NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musim Gugur, Kopi Pahit, dan Dua Pria di Garis Start

Montreal di bulan Oktober itu cantik banget, tapi juga agak menyiksa buat orang tropis kayak Sheilla. Daun-daun maple berubah jadi warna oranye dan merah kecokelatan, berserakan di trotoar jalanan Saint-Laurent Boulevard. Anginnya mulai "gigit" kulit, tapi Sheilla udah nggak kedinginan kayak dulu. Dia udah punya "mantel" mental yang jauh lebih tebal.

Dua tahun di Canada udah merubah Sheilla jadi sosok yang bener-bener beda. Dia bukan lagi karyawan paruh waktu di toko Pierre. Sekarang, dia punya studio florist sendiri namanya "L’Aube de Sheilla" (Fajar Sheilla). Studio kecil yang letaknya di pojokan gedung tua dengan jendela kaca besar itu jadi buah bibir di Montreal karena gaya rangkaian bunganya yang unik campuran antara keanggunan Eropa dan eksotisme bunga tropis yang dia datangkan khusus.

Sheilla sekarang adalah perempuan yang mandiri, yang bisa benerin keran wastafel sendiri, dan yang bahasa Perancis-nya udah luwes banget pas nawar harga bunga di pasar grosir.

--

"Sheilla, kalau kamu terus-terusan melamun natap mawar itu, mereka bakal layu karena grogi ditatap perempuan secantik kamu."

Suara berat dengan aksen lokal yang kental itu bikin Sheilla tersenyum. Dia nggak perlu nengok buat tahu kalau itu Alex. Alex adalah seorang fotografer komersial yang studionya tepat di seberang jalan. Cowok itu tinggi, rambutnya selalu agak acak-acakan, dan punya hobi aneh: fotoin Sheilla pas lagi sibuk merangkai bunga diam-diam.

"Alex, mawar nggak punya perasaan, jadi mereka nggak akan grogi," bales Sheilla sambil lanjut motong batang bunga.

Alex masuk ke studio, bawa dua cup besar Caramel Macchiato. Dia naruh satu di deket Sheilla. "Tapi aku punya perasaan, dan aku grogi tiap kali kamu nggak bales pesan aku semalem."

Sheilla ketawa kecil. "Maaf, aku ketiduran. Habis ngerjain dekor buat wedding di Old Port."

Alex nyandar di meja kayu besar Sheilla. Ada chemistry yang nyaman banget di antara mereka. Alex itu beda sama Adrian yang lembut banget, atau Ardhito yang dominan. Alex itu kayak angin musim panas; seru, penuh kejutan, tapi selalu tahu kapan harus berhenti biar nggak bikin Sheilla merasa "tercekik". Alex tahu soal masa lalu Sheilla sedikit dan dia sangat menghormati "spasi" yang Sheilla buat di hatinya.

"Nanti malam ada pameran galeriku. Dateng ya? Aku pajang satu foto favoritku... foto seorang florist yang lagi nangis pas denger lagu jazz di pinggir jalan," goda Alex.

Sheilla mukul bahu Alex pelan pakai kain lap. "Itu candid yang paling curang, Alex!"

--

Setelah Alex pergi, Sheilla narik napas dalam. Dia ngerasa hidupnya udah stabil. Sampai sore itu, saat lonceng di pintu studionya bunyi suara yang biasanya dia suka, tapi kali ini bikin bulu kuduknya meremang.

Seorang pria masuk. Pakai trench coat warna hitam, badannya lebih berisi dibanding terakhir mereka ketemu, dan mukanya... mukanya bawa semua kenangan buruk yang udah Sheilla kubur dalem-dalem.

"Ardhito?"

Pria itu diem di ambang pintu. Matanya merah, kayak orang yang nggak tidur berhari-hari cuma buat nyari alamat ini. Ardhito nggak langsung ngomong. Dia cuma natap Sheilla dengan tatapan yang campur aduk: rindu, nyesel, dan kagum.

"Kamu beneran di sini, Sheil," suara Ardhito serak.

Sheilla meletakkan pisau bunganya. Dia kaget, ya. Tapi anehnya, dia nggak gemeteran. Rasa takutnya udah nggak ada. Yang ada cuma rasa... heran. "Gimana kamu bisa tahu tempat ini?"

"Aku cari kamu lewat Satria, lewat yayasan, bahkan aku sewa orang buat nyari tahu catatan imigrasimu," Ardhito melangkah maju, tapi Sheilla otomatis mundur satu langkah. Ardhito berhenti. Dia sadar batasan itu masih ada.

"Sheil, aku udah berubah. Aku udah selesai sama tugasku di Afrika. Aku... aku nggak bisa hidup tenang di sana karena tiap kali aku nutup mata, yang aku lihat cuma muka kamu pas aku tampar dulu. Aku pengen nebus semuanya. Aku mau kita mulai dari nol di sini. Aku bakal beli rumah di sini, aku bakal dukung studionu, aku..."

"Cukup, Dhito," potong Sheilla dingin. "Kamu jauh-jauh ke Canada cuma buat bilang itu? Kamu pikir hidupku ini tombol restart?"

--

Ardhito nggak menyerah. Selama seminggu ke depan, dia ada di Montreal. Dia nginep di hotel deket studio Sheilla. Tiap pagi, dia kirim kopi tapi Sheilla selalu buang karena dia cuma mau minum kopi dari Alex. Tiap siang, dia kirim makanan mewah tapi Sheilla lebih milih makan roti bareng pegawainya.

Ardhito mulai ngelakuin apa yang nggak pernah dia lakuin dulu: Berjuang. Dia nunggu di bawah hujan salju awal musim cuma buat nawarin Sheilla tumpangan pulang. Dia nyoba bantuin angkut kardus bunga, tapi selalu ditolak sama Sheilla.

Sampai suatu sore, Ardhito ngelihat Sheilla keluar studio sambil ketawa lepas bareng Alex. Alex ngerangkul bahu Sheilla, dan Sheilla nggak menolak. Sheilla kelihatan sangat... ringan.

Ardhito ngerasa hatinya kayak diiris sembilu. Itu posisi yang seharusnya milik dia kalau aja dia nggak jadi monster dulu. Ardhito nyamperin mereka.

"Sheilla, bisa bicara sebentar? Sendiri?" tanya Ardhito, matanya natap Alex dengan tajam.

Alex, yang emang dasarnya tenang, cuma natap Sheilla seolah nanya, "Kamu oke?"

Sheilla ngangguk ke Alex. "Bentar ya, Lex. Tunggu di kafe sebelah."

--

Sekarang tinggal Sheilla dan Ardhito di trotoar yang mulai gelap.

"Siapa dia, Sheil? Pengganti Adrian?" tanya Ardhito dengan nada yang hampir terdengar kayak Ardhito yang dulu posesif.

Sheilla tersenyum pahit. "Jangan bawa-bawa nama Adrian. Dan Alex bukan pengganti siapa-siapa. Dia adalah orang yang nemuin aku pas aku udah jadi debu, dan dia biarin aku jadi diri aku sendiri."

"Aku bisa kasih kamu lebih dari dia, Sheil! Aku punya segalanya sekarang. Aku bakal hargai kamu, aku janji nggak akan kasar lagi!" Ardhito megang tangan Sheilla, memohon.

Sheilla narik tangannya dengan tegas. "Dhito, dengerin aku baik-baik. Kamu mau tahu kenapa aku nggak bisa balik sama kamu? Bukan karena aku masih benci. Aku udah maafin kamu lama banget. Tapi karena pas aku lihat kamu, yang aku inget cuma versi diri aku yang paling menyedihkan. Versi aku yang nggak punya harga diri."

Sheilla natap mata Ardhito. "Sedangkan pas aku sama Alex, atau pas aku sendirian di studio ini, aku ngelihat versi diri aku yang paling aku suka. Aku nggak butuh ditebus, Dhito. Aku udah nebus diri aku sendiri."

Ardhito terdiam. Air matanya jatuh. Dia baru sadar kalau musuh terbesarnya bukan Alex, bukan Adrian, tapi bayangan dirinya sendiri yang udah dia tanam di ingatan Sheilla.

"Pulanglah, Dhito. Cari kebahagiaanmu sendiri. Jangan cari di aku, karena aku udah bukan 'milik' siapa-siapa lagi, kecuali milik aku sendiri," kata Sheilla final.

--

Sheilla jalan ninggalin Ardhito yang masih berdiri kaku di bawah lampu jalan Montreal. Dia masuk ke kafe sebelah, di mana Alex udah nunggu sambil mainin kamera.

"Udah beres urusannya?" tanya Alex lembut, sambil geser hot chocolate buat Sheilla.

Sheilla duduk, narik napas lega. "Udah. Bener-bener udah beres."

"Jadi, pameran fotoku nanti malam... kamu bakal dateng sebagai florist-ku, atau sebagai... seseorang yang mau nyoba nulis bab baru sama aku?" Alex nanya dengan nada bercanda, tapi matanya serius banget.

Sheilla natap Alex. Dia inget Adrian, dia inget luka-lukanya, tapi dia juga ngerasa kehangatan yang nyata di sini. Dia nggak mau buru-buru, tapi dia nggak mau lari lagi.

"Aku dateng sebagai Sheilla," jawabnya sambil tersenyum. "Dan aku rasa, Sheilla yang ini pengen banget lihat foto-foto bagus malam ini."

Alex ketawa, meraih tangan Sheilla dan ngecup punggung tangannya dengan sopan. Di luar, salju mulai turun lagi, nutupin jejak-jejak sepatu Ardhito yang perlahan menjauh menuju bandara.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!