Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Manajer restoran datang setengah berlari, peluh dingin membasahi dahinya. Ia segera membungkuk dalam. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Pratama. Ada yang bisa saya bantu? Apa ada ketidaknyamanan?" tanya sang manajer menunduk takut.
Aditya menunjuk pelayan wanita itu dengan dagunya. "Pecat dia. Sekarang juga. Secara tidak terhormat. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di industri jasa mana pun yang berafiliasi dengan Pratama Group."
Si pelayan wanita langsung luruh ke lantai, berlutut di samping meja mereka. "Tolong, Tuan! Saya butuh pekerjaan ini! Saya khilaf... saya pikir wanita itu hanya..." ucap pelayan itu terpotong.
"Hanya apa? Hanya pelayan?" Aditya memotong dengan sengit. "Ingat ini baik-baik. Siapa pun yang bersamaku adalah tanggung jawabku. Merendahkannya berarti mencari masalah denganku."
Manajer restoran, yang tahu betul bahwa satu kata dari Aditya bisa menghancurkan bisnis mereka, segera memanggil petugas keamanan internal.
"Ambil seragam dan kartu pengenalnya sekarang!" perintah sang manajer pada petugas keamanan. "Kamu dipecat detik ini juga tanpa pesangon karena pelanggaran etika berat terhadap tamu VIP. Keluar!"
Pelayan itu diseret keluar di depan mata para sosialita dan pengusaha yang tadi ikut mencibir.
" tolong..hiks hiks , jangan pecat saya, saya khilaf " teriak nya, ia meronta-ronta tidak mau dibawa paksa oleh satpam.
" ini salahmu sendiri, baru beberapa hari bekerja,sudah banyak tingkah" seru satpam menatap remeh pelayan baru itu, pelayan yang berparas cantik namun sangat sombong,
"Suasana restoran yang tadinya penuh bisikan sinis kini menjadi hening. Mereka yang tadi merendahkan Nadine kini menunduk, takut akan menjadi sasaran kemarahan Aditya selanjutnya.
Setelah kegaduhan itu berakhir, Aditya kembali duduk tidak jadi keluar, mengingat makanan di atas meja masih ada . Napasnya masih terlihat berat karena emosi. Namun, begitu matanya menatap Nadine, sorot matanya langsung melembut.
"Maafkan aku, Mona," ucap Aditya pelan. "Aku tidak bisa membiarkan orang sepertinya menghirup udara yang sama denganmu." lanjut nya, Aditya merasa bersalah karena mungkin ia terlihat menyeramkan di mata Nadine.
Nadine menatap tangan Aditya yang masih terkepal di atas meja. Nadine ingin menyentuh tangan itu namun ia menepisnya, karena takut kalau Aditya meremehkan dirinya karena terlalu agresif.
"Terima kasih, Tuan Muda. Tapi... Anda tidak perlu sekeras itu. Saya sudah biasa dihina," bisik Nadine sedih.
Aditya membalikkan telapak tangannya, meraih tangan Nadine yang berada di atas meja, ia menggenggam jari-jari Nadine. "Justru itu masalahnya. Kamu sudah terlalu sering dihina, dan aku... entah kenapa, aku merasa punya hutang besar untuk melindungimu seumur hidupku."
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar penuh semangat. "Itu baru Ayahku! Skor untuk pelayan jahat 0.
Skor untuk Ayah 1000!
Ibu, Noah baru saja memasukkan nama pelayan itu ke daftar hitam perusahaan .Dia tidak akan bisa bekerja di tempat mewah lagi, ternyata dia memang pernah pelayan jahat suka merendahkan klien lainnya."
Nadine tersenyum di balik maskernya. Ia merasa, meskipun wajahnya masih dianggap jelek oleh dunia, di mata Aditya, ia adalah sosok yang layak diperjuangkan.
Mereka langsung kembali ke perusahaan setelah selesai makan siang, di kantor, tidak ada pergerakan apapun dari Laura sampai jam pulang selesai... Nadine kembali menaiki mobil bersama Aditya untuk pulang ke rumah utama, namun... Nadine izin untuk pergi ke kontrakannya, guna bertemu dengan keluarganya.
Mobil mewah itu melaju tenang menembus kemacetan Jakarta yang mulai merayap sore itu. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya terdengar deru mesin halus. Nadine duduk di kursi belakang bersama Aditya, jarak mereka cukup dekat hingga aroma maskulin Aditya sesekali menyapa indra penciuman Nadine.
Tiba-tiba, ponsel di tas Nadine bergetar. Sebuah nada dering khusus yang membuat jantungnya berdesir. Itu panggilan video dari Noah. Biasanya Noah tahu kapan harus menelepon, tapi mungkin kali ini ada sesuatu yang mendesak.
Nadine ragu sejenak, melirik Aditya yang sedang fokus pada tabletnya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan putranya.
"Maaf, Tuan Muda... Saya harus mengangkat ini. Sebentar saja," bisik Nadine.
Aditya hanya mengangguk tanpa menoleh. "Silakan."
Nadine menggeser layar, dan seketika wajah tampan nan cerdas Noah muncul di layar. Anak itu sedang berada di kamarnya, mengenakan kaos rumahan favoritnya.
"Ibu! Ibu sudah di jalan pulang?" suara cempreng namun tegas Noah terdengar dari speaker ponsel.
Nadine tersenyum di balik maskernya, matanya menyipit penuh kasih sayang. "Iya, Sayang. Ibu sedang di mobil. Ada apa? Kamu sudah makan?"
"Sudah, Bu. Noah cuma mau bilang, Noah ... Noah rindu Ibu. ibu mau kan pulang malam ini, ?, Noah ingin dipeluk ibu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca, bagaimanapun juga usia Noah masih sangatlah kecil, walaupun cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, tetapi sifat manjanya masih sangat terlihat, apalagi , dari lahir, Noah tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Iya, Nak. Ibu usahakan cepat sampai. Kamu jangan lupa shalat ya," jawab Nadine lembut.
Di sampingnya, gerakan tangan Aditya di atas tablet terhenti. Ia menoleh perlahan, matanya membelalak menatap layar ponsel Nadine yang menampilkan wajah seorang anak laki-laki berusia sekitar 4-5 tahun.
"Ibu?" gumam Aditya lirih, suaranya mengandung nada tidak percaya.
Nadine tersentak, ia segera berpamitan pada Noah dan mematikan sambungan teleponnya. Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat kaku.
"Itu... anakmu?" tanya Aditya, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari sebelumnya.
Nadine menunduk, meremas ponselnya. "Iya, Tuan Muda. Itu putra saya, Noah."
Aditya terdiam cukup lama. Ada sepercik perasaan yang sulit ia definisikan di dalam dadanya. Kecewa? Mungkin. Selama ini ia mengira asistennya ini, meskipun berpenampilan kusam dan kampungan, adalah seorang gadis muda karena perawakannya yang mungil dan suaranya yang jernih. Ada bagian dari dirinya yang merasa terpukul mengetahui kenyataan bahwa wanita yang mulai menarik perhatiannya ini sudah memiliki keluarga.
" ehmmm"
Aditya berdehem, mencoba mengembalikan kewibawaannya meski hatinya bergejolak. "Aku tidak tahu kamu sudah menikah. Kamu terlihat... masih sangat muda."
Nadine tersenyum getir di balik masker. "Hidup tidak selalu berjalan sesuai urutan yang kita inginkan, Tuan Muda. Noah adalah segalanya bagi saya."
"Lalu... di mana ayahnya?" tanya Aditya lagi. Pertanyaan itu keluar begitu saja, didorong oleh rasa ingin tahu yang tidak tertahankan.
Nadine terdiam sejenak, menatap ke luar jendela melihat lampu-lampu jalanan yang mulai menyala. "Ayahnya... dia ada, tapi dia tidak ingat kalau kami ada. Bagi Noah, ayahnya adalah pahlawan yang sedang pergi jauh."
Aditya merasakan denyut aneh di kepalanya. Jawaban itu terasa sangat familiar, seolah-olah menyentuh luka lama yang belum kering. Ia bergeser sedikit, mencoba bersikap biasa saja meski ada rasa sesak yang aneh.
"Maaf jika aku terlalu mencampuri urusan pribadimu," ucap Aditya kembali dingin, meski matanya terus melirik foto profil WhatsApp Nadine yang sempat terlihat tadi, foto siluet Nadine yang memakai cadar sedang memeluk seorang anak kecil.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda," jawab Nadine tenang.
Aditya mencoba kembali fokus pada tabletnya, tapi pikirannya kacau. Ia merasa cemburu pada pria yang menjadi ayah dari anak itu, sekaligus merasa bersalah karena merasa kecewa. “Kenapa aku harus kecewa? Dia hanya asistenku,” batinnya kesal pada diri sendiri.
"Siapa nama suamimu?" tanya Aditya lagi, kali ini lebih tajam.
Nadine menoleh, menatap mata Aditya dengan keberanian yang tenang. "Namanya tidak penting, Tuan Muda. Yang penting adalah saya di sini untuk bekerja dan membantu Anda. Apakah status saya sebagai seorang ibu mengganggu profesionalisme saya?"
Aditya terpaku. Ia melihat kilatan perlindungan di mata Nadine saat membicarakan anaknya. "Tidak. Sama sekali tidak. Justru... itu menjelaskan kenapa kamu begitu tangguh."
Ia membuang muka ke arah jendela, bergumam dalam hati, "Beruntung sekali pria yang memilikimu, Mona. Tapi kenapa aku merasa pria itu adalah pengecut karena membiarkanmu bekerja sekeras ini dengan penampilan seperti ini?"
Tanpa ia sadari, tangannya mengepal di atas pangkuannya. Ia bersumpah akan mencari tahu siapa pria yang telah menyia-nyiakan wanita sehebat Nadine.