NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Mata-Mata di Badai

Cahaya biru pucat itu berdenyut di balik barisan pohon pinus yang menghitam, tampak seperti luka yang terbuka di langit kelabu Utara. Elara berdiri mematung, merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi statis, seolah-olah alam sedang menahan napas sebelum sebuah bencana terjadi. Rasa dingin yang biasanya menusuk kini berubah menjadi sensasi hampa yang aneh; panas di sekitar tendanya seolah-olah dihisap secara paksa oleh entitas yang tidak terlihat di kegelapan sana.

"Kaelen!" Elara berseru, suaranya nyaris tertelan oleh desau angin yang kini membawa aroma ozon yang tajam.

Lampu mana di tangan Kaelen berayun liar di kejauhan, memberikan isyarat peringatan yang sangat mendesak. Elara melihat sesosok bayangan putih meluncur di atas salju dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tanpa menimbulkan suara seretan atau berat beban. Saraf-saraf di kakinya yang tadi mati rasa akibat lecet parah kini mendadak berdenyut nyeri, sebuah alarm alami dari tubuhnya yang menyadari bahaya besar sedang mendekat.

"Tetap di tempatmu, Elara! Jangan keluar dari perimeter cahaya!" teriak Kaelen dari kegelapan, suaranya terdengar parau dan penuh kecemasan.

"Aku tidak bisa diam saja jika kau yang menjadi sasaran, Kaelen!" Elara melangkah maju, menembus tumpukan salju yang setinggi lutut. Tangannya meraba jimat di balik jubahnya, mencoba menstabilkan sirkuit Void-nya yang kini bergetar di level satu koma tujuh.

"Sialan, kau keras kepala seperti biasanya!" Kaelen muncul dari balik kabut, pedangnya terhunus dengan pendar mana hijau yang redup. "Mereka bukan pengintai biasa. Mereka tidak memiliki berat badan, Elara. Pedangku seolah menebus udara setiap kali aku mencoba menyerang mereka."

"Mereka menggunakan manipulasi termal, Kaelen," bisik Elara saat mereka berdiri beradu punggung di tengah badai. "Mereka menghisap panas dari salju untuk menciptakan bantalan udara di bawah kaki mereka. Itulah sebabnya mereka tidak meninggalkan jejak."

"Lalu bagaimana kita bisa membunuh hantu yang bahkan tidak menyentuh tanah?" Kaelen bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari hutan yang gelap.

"Kita tidak membunuh hantunya, kita membunuh mediumnya," Elara memejamkan mata, membiarkan energi Void-nya merambat turun melalui kakinya, menyusup ke dalam butiran salju yang murni. "Gunakan pendar manamu untuk memancing mereka mendekat. Biarkan mereka mengira kau adalah sasaran empuk."

"Kau ingin menjadikanku umpan? Baiklah, lakukan dengan cepat sebelum aku benar-benar menjadi es batu di sini," jawab Kaelen dengan seringai kecil yang getir di wajahnya.

Tiba-tiba, tiga bayangan putih muncul dari arah yang berbeda, bergerak melingkar seperti predator yang sedang mengunci mangsa. Elara merasakan lonjakan energi dingin yang luar biasa. Ia menahan napas saat salah satu bayangan itu melompat ke arah Kaelen dengan belati es yang panjang.

"Sekarang, Elara!" teriak Kaelen sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan yang nyaris kasat mata itu.

"Hancur!" Elara menggumamkan perintah mentalnya. Energi Void-nya meledak secara molekuler di bawah kaki para pengintai itu. Salju padat yang mereka injak mendadak mencair menjadi air dalam sekejap mata, menghilangkan daya apung termal mereka.

Ketiga bayangan itu terjerembap, kaki mereka terperosok ke dalam air dingin yang dalam. Sebelum mereka sempat bereaksi, Elara menarik kembali energinya, membiarkan suhu Utara yang ekstrem membekukan air itu kembali sekeras baja.

"Argh!" suara rintihan tertahan terdengar saat kaki-kaki pengintai itu terkunci di dalam balok es yang tercipta secara instan.

"Kerja bagus, Putri Asteria," Kaelen segera menerjang maju, menempelkan ujung pedangnya ke leher salah satu pengintai yang tertangkap. "Sekarang, mari kita lihat siapa di balik topeng kain putih ini."

Elara mendekat dengan langkah gemetar. Paru-parunya terasa menyempit akibat asma dingin yang kambuh setelah penggunaan energi yang intens. Ia melihat pengintai itu mengenakan jubah sutra putih yang tipis namun dipenuhi dengan ukiran rune kuno yang berpendar biru redup.

"Siapa yang mengirim kalian? Apakah Master kalian begitu tidak sabar untuk menjemput nyawaku?" tanya Elara dengan nada yang sangat dingin, matanya menatap tajam ke arah pengintai yang tertutup cadar itu.

Pengintai itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Elara dengan mata yang tidak memiliki pupil, sebuah lubang hitam yang memantulkan kegelapan Void. Di pundaknya, Elara melihat sebuah simbol yang membuatnya tersentak—sebuah lingkaran dengan retakan di tengahnya, simbol dari segel kuno yang seharusnya terkunci di jantung pegunungan Utara.

"Kaelen, lihat simbol ini," Elara menunjuk ke arah bahu pengintai itu. "Ini bukan hanya sekadar kelompok bandit. Mereka adalah pemuja yang menunggu keruntuhan dunia."

"Aku tidak peduli mereka memuja apa, mereka sudah melukai pasukanku dan membakar logistik kita," Kaelen mencengkeram kerah jubah pengintai itu. "Bicara, atau aku akan membiarkan pedangku mencicipi darahmu!"

"Darah... hanyalah air untuk menyiram benih kegelapan," bisik pengintai itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan batu. "Sang Ratu Void telah bangun, dan kau... kau hanyalah wadah yang akan pecah."

"Cukup omong kosongnya!" Kaelen mengangkat pedangnya, namun Elara menahan lengannya.

"Tunggu, Kaelen. Ada yang salah," Elara menyadari bahwa suhu di sekitar pengintai itu mendadak naik drastis. "Dia membalikkan aliran mananya! Menjauh darinya!"

Elara menarik Kaelen mundur tepat saat tubuh pengintai itu mulai mengeluarkan uap hitam yang pekat. Aroma belerang dan daging terbakar menyeruak, memicu trauma PTSD api dalam benak Elara. Ia melihat bayangan api yang membakarnya di istana dulu seolah-olah muncul kembali di depan matanya.

"Tidak... tidak lagi..." Elara bergumam, langkahnya mundur dengan tidak stabil, tangannya menutupi wajahnya yang mendadak memucat.

"Elara! Fokus padaku! Itu bukan api asli!" Kaelen mengguncang bahu Elara, mencoba menariknya kembali dari jurang traumanya. "Lihat aku! Kau aman! Kau adalah yang memegang kendali di sini!"

Elara menarik napas pendek dan tajam, mencoba mengusir bayangan kemerahan itu dari pandangannya. Ia melihat pengintai itu kini mulai mengeluarkan cairan hitam dari mulut dan matanya, sebuah reaksi racun otomatis yang dirancang untuk menghapus jejak informasi.

"Dia bunuh diri," bisik Elara dengan rasa kecewa yang mendalam. "Mereka lebih takut pada Master mereka daripada kematian itu sendiri."

"Satu mati, tapi masih ada dua lagi yang terjebak di es," Kaelen menoleh ke arah dua pengintai lainnya, namun betapa terkejutnya dia saat melihat kedua pengintai itu telah hancur menjadi serpihan es halus, menyatu dengan badai salju.

"Mereka adalah klon mana," Elara menyadari kesalahannya. "Kita hanya menangkap satu orang asli, dan sisanya adalah proyeksi energi untuk membingungkan kita. Kaelen, serangan ini hanyalah pengalihan!"

"Pengalihan untuk apa?" tanya Kaelen dengan waspada.

"Logistik! Gudang logistik yang tersisa di sisi barat!" Elara berbalik dan berlari secepat yang ia bisa, mengabaikan rasa sakit yang menghunjam kakinya.

Saat mereka mencapai area logistik, mereka melihat kepulan asap hitam kembali membubung ke langit. Kapten Harka berdiri di sana dengan wajah bingung, sementara beberapa prajuritnya tampak sedang memadamkan api kecil yang membakar tumpukan kain cadangan.

"Apa yang terjadi di sini, Harka?!" teriak Kaelen dengan amarah yang meluap.

"Aku tidak tahu, Jenderal! Tiba-tiba saja ada bola cahaya biru yang jatuh dari langit dan membakar tenda penyimpanan kain. Kami sudah berusaha memadamkannya, tapi api ini tidak mau mati dengan salju biasa!" Harka menjawab dengan suara bergetar.

Elara mendekati api biru itu. Ia merasakan resonansi yang sama dengan cahaya di hutan tadi. Ini bukan api kimia, melainkan api mana yang memakan energi di sekitarnya. Dengan gerakan tenang namun penuh otoritas, Elara mengulurkan tangannya di atas api biru tersebut.

"Jangan menyentuhnya, Nyonya! Itu akan membakar tangan Anda!" teriak Rina yang baru saja berlari mendekat dengan membawa ember air.

Elara tidak menghiraukan peringatan itu. Ia menggunakan teknik penyerapan Void-nya, menarik energi yang menjadi bahan bakar api biru itu masuk ke dalam sirkuit mananya sendiri. Cahaya biru itu perlahan meredup, mengecil, hingga akhirnya padam sepenuhnya di bawah telapak tangan Elara.

"Bagaimana mungkin..." gumam Harka sambil menatap Elara dengan pandangan ngeri sekaligus kagum.

"Berhenti menatapku dan mulailah bekerja, Kapten," kata Elara dingin. "Hitung berapa banyak kerugian kita. Jika ada satu helai kain pun yang hilang tanpa laporan, aku akan memastikan kau yang menggantinya dengan kulitmu sendiri."

Harka menelan ludah dan segera memberikan perintah kepada anak buahnya untuk melakukan inventarisasi. Sementara itu, Elara merasa tubuhnya mulai mencapai batas. Keringat dingin bercampur dengan salju yang mencair di wajahnya.

"Kau memaksakan diri lagi," Kaelen mendekat, menyampirkan jubah tambahan di bahu Elara. "Kau menyerap api mana itu tanpa perlindungan. Kau tahu betapa berbahayanya itu bagi sirkuit jiwamu."

"Setidaknya logistik kita selamat, Kaelen," jawab Elara parau. "Jika kain-kain itu habis, seluruh pasukan ini akan mati beku sebelum mencapai celah pegunungan. Kita tidak punya pilihan lain."

"Tapi kau punya pilihan untuk membiarkan aku yang menanggung risikonya, Elara," suara Kaelen melembut, ada nada luka yang dalam di sana. "Kau selalu bertindak seolah-olah kau sendirian di dunia ini."

Elara menatap Kaelen, bayangan Aurelia yang dulu mencintai pria ini sekilas muncul di matanya, membuat pertahanan dinginnya sedikit retak. "Aku tidak sendirian, Kaelen. Tapi aku adalah satu-satunya yang bisa mengakhiri kutukan ini. Jika aku membiarkanmu terluka lebih dalam, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

"Luka di bahuku ini tidak ada apa-apanya dibanding luka yang kau sembunyikan di punggungmu, Elara," Kaelen menyentuh luka sayatan di bahunya yang kini sudah membeku. "Sekte itu... mereka tahu siapa kau. Mereka menyebutmu wadah."

"Itulah yang paling kutakutkan," Elara berbalik, menatap ke arah hutan pinus yang kini sudah tenang kembali. "Mereka tidak ingin membunuhku sekarang. Mereka sedang menungguku untuk menjadi 'matang'. Mereka ingin aku memperkuat sirkuit Void-ku sampai titik tertentu sebelum mereka mengambil alih tubuh ini."

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan jika aku harus membakar seluruh hutan ini untuk menjagamu," janji Kaelen dengan tegas.

"Terima kasih, Kaelen. Tapi untuk sekarang, kita harus fokus pada musuh yang kasat mata," Elara berjalan menuju mayat pengintai yang tertangkap tadi. "Bawa mayat ini ke tenda medis. Aku ingin membedahnya sendiri."

"Membedahnya? Kau bukan seorang tabib, Elara," Harka menyela, mencoba kembali menunjukkan otoritasnya.

"Aku adalah orang yang paling tahu tentang energi yang membunuhnya, Kapten," Elara menatap Harka dengan pandangan yang membuat pria itu mundur selangkah. "Atau Anda ingin menggantikan posisinya di meja bedah?"

Harka terdiam, tidak berani membantah lagi. Ia segera memerintahkan beberapa prajurit untuk mengangkat mayat pengintai itu dan membawanya menuju tenda medis di pusat perkemahan. Elara mengikuti dari belakang, langkahnya terasa semakin berat.

Di sepanjang jalan menuju tenda medis, Elara melihat wajah-wajah prajurit yang penuh dengan ketakutan. Mereka mulai berbisik-bisik tentang kutukan Utara dan bagaimana Nyonya Elara bisa memadamkan api ajaib hanya dengan tangannya. Elara tahu bahwa ia harus segera menenangkan moral pasukan sebelum pemberontakan kecil kembali pecah.

"Kaelen, umumkan pada seluruh pasukan bahwa musuh yang menyerang kita hanyalah kelompok bandit yang menggunakan trik sulap murahan," perintah Elara saat mereka sampai di depan tenda medis. "Jangan sebutkan tentang Sekte atau energi Void. Berikan mereka rasa aman yang palsu jika perlu, asalkan mereka tetap bisa memegang senjata besok pagi."

"Aku mengerti. Aku akan mengatur jadwal jaga ganda dan memastikan tidak ada lagi pengintai yang bisa mendekat tanpa terdeteksi," jawab Kaelen.

Elara masuk ke dalam tenda medis yang pengap. Rina sudah ada di sana, sedang merapikan tempat tidur dan menyiapkan peralatan yang diminta Elara. Bau obat-obatan herbal dan aroma besi berkarat dari peralatan bedah memenuhi ruangan yang sempit itu.

"Nyonya, biarkan saya membantu Anda melepas sepatu," kata Rina dengan nada khawatir saat melihat cara Elara berjalan. "Kaki Anda... pasti sangat sakit."

"Nanti saja, Rina. Letakkan mayat itu di sana," Elara menunjuk ke sebuah meja kayu panjang yang dialasi kain putih.

Mayat pengintai itu dibaringkan di sana. Elara mendekat, jari-jarinya yang gemetar mulai meraba permukaan jubah putih yang kini ternoda oleh cairan hitam. Ia merasakan sisa-sisa energi yang berdenyut di dalam jasad tersebut—sebuah pola frekuensi yang tidak asing bagi ingatannya sebagai Aurelia.

"Rina, keluarkan semua orang dari tenda ini. Termasuk para tabib," perintah Elara tanpa menoleh.

"Tapi Nyonya, Anda sedang terluka—"

"Lakukan saja, Rina. Ini bukan perintah yang bisa didebat," potong Elara dengan suara rendah yang mengandung otoritas absolut.

Rina mengangguk patuh dan segera meminta semua orang keluar. Setelah tenda itu sunyi, Elara duduk di kursi di samping mayat tersebut. Ia melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan tangannya yang kini tampak sedikit kebiruan akibat paparan dingin dan penggunaan mana yang berlebihan.

Ia mengambil sebuah pisau kecil yang biasanya digunakan untuk memotong tanaman obat. Elara tidak segera membedah mayat itu secara fisik, melainkan ia menutup matanya dan mulai mengalirkan energi Void-nya ke dalam jaringan otot mayat tersebut. Ia ingin mencari tahu di mana letak inti energi yang menggerakkan "wadah" ini.

"Tunjukkan padaku... siapa yang memberimu kekuatan ini," bisik Elara.

Melalui penglihatan mananya, Elara melihat jaringan sirkuit mana di dalam tubuh pengintai itu sudah hancur total, hangus oleh energi hitam yang meluap. Namun, ada sesuatu yang aneh di bagian jantungnya. Ada sebuah kristal kecil yang tertanam di sana, berdetak dengan irama yang sangat lambat namun konstan.

Elara melakukan sayatan kecil di dada mayat itu. Darah hitam yang kental keluar, aromanya sangat menusuk hingga membuat Elara mual. Ia mengabaikan rasa jijik itu dan terus merogoh ke dalam rongga dada hingga ujung jarinya menyentuh benda keras yang dingin.

Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah sebuah fragmen kristal mana berwarna biru gelap, hampir hitam, yang dipenuhi dengan ukiran simbol yang sama dengan yang ada di bahu jubah pengintai tadi.

"Kristal penyerap..." gumam Elara. "Mereka menggunakan tubuh manusia sebagai baterai hidup untuk menyimpan energi Void."

Saat Elara menatap kristal itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang halus di dalam kepalanya. Suara itu bukan milik Aurelia, melainkan suara yang sangat asing dan penuh dengan kebencian.

"Kau menyukainya, kan? Rasa sakit yang ia rasakan... kekuatan yang ia simpan..."

Elara tersentak dan menjatuhkan kristal itu ke lantai. Ia mencengkeram kepalanya, mencoba mengusir suara itu. Jantungnya berdegup kencang, dan untuk sesaat, ia merasa bayangannya di dinding tenda tampak bergerak sendiri, memanjang dan membentuk sosok yang mengerikan.

"Siapa kau?!" teriak Elara di dalam tenda yang kosong.

Tidak ada jawaban. Hanya suara desau angin yang menabrak kain tenda. Elara terengah-engah, keringat dingin mengucur deras di punggungnya, membasahi luka bakarnya yang mulai terasa gatal dan perih. Ia menyadari bahwa penggunaan Void Lv 1.7 barusan telah membuka celah di dalam jiwanya, membiarkan sisa-sisa kegelapan dari dimensi lain mulai membisikkan racunnya.

Ia mengambil kembali kristal itu dengan tangan yang terbungkus kain. Ia tidak boleh menghancurkannya sekarang; kristal ini adalah satu-satunya petunjuk menuju lokasi persembunyian Sekte. Elara membungkus kristal itu dengan segel garam Asteria yang ia bawa di kantung pinggangnya, mencoba meredam radiasi energinya.

"Nyonya? Apakah Anda baik-baik saja? Saya mendengar suara teriakan," suara Rina terdengar dari luar tenda.

Elara segera mengatur napasnya dan merapikan pakaiannya. "Aku baik-baik saja, Rina. Masuklah."

Rina masuk dengan wajah penuh kecemasan. Ia melihat Elara sedang berdiri di samping meja bedah dengan wajah pucat pasi. "Nyonya, Anda harus istirahat. Jenderal Kaelen sudah mengatur keamanan. Mari saya bantu Anda ke tempat tidur."

Elara mengangguk lemah. Ia membiarkan Rina menuntunnya menuju ranjang kecil di sudut tenda medis. Saat Rina membantunya melepas sepatu, pelayan itu terpekik kecil melihat kondisi kaki Elara. Luka lecetnya sudah pecah, mengeluarkan darah yang membeku karena dingin.

"Oh, astaga... kenapa Anda tidak bilang jika sesakit ini?" Rina mulai membersihkan luka itu dengan air hangat dan ramuan herbal.

"Rasa sakit fisik adalah hal terakhir yang aku khawatirkan sekarang, Rina," jawab Elara sambil menyandarkan kepalanya ke bantal yang keras. "Bagaimana kondisi prajurit yang terluka akibat serangan tadi?"

"Hanya beberapa orang yang mengalami luka sayatan ringan, Nyonya. Tapi mereka semua sangat ketakutan. Mereka bilang pengintai itu muncul dari udara kosong," Rina bercerita sambil membalut kaki Elara dengan kain kasa.

"Biarkan mereka takut. Ketakutan akan membuat mereka lebih waspada," kata Elara pelan. "Rina, simpan bungkusan kain ini di tempat yang sangat aman. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya, bahkan tabib sekalipun."

Elara menyerahkan kristal yang sudah dibungkus tadi kepada Rina. Rina menerimanya dengan tangan gemetar, merasakan dingin yang tidak wajar menembus kain pembungkusnya. "Baik, Nyonya. Saya akan menyimpannya di dalam kotak obat pribadi Anda."

Setelah Rina selesai merawat lukanya, Elara memintanya untuk pergi. Ia ingin sendirian. Namun, saat Rina berjalan menuju pintu tenda, Elara memanggilnya kembali.

"Rina?"

"Ya, Nyonya?"

"Terima kasih. Kau adalah satu-satunya hal yang mengingatkanku bahwa aku masih seorang manusia," kata Elara dengan suara yang tulus, sebuah momen kerentanan yang jarang ia tunjukkan.

Rina tersenyum sedih dan mengangguk. "Anda selalu menjadi manusia yang baik bagi saya, Nyonya. Tidurlah, badai di luar sana masih sangat panjang."

Setelah Rina pergi, Elara menutup matanya. Namun, ia tidak bisa tidur. Bayangan pengintai tanpa pupil, suara tawa di kepalanya, dan tatapan luka Kaelen terus berputar-putar dalam benaknya. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang yang tak berdasar. Di satu sisi ada dendam yang membakar jiwanya, dan di sisi lain ada kemanusiaan yang semakin terkikis oleh kekuatan Void.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati tendanya. Elara secara insting meraih belati peraknya di bawah bantal. Tirai tenda tersingkap, memperlihatkan sosok Vane yang tampak sangat gusar.

"Nyonya Elara, kita punya masalah besar," kata Vane tanpa basa-basi.

"Apa lagi, Panglima? Bukankah aku sudah memberimu perintah untuk mengatur pasukan?" tanya Elara dengan nada lelah namun tetap tajam.

"Ini bukan soal pasukan. Burung pengintai dari istana baru saja mendarat. Ada pesan rahasia dari Elena untuk Kapten Harka yang berhasil dicegat oleh anak buahku," Vane menyerahkan selembar perkamen kecil yang sudah terbuka segelnya.

Elara mengambil perkamen itu dan membacanya. Matanya menyipit saat melihat isi pesan tersebut.

"Singkirkan tawanan itu sebelum dia mencapai benteng pertama. Gunakan kekacauan badai sebagai alasan. Jika kau gagal, keluargamu di ibu kota yang akan menanggungnya."

"Harka akan bergerak malam ini," bisik Elara.

"Apa yang harus kita lakukan? Jika kita membunuhnya sekarang, faksi militer di benteng depan akan mencurigai kita," Vane tampak ragu.

"Kita tidak akan membunuhnya, Vane," Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Kita akan memberinya kesempatan untuk 'menjalankan' tugasnya, namun dengan cara yang akan membuatnya memohon kematian padaku."

"Maksud Anda?"

"Biarkan dia merasa bahwa dia berhasil menjebakku di luar perimeter malam ini. Aku akan memberikan umpan yang tidak bisa ia tolak," kata Elara sambil bangkit dari tempat tidurnya, mengabaikan rasa sakit di kakinya yang kembali berdenyut.

"Anda ingin keluar lagi di tengah badai ini? Itu bunuh diri!" Vane terkejut.

"Percayalah padaku, Panglima. Ini adalah cara terbaik untuk membersihkan duri di barisanmu sekaligus memberikan pesan yang jelas kepada Elena bahwa tangannya tidak cukup panjang untuk mencapaiku di sini," Elara berjalan mendekati Vane, menatapnya dengan pandangan yang membuat pria itu merasa kerdil. "Kumpulkan Kaelen dan beritahu dia rencana ini. Tapi ingat, jangan biarkan Harka tahu bahwa kita sudah membaca surat ini."

Vane mengangguk patuh dan segera keluar dari tenda. Elara berdiri di tengah tenda, menatap lampu minyak yang mulai kehabisan bahan bakar. Cahayanya bergetar, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.

Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang. Pengkhianatan Harka, ancaman Sekte Void, dan bisikan di kepalanya adalah badai yang harus ia lalui sekaligus. Namun, di dalam hatinya, sebuah api dendam yang lebih dingin dari salju Utara mulai berkobar.

"Kau ingin aku mati di tengah badai ini, Elena?" bisik Elara pada kegelapan. "Maka aku akan membawa badai ini kembali kepadamu."

Ia mengambil jubah tebalnya dan melangkah keluar menuju kegelapan yang sedang menunggunya. Di luar sana, angin menderu semakin kencang, membawa serta aroma kematian yang kian nyata. Namun Elara tidak takut. Baginya, kematian hanyalah awal dari pembalasan yang lebih kejam.

Elara melangkah menembus tirai salju yang kini turun lebih rapat, menyamarkan sosoknya dari pandangan para prajurit yang sedang sibuk memperkuat pasak tenda. Di kejauhan, ia melihat siluet Kapten Harka yang sedang berbicara dengan nada rendah kepada dua orang anak buahnya di balik bayangan gudang logistik. Elara sengaja membiarkan lampu mananya berkedip tidak stabil, memberikan kesan bahwa ia sedang kesulitan menjaga keseimbangan energinya.

"Kau melihatnya, kan?" bisik Elara saat Kaelen muncul secara tiba-tiba dari balik kegelapan di sampingnya.

"Harka sedang bersiap. Dia baru saja mengambil busur panjang dari gudang persenjataan. Apa kau yakin ingin melakukan ini, Elara?" Kaelen bertanya dengan nada yang sangat tidak setuju. "Membiarkan dirimu menjadi sasaran panah di tengah badai ini bukan taktik, itu adalah kegilaan."

"Kegilaan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami oleh faksi Elena saat ini, Kaelen," jawab Elara tanpa menoleh. "Jika dia menyerangku sekarang, itu adalah bukti pengkhianatan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di benteng depan nanti. Aku butuh alasan legal untuk menghapusnya dari rantai komando."

"Aku akan berada di belakang bukit es itu. Jika aku melihat anak panah meluncur, aku tidak akan menunggu perintahmu untuk menebasnya," tegas Kaelen.

"Tunggu sampai dia benar-benar menarik talinya, Kaelen. Jangan biarkan emosimu merusak umpan ini," Elara memberikan perintah terakhir sebelum ia sengaja berjalan menjauh dari pusat perkemahan, menuju area tebing yang lebih sunyi.

Udara di luar perimeter terasa berkali-kali lipat lebih mematikan. Salju yang berputar-putar di sekitar Elara seolah-olah memiliki taring yang siap mengoyak kulitnya yang sudah pucat. Ia merasakan tarikan energi dari kristal yang tadi ia ambil dari mayat pengintai; meskipun sudah disegel garam, benda itu tetap memancarkan resonansi yang mengganggu sirkuit jiwanya.

Di balik sebuah batu besar, Harka sedang membidik. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada Elara, melainkan karena bayangan keluarganya di ibu kota yang sedang dipertaruhkan. Ia menarik napas dalam, membiarkan uap napasnya menyatu dengan kabut, lalu mengunci bidikannya pada punggung wanita berpakaian jubah sutra yang tampak rapuh di tengah badai itu.

"Maafkan aku, Nyonya. Tapi Elena jauh lebih menakutkan daripada hantu Utara seperti Anda," gumam Harka pelan.

Zing!

Anak panah dengan ujung yang telah diolesi racun meluncur membelah angin badai. Elara merasakannya melalui sirkuit Void-nya yang kini beresonansi dengan molekul udara di sekitarnya. Alih-alih menghindar, ia justru memperlambat gerakannya, membiarkan anak panah itu lewat hanya beberapa sentimeter dari lehernya.

"Siapa di sana?!" Elara berteriak dengan suara yang sengaja dibuat terdengar panik, lalu ia menjatuhkan dirinya ke atas salju yang empuk.

Harka tidak menunggu. Ia segera berlari keluar dari persembunyiannya, mengira bahwa mangsanya telah terluka atau setidaknya terpojok. Ia menghunus pedangnya, melompat ke arah Elara yang masih terbaring.

"Anda seharusnya tetap tinggal di istana, Nyonya!" teriak Harka sambil mengayunkan pedangnya.

Namun, sebelum mata pedang itu menyentuh kain jubah Elara, sebuah ledakan energi transparan menghantam dada Harka, melemparnya hingga menabrak dinding es di belakangnya. Kaelen muncul secepat kilat, menindih tubuh Harka dan menempelkan pedang hijaunya tepat di bawah jakun sang kapten.

"Satu gerakan lagi, dan kau tidak akan pernah melihat keluargamu lagi, pengkhianat," desis Kaelen dengan amarah yang dingin.

"Lepaskan aku! Dia adalah penyihir terlarang! Kalian semua akan digantung jika melindunginya!" Harka meronta, namun tenaga Kaelen jauh di atasnya.

Elara bangkit berdiri perlahan, membersihkan butiran salju dari pakaiannya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun; ia justru menatap Harka dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan.

"Anda benar-benar tidak kreatif, Kapten. Menggunakan surat Elena sebagai alasan untuk membunuhku? Bukankah itu terlalu klise bagi seorang perwira kekaisaran?" Elara mendekat, memungut anak panah yang tadi meleset.

"Bagaimana kau tahu tentang surat itu?!" Harka terkesiap.

"Karena di perkemahan ini, tidak ada satu embusan angin pun yang terjadi tanpa seizinku," Elara mematahkan anak panah itu menjadi dua di depan wajah Harka. "Panglima Vane sudah menyerahkan surat itu padaku satu jam yang lalu. Dia memilih hidupnya sendiri daripada kesetiaan bodoh pada Elena. Harusnya Anda melakukan hal yang sama."

"Vane... dia mengkhianatiku?" Harka tertawa pahit, suaranya parau. "Elena akan menghancurkan kita semua."

"Elena tidak akan menyentuh keluargamu jika mereka mengira kau mati sebagai pahlawan yang melindungi logistik dari serangan Sekte," Elara berjongkok di samping Harka, suaranya kini melunak, hampir terdengar penuh empati namun beracun. "Pilihannya sederhana, Kapten. Kau mati di sini sebagai pengkhianat dan keluargamu akan menanggung malu serta hukuman, atau kau menyerahkan semua informasi tentang jaringan Elena di Utara padaku, dan aku akan memastikan kematianmu terlihat terhormat di mata kaisar."

Harka menatap mata Elara, mencari sedikit saja keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan Void yang tak berujung. Ia tahu ia sudah kalah telak.

"Dia... dia memiliki orang-orang di setiap benteng logistik. Kode rahasianya adalah 'Bunga Musim Dingin'. Mereka akan mencoba meracuni sumur air di benteng pertama," bisik Harka akhirnya, menyerah pada keputusasaan.

"Terima kasih atas kejujuran Anda, Kapten," Elara berdiri kembali. "Kaelen, bawa dia kembali ke perkemahan. Jangan biarkan dia mati dulu. Kita butuh dia untuk memberikan kesaksian di depan para perwira lainnya besok pagi."

"Lalu bagaimana dengan rencana 'pahlawan' itu?" tanya Kaelen sambil memborgol tangan Harka.

"Itu hanya untuk memastikan dia bicara, Kaelen. Aku tidak pernah berjanji untuk memberikan martabat pada seorang pembunuh," jawab Elara tanpa perasaan.

Saat mereka berjalan kembali ke pusat perkemahan, badai mendadak berhenti secara tidak wajar. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti hutan pinus. Elara merasakan tekanan mana yang sangat besar muncul dari arah belakang mereka. Ia berbalik dan melihat sesosok bayangan putih berdiri di atas puncak bukit es yang tadi mereka lewati.

"Kaelen, lari!" teriak Elara.

Sebuah ledakan energi es menghantam tanah tepat di tempat mereka berdiri sedetik sebelumnya. Sosok putih itu tidak mengejar, ia hanya berdiri di sana, menatap Elara. Melalui jarak yang cukup jauh, Elara bisa merasakan tatapan itu—sebuah tatapan yang penuh dengan rasa lapar yang purba.

"Dia adalah Master-nya..." bisik Elara dengan napas tersengal.

"Kita harus segera masuk ke dalam perimeter perlindungan mana perkemahan!" Kaelen menarik Elara dan Harka yang meronta.

Mereka berhasil mencapai gerbang perkemahan tepat saat serangan kedua menghantam area luar. Prajurit yang berjaga segera menutup gerbang kayu yang tebal. Panglima Vane berlari mendekat dengan wajah yang penuh dengan keringat dingin.

"Apa yang terjadi di luar sana? Aku mendengar ledakan!" tanya Vane panik.

"Sekte Void baru saja menunjukkan wajah aslinya, Panglima. Dan Kapten Anda ini baru saja mencoba membunuhku," Elara menunjuk ke arah Harka yang kini sudah lunglai.

Vane menatap Harka dengan pandangan jijik, namun ia lebih ketakutan pada apa yang ada di balik hutan. "Apa mereka akan menyerang sekarang? Kita tidak punya cukup mana untuk menahan pengepungan sihir!"

"Mereka hanya mengetes pertahanan kita, Vane. Mereka tidak akan menyerang secara massal selama kita masih memegang kristal ini," Elara meraba bungkusan di kantongnya. "Kaelen, pastikan Harka dikunci di sel bawah tanah yang paling aman. Vane, kumpulkan seluruh perwira. Kita akan mengubah rute perjalanan besok pagi."

"Mengubah rute? Tapi kaisar memerintahkan kita lewat jalur utama!" Vane memprotes.

"Kaisar tidak ada di sini untuk merasakan dinginnya maut yang baru saja lewat di belakangku, Panglima. Kita akan lewat celah barat, melalui daerah yang menurut Harka sudah disiapkan jebakan oleh faksi Elena. Kita akan menghancurkan jaringan mereka sebelum mereka sempat menyerang kita," Elara memberikan perintah dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.

Malam itu, perkemahan Utara tidak pernah benar-benar tidur. Suara ketukan palu yang memperbaiki gerbang bersahutan dengan doa-doa lirih dari para prajurit yang ketakutan. Elara kembali ke tenda medisnya, namun kali ini ia tidak sendirian. Rina sedang duduk di sudut, sedang menjahit kembali robekan di jubah Elara dengan tangan yang masih gemetar.

"Nyonya, apakah Anda akan pergi lagi?" tanya Rina dengan suara kecil.

Elara menatap Rina, lalu beralih pada bayangannya sendiri di cermin kecil yang retak. Ia melihat wajah seorang wanita yang baru berusia sembilan belas tahun, namun matanya sudah membawa beban ribuan tahun kesedihan Asteria.

"Aku tidak akan pergi jauh, Rina. Tapi dunia ini sedang bergerak menuju kegelapan yang sangat pekat. Aku harus memastikan kita adalah cahaya yang membakarnya, bukan lilin yang padam ditiupnya," jawab Elara sambil mengambil jarum dari tangan Rina dan melanjutkan jahitan itu sendiri.

Dengan setiap tusukan jarum, Elara seolah-olah sedang menjahit kembali kepingan jiwanya yang hancur. Ia tahu bahwa pengkhianatan Harka hanyalah awal. Masih ada ribuan "Harka" lainnya di luar sana, dan masih ada entitas putih di atas bukit yang menunggunya untuk goyah.

"Nyonya, jahitan Anda... sangat rapi," bisik Rina takjub melihat bagaimana Elara memperbaiki kain itu dengan presisi seorang penjahit ahli istana.

"Dulu, aku sangat suka menjahit gaun untuk pesta dansa," kata Elara pelan, memorinya sebagai Aurelia berputar sejenak tentang masa-masa indah sebelum api itu datang. "Sekarang, aku hanya menjahit luka agar tidak terus berdarah."

Tiba-tiba, terdengar suara keributan dari arah sel tahanan. Elara segera bangkit, mengabaikan rasa perih di kakinya. Ia berlari keluar tenda dan menemukan Kaelen sedang berdiri di depan sel Harka dengan wajah yang sangat pucat.

"Ada apa, Kaelen?" tanya Elara dengan firasat buruk.

"Dia... dia sudah mati, Elara," jawab Kaelen pelan.

Elara masuk ke dalam sel yang sempit itu. Harka terduduk di sudut dengan mata melotot, namun bukan darah yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya telah membeku menjadi es padat dari dalam ke luar, meskipun suhu di dalam ruangan itu cukup hangat. Di telapak tangannya yang membeku, terukir sebuah simbol baru—sebuah mata yang menangiskan darah.

"Racun otomatis itu bukan hanya kimia," gumam Elara sambil menyentuh kulit Harka yang sedingin es. "Itu adalah kutukan Void yang terpicu saat dia membocorkan informasi 'Bunga Musim Dingin' padaku."

"Ini berarti Sekte itu bisa membunuh siapa pun di dalam perkemahan ini dari jarak jauh?" Vane bertanya dengan suara gemetar dari belakang Elara.

"Hanya mereka yang sudah 'ditandai' atau pernah melakukan kontak dengan energi mereka," jawab Elara. Ia berbalik, menatap seluruh perwira yang kini berkumpul di depan sel dengan wajah penuh kengerian. "Inilah alasan mengapa kalian harus mematuhi setiap perintahku. Jika kalian mengkhianatiku atau mencoba bermain dengan musuh, kematian Harka akan terlihat seperti berkah dibandingkan apa yang akan kalian alami."

Ancaman itu menggantung di udara, lebih berat daripada badai salju di luar sana. Elara melangkah pergi, meninggalkan mayat Harka yang kini menjadi monumen es bagi kegagalan Elena. Ia berjalan menuju gerbang perkemahan, menatap ke arah utara di mana kegelapan seolah-olah sedang tersenyum padanya.

"Permainanmu sangat kasar, Master," bisik Elara pada angin malam. "Tapi kau lupa satu hal. Aku sudah pernah mati sekali. Kau tidak bisa menakut-nakuti seseorang yang sudah pernah mencicipi api neraka."

Ia merapatkan jubahnya, merasakan kristal di kantongnya berdenyut lebih kuat, seolah-olah sedang memanggil pemiliknya. Elara tahu, perjalanan besok tidak akan menjadi sekadar perpindahan pasukan. Itu akan menjadi perburuan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, Elara merasa benar-benar hidup dalam kebenciannya yang murni.

Di kejauhan, hutan pinus berbisik, menyuarakan nama yang telah lama terlupakan oleh sejarah, namun kini bangkit kembali dalam bentuk seorang wanita yang tak lagi memiliki belas kasihan. Sang Matahari Asteria telah padam, namun Sang Ratu Void baru saja menyalakan apinya sendiri di tengah badai es yang abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!