NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Hutan Gurial Tempest.

Chapter 1 : Hutan Gurial Tempest dan The Hero Sword

...----------------...

DUUUMMM—!!

Dua tubuh menghantam tanah hampir bersamaan.

Debu beterbangan.

Daun-daun beterbangan seperti hujan kecil.

Chika jatuh telentang lebih dulu, tubuhnya memantul sekali sebelum akhirnya tergeletak kaku seperti papan kayu.

Sedangkan princes—yang masih dipeluknya di udara—terlepas dan…

PLUK.

…jatuh tepat di atas punggung Chika.

Hening.

Angin hutan berdesir pelan.

Burung kecil terbang panik dari dahan pohon.

Di sekitar mereka:

Hutan Gurial Tempest yang rimbun.

Pohon-pohon tinggi dengan batang tebal.

Semak belukar basah oleh embun.

Dan tidak jauh dari sana…

sebuah rumah penginapan kayu kecil, dengan papan tua dan atap jerami miring, berdiri sendirian di pinggir jalan tanah.

Chika?

Tak bergerak.

Mulutnya sedikit terbuka.

“Ng… khhh….”

Ia mendengkur.

Princes masih duduk di atas punggungnya, bingung.

“…?”

Ia menunduk.

“…eh?”

Ia baru sadar.

“…KE…SATRIA?!”

Princes buru-buru berdiri.

Gaun kecilnya berkibar tertiup angin.

Ia membungkuk di depan wajah Chika.

“Kesatria… bangun!!”

Tak ada respon.

Ia menepuk pipi Chika.

Tap tap tap.

“Kesatriaaa~?”

Tak ada respon.

Ia mengerutkan alis kecilnya.

“Hm…”

Ia menarik rambut pirang pucat Chika.

Tarik—

“…?!”

Tetap tidak bangun.

Princes menggertakkan gigi.

“Kenapa kamu keras kepala begini sih?!”

Ia melihat sekeliling.

Ada ranting pohon kecil.

Ia mengambilnya… lalu dengan ekspresi serius menusuk lubang hidung Chika.

Colok.

“….”

Chika malah mendengkur lebih keras.

“NGOOOOOR—”

Princes terlonjak mundur.

“WAH?!”

Ia berdiri sambil berkacak pinggang.

“Kesatria kalau tidur memang tidak bisa dibangunkan ya…”

Ia mendesah panjang.

“Dunia mau hancur juga kamu tetap tidur…”

Princes menoleh ke sekeliling.

Hutan sunyi.

Penginapan kayu tua.

Tunggul pohon bekas ditebang.

Daun-daun besar seperti payung.

“Ini… di mana?”

Ia berteriak kecil:

“VEXANA!!”

Tak ada jawaban.

“KAPTEN EMILA!!”

Hanya suara angin dan serangga.

Princes menelan ludah.

Ia kembali ke Chika dan memeluk lengannya.

“Kesatria…”

“Ayo bangun…”

“Ayo kita pergi dari sini…”

Matanya berkaca-kaca.

“Penjajah masih menguasai kerajaan kita…”

Chika malah membalikkan badan sedikit.

“Nggh… lima menit lagi…”

“APA ITU LIMA MENIT?!” teriak princes.

Ia menatap Chika dengan kesal… lalu mendadak—

CRAK!

Semak-semak bergoyang.

CRAK!

Tiga makhluk kecil meloncat keluar.

Kulit hijau.

Hidung besar.

Telinga runcing.

Mata kuning menyipit.

Tiga goblin.

Mereka membawa tongkat kayu seperti senjata.

Goblin pertama menunjuk princes.

“Hehehe…”

Goblin kedua mengendus.

“Manusia kecil…”

Goblin ketiga menggosok perut.

“Bisa dimakan?”

Princes membeku.

“….”

Wajahnya pucat.

Ia meraih batu kecil di tanah dan melemparkannya.

“MENJAUH MAKHLUK HIJAU!!”

Tok!

Batu mengenai kepala goblin pertama.

Goblin itu mengucek kepalanya.

“…?”

Lalu ketiganya tertawa.

“HAHAHAHA!”

“Lemah!”

Princes panik.

Ia secara refleks meraih batu lain.

Tapi entah bagaimana…

yang terangkat justru BATU BESAR sebesar kepalanya.

Matanya membelalak.

“…EH?”

Tangannya gemetar.

Ia mengayunkannya sekuat tenaga.

“YAAAAAA!!”

PRAK!!

Batu besar menghantam kepala goblin kedua.

“GNYAAAA—!!”

Goblin itu terjungkal.

Princes menatap tangannya sendiri.

“…aku… kuat?”

Lalu wajahnya berubah serius.

Dalam hati:

Kalau mereka menyerang sekarang… kesatria belum bangun…

Ia melirik Chika.

Chika mendengkur sambil senyum.

“Zzz… pedang… roti….”

Princes berkeringat dingin.

Aku harus menjauhkan makhluk-makhluk ini…

Kalau kesatria bangun… dia pasti mencari aku…

Ia mengangkat kepala.

Menatap goblin.

Lalu berteriak:

“HEI MAKHLUK JELEK!!”

Ketiga goblin menoleh.

Princes menjulurkan lidah.

“BLEEE!! KEJAR AKU KALAU BISA!!”

Ia berlari ke arah timur penginapan.

“YAAAAA!!”

Goblin terkejut.

“…?”

“…KEJAR!!”

Mereka langsung mengejar.

“Hehehe!”

“Jangan kabur!”

Princes berlari zig-zag melewati pohon.

Roknya berkibar.

“Aduh… aku capek…”

Di kejauhan, Chika masih tidur di depan penginapan, sama sekali tidak sadar bahwa:

princes kecil

sedang memancing tiga goblin

sendirian

ke dalam hutan.

...----------------...

Di dalam kegelapan yang lembut…

Chika berdiri di ruang tanpa lantai dan tanpa langit.

Hanya cahaya biru yang menyelimuti sekelilingnya, seperti lautan cahaya.

Di tengah cahaya itu, sebuah suara bergema.

Tenang.

Dalam.

Namun terasa tua dan agung.

> “Kau semakin dekat dengan posisiku…”

Cahaya itu berdenyut.

> “Datanglah…”

Bayangan sebuah pedang muncul perlahan—

terhunjam di dalam batu besar dengan ukiran kuno.

> “Cabut aku dari batu pusaka itu…”

Suaranya terdengar seperti logam yang bergetar.

> “Aku adalah… The Hero Sword.”

Cahaya semakin terang.

Dan—

---

“HAH!!”

Chika terbangun mendadak.

Ia menatap langit biru yang diselimuti daun pohon.

“…aku masih hidup.”

Ia mengangkat tangan perlahan.

“…wah.”

Ia duduk.

“Ini… plot armor kah?”

Angin hutan berembus lembut.

Burung berkicau.

Serangga berdengung.

Lalu…

“…eh?”

Chika menoleh ke samping.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia berdiri cepat.

“Princes…?”

Ia menoleh ke kanan.

Ke kiri.

Ke belakang.

Kosong.

“PRINCES!!”

Suaranya menggema di antara pepohonan.

Tidak ada jawaban.

Hening.

Bayangan wajah Ratu Vexana muncul di pikirannya.

Dalam imajinasinya, Vexana berdiri di hadapannya, bersinar ungu gelap.

> “Sebagai seorang knight…”

> “kau gagal melindungi adikku…”

> “maka kau akan aku eksekusi~”

Chika menggigil.

“AKU TIDAK MAU DIEKSEKUSI!!”

Ia menggeleng keras sampai rambutnya berantakan.

“Tidak… tidak… aku harus cari princes…!”

Ia meraih pedang Lumina dan perisainya.

Lalu ia melihat sesuatu di tanah.

Sapu tangan putih kecil.

Ia mengambilnya perlahan.

Menyentuh kainnya.

Mengendusnya.

“…ini…”

Aromanya lembut.

“…ini milik princes.”

Wajahnya menegang.

“Berarti… dia ke arah sini…”

Ia menoleh ke arah timur.

“…eh?”

Ekspresinya berubah.

“…petak umpet?”

Ia tersenyum canggung.

“…asik.”

“PRINCESSS~ AKU MENCARIMU~”

Ia mulai berlari ke arah timur.

---

Hutan semakin rapat.

Cahaya matahari masuk dalam garis-garis tipis di antara dedaunan.

Tanah berubah dari rumput menjadi batu.

Lalu…

Chika berhenti.

Di hadapannya ada dua jalur.

Jalur kiri:

Sebuah tembok batu besar berdiri tegak.

Di depannya ada sebuah tombol batu bundar di tanah.

Jalur kanan:

Tertutup bongkahan batu yang bisa dihancurkan.

Chika menggaruk kepala.

“…ini hutan apa dungeon?”

Ia melangkah ke tombol.

Klik.

Tembok batu di depan bergerak turun dengan suara berat.

GRAAAAAK—

Di baliknya…

sebuah balok emas melayang di udara.

Chika terbelalak.

“…ini…”

“ADA EMAS!!”

Ia berlari ke depan.

Namun begitu kakinya lepas dari tombol—

GRAK!!

Tembok naik lagi.

“DOR!!”

Kepalanya menabrak batu.

“Aduh!!”

Ia jatuh terduduk.

“…keras sekali…”

Ia berdiri lagi dan menginjak tombol dengan satu kaki.

Tembok turun.

Ia melompat.

“YAA—”

Terlambat.

Tembok naik.

“DOK!!”

Kepalanya terbentur lagi.

Ia memegangi kepala.

“…kenapa pintunya hidup…”

“PRINCES!! KAMU DI DALAM?!”

Tidak ada jawaban.

Chika berpikir keras.

“…kalau aku harus injak tombol dan jalan bersamaan…”

Ia menghela napas.

“…aku bukan tipe orang pintar.”

TIBA-TIBA—

Di belakangnya…

Sebuah goblin mengendap-endap.

Mengangkat tongkat.

Namun Chika kesal.

Ia menghentakkan perisai ke belakang sambil berteriak:

“KENAPA TEMBOK MENYEBALKAN INI ADA DI HUTAN—”

PLAK.

Perisainya menghantam kepala goblin.

Goblin itu jatuh seperti karung.

“….”

Chika menoleh perlahan.

“…oh.”

Ia memandang goblin itu.

“…maaf.”

Lalu matanya berbinar.

“…aku punya ide.”

Ia menarik tubuh goblin itu dengan susah payah.

“Berat juga kamu ya…”

Ia meletakkannya di atas tombol.

Klik.

Tembok turun lagi.

Chika tersenyum bangga.

“…aku berhasil.”

Ia berjalan melewati jalur itu.

Berhenti.

Menoleh ke belakang.

“…aku pintar banget.”

Padahal kepalanya benjol dua.

Ia mengambil balok emas melayang itu.

Cahayanya hangat.

“…cantik…”

“Ini seperti barang yang princes suka berikan ke aku di kastil…”

Ia menggenggamnya.

“Berarti… princes masih dekat sini.”

Ia berjalan lebih dalam ke hutan.

Tidak tahu bahwa…

lebih jauh ke depan…

sebuah batu besar dengan ukiran kuno

dan sebuah pedang yang tertancap di dalamnya

sedang menunggu.

---

Hutan kembali sunyi.

Daun-daun bergoyang pelan tertiup angin, sementara bau darah goblin masih menggantung tipis di udara.

Chika berdiri terengah-engah.

Pedang Lumina masih terangkat.

Goblin terakhir berlari sambil menjerit kecil.

“A-ampun—!”

Chika mengayunkan pedangnya.

“Maaf, tapi kamu terlalu lapar.”

SWISH!!

“PLAK!!”

Goblin itu terpental dan jatuh tak bergerak.

Di sekitar kakinya kini tergeletak lima goblin dalam posisi aneh-aneh: satu terjerembap ke semak,

satu menabrak pohon,

dua bertumpuk,

satu menghadap tanah sambil memeluk batu.

Chika menurunkan pedangnya.

“…No, no, goblin.”

Ia menunjuk mereka satu per satu.

“Kalian nggak boleh makan aku.”

“Aku ini knight, bukan daging panggang.”

Angin berdesir.

Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke depan sambil melihat sekeliling.

Hutan di bagian ini berbeda.

Pepohonan lebih jarang.

Tanah lebih berbatu.

Ada bekas jejak kaki… bukan goblin.

Lalu—

Di sisi kanannya, di antara dua batang pohon besar…

Seseorang berdiri.

Seorang kesatria wanita.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna ungu kehitaman, dengan motif sisik naga di bagian bahu dan dada.

Pedangnya panjang, ramping, dengan ukiran kepala naga di gagangnya.

Matanya tajam, ungu gelap, menatap Chika tanpa berkedip.

Chika refleks bergumam pelan, tanpa berpikir:

“…wah… gelap sekali jubahnya…”

Kesatria itu langsung menoleh.

“Apa yang kau katakan?”

Chika tersentak.

“Hah?! Eh— n-nggak kok!”

Ia melambaikan tangan gugup.

“Aku cuma bilang jubahmu warnanya gelap… eh… hitam-ungu… artistik… gitu…”

Kesatria itu menyipitkan mata.

“…kau mengejekku?”

“Hah? Tidak, tidak, aku cuma—”

“TIDAK SOPAN!”

Suara kesatria itu meledak seperti petir.

Dalam satu kedipan mata—

WHOOSH!!

Ia sudah berada di depan Chika.

“APA—?!”

TANG!!

Pedangnya menghantam perisai Lumina.

Tubuh Chika terlempar ke belakang.

“BRUK!”

Ia terguling dan berdiri sempoyongan.

“Aduh… galak sekali…”

Ia mengelus bahunya.

“Padahal aku cuma lewat… aku lagi cari princes…”

Kesatria itu mengangkat pedangnya tinggi.

“Setelah bicara sembarangan, kau mau pergi begitu saja?”

“Knight Gurial Tempest…”

Matanya berkilat.

“AKAN KUPATAHKAN KAU DI SINI!!”

Aura ungu gelap menyelimuti tubuhnya.

Udara terasa berat.

Chika menelan ludah.

“…salah ngomong itu bahaya ya…”

Kesatria itu melesat.

CLANG!

CLANG!

CLANG!

Serangan bertubi-tubi menghantam perisai Chika.

Chika mundur setapak demi setapak.

“Hei, hei, tunggu, aku nggak niat—”

“DIAM!!”

Tebasan horizontal hampir mengenai lehernya.

Chika melompat ke belakang.

“Aduh hampir mati!”

Kesatria itu menjejak tanah.

BOOM!

Tanah retak.

Ia menerjang lagi dengan tusukan lurus.

Chika refleks menangkis.

TANG!!

Pedangnya terpental.

“Eh?!”

Pedang Lumina hampir lepas dari tangannya.

Kesatria itu tersenyum miring.

“Lemah.”

Chika menggertakkan gigi.

“…nggak juga.”

Ia mengangkat perisai.

Cahaya emas menyala.

Kesatria itu menyerang lagi.

Namun kali ini—

Chika menahan.

Dorongannya dibalas dengan hentakan perisai.

“HOI!!”

DUM!!

Kesatria itu terpental satu langkah.

Ia terkejut.

“Apa…?”

Chika maju.

Pedangnya menyapu rendah.

Kesatria itu melompat.

Chika salah langkah dan hampir tersandung akar pohon.

“WOAH!”

Kesatria itu mengayun dari atas.

Chika mengangkat perisai.

TANG!!

Percikan cahaya ungu dan emas beradu.

Hutan dipenuhi suara logam beradu.

CLANG—CLASH—TANG!!

Napas Chika memburu.

Ia melirik sekitar.

“…kalau terus begini aku kalah stamina…”

Kesatria itu melompat ke batang pohon, lalu menyerang dari atas.

“Terimalah!”

Chika refleks mengangkat pedang ke atas.

Namun kakinya terpeleset di tanah berlumut.

“WAAAH!!”

Ia jatuh terduduk.

Pedang lawan nyaris menusuk wajahnya.

Chika spontan mengangkat perisai ke depan.

Cahaya Lumina meledak.

BLAAAM!!

Kesatria itu terpental ke belakang dan menabrak pohon.

“UGH—!”

Ia berlutut.

Chika berdiri terhuyung.

“…aku… menang?”

Kesatria itu menatapnya dengan marah.

“Kau… belum selesai.”

Ia berdiri, tapi tubuhnya gemetar.

“Aku akan mengalahkanmu lain waktu, Knight Gurial Tempest.”

Ia melompat mundur ke dalam bayangan hutan.

“INGAT WAJAHKU!”

Angin berdesir.

Hutan kembali sunyi.

Chika berdiri terdiam.

“…aku cuma bilang jubahnya gelap…”

Ia menghela napas.

“…salah komunikasi bisa bikin perang ya.”

Ia mengangkat pedangnya lagi.

“PRINCES!!”

Suaranya menggema.

“Aku datang!!”

Tidak jauh dari sana…

di dalam hutan yang lebih dalam…

sebuah batu besar dengan ukiran kuno…

dan sebuah pedang yang tertancap di dalamnya…

menunggu.

---

Hutan di bagian ini jauh lebih lebat.

Cabang-cabang pohon saling bertaut di atas kepala Chika, membuat cahaya matahari terpotong-potong seperti pecahan kaca emas. Udara terasa lebih dingin. Tanah lembap. Lumut menutupi batu-batu besar, dan akar pohon menjalar seperti ular tidur.

Chika berjalan sambil memegang beberapa sapu tangan kecil yang sudah ia kumpulkan.

“Yang ini… yang ini… dan yang ini juga…” gumamnya sambil menghitung. “Princes rajin banget ninggalin jejak. Tapi… jauh banget main petak umpetnya.”

Ia mengangkat wajah.

Langit hampir tak terlihat karena kanopi daun.

“Udah mau gelap…” katanya pelan. “Princes, kamu nggak takut ya main sejauh ini…”

Ia memilih jalur kanan, menyibakkan semak.

CRRSH—

Tiba-tiba—

“TOLOOONG—!!”

Suara perempuan.

Chika tersentak.

“Hah?!”

Ia berlari menembus semak dan langsung melihat pemandangan aneh:

Seorang wanita berdiri di bawah pohon besar.

Gaunnya merah menyala, payung merah terbuka di atas bahunya meski tak hujan. Rambut maron panjang bergelombang jatuh sampai pinggang. Matanya merah seperti delima.

Di sekelilingnya, lima goblin melompat-lompat sambil menjilat bibir.

“Hehehe… daging manis ini mah…”

“Merah-merah… pasti enak…”

Wanita itu memeluk payungnya erat.

“S-seseorang… tolong aku…”

Chika maju tanpa berpikir.

“HEI!!”

Semua kepala goblin menoleh.

“Jangan sentuh gadis itu!”

Goblin-goblin itu melihat Chika dari ujung kaki sampai kepala.

Lalu—

“…KNIGHT?!”

“ITU YANG NGEBANTAI KAWAN-KAWAN KITA!!”

“LARI!!”

Dalam sekejap—

PLAK—PLAK—PLAK—

Kelima goblin kabur tunggang-langgang ke dalam hutan.

Sunyi.

Chika berdiri gagah dengan pedang di bahu.

“…tuh kan.”

Ia mengangguk sendiri.

“Melihat aku aja mereka langsung lari. Mereka tahu aku kuat.”

Wanita itu mendekat cepat.

“Terima kasih, Kesatria Gurial Tempest!”

Ia membungkuk anggun.

“Namaku Selena. Aku tersesat di hutan ini… dan tidak menemukan jalan pulang…”

Chika menggaruk pipinya.

“Oh… begitu.”

Ia menunjuk sapu tangan di tangannya.

“Aku lagi cari Princes Gurial Tempest. Kalau sudah ketemu dia, aku antar kamu keluar hutan.”

Selena tersenyum manis.

“Tentu… aku ikut membantumu.”

Dalam hatinya, suara lain muncul.

(Princes kecil… darah anak kecil…)

(wah…)

Namun wajahnya tetap lembut.

“Baiklah, aku akan membantu mencari Princes Gurial Tempest.”

Chika langsung cerah.

“Wah… kamu orang baik ya.”

Ia melangkah duluan.

“Ayo!”

Mereka berjalan berdampingan.

Hutan makin gelap.

Serangga mulai berbunyi:

KRIIK… KRIIK…

Selena berjalan sedikit di belakang Chika.

Ia menatap leher Chika.

Putih.

Bersih.

Berkeringat sedikit.

(dekat… sekali…)

Ia mendekat perlahan.

Mulutnya sedikit terbuka.

Taring kecil berkilat.

Chika tiba-tiba berhenti.

“Hah? Kok jalannya buntu?”

Selena nyaris menabrak punggungnya.

“EH?!”

Ia cepat menegakkan badan.

Chika berbalik.

“Kamu lihat sapu tangan lagi nggak?”

Selena tersenyum kaku.

“Ti… tidak.”

Mereka putar balik.

Beberapa langkah kemudian—

Selena kembali mendekat.

Pelan.

Seperti kucing.

Tangannya hampir menyentuh bahu Chika.

Mulutnya mendekat ke leher.

Chika tiba-tiba bersin.

“HATCHII!”

Ia menoleh cepat.

Selena langsung memandang ke langit.

“Ah… cuacanya indah ya…”

“…padahal nggak kelihatan langit,” kata Chika polos.

Mereka berjalan lagi.

Selena mencoba lagi.

Ia mengangkat payung sedikit, menutupi mereka dari cahaya sisa matahari.

Ia condong.

“Sedikit saja…”

Chika berhenti mendadak karena menginjak akar pohon.

“Wah!”

Ia berbalik spontan.

Selena hampir mencium pipinya.

“HII—!”

Ia lompat mundur.

“Kamu kenapa?”

Selena terbatuk.

“Aku… tersandung!”

Chika mengangguk serius.

“Hutan ini memang bahaya.”

Mereka masuk ke jalur sempit.

Kanan kiri pohon rapat.

Selena berjalan sangat dekat sekarang.

Tangannya menyentuh bahu Chika.

Ia mendekat ke leher lagi.

Chika tiba-tiba menunjuk.

“Eh, lihat! Ada jamur aneh!”

Ia menoleh cepat.

Selena hampir menggigit udara.

“KH—!”

Ia menggigit kosong.

Chika tidak sadar.

Jamur itu tiba-tiba mengeluarkan asap ungu.

POFF—

Selena langsung menutup hidung.

“BAU—!”

Ia terhuyung.

Chika panik.

“Maaf! Aku cuma nunjuk!”

Selena memegang kepalanya.

(kenapa setiap mau gigit dia selalu berhenti…)

Mereka sampai di jalan bercabang.

Kiri gelap.

Kanan berbatu.

Chika berhenti.

“Hmmm… princes ke mana ya…”

Selena berdiri tepat di belakangnya.

Ia mengangkat kedua tangan perlahan.

Mulutnya terbuka.

Taring keluar penuh.

Sekarang.

SEKARANG.

Chika tiba-tiba berbalik.

“Selena, kamu lihat ke arah—”

Selena refleks menjauh.

“NYAMUK!!”

Ia menampar udara.

PLAK!

Chika terkejut.

“…nyamuk sebesar itu?”

Selena berkeringat dingin.

“Ya.”

Mereka melanjutkan.

Di kejauhan—

terdengar suara kecil.

“Kesatria…?”

Chika membeku.

“…Princes?”

Ia berlari ke arah suara itu.

Selena menyusul, menjilat bibir.

(akhirnya…)

Di depan mereka—

sebuah altar batu tua.

Dan di sampingnya—

sebuah bayangan kecil.

Chika berteriak.

“PRINCES!!”

Selena menatap altar itu.

Dan sesuatu di matanya berubah.

(oh… bukan hanya darah anak kecil…)

(ini… menarik…)

Hutan diam.

Angin berhenti.

Dan sesuatu yang jauh lebih tua dari goblin…

menunggu di depan mereka.

Bayangan kecil itu berdiri di antara batang-batang pohon.

Tubuhnya mungil. Rambutnya terang.

Suaranya tipis, nyaris tenggelam oleh angin malam.

“Kesatria…”

Chika berhenti.

Matanya membesar.

“Princes…?”

Ia melangkah maju setengah langkah.

“PRINCES!!”

Ia langsung berlari.

Selena ikut di belakangnya, payung merahnya bergoyang-goyang.

Namun—

Begitu Chika menginjak tanah di depan “altar batu” itu—

KLIK.

Suara mekanisme kecil terdengar.

Tanah di bawah kakinya runtuh sedikit.

“Eh—?!”

Bayangan kecil itu… pecah seperti kabut.

PUFF—

Lenyap.

Dari balik semak-semak, terdengar suara cekikikan.

“Hehehe…”

“Manusia bodoh…”

“Terjebak…”

Puluhan goblin muncul dari segala arah.

Dari balik pohon.

Dari atas batu.

Dari balik altar palsu itu.

Beberapa memegang tombak kayu, beberapa kapak tumpul, beberapa membawa jaring.

Chika memutar badan.

“…eh.”

Ia melihat sekeliling.

“…kok banyak?”

Selena menghela napas pelan.

“Jadi ini jebakan…”

Salah satu goblin maju sambil menunjuk Chika.

“Yang ini yang bunuh banyak goblin!”

“Dan yang merah itu kelihatannya mahal!”

“Tangkap hidup-hidup!”

Chika mengangkat perisainya.

“NO NO GOBLIN.”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Kamu nggak boleh makan daging aku.”

Ia mengangguk serius.

“Aku ini knight, loh.”

Para goblin saling pandang.

“…dia ngomong apa?”

“Tidak tahu. Serang saja.”

Mereka berteriak bersamaan.

“SERBUUUU—!!”

Kaki-kaki kecil mereka menghentak tanah.

Tak-tak-tak-tak!

Chika langsung panik.

“SELENA!! BELAKANGKU BANYAK!!”

Selena membuka payungnya dengan cepat.

“Berdiri dekat aku.”

Goblin pertama melompat.

Chika refleks mengayun pedang Lumina.

ZRAAASH—

Petir kecil menyambar.

Goblin itu terpental ke pohon.

“KEEEEK!”

Chika terkejut melihat tangannya sendiri.

“…wah.”

Dua goblin lain menyerang bersamaan.

Chika mengangkat perisai.

DONG—DONG!

Tombak kayu patah.

Namun sebuah jaring dilempar dari samping.

“Eh—?!”

Jaring itu menutupi bahunya.

Selena mengangkat tangan.

Matanya menyala merah.

“Jangan sentuh dia.”

Bayangan merah melesat seperti cambuk.

SHRRRAK—

Jaring itu terpotong di udara.

Goblin yang melemparnya terlempar ke belakang, menabrak temannya.

Chika berteriak:

“SELENA KAMU HEBAT!!”

Selena tersenyum.

“Terima kasih.”

Dalam hati:

(jangan lupa… lehernya…)

Goblin lain melompat dari batu altar palsu.

Chika salah langkah dan terpeleset akar pohon.

“WOAH—!”

Ia jatuh duduk.

Goblin itu hampir mengenai kepalanya.

Selena memukul dengan payungnya.

PAAAK!

Goblin terbang seperti bola.

Chika bangkit sambil terengah.

“Ini altar palsu!”

Selena mengangguk.

“Ya. Ini bukan batu pusaka.”

Chika mengayun pedang lagi.

Petir menyambar dua goblin sekaligus.

“JANGAN TIPU AKU PAKE ANAK PALSU!!”

Goblin-goblin mulai panik.

“Dia marah!”

“Yang merah juga bahaya!”

Beberapa mencoba kabur.

Namun dari belakang altar, muncul lebih banyak lagi.

Belasan.

Dua puluhan.

Mereka berteriak:

“KEPUNG!!”

Chika berdiri di depan Selena.

“Selena, kamu di belakangku!”

Selena terkejut kecil.

“…kau melindungiku?”

“Ya. Kamu payung, aku pedang.”

Itu bukan strategi bagus.

Tapi Chika terlihat sangat serius.

Goblin menyerbu lagi.

Chika mengayun terlalu kuat.

Pedangnya tersangkut di batang pohon.

“Eh?!”

Selena menendang goblin yang hampir menusuk Chika.

“Jangan terlalu semangat!”

Chika menarik pedangnya.

“MAAF!!”

Ia memukul dengan perisai.

BAAANG!

Goblin terguling seperti bola salju.

Selena bergerak cepat.

Payungnya berputar.

Bayangan merah seperti kabut tajam memotong kaki goblin.

Namun ia selalu berhenti sebelum membunuh.

(jangan buang darahnya… bau hutan…)

Satu goblin melempar batu besar.

Chika mengangkat perisai.

DUUM!

Ia terdorong ke belakang dan menabrak Selena.

Keduanya jatuh.

“ADUH!”

Goblin-goblin mendekat.

Selena membuka matanya.

Matanya merah menyala.

“…sudah cukup.”

Ia mengangkat payungnya tinggi.

Bayangan di tanah mereka bergerak sendiri.

Dari bayangan itu, muncul tangan-tangan gelap yang menarik kaki goblin.

“Apa itu?!”

“Bayangan hidup?!”

Goblin-goblin jatuh bertumpukan.

Chika berdiri.

“SELENA KEREN SEKALI!!”

Ia melompat dan menebas dua goblin terakhir.

ZRAASH—ZRAASH!

Petir menyambar.

Sunyi.

Tanah penuh tubuh goblin.

Chika terengah.

“…selesai?”

Selena menurunkan payungnya.

“Sepertinya ya.”

Chika menatap altar palsu itu.

“…jahat.”

Ia menendangnya.

Altar itu roboh dan pecah—ternyata hanya tumpukan batu dengan ukiran palsu.

Selena menatap ke arah lebih dalam hutan.

“Kalau ini palsu… berarti yang asli…”

“…lebih dalam lagi,” lanjut Chika.

Ia memegang sapu tangan princes yang terakhir.

“Dia ke sana.”

Selena menatap leher Chika lagi.

Lalu menahan diri.

“…baiklah. Kita lanjut.”

Di antara pepohonan gelap—

sesuatu yang jauh lebih besar dari goblin

dan jauh lebih tua dari altar palsu

menunggu di depan.

Dan tanpa mereka sadari—

mereka sedang berjalan menuju tempat

di mana The Hero Sword tertancap.

Mereka masih berdiri di tengah lingkaran bekas pertarungan.

Daun-daun hutan berguguran pelan.

Asap tipis dari tanah yang tersambar petir Chika masih mengepul kecil, pssss… psss…

Bau kayu hangus bercampur dengan bau tanah basah.

Chika menghela napas panjang.

“Haah… capek juga…”

Ia mengusap keringat di dahinya, lalu—

klik.

Sesuatu terlintas di kepalanya.

Teknik Selena tadi.

Bayangan hidup.

Gerakan secepat kabut.

Aura dingin seperti malam.

Chika menoleh pelan ke belakang.

Selena sedang merapikan gaun merahnya. Ia menepuk-nepuk bagian rok yang terkena debu, lalu mengibas rambut marunnya ke samping dengan gaya anggun.

“Baiklah,” katanya ringan. “Ayo, Chika. Kita cari princes-mu.”

Nada suaranya manis. Senyumnya lembut.

Chika menelan ludah.

“…o–oh, iya.”

Mereka mulai berjalan.

Namun langkah Chika jadi kaku.

Krak… krak…

Ranting patah di bawah sepatu besinya, terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.

Dalam hatinya mulai ribut.

(Dia vampir…)

(Kalau aku lengah…)

(Dia gigit leherku…)

(Aku nggak mau jadi jus kotak…)

(Aku nggak mau… aku nggak mau…)

Ia menoleh sedikit ke arah Selena.

Selena berjalan di sampingnya, payung merah terlipat di bahu, wajahnya tenang… terlalu tenang.

Chika langsung memalingkan muka lagi.

“Tenang… tenang… Chika… jangan panik…” gumamnya.

Lalu—

Di depan, di sela-sela batang pohon besar, muncul seberkas cahaya keemasan.

Cahaya matahari menembus celah dedaunan, jatuh seperti sorotan panggung kecil di tengah hutan.

Chika berhenti.

Matanya berbinar.

“Oh! Ada cahaya!”

Ia tiba-tiba menarik pergelangan tangan Selena dengan gerakan polos dan agak panik.

“Selena! Kamu mau ikut aku sama Princes nggak? Kita mau nyelamatin kerajaan Gurial Tempest!”

Selena terkejut kecil.

“Eh?”

Ia menoleh.

“Menyelamatkan… kerajaan?”

Chika mengangguk cepat.

“Iya! Invader masuk ke dunia kami… kerajaan diambil alih… Ratu Vexana hilang…”

Ia menyeret Selena maju—

tepat ke bawah cahaya matahari itu.

“Kalau kamu ikut, kita bisa—”

SSSSSSHHHH—!!!

Selena menjerit kecil.

“AAAK—!!”

Begitu cahaya menyentuh kulitnya—

kulit Selena langsung berasap tipis.

psssss…

Ia meloncat ke belakang seperti kucing kena air panas.

“ADUH! PANAS!!”

Payungnya terjatuh ke tanah. Ia menutupi wajahnya dengan lengan.

Chika melotot.

“…nah kan.”

Ia menunjuk Selena.

“KAMU VAMPIR.”

Selena menatapnya, kaget setengah mati.

“DARI MANA KAU TAHU?!”

Chika menggaruk pipinya.

“Hmm… teknikmu tadi. Bayangan hidup. Gerakanmu cepat tapi dingin. Terus…”

Ia menyipitkan mata.

“…kamu beberapa kali nyoba mendekati leherku.”

Selena terdiam.

Wajahnya memerah.

“…aku… aku cuma…”

Chika menghela napas panjang.

“Makanya dari tadi kamu aneh.”

Selena menunduk.

“…maaf.”

Ia memungut payungnya, lalu membalik badan.

“Kalau begitu… aku pergi saja.”

Langkahnya pelan, seperti menahan perasaan.

Chika terkejut.

“Selena! Tunggu!”

Selena berhenti tanpa menoleh.

“…kenapa?”

“Sebelumnya aku mau minum darahmu, dan sekarang kau malah menahanku?”

Chika mendekat.

Langkah sepatunya berat.

“Kamu tahu… darah goblin itu mirip darah manusia.”

Selena menoleh tajam.

“Kau bodoh ya?! Mana mungkin aku mau minum darah makhluk menjijikkan itu!”

Chika mengangkat sebuah kantong kulit kecil dari pinggangnya.

“Eh… coba dulu.”

Ia mengocok kantong itu.

slosh… slosh…

“Padahal aku udah ngumpulin.”

Selena menatap kantong itu.

“…kenapa kau baik pada orang yang hampir menyakitimu?”

Chika berpikir sebentar.

“…nggak tahu.”

Ia tersenyum kikuk.

“Aku cuma ngerasa… kamu kuat. Dan kamu nolong aku lawan puluhan goblin.”

Selena memalingkan muka.

Pipinya merah.

“…padahal… aku nolongmu karena—”

“MINUM AJA INI!!”

Chika langsung menyodorkan kantong itu ke mulut Selena dan…

memencetnya.

“BLEK—!”

Selena tersedak.

“GLUK—GLUK—GLUK—!!”

Tangannya mengibas-ngibas udara.

“STOP—AKU MAU NAFAS—!!”

Chika panik.

“EH SORRY!”

Setelah beberapa detik dramatis…

Selena terengah.

“Haaah… haaah…”

“KAU INI!!”

Namun tiba-tiba—

Ia berhenti.

Matanya melebar.

“…eh?”

Ia menutup mulutnya sendiri.

“Rasanya…”

Ia mengerjapkan mata.

“…mirip darah manusia kecil.”

Ia menggenggam dadanya.

“Dan… lebih enak…”

Aura merah tipis menyelimuti tubuhnya.

“Kekuatanku… naik?”

Ia menatap Chika.

“Chika… dari mana kau tahu?”

Chika tersenyum lebar.

“Hehehe… Ratu Vexana pernah bawa aku ke perpustakaan.”

Ia menunjuk kepalanya.

“Ada buku yang bilang darah goblin dan monster tertentu mirip darah manusia.”

Selena menunduk.

“Chika…”

Ia mengepalkan tangan.

“Kau penyelamatku.”

Ia menatap Chika dengan mata berkilau.

“Bolehkah… aku ikut denganmu?”

Chika langsung mengangguk.

“Tentu!”

“Sekarang kamu masuk party-ku!”

“Kalau mau darah, bilang aja… aku cariin yang mirip manusia.”

Selena tersenyum.

“Kau knight baik pertama yang kutemui.”

Mereka berjalan lagi.

Langkah mereka sejajar.

Daun-daun hutan berdesir lembut.

Cahaya senja menyusup di sela batang pohon.

Dan di antara tawa kecil mereka—

tak jauh di depan…

bayangan altar asli

dan takdir mereka

sudah menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!