”
“Tiga.”
Adrian terdiam lama.
“Tiga?”
“Iya, Pak.”
Sunyi.
“Dan ibunya?” tanya Nadira pelan.
“Perempuan sederhana. Tapi tidak terlihat memanfaatkan nama.”
Adrian berdiri perlahan.
Tatapannya berubah.
“Siapkan mobil.”
Nadira menatap suaminya.
“Kamu mau ke sana?”
Adrian menjawab tegas,
“Kalau itu cucu saya… saya tidak akan mengutus orang lagi.”
Dan di kota kecil itu—
Aruna berdiri di depan café, menatap jalan kosong.
Ia tahu.
Ini belum selesai.
Dan kali ini—
Bukan cuma Arka yang harus memilih.
Tapi seluruh keluarga besar Alveros.