NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Perburuan.

Setelah berakhirnya perhelatan perbandingan klan yang mengguncang seantero Keluarga Lin, bukit kecil tempat keluarga itu bermukim seakan berubah menjadi pusat arus manusia. Sejak siang hingga senja merayap turun menyelimuti langit, para tamu datang silih berganti, membawa ucapan selamat, pujian, serta senyum yang sarat makna. Setiap orang memahami satu hal yang tak perlu diucapkan—dengan penampilan gemilang yang ditunjukkan oleh Lin Zhantian dan ayahnya, Lin Xiao, kedudukan keluarga kecil ini di dalam klan akan kembali naik ke pusat kekuasaan. Status mereka bukan lagi sekadar cabang yang dipandang sebelah mata, melainkan bagian inti yang memiliki suara dan pengaruh.

Di dalam dunia yang keras seperti Qingyang, perubahan posisi dalam keluarga bukan sekadar soal kehormatan, melainkan soal masa depan.

Lin Xiao menerima para tamu itu dengan sikap tenang dan wibawa yang telah lama menghilang darinya. Ia memerintahkan Liu Yan untuk menjamu mereka sebaik mungkin. Wanita itu bergerak dengan cekatan, senyum lembutnya tak pernah pudar walau lelah jelas membayang di matanya. Satu demi satu tamu diantar pergi dengan penuh sopan santun, hingga akhirnya suasana kembali hening.

Malam pun turun.

Di dalam rumah sederhana yang bertengger di lereng bukit itu, keluarga kecil tersebut kembali duduk bersama mengitari meja makan. Empat sosok—ayah, ibu, anak lelaki, dan adik perempuan—menikmati makan malam yang terasa jauh lebih hangat dari biasanya.

Wajah Liu Yan masih bersinar oleh kebahagiaan. Bagi dirinya, kemewahan dan kekuasaan bukanlah tujuan. Yang ia dambakan hanyalah keselamatan dan kebahagiaan suami serta putranya. Selama mereka dapat berjalan tegak di dunia ini tanpa diinjak-injak, ia rela mengorbankan segalanya.

Di tengah santap malam yang sederhana itu, Lin Xiao perlahan meletakkan mangkuknya. Tatapannya tertuju pada putranya, sorot matanya menyiratkan kebanggaan sekaligus keingintahuan yang dalam.

“Zhantian,” ucapnya pelan, nada suaranya mengandung senyum samar, “tingkat Tubuh Tempaan tingkat ketujuh… Pukulan Tongbei sembilan gema yang kematangannya bahkan tidak kalah dari Delapan Gurun Tapak milik Lin Hong. Kemajuanmu… sungguh mencengangkan.”

Di bawah meja, jari-jari Lin Zhantian sedikit bergetar.

Ia telah menduga pertanyaan ini akan datang. Kecepatan latihannya memang terlalu mencolok. Setengah tahun yang lalu ia masih berada di tingkat kedua Tubuh Tempaan. Kini, ia telah melonjak lima tingkat. Bahkan di antara keturunan utama Klan Lin pusat, kecepatan seperti itu dapat dianggap sebagai bakat kelas atas.

Namun rahasia di balik semua itu—batu simbol misterius yang tersembunyi di dalam tubuhnya—adalah sesuatu yang belum siap ia ungkapkan.

Ia mengangkat kepala, memasang ekspresi wajar.

“Ayah, terobosan ke tingkat ketujuh itu terjadi tadi malam sebelum tidur. Soal Pukulan Tongbei dan Delapan Gurun Tapak… setiap hari aku terus melatihnya. Entah mengapa, rasanya pemahamanku terhadap teknik-teknik itu terasa sangat cepat.”

Ia berbicara tenang, seolah sedang merenungkan hal yang bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya pahami.

Lin Xiao mengernyit.

Dalam dunia bela diri, memang ada individu yang dianugerahi pemahaman luar biasa. Begitu suatu teknik jatuh ke tangan mereka, hanya dalam waktu singkat mereka mampu menguasainya. Fenomena seperti itu bukan mustahil.

Namun kecepatan peningkatan kultivasi berbeda perkara.

“Dalam setengah tahun ini,” tanya Lin Xiao lagi, nada suaranya lebih serius, “kau tidak mengonsumsi sesuatu yang aneh?”

Pertanyaan itu menusuk tepat ke inti.

Lin Zhantian pura-pura berpikir keras, lalu menjawab, “Dua bulan lalu saat berlatih di gunung, aku sempat menemukan buah berwarna keemasan. Aku memakannya. Tapi seingatku tidak ada perubahan mencolok pada tubuhku… mungkin karena itu?”

Kebohongan kecil terucap dengan mulus.

Lin Xiao terdiam lama. Ia mencoba mengingat jenis buah spiritual apa yang mungkin sesuai dengan deskripsi itu, namun tak satu pun muncul di benaknya. Dengan kondisi keluarga yang terbatas, putranya memang tidak mungkin mendapatkan obat spiritual berkualitas tinggi.

Akhirnya ia menghela napas.

“Mungkin saja itu buah spiritual yang langka… anggap saja keberuntunganmu,” katanya perlahan.

Ia memilih untuk tidak menggali lebih jauh.

Melihat ayahnya menyerah, Lin Zhantian menghembuskan napas lega. Rahasia batu simbol itu terlalu berharga. Suatu hari nanti, ketika waktunya tiba dan dirinya cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang dicintainya, ia akan mengungkapkannya sendiri.

Setelah hening sejenak, ekspresi Lin Xiao berubah serius.

“Keberhasilanmu meraih peringkat pertama memang di luar dugaanku,” katanya. “Namun jangan pernah menjadi jumawa. Akhir tahun hampir tiba. Perburuan Qingyang akan segera dimulai.”

Nama itu menggema berat di dalam ruangan.

Perburuan Qingyang—acara tiga tahunan yang paling meriah di Kota Qingyang.

Di sanalah tiga kekuatan besar kota itu—Keluarga Lei, Keluarga Xie, dan Balai Bela Diri Pisau Ganas—bersatu menyelenggarakan ujian bagi generasi muda masing-masing.

Keluarga Lei dan Keluarga Xie adalah keluarga asli yang telah berakar selama beberapa generasi. Fondasi mereka dalam dan kokoh. Sementara Balai Bela Diri Pisau Ganas, meski baru berdiri belasan tahun, bangkit pesat dan memiliki reputasi kuat di wilayah sekitar. Bahkan banyak kafilah dagang memilih pengawal dari balai tersebut demi keamanan perjalanan mereka.

Di bawah tiga kekuatan itu, Keluarga Lin menyusul sebagai kekuatan besar berikutnya. Kini, setelah Lin Xiao memulihkan kekuatannya hingga tingkat Yuan Surgawi, posisi Keluarga Lin kembali memiliki taring.

Namun Perburuan bukan sekadar berburu binatang buas.

Ia adalah panggung pertarungan gengsi.

Ajang pembuktian.

Arena di mana generasi muda bertarung demi kehormatan keluarga.

Siapa pun yang mampu menonjol akan mengangkat nama klannya, dan secara tidak langsung menekan lawan-lawannya.

Beberapa tahun terakhir, prestasi Keluarga Lin dalam Perburuan tidaklah gemilang. Cemoohan samar kerap terdengar dari pihak lain.

Maka tahun ini… berbeda.

“Lei dan Xie selalu berusaha menekan kita,” lanjut Lin Xiao dengan nada dingin. “Mereka ingin seluruh Qingyang tahu bahwa hanya mereka penguasa kota ini. Bahwa Keluarga Lin harus tunduk.”

Matanya berkilat.

“Tapi masa itu sudah lewat.”

Ia menatap putranya dalam-dalam.

“Zhantian, kau harus berjuang keras. Tunjukkan bahwa Keluarga Lin tidak lagi bisa diremehkan.”

Lin Zhantian mengangguk mantap.

Di dalam dadanya, darah mudanya mendidih.

Perburuan Qingyang…

Itu bukan sekadar ujian.

Itu adalah medan pertempuran sesungguhnya.

Lawan-lawan yang akan ia hadapi bukan lagi seperti Lin Hong. Mereka adalah para jenius dari kekuatan besar lain. Setiap langkah bisa berarti hidup dan mati. Hutan perburuan bukanlah arena tanding keluarga—di sana, kelengahan sekecil apa pun dapat berujung petaka.

Namun justru karena itulah, ia merasa bersemangat.

Ia membutuhkan tekanan seperti itu untuk menajamkan dirinya.

Melihat tekad di mata putranya, Lin Xiao tersenyum puas. Dari dalam lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah kotak brokat halus dan menyerahkannya.

“Ini hadiah dari kakekmu.”

Lin Zhantian menerimanya dengan kedua tangan.

Saat kotak itu dibuka, aroma spiritual yang lembut langsung memenuhi ruangan.

Di dalamnya terbaring dua batang obat spiritual tingkat tiga. Permukaannya memancarkan cahaya samar, energi halus berdenyut pelan di sekelilingnya.

“Dua obat spiritual tingkat tiga,” ucap Lin Xiao. “Selain itu, mulai sekarang kau memiliki hak memasuki Paviliun Teknik Bela Diri. Jika ingin mempelajari teknik baru, pergilah dan pilih sendiri.”

Mata Lin Zhantian bersinar.

Obat spiritual tingkat tiga bukan barang murah. Dengan bantuan batu simbol misterius, ia dapat memurnikannya menjadi cairan spiritual yang jauh lebih murni. Efeknya pasti luar biasa.

Sedangkan Paviliun Teknik Bela Diri…

Itulah gudang teknik terbaik Keluarga Lin.

Jalan menuju kekuatan lebih tinggi terbentang di hadapannya.

Di luar rumah, angin malam berdesir lembut menyapu bukit kecil itu. Bulan menggantung tinggi di langit, menyinari Qingyang dengan cahaya pucat keperakan.

Tak seorang pun tahu bahwa di dalam rumah sederhana itu, seorang pemuda sedang menapaki awal perjalanan besar.

Perburuan Qingyang akan segera tiba.

Dan bagi Lin Zhantian, itu bukan hanya tentang kemenangan.

Itu adalah langkah pertama menuju dunia yang lebih luas.

Langit dan bumi yang tak berbatas menantinya.

Sementara di kedalaman jiwanya, batu simbol misterius bergetar pelan—seakan menyadari bahwa takdir sang pemiliknya telah mulai bergerak.

Mendengar penjelasan itu, mata Lin Zhantian seketika berbinar terang, seolah dua bintang jatuh memercikkan cahaya di kedalaman pupilnya. Tanpa menunggu sepatah kata pun lagi, ia segera menerima kotak brokat tersebut dengan kedua tangan, sikapnya hormat namun tak mampu menyembunyikan gelora kegembiraan yang bergolak di dalam dadanya.

Sejak keberuntungan besar membawanya menemukan Buah Zhu Kristal Air di pegunungan tempo hari, ia tak pernah lagi berjumpa dengan obat spiritual tingkat tiga. Dua butir pil yang telah dimurnikan oleh batu simbol misterius masih tersimpan rapi, belum pernah ia sentuh. Bukan karena lupa, melainkan karena enggan menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga. Jumlahnya terlalu sedikit. Ia menunggu saat yang benar-benar tepat.

Namun kini, dua batang obat spiritual tingkat tiga terbaring di hadapannya.

Kesempatan itu… akhirnya datang.

Bayangan mengenai kekuatan pil yang dimurnikan dari obat spiritual tingkat tiga membuat darahnya mengalir lebih cepat. Jika bahan bakunya lebih tinggi, maka esensi yang disaring oleh batu simbol tentu akan jauh lebih murni dan kuat. Seberapa dahsyat efeknya? Bahkan Lin Zhantian sendiri tak mampu membayangkannya dengan jelas.

“Sudah larut,” ujar Lin Xiao sambil melambaikan tangan ringan, memutus arus pikiran putranya. “Kembalilah beristirahat. Dalam beberapa hari ini aku akan pergi ke Perkebunan Api untuk memeriksa keadaan di sana. Soal latihanmu, aturlah sendiri dengan bijak.”

Perkebunan Api adalah salah satu sumber penghasilan penting Keluarga Lin. Letaknya agak jauh dari pusat kediaman klan. Dengan kekuatan Lin Xiao yang telah pulih, wajar jika ia kembali turun tangan mengawasi urusan tersebut.

Lin Zhantian mengangguk patuh.

“Baik, Ayah.”

Namun sebelum kata-kata itu benar-benar lenyap dari udara, tubuhnya telah bergerak cepat. Ia memeluk kotak brokat itu erat-erat, lalu berlari keluar dari ruangan bagaikan angin malam yang melesat turun dari lereng gunung.

Ia tak sabar lagi.

Langkahnya ringan namun tergesa, seakan takut momen berharga itu akan direnggut waktu. Angin malam menerpa wajahnya saat ia berlari menuju kamarnya. Bulan menggantung tinggi, memancarkan cahaya pucat yang menyinari jalan setapak di bukit kecil tersebut.

Sesampainya di kamar, ia segera menutup pintu dan duduk bersila di atas ranjang. Nafasnya masih sedikit terengah, namun matanya telah berubah tajam dan fokus.

Kotak brokat itu dibuka perlahan.

Dua batang obat spiritual terbaring di dalamnya, memancarkan aroma lembut yang menenangkan jiwa. Permukaannya berkilau samar, seolah menyimpan denyut kehidupan sendiri.

“Dengan bantuan batu simbol… mari kita lihat sejauh mana kekuatannya,” gumamnya pelan.

Ia mengambil salah satu batang obat spiritual itu, menggenggamnya erat. Dalam sekejap, pikirannya tenggelam ke dalam ruang spiritual yang gelap dan luas—ruang misterius tempat batu simbol berada.

Di tengah kegelapan, batu simbol itu berputar perlahan, memancarkan cahaya redup keabu-abuan. Begitu obat spiritual disentuhkan padanya, cahaya tersebut tiba-tiba berdenyut lebih kuat.

Desir energi halus mulai terurai.

Esensi obat spiritual terhisap perlahan, tersaring, dimurnikan, dipadatkan.

Proses itu berlangsung tanpa suara, namun Lin Zhantian dapat merasakan perubahan luar biasa. Energi yang awalnya liar dan kasar, kini menjadi lembut namun jauh lebih pekat. Seolah-olah kekuatan mentahnya telah ditempa ribuan kali dalam tungku surgawi.

Tak lama kemudian, di hadapannya muncul sebutir pil bundar berwarna hijau kebiruan. Permukaannya halus, memancarkan cahaya lembut seperti embun pagi yang menyimpan kilau matahari.

Hanya dengan memandangnya, ia sudah dapat merasakan tekanan energi yang tersembunyi di dalamnya.

“Begitu murni…”

Suara kekaguman nyaris terucap tanpa sadar.

Jika pil dari Buah Zhu Kristal Air dulu sudah memberinya dorongan besar, maka pil hasil pemurnian obat spiritual tingkat tiga ini jelas berada di tingkat yang sama sekali berbeda.

Tanpa ragu, ia memasukkan pil itu ke dalam mulutnya.

Begitu pil menyentuh lidah, ia langsung meleleh menjadi aliran hangat yang mengalir turun ke dalam tubuhnya. Dalam hitungan detik, gelombang energi yang luar biasa meledak dari dalam perutnya.

Boom!

Sensasi itu seperti sungai besar yang mendadak jebol bendungannya.

Energi murni mengalir deras ke seluruh meridian, menyusup ke setiap sudut tubuhnya. Daging dan tulangnya bergetar, darahnya mendidih, bahkan pori-porinya seakan terbuka menyambut aliran kekuatan tersebut.

Lin Zhantian segera memejamkan mata, menjalankan metode pernapasan Tubuh Tempaan dengan segenap konsentrasi. Ia tahu, jika tak dikendalikan, energi sebesar itu bisa menjadi pedang bermata dua.

Namun kendati deras, energi tersebut tidak liar. Justru sangat jinak, seolah telah dijinakkan oleh batu simbol.

Setiap kali ia mengedarkan energi itu satu siklus penuh, ia merasakan lapisan kekuatan baru terbangun di dalam tubuhnya. Otot-ototnya menegang, tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi samar seperti baja yang ditempa.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Satu jam.

Dua jam.

Keringat membasahi tubuhnya, namun wajahnya tetap tenang. Aura yang memancar darinya semakin stabil dan padat.

Ketika akhirnya ia membuka mata, kilatan cahaya melintas cepat di dalam pupilnya.

Ia mengepalkan tangan.

Udara di sekitarnya bergetar ringan.

“Setidaknya setengah langkah lagi menuju puncak tingkat ketujuh…” gumamnya.

Efek pil ini jauh melampaui dugaannya. Jika ia mengonsumsi pil kedua, bukan mustahil ia akan benar-benar mencapai puncak tingkat ketujuh Tubuh Tempaan, bahkan menyentuh ambang tingkat kedelapan.

Namun ia menahan diri.

Perburuan Qingyang masih beberapa waktu lagi. Ia harus mengatur ritme peningkatan kekuatannya dengan hati-hati. Fondasi yang kokoh jauh lebih penting daripada lonjakan sesaat.

Ia menyimpan pil kedua dengan hati-hati.

Malam semakin dalam.

Dari jendela kamarnya, Lin Zhantian menatap langit Qingyang yang luas. Bintang-bintang bertaburan tanpa suara, seakan menyaksikan kelahiran tekad seorang pemuda.

Perburuan Qingyang bukan sekadar ajang berburu binatang buas.

Itu adalah panggung di mana darah dan kehormatan akan diuji.

Lei, Xie, dan Balai Bela Diri Pisau Ganas pasti telah menyiapkan para jenius terbaik mereka. Pertarungan yang akan datang takkan semudah perbandingan klan hari ini.

Namun justru karena itulah, jantungnya berdebar penuh gairah.

Ia tidak lagi ingin menjadi pemuda yang dipandang rendah.

Ia tidak ingin ayahnya kembali menunduk di hadapan siapa pun.

Ia tidak ingin ibunya tersenyum sambil menahan kekhawatiran.

Di dunia yang keras ini, hanya kekuatan yang berbicara.

Dan ia akan meraihnya.

Dengan batu simbol misterius sebagai fondasi rahasia, dengan tekad sebagai pedang, dan dengan Perburuan Qingyang sebagai medan uji, Lin Zhantian perlahan melangkah menuju takdir yang jauh lebih besar daripada bukit kecil tempat ia dibesarkan.

Di dalam keheningan malam itu, aura di sekelilingnya bergetar lembut.

Seakan-akan langit dan bumi pun menyadari—sebuah bintang baru sedang ditempa dalam bayang-bayang.

1
alex kawun
jangan gitu lah thor demi u memenuhi target tulisan & chapter harus nulis ber ulang2 poin yg sama
mbosenin thor
Eko
ayoooo tambah kuat
Eko
alur cerita yang bagus
Joe Maggot Curvanord
lin dong
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
Dian Pravita Sari
liat ajakl gak tamat lagi faj gak guns ada komentar gak ada tindak lanjut dah sangat kecewa duanya cerita gak da yg tamatrenjijikkam pengarangnya hy mikir duit tp nol tanggung jawab alur cerita dan penyelesaian cerita gak bermutu blas
gak
REY ASMODEUS
up 10 eps
Jullsr red: okee bossskuuu
total 1 replies
REY ASMODEUS
lnjut
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!