Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang kendali
Indira pun bergegas untuk mendatangi dimana Neneknya berada, dengan teriakan itu Indira dapat mengetahui bahwa sudah waktunya baginya untuk makan. Ditempat itu Indira jarang sekali makan, bahkan bisa bisa dua hari sekali baru bisa makan, karena dirinya sendiri takut merepotkan orang lain dan tidak mau menjadi beban bagi siapapun.
Tidak ada yang tau tentang bagaimana besar penderita Indira tinggal ditempat itu, ia sendiri bahkan tidak pernah keluar dari kamar tidurnya. Untuk makan sendiri saja dirinya tidak berani mengambil sendiri sebelum ditawari, sehingga teriakan dari Neneknya adalah suatu hal yang membahagiakan baginya karena bisa makan.
"Kalo makan ya tinggal makan, kenapa sih nunggu diteriaki dulu? Nenek tuh capek tau kalo harus teriak teriak terus, kayak biasanya gitu loh langsung ambil makan kalo makanannya sudah matang," Ucap Neneknya yang mampu membuat Indira terdiam membisu.
Indira hanya bisa diam membisu mendengar ucapannya itu, ia tidak tau bagaimana cara menjelaskan apa yang ia rasakan tersebut kepada Neneknya. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada seseorang yang menurutnya dekat, namun ia takut apabila perkataannya itu justru dianggap sebagai aduan yang akan membuat hubungan mereka renggang.
Indira tidak mau menjadi penyebab dari putusnya hubungan antara keluarganya itu, sehingga ia memendam semuanya sendirian tanpa harus melibatkan orang lain didalamnya. Apapun yang ia rasakan, ia akan memendam semuanya sendirian tanpa ada yang diceritakan kepada orang lain, dan apapun itu ia hanya bisa menangis sendirian.
******
Indira merasa sesak dadanya ketika berada diposisi seperti ini, dua hari ini dirinya juga belum makan dan belum kemasukan makanan apapun lantaran takut Kakaknya marah. Ia merasa tidak enak dengan Kakaknya, disana dirinya hanya bisa menyusahkan Kakaknya saja karena makan makanan yang dimasak oleh Kakaknya.
Meskipun Indira sendiri juga sudah membantu Kakaknya dengan memberikannya uang belanja, namun Indira masih merasa tidak enak karena Kakaknya sering kali mengomel ketika dirinya selesai mengambil nasi, entah mengomel karena uang belanjanya kurang, ataupun mengomel karena anak anaknya yang terus saja minta uang.
Indira hanya bisa berdiam diri didalam kamarnya, ia juga telah menggunakan uang hasil kerjanya untuk merenovasi kamarnya dengan sangat cantik sesuai dengan keinginannya. Ia memasang sebuah pintu yang selama ini ia ingin pasang namun dihalangi oleh Kakaknya lantaran takut apabila Indira mengunci diri didalam kamarnya, namun sekarang ia bebas melakukan apapun yang dia mau dengan uang sendiri.
Ia habiskan uang jutaan untuk membangun kamarnya dengan pernak pernik keinginannya sejak dulu, sekarang tempat tidurnya terasa sangat nyaman tanpa mempedulikan rasa takutnya untuk diintip oleh iparnya. Indira bisa merasa tenang karena tidak akan ada lagi yang bisa masuk kedalam kamarnya kecuali atas izinnya, sehingga Iparnya tidak lagi bisa masuk kedalam kamarnya dengan diam diam.
Meskipun begitu, kalimat sindiran sindiran itu masih saja menembus hati kecilnya, bukan hanya disindir secara langsung namun juga disindir melalui media sosialnya. Yang seolah olah mengatakan bahwa Indira itu hanyalah beban bagi orang lain, hanyalah benalu yang menjadi parasit bagi orang sekitarnya, dan bahkan mengatakan bahwa anak yatim hanyalah untuk anak anak kecil bukan seperti dirinya.
Kakaknya mengatakan bahwa Indira sudah bukan lagi anak yatim karena usianya yang sudah dewasa, sehingga keluarga dari Bapaknya tidak memiliki tanggung jawab untuk membiayai hidupnya ataupun memberinya makan.
Jika seorang ayah meninggal dunia, tanggung jawab nafkah dan perwalian anak perempuan yang belum menikah beralih kepada kerabat laki-laki terdekat dari pihak ayah (ashabah), seperti kakek, saudara laki-laki kandung, atau paman, sesuai urutan wali nikah. Jika tidak ada kerabat, tanggung jawab beralih ke saudara laki-laki.
Secara syariat, kerabat laki-laki yang memikul tanggung jawab ini juga dianjurkan untuk menafkahi wanita tersebut. Namun, jika tidak ada saudara laki-laki, saudara perempuan dapat mencari nafkah sendiri atau dibantu oleh sanak saudara lainnya.
Padahal sudah dijelaskan bahwa tanggung jawab seorang wanita berada pada Ayahnya jika belum menikah, namun jika Ayahnya sendiri sudah meninggal dunia maka tanggung jawabnya beralih kepada keluarga dari Ayahnya. Namun, Riri terus saja menyindir Indira dan menganggap bahwa Indira adalah benalu bagi orang orang terdekatnya,
"Anak yatim tuh kayak Vanya, masih 10 tahun. Kalo sudah besar bukan yatim lagi, orang bantuan bantuan dari pemerintah juga kalo sudah besar nggak dapat. Mana ada anak yatim yang sudah besar," Sindir Riri diruang tamu yang kini tengah duduk bersama Amel, Adik keponakannya.
"Masak sih Mbak Ri, jadi kalo sudah besar harus cari uang sendiri dong," Ucap Amel menanggapi.
"Iyalah, kalo besar sudah harusnya cari uang sendiri bukan numpang dirumah orang lain terus makan masih minta orang lain. Udah jadi benalu, nyusahin orang lain lagi, kok ya enak banget hidupnya,"
Indira yang mendengar hal itu dari dalam kamarnya hanya bisa mengelus dadanya, ia tidak ingin jika dirinya akan kehilangan kendali nantinya. Ia terus berdoa supaya hatinya tetap merasa tenang, meskipun begitu air matanya terus saja mengalir dari pelupuk matanya, apakah itu anggapan dari Kakaknya tentang dirinya.
Selama ini dirinya hanya dianggap sebagai benalu oleh Kakaknya bukan sebagai Adiknya, Indira masih mempunyai Kakak namun ia sama sekali tidak memiliki kasih sayang dari Kakaknya. Memang keduanya adalah saudara kandung, sama sama dilahirkan oleh wanita yang sama, namun hubungan keduanya juga tidak sebaik dan selayaknya Adek dan Kakak.
"Aku bukan anak yatim," Guman Indira sambil menghapus air matanya yang ingin sekali menetes itu.
Perasaannya sekarang menjadi campur aduk, ia sangat terluka mendengar ucapan dari Kakanya itu, padahal dirinya sudah sebisa mungkin untuk menjadi terbaik didepan mereka. Namun apapun yang ia lakukan ternyata tetaplah salah bagi mereka, dan mereka semua menganggap bahwa Indira tidak pantas untuk hidup didunia ini karena hanya bisa menjadi beban bagi mereka semua yang ada disana.
"Ya Allah, maafkan aku," Ucap Indira lirih.
Ceklek...
Indira membuka pintu kamarnya dengan sangat kasar hingga bunyinya terdengar sangat nyaring, melihat itu langsung seketika membuat semuanya menatap kearahnya. Indira lalu mendekat kearah Kakaknya itu, sementara Kakaknya melihat itu langsung bangkit dari duduknya.
"MAKSUDMU APA HAH!!! MAKSUDMU APA NGOMONG BEGITU!!" Sentak Indira.
Seketika itu juga tubuh Indira gemetaran dengan jantung yang terus berdebar kencang, rasanya ia benar benar tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang. Telinganya berdenging seakan akan ada yang tengah membisikkan sesuatu kepadanya, dan bahkan air mata yang tadinya terus berjatuhan mendadak terhenti tanpa ada arahan.
"Heii sadar diri dong, apa yang aku katakan itu benar. Ngaca sana, dirimu lo hanya benalu disini," Riri pun menuding kearah Indira.
Indira sendiri yang tidak suka dituding seperti itu pun langsung memukul tangan Riri dengan kencangnya, Riri sendiri pun tidak tinggal diam setelahnya ia langsung menarik rambut Indira dengan sangat kencang. Melihat hal itu sontak langsung membuat Amel kabur dari sana, ia ketakutan apabila akan terlibat nantinya.
Semua yang ada disana hanya bisa diam membisu, termasuk juga kedua anak dari Riri, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka ataupun tangisan mereka. Indira yang rambutnya ditarik keras oleh Riri sendiri juga tidak bisa tinggal diam, ia lalu menendang dada Riri dengan sangat kencang, dan menyerang balik kearah Riri.
"Aku bukan anak yatim!!"
Bhukk.... Bhukkk...
"Aku nggak butuh kalian semua!"
Bhukk... Bhukkk...
Indira benar benar berbeda dari biasanya, Indira seakan akan tengah meluapkan segala emosinya saat ini dan entah kenapa rasanya ada sosok lain yang tengah mendampingi dirinya sekarang. Bahkan ia sendiri pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, yang dirinya tahu hanyalah ia ingin meluapkan segalanya kepada orang orang yang telah menyakitinya dengan begitu sangat dalam.
"Aku nggak takut sama kamu! Emang kamu kira aku takut begitu ha!" Teriak Riri sambil berusaha untuk melukai Indira dengan menarik rambutnya.
"Aku nggak peduli!" Teriak Indira.
Melihat keduanya bertarung seperti itu, suami dari Riri pun ikut campur didalamnya dan berusaha untuk menyerang kearah Indira. Candra ikut serta mencoba untuk memukul Indira namun dirinya kalah telak karena Indira langsung memukul balik kearah kepalanya dengan cepat, Indira juga melihat wajah kesakitan dari Kakaknya namun ia sama sekali tidak peduli dengan hal itu dan memukul kepala Kakaknya juga hanya untuk membuat Kakaknya melepaskan tarikan rambutnya.
Candra berusaha untuk mendorong jauh tubuh Indira, Indira sendiri dengan badan gemetaran itu pun akhirnya terdorong ke belakang hingga tubuhnya terbentur sebuah tembok yang ada dibelakangnya. Rasa sakit itu tak lagi dapat Indira rasakan, bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang menjerit kesakitan, Candra seolah olah pasang badan untuk melindungi istrinya.
"Dirimu itu benalu, cuma bisa menumpang sama orang lain. Nyusahin aja jadi orang," Ucap Riri memanas manasi situasi.
"Aku nggak numpang! Ini rumahku!" Teriak Indira.
"Halah, makan juga ikut Nenek, udah tau dia nggak kerja, masih aja numpang."
"Aku nggak hanya numpang, aku juga ngasih uang ke Nenek,"
"Ngasih apa cuma dua puluh ribu, buat beli apa? Beli makan tiga hari aja nggak cukup," Riri terus mengejek Indira.
Memang Indira selalu ngasih sesuai dengan kemampuannya, karena waktu itu gaji Indira masih dibilang sangat sedikit, hanya sekitar seratus lima puluh setiap minggu. Namun bukan hanya untuk dirinya saja uang tersebut, namun dikasihkan kepada Neneknya, Kakeknya, bahkan kedua anak dari Riri sendiri.
Terkadang kalau uangnya tidak cukup untuk membeli beras, Indira harus mencari tambahan ditempat lain dengan cara melatih Adik Adiknya agar juara, dan uang hasil latihannya ia gunakan untuk membeli beras sebagai tambahan untuk keluarganya. Namun usahanya itu sama sekali tidak dihargai oleh mereka, yang diungkit hanyalah uang dua puluh ribu yang diberikan Indira kepada masing masing Nenek dan Kakeknya beserta kedua anak dari Riri.
Pengorbanan Indira sama sekali tidak dihargai oleh mereka, justru kesalahan sedikit saja langsung diungkit ungkit oleh mereka semua. Terkadang bahkan beras yang kerap kali ia beli pun ia sama sekali tidak ikut memakannya, justru Indira beli di warung untuk sarapan pagi sebelum berangkat bekerja ataupun beli ketika hendak pulang bekerja.
"Bac*t...!" Sentak Indira.
Percuma juga menjelaskan apa yang dipakai olehnya kepada orang yang sudah membencinya, mereka pasti akan mencari cara bagaimana merendahkan orang lain yang tengah beradu dengannya. Sudah dipastikan bahwa Indira akan kalah berdebat dengan orang yang playing victim dan manipulatif seperti mereka, yang dimana kesalahannya terus diungkit ungkit sedangkan kebaikannya disembunyikan rapat rapat.
Perkelahiran tidak lagi dapat terelakkan, Indira sendiri juga merasa heran karena entah kenapa tenaganya terasa semakin bertambah dan sangat ringan sekali untuk memukul orang. Rasanya dirinya merasa begitu lega setelah memukul orang yang ingin sekali ia pukul sejak lama, dan entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Keributan tersebut langsung memicu beberapa tetangga rumahnya, sehingga banyak orang yang berdatangan ketempat itu. Mereka pun mencoba untuk memisahkan antara Indira dengan Riri yang tengah saling memukul dan menarik rambut itu, dan akhirnya mereka pun bisa memisahkan keduanya setelah sekian lama.
"Ada apa ini? Kenapa berantem seperti ini, kalian bukan anak kecil lagi jadi nggak baik berantem seperti ini," Ucap seseorang yang kini berdiri diantara keduanya.
"Aku nggak bakal begini kalo nggak di usik dulu," Ucap Indira. Hingga akhirnya kedua tangannya dipegang dengan erat oleh dua orang, hingga membutuhkan tiga orang baru bisa membuatnya tidak dapat bergerak.
Mereka pun memisahkan antara Indira dengan Riri, Indira masih berada ditempatnya sebelumnya namun Riri mereka bawa menuju ke teras rumah mereka agar tidak bertengkar lagi nantinya. Riri pun mengarang cerita entah apalah kepada mereka semua, Indira sendiri tidak mendengarnya karena telinganya sendiri pun rasanya masih berdengung.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.