"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Mata Aydan
Pagi itu, suasana SMA High School terasa berbeda bagi Dayana. Jika biasanya ia melangkah menyusuri koridor dengan kepala tegak dan senyum menantang untuk menarik perhatian setiap pasang mata, kini ia berjalan dengan langkah yang lebih tenang.
Ada sisa-sisa kehangatan dari paviliun keluarga Al-Gazhi yang masih membekas di hatinya. Kejadian semalam, pertemuannya dengan Ameera, jilbab yang dipasangkan dengan lembut, hingga teguran dingin namun bermartabat dari Aydan setelah kecupan impulsif itu terus berputar di kepalanya seperti film tanpa akhir.
Di dalam kelas, Dayana duduk di bangkunya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia mengenakan seragamnya dengan lebih rapi hari ini, tidak lagi sengaja membuka kancing atas atau memperketat lekukannya. Rambutnya diikat rapi, meskipun kain pemberian Ameera semalam ia simpan dengan hati-hati di dalam tasnya, belum berani ia kenakan karena merasa belum pantas.
Sepanjang pelajaran Kimia dan Matematika, Dayana mendapati dirinya terus mencuri pandang ke arah pojok paling belakang. Di sana, Aydan tampak seperti biasa: tenang, fokus, dan seolah memiliki gravitasi sendiri yang membuatnya tidak terganggu oleh kebisingan sekitar. Aydan tidak sekalipun menoleh ke arah Dayana. Pria itu benar-benar memegang ucapannya semalam tentang menjaga jarak. Namun, bagi Dayana, jarak itu kini tidak terasa sebagai penghinaan, melainkan sebagai sebuah bentuk perlindungan yang sangat mahal harganya.
Kring!
Bel istirahat berbunyi, memecah konsentrasi para siswa. Kelas seketika riuh. Kay dan Leo langsung menghampiri meja Aydan, mengajak pria itu untuk pergi ke kantin atau sekadar membahas soal ban motor yang akan mereka ganti. Namun, sebelum Aydan sempat beranjak dari kursinya, sosok Dayana sudah berdiri di depan mejanya.
Leo dan Kay saling lirik, memberikan ruang dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Mereka masih ingat betul bagaimana Aydan membantai Dayana di perdebatan kelas sosiologi minggu lalu.
Dayana menarik napas panjang. Rasa malu akibat kejadian semalam masih ada, namun keinginannya untuk kembali ke rumah itu, untuk bertemu dengan sosok Ameera yang begitu damai, jauh lebih besar daripada gengsinya.
"Ay..." panggil Dayana pelan. Suaranya tidak lagi mengandung nada menggoda atau menantang. Suaranya terdengar tulus, hampir seperti sebuah permintaan tolong.
Aydan mendongak. Ia meletakkan pena di atas bukunya dan menatap Dayana. Tatapannya masih dingin, namun tidak ada kebencian di sana. Hanya ada kejujuran yang tajam.
"Iya, Dayana?" jawab Aydan singkat.
"Apa boleh... aku ke rumahmu lagi sore nanti?" tanya Dayana dengan jari-jari yang saling bertautan di depan tubuhnya. "Aku ingin bertemu Tante Ameera lagi. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, dan aku merasa... aku hanya bisa menemukan jawabannya di sana."
Keheningan sempat menyelimuti meja belakang itu selama beberapa detik. Kay dan Leo bahkan menahan napas, menunggu jawaban ketus apa yang akan keluar dari bibir "The Silent King" ini. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan mereka.
Aydan mengangguk sopan. Sebuah gerakan yang sangat minimalis namun memiliki makna yang dalam. "Tentu. Bunda juga tadi pagi menitipkan pesan agar aku menanyakan kabarmu. Datanglah setelah ashar."
Dayana merasakan beban di dadanya terangkat seketika. Sebuah senyum tulus merekah di bibirnya, senyum yang sangat berbeda dari senyum femme fatale yang biasa ia gunakan. "Terima kasih, Ay. Sampai jumpa nanti sore."
Sore itu, Jakarta sedang tidak terlalu macet. Dayana mengendarai mobilnya menuju kediaman Al-Gazhi dengan perasaan berdebar. Ia sengaja mengenakan pakaian yang jauh lebih sopan, kemeja lengan panjang yang longgar dan celana kain yang tidak membentuk lekuk tubuh. Di kursi penumpang sampingnya, terselip kain selendang pemberian Ameera semalam.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh aroma bunga melati yang sama. Aydan sedang berada di halaman depan, tampak sedang membersihkan rantai motor balapnya. Ia mengenakan kaus hitam polos yang basah oleh sedikit keringat, memperlihatkan otot lengannya yang kuat. Saat melihat mobil Dayana masuk, ia hanya memberikan anggukan kecil dan menunjuk ke arah pintu rumah dengan dagunya.
"Bunda sudah menunggu di dalam," ucap Aydan tanpa menghentikan pekerjaannya.
Dayana masuk ke dalam rumah dan disambut dengan pelukan hangat dari Ameera. "Masya Allah, Dayana datang lagi. Tante sudah buatkan camilan sehat untuk kita mengobrol."
Sore itu dihabiskan dengan percakapan yang sangat mendalam di teras belakang yang menghadap ke taman. Ameera tidak mulai dengan menceramahi Dayana tentang dosa atau neraka. Sebaliknya, Ameera mulai bercerita tentang masa mudanya.
"Dayana, kamu tahu tidak? Tante dulu dikenal sebagai si pemberontak di Jakarta," Ameera terkekeh, mengenang masa lalunya. "Tante dulu berpikir bahwa kebebasan adalah saat Tante bisa pergi ke mana saja dengan baju paling minim dan menjadi pusat perhatian. Tante merasa menang saat banyak pria memuja Tante."
Dayana mendengarkan dengan mata tidak berkedip. Ia tidak menyangka wanita seanggun ini memiliki masa lalu yang mirip dengannya.
"Lalu, apa yang membuat Tante berubah?" tanya Dayana.
"Seorang pria yang tidak pernah mau menatap Tante," Ameera melirik ke arah luar, di mana Liam, ayah Aydan baru saja pulang dan sedang menyalami Aydan di depan garasi. "Pria itu mengajarkan Tante bahwa Tante terlalu berharga untuk sekadar dipamerkan. Dia mencintai Tante bukan karena kulit Tante, tapi karena jiwa Tante yang ingin dia selamatkan."
Ameera memegang tangan Dayana. "Memakai hijab itu bukan soal menutupi kecantikan, Sayang. Tapi soal mengelola siapa yang boleh menikmatinya. Saat kamu menutup diri, kamu sedang berkata pada dunia: 'Hanya pria yang berani berjanji di depan Tuhan yang boleh melihat keindahanku'. Bukankah itu sebuah bentuk kedaulatan yang paling tinggi bagi seorang wanita?"
Dayana merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Air matanya menetes pelan. Selama ini di Eropa, ia diajarkan bahwa kebebasan adalah tentang "memperlihatkan". Namun di sini, di depan ibu Aydan, ia belajar bahwa kebebasan sejati adalah tentang menyimpan untuk yang berhak.
Menjelang maghrib, Aydan masuk ke dalam untuk mengambil minum. Ia berhenti sejenak saat melihat Dayana yang sedang mencoba mengenakan selendang di kepala dengan bantuan ibunya. Dayana tampak kesulitan, namun raut wajahnya sangat serius dan penuh tekad.
"Gimana, Ay? Cantik kan temanmu?" goda Ameera saat menyadari kehadiran putranya.
Aydan terdiam. Ia menatap Dayana yang kini kepalanya tertutup kain, membingkai wajah gadis itu dengan cahaya yang baru. Tidak ada lagi kesan nakal atau haus perhatian. Yang ada hanyalah seorang gadis yang tampak sangat tenang.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemuan mereka, Aydan tidak menunduk sepenuhnya. Ia menatap Dayana selama beberapa detik, lalu memberikan senyum tipis, sebuah senyum yang sangat langka yang membuat jantung Dayana seolah berhenti berdetak.
"Bagus," jawab Aydan singkat. "Sudah masuk waktu maghrib. Dayana, jika kau ingin belajar shalat juga, Bunda bisa membantumu di paviliun."
Dayana mengangguk mantap. "Iya, Ay. Aku mau."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, Dayana tidak hanya menemukan cara memakai jilbab yang benar. Ia menemukan sebuah keluarga, sebuah prinsip, dan mungkin... sebuah alasan untuk tetap tinggal dan berubah. Ia menyadari bahwa kedinginan Aydan selama ini adalah cara pria itu menjaganya agar tetap berharga, sampai saatnya tiba bagi Dayana untuk menemukan cahayanya sendiri.
Aydan berjalan menuju masjid samping rumah dengan langkah tegap, membisikkan doa dalam hati agar gadis yang dulu ia sebut "penghina aturan Tuhan" itu benar-benar menemukan jalan pulangnya di rumah ini. Perjalanan Aydan untuk menjaga Alif-nya yang baru, tampaknya baru saja dimulai.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍