Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Pertemuan Nadya dan Clarissa
Pertemuan di ruang tamu itu berlangsung cukup formal namun penuh ketegangan yang halus. Clarissa, dengan kecerdasan dan otoritasnya sebagai Manajer Keuangan, menjelaskan secara mendetail tentang posisi Erian. Ia menegaskan bahwa meskipun tim audit pusat sedang bergerak, ia telah menggunakan wewenangnya untuk melakukan investigasi paralel.
"Nad, aku sudah kumpulkan data awal bersama tim IT-ku. Setidaknya untuk saat ini, aku bisa pastikan 70% Erian tidak bersalah. Ada jejak digital yang dipalsukan. Aku datang ke sini karena aku ingin kamu tetap percaya pada suamimu, jangan biarkan isu ini menghancurkan kalian," ucap Clarissa tegas, matanya yang biru menatap Nadya dengan tulus.
Nadya tampak sedikit lega, meski guratan kesedihan masih ada di wajahnya. Namun, tepat saat suasana mulai mencair, Stefani keluar dari arah dapur. Ia melangkah dengan gaya yang dibuat-buat, mencoba mencuri perhatian.
"Oh, ada tamu ya? Maaf memotong," sela Stefani dengan nada suara yang agak tinggi. Ia kemudian berpaling ke arah Nadya tanpa mempedulikan kehadiran Clarissa. "Nad, tadi soal bisnis butik yang kita bahas... bagaimana kelanjutannya? Aku rasa kita harus stok barang lebih banyak buat live besok, biar cuannya makin kencang."
Nadya mencoba tersenyum canggung. "Nanti kita bahas lagi ya, Stef. Aku lagi ada tamu."
Stefani hanya mengedikkan bahu, lalu berjalan melewati mereka menuju kamarnya di bagian belakang rumah. Sebagai asisten sekaligus sahabat yang diminta Nadya tinggal di sana agar urusan pekerjaan dan live streaming lebih praktis, Stefani merasa punya kuasa di rumah itu.
Namun, insting tajam Clarissa sebagai seorang manajer yang terbiasa menghadapi berbagai tipe manusia—terutama mereka yang pandai memanipulasi angka dan keadaan—langsung bekerja. Clarissa merasakan aura yang sangat tidak enak dari wanita itu. Cara Stefani bicara, tatapan matanya yang licin, dan bagaimana dia mencoba mendominasi Nadya membuat Clarissa menyimpulkan satu hal: wanita ini adalah ular berbisa.
Begitu pintu kamar Stefani tertutup rapat dan langkah kakinya tak lagi terdengar, Clarissa mencondongkan tubuhnya ke arah Nadya. Ia bertanya dengan suara yang sangat lirih, nyaris berbisik, namun terdengar sangat serius.
"Siapa dia, Nad?"
Nadya tampak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Oh, itu Stefani, Clar. Dia asistenku, sekaligus sahabatku. Dia tinggal di sini karena aku yang minta, supaya kalau ada jadwal live atau urusan butik mendadak, dia bisa langsung bantu."
Clarissa menyipitkan mata birunya, menatap arah kamar Stefani dengan penuh selidik. "Kamu yakin dia bisa dipercaya, Nad? Aku tidak kenal dia, tapi instingku bilang dia bukan wanita baik-baik. Hati-hati, terkadang musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang makan di satu meja dengan kita."
Malam itu, atmosfer di koridor hotel kembali terasa bergetar saat langkah kaki Clarissa mendekati kamar Erian. Penampilannya kali ini benar-benar berbeda dari malam sebelumnya; ia tampak lebih segar namun tetap mempertahankan aura sensual yang menjadi ciri khasnya.
Ia mengenakan jaket spandex hitam yang sangat ketat, membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di baliknya, ia mengenakan sebuah dress ketat, mini, dan berbahan tipis yang menempel seperti kulit kedua, menonjolkan setiap lekukan pinggul dan dadanya yang kencang. Jika semalam ia membawa aroma bunga yang berat dan memabukkan, malam ini ia memilih perpaduan parfum citrus yang tajam dan bubble gum yang manis segar. Aroma itu memberikan kesan nakal, muda, namun tetap menggoda selera pria mana pun.
Rambut hitam kemerahannya yang indah ia sibakkan seluruhnya ke pundak samping, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa penghalang.
Tok... tok... tok...
Clarissa mengetuk pintu kamar hotel Erian dengan irama yang tenang. Begitu pintu terbuka, ia langsung disambut oleh wajah Erian yang tampak masih kelelahan namun matanya tak bisa berbohong saat memindai penampilan Clarissa dari atas ke bawah.
"Erian... boleh aku masuk?" tanya Clarissa dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk, membawa kesegaran aroma bubble gum yang langsung memenuhi ruangan.
Ia berbalik dan menatap Erian dengan mata birunya yang berkilat. "Aku baru saja dari rumah Nadya tadi siang, Er. Dan aku membawa kabar penting... bukan cuma soal laporan audit, tapi soal 'ular' yang dipelihara istrimu di rumah itu."
Erian menutup pintu perlahan, masih terpaku melihat bagaimana dress tipis itu mencetak jelas bentuk tubuh Clarissa saat terkena cahaya lampu kamar. "Maksudmu Stefani? Kenapa dengan dia, Clar?"
Clarissa melepas jaket spandex-nya, memperlihatkan bahu dan dress tipisnya yang seolah transparan di bawah cahaya temaram, lalu duduk di tepi ranjang dengan gaya menggoda. "Ada yang nggak beres sama perempuan itu, Er. Instingku jarang salah. Tapi sebelum kita bahas si asisten itu..." Clarissa menjeda kalimatnya, menatap Erian dengan penuh gairah, "...aku butuh hadiah karena sudah bekerja keras seharian ini mencari bukti buat kamu."
Setelah mengalami pergumulan dan badai gairah yang jauh lebih liar dan menuntut dari malam sebelumnya mereda, suasana kamar hotel itu kembali menjadi tenang dan penuh dengan kepulan asap. Di bawah temaram lampu yang mulai meredup, dua tubuh polos yang kini hanya tertutupi selembar selimut putih itu bersandar pada dipan ranjang.
Erian dan Clarissa masing-masing memegang sebatang rokok. Asap mengepul tebal di antara mereka, menciptakan suasana intim yang melampaui sekadar hubungan fisik. Clarissa menyesap rokoknya dalam-dalam, membiarkan nikotin menenangkan sarafnya sebelum ia mulai bicara serius.
"Er... aku memang bercinta denganmu, tapi ya that's all... aku nggak ada niatan jahat di balik itu semua. Aku cuma rindu kamu, dan aku ingin jadi pelarianmu," ucap Clarissa lirih, menatap ujung rokoknya yang membara.
Ia kemudian menoleh ke arah Erian dengan tatapan mata biru yang kini berubah sangat tajam dan serius. "Tapi... aku melihat asisten Nadya itu lain. Semoga saja instingku ini salah, Er... Tapi instingku mengatakan, dia itu ular berbisa."
Erian mengerutkan kening, menghentikan hisapan rokoknya sejenak. "Maksudmu Stefani? Nadya sangat mempercayainya, Clar. Dia sudah seperti saudara bagi Nadya."
Clarissa menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang mendalam. "Justru itu yang berbahaya. Dia tidak bermaksud menggodamu atau ingin bercinta denganmu seperti aku. Niatnya jauh lebih gelap. Instingku mengatakan dia ingin menghancurkan kalian berdua, kamu dan Nadya. Dia tipe orang yang akan tersenyum di depanmu sambil memegang pisau di belakang punggung."
Clarissa kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara. "Perempuan itu punya sorot mata yang licik. Caranya bicara soal bisnis butik dan bagaimana dia mendominasi Nadya tadi siang... itu bukan cara kerja seorang asisten yang tulus. Kamu harus hati-hati, Er. Sambil aku menyelidiki tim audit, kamu juga harus mulai pasang telinga di rumahmu sendiri. Jangan sampai dia bergerak lebih jauh sebelum kita tahu apa motif sebenarnya."
Erian terdiam seribu bahasa. Peringatan dari Clarissa—wanita yang sangat ahli membaca karakter orang di dunia keuangan—bukanlah sesuatu yang bisa ia remehkan. Di satu sisi, ia merasa telah mengkhianati Nadya malam ini, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa ancaman yang jauh lebih besar mungkin sedang mengintai istrinya di dalam rumah mereka sendiri.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭