NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:49.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - KONFRONTASI AKHIR

Dara dan Bos Rendra berdiri berhadapan. Pistol masing-masing teracung, jarak sekitar lima meter. Dua anak kecil masih terikat di kursi, menangis dalam diam.

"Kamu tahu, Dara..." Bos Rendra bicara dengan nada santai, seolah mereka sedang ngobrol biasa, "...aku sebenarnya tidak mau bunuh kamu. Kamu dokter terbaik yang pernah aku punya. Tapi kamu tahu terlalu banyak. Dan sekarang kamu jadi ancaman."

"Aku tidak akan bicara ke polisi. Aku cuma mau hidup damai dengan keluargaku."

"Hidup damai?" Bos Rendra tertawa. "Kamu pikir aku bodoh? Begitu aku lepas kamu, kamu akan langsung lapor polisi. Kamu akan bongkar semua rahasiaku. Semua operasi ilegal yang pernah kamu lakukan untukku."

"Kalau aku mau lapor polisi, aku sudah lakukan dari dulu."

"Dulu kamu masih Dara... tidak punya keluarga, tidak punya yang hilang. Tapi sekarang kamu Kiara... punya suami, punya ibu mertua, punya bayi prematur di NICU." Bos Rendra menyeringai. "Kamu punya kelemahan sekarang. Dan aku tahu persis bagaimana mengeksploitasi kelemahan."

Dara merasakan amarah mendidih. "Kalau kamu sentuh keluargaku..."

"Kamu akan apa? Bunuh aku?" Bos Rendra menaikkan alis. "Kamu tidak punya nyali, Dara. Kamu dokter. Kamu menyelamatkan nyawa, bukan mengambilnya."

"Kamu salah." Dara menatapnya dengan tatapan yang membuat Bos Rendra terdiam. "Aku sudah pernah mati. Aku sudah pernah kehilangan segalanya. Dan ketika kamu sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang, kamu jadi berbahaya."

Hening.

"Lagipula..." Dara melanjutkan, "...aku bukan cuma dokter. Aku ibu. Dan ibu yang anaknya diancam? Dia lebih berbahaya dari apapun di dunia ini."

Bos Rendra menatapnya untuk pertama kalinya, ada sekilas keraguan di matanya.

"Kamu berubah, Dara."

"Karena terpaksa."

"Kalau begitu..." Bos Rendra menggeser pistolnya sedikit, mengarah ke salah satu anak kecil, "...buktikan. Bunuh aku. Sebelum aku bunuh anak ini."

Dara membeku.

Dia bisa menembak Bos Rendra sekarang, tapi apakah dia cukup cepat sebelum Bos Rendra menarik pelatuk?

Di telinganya, mikrofon tersembunyi menangkap suara Pak Bambang berbisik. "Nyonya Kiara, kami sudah posisi. Penembak jitu siap. Tapi sudutnya tidak bagus, kalau kami tembak sekarang, ada risiko kena anak-anak."

Dara tidak bisa menjawab tapi dia tahu mereka mendengar semuanya.

Dia harus beli waktu.

"Bos," katanya pelan. "Kamu ingat kenapa kamu rekrut aku dulu?"

Bos Rendra mengerutkan kening. "Kenapa tanya itu sekarang?"

"Karena aku mau kamu ingat, aku menyelamatkan nyawa adikmu. Waktu dia tertembak di perut dan tidak ada dokter lain yang berani operasi. Aku yang operasi dia. Aku yang selamatkan dia."

Wajah Bos Rendra berubah, ingatan lama terusik.

"Ardy... ya, aku ingat. Kamu operasi dia selama sembilan jam. Dokter lain sudah bilang dia tidak akan selamat. Tapi kamu tidak menyerah."

"Karena aku percaya setiap nyawa berharga. Termasuk nyawa adikmu. Termasuk nyawa dua anak ini." Dara menurunkan pistolnya sedikit, gerakan yang berisiko tapi perlu. "Kamu bukan monster, Bos. Aku tahu itu. Kalau kamu monster, kamu tidak akan menangis waktu Ardy akhirnya sadar. Kamu tidak akan berterima kasih padaku setiap hari selama sebulan setelah itu."

Bos Rendra terdiam.

"Orang berubah, Dara."

"Iya, orang berubah. Tapi inti siapa kita tidak berubah. Kamu mencintai adikmu. Kamu melindunginya. Sama seperti aku akan melindungi anakku. Dan sama seperti aku yakin, kamu tidak akan bunuh anak-anak tidak bersalah ini."

Pistol di tangan Bos Rendra bergetar, sedikit, hampir tidak terlihat. Tapi Dara melihatnya.

Dia melihat keraguan.

"Lepaskan mereka, Bos. Selesaikan ini dengan cara yang benar. Kamu masih punya kesempatan untuk tidak jadi pembunuh anak-anak. Jangan hancurkan sisa kemanusiaanmu."

"Kalau aku lepas mereka, aku tidak punya bargaining power lagi."

"Kamu punya aku. Aku akan tetap di sini. Aku akan jadi sanderamu. Tapi lepaskan anak-anak ini."

Bos Rendra menatapnya, konflik internal tergambar jelas di wajahnya.

Lalu...

Dia menurunkan pistolnya.

"Baiklah."

Dia mengangguk pada anak buahnya yang bersembunyi di bayangan. Pria itu maju, melepaskan ikatan dua anak kecil. Anak-anak itu langsung berlari keluar, menangis, ketakutan, tapi selamat.

Dara menghela napas lega. "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu." Bos Rendra mengangkat pistolnya lagi, kali ini mengarah langsung ke Dara. "Sekarang giliran kita."

Tapi sebelum dia bisa menarik pelatuk...

CRASH!

Jendela pecah.

Asap putih memenuhi ruangan, gas air mata.

"SERBU! SERBU! SERBU!" teriak Pak Bambang.

Tim khusus menyerbu masuk dari semua arah pintu, jendela, langit-langit. Dara jatuh berlutut, perut lukanya menarik keras karena gerakan tadi. Tapi dia tetap waspada, pistol teracung. Bos Rendra batuk-batuk, mencoba kabur ke pintu belakang.

Tapi Dara lebih cepat.

Dia menembak bukan untuk membunuh, tapi untuk melumpuhkan. Peluru menembus kaki kanan Bos Rendra tepat di betis, mengenai otot tanpa menyentuh arteri besar.

Presisi dokter bedah.

Bos Rendra jatuh, berteriak kesakitan. Polisi langsung mengerubungi, memborgolnya.

Dara merosot ke lantai, tubuhnya tidak kuat lagi. Perutnya terasa basah jahitannya pasti robek lagi.

Arkan berlari masuk, wajahnya panik. "KIARA!"

"Aku... aku baik-baik saja..." tapi darah sudah merembes ke bajunya.

"MEDIS! KAMI BUTUH MEDIS!" teriak Arkan.

Paramedis datang memeriksa Dara dengan cepat.

"Jahitannya terbuka lagi. Kami harus bawa dia ke rumah sakit sekarang."

Saat dibawa ke ambulans, Dara melihat Bos Rendra diseret oleh polisi, dimasukkan ke mobil tahanan.

Mata mereka bertemu sebentar.

Bos Rendra tersenyum pahit. "Kamu menang, Dara. Untuk kali ini."

"Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal melindungi yang kita sayang."

Pintu mobil tahanan tertutup, membawa Bos Rendra menjauh.

Di ambulans, Dara menatap langit-langit... tubuhnya lelah luar biasa, tapi hatinya lega.

Akhirnya...

Akhirnya selesai.

Tidak ada lagi ancaman dari masa lalu. Tidak ada lagi yang memburu. Dia bisa fokus pada satu hal, menjadi ibu untuk bayinya.

"Arkan..." katanya lemah.

"Iya, sayang?"

"Kita... kita harus kasih nama bayinya..."

Arkan tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. "Kamu ada ide?"

"Kirana... artinya cahaya... karena dia cahaya dalam kegelapan kita..."

"Kirana Adisaputra." Arkan mengecup dahinya. "Sempurna. Seperti ibunya."

"Aku... tidak sempurna..."

"Tapi kamu kuat. Kamu pejuang. Dan kamu ibu terbaik yang pernah ada."

Dara tersenyum, lalu matanya perlahan tertutup.

Bukan karena mati.

Tapi karena akhirnya... Setelah semua pertempuran, semua trauma, semua rasa sakit. Dia bisa istirahat dengan tenang. Mengetahui keluarganya aman. Mengetahui anaknya selamat. Mengetahui...

Dia bertahan.

Lagi.

Tiga hari kemudian, Dara terbangun di rumah sakit dengan tubuh yang terasa lebih baik meski masih sakit, tapi tidak separah sebelumnya.

Yang pertama dia cari...

"Bayiku."

"Dia baik." Suara lembut dari samping.

Nyonya Devi duduk di sana, menggendong sesuatu yang kecil, terbungkus selimut putih.

Kirana.

Bayinya tidak lagi di inkubator.

"Dia... dia sudah bisa keluar dari NICU?"

"Kemarin sore. Dr. Rahman bilang perkembangannya luar biasa cepat. Dia sudah bisa bernapas sendiri, sudah bisa minum ASI dari botol, dan berat badannya naik jadi dua koma satu kilogram."

Nyonya Devi berdiri, membawa Kirana ke Dara.

"Kamu mau gendong?"

Dara mengangguk, tidak bisa bicara karena air mata.

Untuk pertama kalinya... Dia menggendong anaknya. Kirana kecil... sangat kecil, tapi hangat dan hidup di pelukannya. Matanya terbuka, menatap Dara dengan tatapan yang polos tapi entah kenapa terasa mengenal.

"Hai, Kirana..." bisik Dara. "Mama di sini, sayang... mama tidak akan kemana-mana lagi..."

Kirana meraih jari Dara, menggenggamnya dengan kekuatan yang mengejutkan untuk bayi prematur. Dan dalam genggaman kecil itu, Dara merasakan... Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi.

Kedamaian yang sebenarnya.

1
Shen shandian luo
alur yg gak masuk akal sih sebenarnya
Dewi Sri
Lelah dan tidak setuju
N Wage
gak habis - habisnya😅
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Dede Mila
Abeh lah jadi nyt🫣🫣🫣🫣
Hikam Sairi
jangan lama lama balas dendam nya 🫵🫵
👻👻👻👻
Hikam Sairi
bagus 😈😈😈😈
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
gila sih
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
baru hidup tenang ada aja gangguan nya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
waduh siapa lagi ini😂
Akbar Aulia
Luar biasa
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Erchapram
Masih ada extra part, ditunggu ya... terima kasih.
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
krisis identitas dara
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bener bener insaf
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow tarik nafas bacanya thor
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kadang kita butuh waktu untuk memaafkan seseorang
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
kirana jempol rasa compeng ya nak😂
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
biasanya bayi masih di lindungi malaikat thor, aq percaya ini🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
bener dara seorang ibu akan lakukan demi anak-anak nya
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
deg degan thor, semoga lenna aman ya nggak meninggal aq kasian kl orang dah bertaubat malah meninggal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!