Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deja vu
"Oooo... Bukan ta? Saya kira Pak Slamet yang ini. Abisnya liat Mas dan Mbak saya kira mau itu," kata ibu muda tadi, malu, setelah Andrean menjelaskan Pak Slamet mana yang mereka cari.
"Kami ini bu... Aduh,"
"Bulan madu maksudnya, Bu. Baru aja nikah. Jadi belum pengen cepet-cepet punya anak," kata Alena cepat. Andrean melotot ke arah Alena sambil memegang perutnya yang kena hantam siku Alena.
"Oooo... Gitu... Ya, ya... Ngapunten nggih Pak Slamet, sanes njenengan. Sing dipadosi Pak Slamet ledok mrika," kata ibu muda itu pada Pak Slamet si dukun. Pak Slamet hanya mengangguk lalu kembali masuk ke dalam rumahnya. Alena dan Andrean menghela nafas lega.
"Mari, Mbak, saya anter," kata ibu muda itu.
"Oh, makasih, Bu," kata Alena. Andrean mengekor di belakang Alena.
"Nama saya Siti. Mbaknya nyari Pak Slamet ada perlu apa?" tanya Bu Siti, entah basa-basi, entah benar-benar ingin tahu.
"Itu... Katanya Pak Slamet dulu kerja di pabrik minyak. Katanya ada lowongan gitu," kata Alena asal.
"Mbaknya mau kerja di pabrik? Sayang lho. Cantik-cantik gini, jadi model aja," kata Bu Siti. Andrean terlihat menahan tawa.
"Sial lo," bisik Alena pada Andrean yang berada di belakangnya.
"Ituu buat suami saya, Bu," kata Alena sambil menunjuk Andrean yang berjalan paling belakang.
"Oh. Buat masnya? Masnya juga cakep. Udah kayak CEO yang di drakor itu," kata Bu Siti sambil senyam-senyum. Kini giliran Alena yang menahan tawa.
"Nah. Ini rumahnya," kata Bu Siti sambil menunjuk rumah kecil, sama seperti rumah-rumah yang lain, saling berhimpit dengan kanan kirinya.
"Biar saya aja, Bu. Makasih udah nganter kita," kata Alena saat Bu Siti hendak mengetuk pintu rumah Pak Slamet.
"Ooo gitu... Ya sudah kalo gitu, saya pulang duluan ya," pamit Bu Siti lalu berlalu meninggalkan Andrean dan Alena di depan rumah Pak Slamet.
"Ngapain pake bilang bulan madu?" tanya Andrean datar.
"Kalo lo bilang kita wartawan, udah jelas kita nggak bakal bisa wawancara Pak Slamet dengan tenang. Liat aja tadi, Bu Siti. Dia itu tipe ibu-ibu penyebar gosip. Keliatannya aja ramah. Tapi, begitu dapet info, mulutnya udah kek ember bocor, luber kemana-mana. Yang ada berita kita belum tayang, kasus ini udah viral duluan," kata Alena.
Andrean menatap Alena yang kemudian mengetuk pintu rumah tujuan mereka.
'Nggak salah lagi. Dia emang PR kawakan,'
***
"Jadi, saya bagian yang ngumpulin minyak bekas dari restoran-restoran gitu, Mas, Mbak. Dianter ke pabrik buat diolah dan di campur sama minyak curah," terang Pak Slamet saat dikonfirmasi terkait laporan yang dikirimkan pada redaksi.
"Waktu awal-awal saya kerja itu, saya nggak tau. Saya kira ya pabrik minyak rumahan, minyak curah yang buat usaha kecil kayak usaha gorengan gitu. Pas saya masuk ke area pengemasan, kok dikasih label Kita Sehat. Sejak itu saya nggak tenang gitu. Ya saya itu memang miskin Mbak, Mas. Tapi kalo kerjanya nipu gitu kayak ada yang ganjel di hati," kata Pak Slamet. Alena seketika tertegun mendengar kata "kerjanya nipu" seolah menghantam wajahnya begitu keras. Andrean melirik ke arah Alena yang tiba-tiba berubah raut wajahnya.
"Trus saya inisiatif foto-foto dulu, saya juga ada rekaman video pengolahannya. Setelah saya rasa punya cukup bukti, saya keluar," lanjut Pak Slamet.
"Oh iya, sebentar saya ambilkan rekaman videonya," kata Pak Slamet sambil berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan yang mungkin adalah kamarnya.
"Semua data ini udah cukup. Kita tinggal wawancara penguji lab soal kandungan sampel minyak yang kita kirim kemarin dan cari satu orang lagi buat diwawancara," kata Alena.
"Kita tetep butuh video itu sebagai penguat bukti, Al. Bisa jadi mereka nggak akan buka mulut soal ini," kata Andrean dengan nada berbisik.
"Ini, Mas, Mbak. Silakan kalau mau dicopy," kata Pak Slamet sambil menyodorkan ponselnya. Andrean menerima ponsel itu dan dengan cepat mengirim file video yang dimaksud.
"Terimakasih, Pak. Kami akan pastikan bahwa nama Bapak aman," kata Andrean pasti. Pak Slamet terlihat lega.
"Terimakasih, Mas, Mbak. Saya sudah merasa plong sekarang," kata Pak Slamet.
"Satu lagi, Pak," kata Andrean.
"Ya, Mas?"
"Menurut data yang kami terima, pabrik minyak ini berada di sebuah gudang semi permanen, di pinggir kawasan industri kecil, di dekat ibu kota, apakah benar?" tanya Andrean serius.
"Gudang? Dekat ibu kota? Lha wong itu paling cuma satu jam dari sini kok, Mas. Saya kasih alamatnya," kata Pak Slamet sambil kembali masuk ke dalam ruangan tempat dia mengambil ponsel.
"Nah ini," kata Pak Slamet sambil menyerahkan secarik kertas, semacam selebaran kecil dengan nama sebuah home industri dan alamatnya.
"Pengoplosan minyak dengan kedok industri rumahan," gumam Alena. Andrean mengangguk.
"Sudah berapa lama Bapak keluar dari sana? Baru aja? Atau...?"
"Kira-kira hampir sebulan ini lah, Mbak," kata Pak Slamet.
"Atas saran anak saya yang anak kuliahan, saya disuruh kasih tau ke media. Saya kan kurang paham begituan, jadi semua yang ngirim ya anak saya," lanjut Pak Slamet.
"Kebetulan ini anaknya lagi kuliah," imbuh Pak Slamet.
"Terimakasih, Pak. Kami akan selidiki lebih lanjut lagi," kata Andrean sambil menjabat tangan Pak Slamet.
"Sama-sama, Mas. Semoga lancar," kata Pak Slamet sumringah. Wajahnya lebih cerah dibanding saat Andrean dan Alena datang tadi.
"Kita lanjut ke alamat ini," kata Andrean. Tak ada respons.
"Al?" panggil Andrean. Alena terus berjalan menatap ke depan. Kosong.
"Al," Andrean sedikit menaikkan nada suaranya.
"Eh? Ya? Kenapa?" tanya Alena tersadar dari lamunannya.
"Lo kenapa sih?" tanya Andrean, kesal —dan sedikit khawatir.
"Laper," jawab Alena sambil meringis, menutupi pikirannya yang tiba-tiba kelabu.
"Ya udah. Cari makan dulu. Abis itu lanjut," kata Andrean.
"Ada yang jual gado-gado nggak ya?" kata Alena lebih kepada diri sendiri.
Andrean menatap Alena dengan segudang pertanyaan bersarang di kepalanya. Alena jadi aneh sejak sesi wawancara dengan Pak Slamet. Sepertinya Alena sedang memikirkan sesuatu, atau teringat sesuatu?
'Ngapain gue pikirin?'
***
"Gado-gado satu es teh satu, Buk. Lo pesen apa?" tanya Alena pada Andrean. Keduanya sudah bertengger di sebuah warung pinggir jalan dengan menu utama gado-gado.
"Sayur kuah ada, Buk?" tanya Andrean ragu-ragu.
"Waduh, disini adanya gado-gado, pecel, sama lothek, Mas. Kalo mau sayur kuah di warung sebelah, Mas," kata pemilik warung.
"Yaelah, ribet amat sih idup lo, An? Pake nyari yang kuah, kek bayik aja lo," komplain Alena.
"Lebih ribet idup lo tuh. Kudu banget gado-gado, kek orang ngidam aja," kata Andrean kesal. Rasa khawatirnya mendadak menghilang setelah mendengar protes Alena yang biasanya.
"Mungkin Mbaknya emang lagi ngidam, Mas. Biasa kalo hamil muda suka gitu," kata pemilik warung sambil tersenyum malu-malu.
Andrean dan Alena saling tatap. Keduanya merasakan deja vu yang sama.
'Hah?! Lagi?!'
***
Author's note:
Ngapunten nggih Pak Slamet, sanes njenengan. Sing dipadosi Pak Slamet ledok mrika: Maaf ya Pak Slamet, bukan Anda. Yang dicari Pak Slamet turunan sana
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤