Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Rekaman itu diputar ulang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Setiap jeda, setiap helaan napas, setiap nada dalam suara direktur lama dan Arsen dianalisis tanpa ampun.
“Ini tidak terdengar seperti percakapan spontan,” ujar Alya pelan.
Bima menyipitkan mata. “Maksudmu?”
“Seperti… mereka sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Ini bukan awal. Ini lanjutan.”
Kalimat terakhir dalam rekaman masih menggema di kepala mereka.
Selama mereka saling menyalahkan, kita aman.
Aman dari siapa?
Aman untuk apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu lebih berbahaya daripada tuduhan langsung.
Pagi itu, suasana di kantor pusat terasa berbeda. Terlalu tenang. Terlalu tertata. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Alya berjalan berdampingan dengan Bima memasuki lift khusus direksi. Tatapan karyawan mengikuti mereka—bukan dengan gosip terbuka, tapi dengan rasa ingin tahu yang tidak terucap.
Berita kemarin memang tidak eksplisit, tapi cukup untuk memancing spekulasi.
Di ruang kerja utama, Bima langsung memanggil tim IT forensik internal.
“Kita butuh analisis metadata rekaman ini,” katanya tegas. “Tanggal asli. Perangkat yang digunakan. Apakah ada manipulasi.”
Tim itu bekerja cepat. Tidak ada ruang untuk kebocoran.
Alya berdiri di dekat jendela besar, memandang kota di bawah. Ia tidak lagi merasa seperti pion dalam permainan orang lain. Tapi ia sadar—semakin dalam mereka menggali, semakin besar risiko yang akan mereka hadapi.
Beberapa jam kemudian, hasil awal keluar.
“File ini bukan editan kasar,” jelas kepala IT. “Strukturnya utuh. Tapi…”
“Tapi?” tanya Bima tajam.
“Tanggal pembuatannya baru. Dua minggu lalu.”
Ruangan mendadak hening.
“Dua minggu?” ulang Alya perlahan.
“Itu berarti percakapan itu baru terjadi,” gumam Bima.
Bukan lima belas tahun lalu.
Bukan bagian dari masa lalu.
Tapi baru.
Artinya seseorang masih memainkan konflik ini secara aktif.
Siang harinya, Arsen muncul di kantor tanpa pemberitahuan.
Ia berjalan masuk ke ruang rapat utama seolah tidak ada ketegangan yang menggantung di udara.
“Saya dengar kalian mencari arsip lama,” katanya ringan sambil duduk.
Bima tidak membalas senyum itu.
“Kami juga menemukan sesuatu yang lebih baru,” jawabnya datar.
Tatapan Arsen berubah nyaris tak terlihat.
Alya memperhatikan detail kecil itu.
“Kau tahu tentang direktur lama itu?” tanya Alya langsung.
Arsen menyandarkan tubuhnya. “Aku tahu banyak hal.”
“Termasuk percakapan dua minggu lalu?” lanjut Alya tanpa ragu.
Keheningan jatuh.
Untuk sepersekian detik, topeng tenang Arsen retak.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
“Aku tidak mengerti maksudmu,” jawabnya akhirnya.
“Kami punya rekaman,” kata Bima.
Arsen berdiri perlahan.
“Kalau kalian ingin menuduhku, pastikan dulu bukti kalian sempurna.”
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak emosional.
Justru terlalu tenang.
Dan itu membuat Alya semakin yakin—ia memang tahu sesuatu.
Setelah Arsen pergi, Alya duduk kembali dengan perasaan campur aduk.
“Dia tidak menyangkal,” katanya pelan.
“Dia juga tidak mengakui,” jawab Bima.
Alya menatap meja kayu di hadapannya. “Bagaimana kalau… rekaman itu memang asli, tapi bukan dia yang mengirimnya?”
Bima menoleh.
“Bagaimana kalau ada yang sengaja mempertemukan mereka? Atau menjebak mereka dalam percakapan itu?”
Logika itu membuat semuanya menjadi lebih rumit.
Jika Arsen terlibat, mengapa berbicara terbuka seperti itu?
Jika ia tidak terlibat, siapa yang ingin menjatuhkannya bersamaan dengan keluarga Wijaya?
Permainan ini tiba-tiba memiliki lebih dari dua sisi.
Sore menjelang ketika Pak Rahmat menelepon.
“Ada sesuatu yang belum kalian lihat di arsip lama,” katanya pelan.
Mereka langsung menuju ruang arsip lagi.
Di antara tumpukan dokumen tambahan, ada satu berkas yang sebelumnya tidak dimasukkan ke dalam map utama.
Surat pengunduran diri direktur lama itu.
Tanggalnya… dua minggu setelah proyek merger gagal.
Alasannya: kesehatan.
Tapi di bagian bawah surat itu, ada catatan tangan kecil.
Sebuah inisial.
A.R.
Alya menatap huruf itu lama.
“Arsen Rahman?” gumamnya.
“Atau orang lain dengan inisial yang sama,” jawab Bima hati-hati.
Namun waktu dua minggu setelah kegagalan proyek dan dua minggu sebelum rekaman terbaru terasa seperti pola yang terlalu kebetulan.
Benang merah mulai terlihat.
Dan semakin terlihat, semakin berbahaya.
Malam turun dengan suasana yang jauh lebih berat dari sebelumnya.
Di mansion, Alya duduk sendirian di ruang kerja pribadi.
Ia memutar ulang rekaman itu dengan volume pelan.
Ia tidak lagi hanya mendengar kata-kata.
Ia mendengar emosi.
Direktur lama terdengar gelisah.
Arsen terdengar… terkendali.
Terlalu terkendali.
Seolah-olah ia bukan orang yang sedang diancam, tapi orang yang memegang kendali.
Pintu terbuka pelan. Bima masuk.
“Aku memeriksa laporan keuangan lima belas tahun lalu,” katanya. “Ada transaksi yang tidak biasa. Konsultan eksternal yang dibayar sebelum merger gagal.”
“Nama?” tanya Alya cepat.
Bima menatapnya dalam.
“Perusahaan cangkang. Tapi pemilik akhirnya terlacak.”
“Siapa?”
Bima menarik napas pelan.
“Paman Arsen.”
Dunia terasa berhenti beberapa detik.
Kalau benar pihak keluarga Arsen juga mendapat keuntungan dari kegagalan merger…
Maka konflik ini mungkin tidak sesederhana balas dendam.
Mungkin sejak awal, ada yang sengaja menciptakan kegagalan itu.
Dan membiarkan dua keluarga saling membenci… agar mereka tidak pernah menyelidiki lebih jauh.
Alya berdiri perlahan.
“Kalau ini benar,” katanya pelan, “maka Arsen mungkin tidak hanya ingin menghancurkan kita.”
Bima menatapnya.
“Mungkin dia sedang membersihkan jejak.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang benar atau salah.
Tapi siapa yang sebenarnya tahu seluruh cerita.
Dan siapa yang selama ini berpura-pura tidak tahu.
Di luar, angin malam kembali berhembus.
Tidak ada kilat.
Tidak ada hujan.
Namun suasana terasa lebih mencekam dari badai mana pun.
Karena sekarang, mereka tidak hanya menghadapi musuh di depan mata.
Mereka menghadapi jaringan rahasia yang mungkin sudah berjalan lebih dari lima belas tahun.
Dan jika satu simpul ditarik—
Seluruh jaringan itu bisa runtuh.
Atau…
menyeret mereka ikut jatuh bersamanya.
Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti kemungkinan.
Ia terdengar seperti peringatan.
Keheningan memenuhi ruang kerja mansion. Lampu temaram memantulkan bayangan panjang Alya dan Bima di lantai marmer, seolah ada dua versi diri mereka yang berdiri—yang satu ingin terus menggali, yang lain mulai menyadari harga yang harus dibayar.
Bima akhirnya memecah diam.
“Kalau jaringan ini lebih besar dari Arsen, maka kita tidak hanya sedang membuka konflik lama,” katanya pelan. “Kita sedang membuka luka yang sengaja ditutup rapat.”
Alya menatap meja, jemarinya menyentuh ringan permukaan kayu yang dingin.
“Dan luka yang ditutup tanpa dibersihkan,” jawabnya lirih, “biasanya membusuk.”
Keesokan paginya, sesuatu berubah.
Saham perusahaan turun tipis. Tidak drastis. Tidak panik.
Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa pasar mulai mencium aroma ketidakstabilan.
Berita baru muncul lagi.
Kali ini bukan tentang konflik keluarga.
Melainkan tentang audit internal yang “dikabarkan” sedang dilakukan secara diam-diam.
Tidak ada sumber jelas.
Tapi informasi itu terlalu spesifik untuk sekadar spekulasi.
“Mereka sedang mendorong kita ke sudut,” ujar Alya sambil membaca berita itu di tablet.
Bima mengangguk. “Kalau kita menyangkal, kita terlihat defensif. Kalau kita mengakui, mereka akan bertanya kenapa.”
“Dan kalau kita diam?”
“Mereka akan mengisi kekosongan itu dengan narasi mereka sendiri.”
Permainan ini bukan lagi soal dokumen.
Ini perang persepsi.
Siang hari, rapat darurat dewan direksi digelar.
Atmosfernya lebih tegang dari sebelumnya.
Beberapa anggota mulai terang-terangan mempertanyakan stabilitas kepemimpinan Bima.
“Pasar tidak menyukai ketidakpastian,” salah satu dari mereka berkata.
“Pasar juga tidak menyukai kebohongan,” jawab Alya tenang, membuat beberapa kepala menoleh padanya.
Ia tidak berbicara sebagai istri CEO.
Ia berbicara sebagai seseorang yang tahu mereka sedang berdiri di atas tanah yang retak.
“Kami tidak akan menyangkal bahwa ada investigasi terhadap proyek lama,” lanjutnya. “Tapi kami yang memulainya.”
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Bima menoleh cepat, terkejut sesaat—namun tidak memotongnya.
Alya melanjutkan dengan suara stabil.
“Jika ada kesalahan di masa lalu, kami yang akan membukanya. Bukan pihak luar yang memiliki agenda tersembunyi.”
Langkah itu berani.
Dan berbahaya.
Namun dalam permainan persepsi, siapa yang berbicara lebih dulu sering kali menguasai arah cerita.
Arsen yang duduk di ujung meja memperhatikan tanpa ekspresi.
Namun tatapannya kali ini berbeda.
Lebih tajam.
Lebih waspada.
Sore harinya, tekanan meningkat.
Seseorang membocorkan potongan kecil dari dokumen lama ke media online anonim.
Tidak cukup untuk menghancurkan.
Tapi cukup untuk memicu opini publik.
Dan yang paling mengganggu—
Potongan itu hanya berasal dari sisi keluarga Wijaya.
Tidak ada satu pun yang menyinggung transaksi mencurigakan dari pihak keluarga Arsen.
Selektif.
Terarah.
Alya menatap layar ponsel dengan napas tertahan.
“Dia sedang membentuk musuh tunggal,” katanya pelan.
Bima berjalan mendekat. “Supaya saat semua runtuh, hanya satu pihak yang disalahkan.”
“Dan dia berdiri sebagai korban.”
Keheningan turun lagi.
Namun kali ini bukan hanya tentang kebenaran.
Ini tentang strategi yang dirancang bertahun-tahun.
Malam itu, sebuah pesan anonim masuk ke email pribadi Alya.
Tanpa nama.
Tanpa tanda tangan.
Hanya satu kalimat:
Jika kalian ingin tahu siapa yang benar-benar memulai kebocoran lima belas tahun lalu, periksa laporan perjalanan luar negeri bulan April tahun itu.
Alya membaca ulang pesan itu beberapa kali.
“April…” gumamnya.
Bima segera membuka arsip digital lama.
Dan di sana, tercatat sesuatu yang tidak pernah mereka perhatikan sebelumnya.
Ayah Bima dan ayah Arsen tercatat berada di kota yang sama—bukan untuk rapat merger.
Melainkan untuk bertemu seorang investor asing yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi.
Nama investor itu membuat jantung Alya berdetak lebih cepat.
Perusahaan investasi tersebut ternyata terhubung dengan perusahaan cangkang yang menerima dana sebelum merger gagal.
Lingkaran itu mulai terlihat.
Dan semakin terlihat, semakin berbahaya.
“Kalau ini benar,” kata Bima perlahan, “maka kedua keluarga kita mungkin sama-sama dimanipulasi.”
“Atau…” Alya menelan ludah, “mungkin ada kesepakatan rahasia yang gagal.”
Bima menatapnya.
Kesepakatan yang tidak pernah diketahui publik.
Kesepakatan yang mungkin melibatkan lebih dari sekadar merger bisnis.
Jika kebocoran itu bukan murni sabotase—
Maka bisa jadi itu adalah bagian dari rencana yang berantakan.
Dan seseorang memutuskan untuk membiarkan dua keluarga saling menyalahkan demi menutupinya.
Di sisi lain kota, Arsen berdiri di ruang kantornya yang gelap.
Ia memandang layar laptopnya.
Laporan bahwa Alya dan Bima mengumumkan investigasi internal sudah sampai padanya.
Senyumnya tipis, namun tidak lagi penuh keyakinan.
“Jadi kalian memilih bermain terbuka,” gumamnya pelan.
Ia menekan satu tombol.
Sebuah folder terenkripsi terbuka.
Di dalamnya, lebih banyak dokumen.
Lebih banyak rekaman.
Dan satu video pendek yang belum pernah diputar.
Arsen menatap layar itu lama.
“Kalau kalian menarik terlalu jauh…” bisiknya pelan, “kita semua akan jatuh.”
Untuk pertama kalinya, bayangan keraguan melintas di wajahnya.
Karena permainan ini memang ia mulai.
Tapi mungkin bukan ia yang menciptakannya.
Kembali di mansion, Alya berdiri di depan cermin kamar mereka.
Ia melihat refleksinya sendiri.
Wanita yang dulu masuk ke pernikahan ini sebagai bagian dari kontrak.
Yang kini berdiri di tengah pusaran konspirasi lima belas tahun.
Ia tidak lagi hanya melindungi nama keluarga.
Ia melindungi masa depan yang mereka bangun bersama.
Bima berdiri di belakangnya.
“Kalau semuanya runtuh?” tanyanya pelan.
Alya menatapnya melalui cermin.
“Kalau semuanya runtuh,” jawabnya tegas, “kita bangun dari awal.”
Tidak ada keraguan dalam suaranya.
Karena sekarang ini bukan lagi tentang mempertahankan kekuasaan.
Bukan lagi tentang memenangkan konflik lama.
Ini tentang memilih untuk tidak hidup di atas kebohongan yang diwariskan.
Dan jika kebenaran itu memang harus mengguncang semuanya—
Maka biarlah ia mengguncang.
Lebih baik fondasi retak sekarang, daripada runtuh saat mereka sudah terlalu tinggi untuk bertahan.
Di luar, langit mulai gelap lebih cepat.
Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai,
bukan hanya badai yang mendekat.
Melainkan tabrakan antara masa lalu dan masa depan—
yang kali ini tidak bisa dihindari lagi.