Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: DASAR PEDANG IBLIS
Tiga hari telah berlalu sejak kemunculan Hyeol-geon.
Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Ha-neul sudah berlari di lereng gunung. Setiap malam, setelah Soo-ah tidur, ia duduk bersila di sudut gudang, mengikuti arahan Hyeol-geon untuk merasakan aliran Qi yang tersumbat di meridiannya.
Tubuhnya remuk. Otot-otot yang tiga tahun tidak terpakai menjerit setiap kali digerakkan. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—sesuatu yang sulit dijelaskan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia punya tujuan.
Malam ini, bulan purnama bersinar terang. Cahaya perak menembus celah-celah atap gudang, menciptakan pola-pola cahaya di lantai tanah. Ha-neul duduk bersila, telapak tangan menghadap ke atas, mengikuti instruksi Hyeol-geon.
"Kosongkan pikiran. Rasakan aliran darahmu. Di dalam setiap tetes darah, ada energi. Itulah Qi primitif. Sebelum kau bisa mengendalikan Qi luar, kau harus mengendalikan Qi dalam."
Ha-neul memejamkan mata. Ia mencoba merasakan apa yang digambarkan gurunya. Awalnya, hanya degup jantung dan aliran darah biasa. Tapi perlahan, setelah beberapa saat, ia mulai merasakan sesuatu yang hangat di ulu hati. Samar-samar, seperti percikan api kecil.
"Itu dia. Benih Qi-mu. Kecil, hampir padam, tapi masih ada. Selama tiga tahun segel itu membuatnya terisolasi, tapi tidak bisa mematikannya sepenuhnya."
Ha-neul tersenyum tipis. Masih ada. Ia masih punya harapan.
"Sekarang, coba alirkan ke lengan kananmu."
Ha-neul mencoba. Hangat itu bergerak—sangat lambat, seperti tetesan madu di musim dingin—naik ke dada, ke bahu, lalu berhenti di siku. Seperti terbentur tembok tak terlihat.
"Segel." Hyeol-geon mengkonfirmasi. "Itulah Teknik Naga Tidur. Meridian utamamu diblokir di tiga titik: ulu hati, dada, dan tenggorokan. Setiap kali Qi mencoba melewatinya, segel itu menyerapnya."
"Jadi aku tidak bisa menggunakan Qi sama sekali?"
"Bisa. Tapi tidak melebihi titik-titik itu. Untuk sekarang, kau hanya bisa mengumpulkan Qi di bawah ulu hati. Untuk serangan jarak dekat, itu cukup. Tapi untuk teknik pedang yang memancarkan energi... tidak bisa."
Ha-neul menghela napas. Berarti ia hanya bisa bertarung dengan kekuatan fisik murni.
"Jangan berkecil hati. Banyak ahli pedang hebat yang mengandalkan fisik. Bahkan aku dulu, sebelum mencapai level tertentu, lebih sering menggunakan pedang secara fisik daripada energi. Energi itu alat, bukan tujuan."
"Lalu aku harus mulai dari mana?"
"Dari dasar. Kau tahu jurus dasar Klan Pedang Kang?"
Ha-neul mengangguk. "Tiga belas jurus dasar Pedang Naga Hijau. Aku sudah hafal di luar kepala."
"Bagus. Tapi lupakan semuanya."
"Apa?"
"Kau dengar. Lupakan. Teknik klanmu itu bagus untuk bertarung secara terhormat. Tapi untuk bertahan hidup? Untuk membunuh musuh yang lebih kuat? Tidak cukup." Hyeol-geon melayang keluar dari cincin, duduk bersila di udara di depan Ha-neul. "Aku akan mengajarkanmu jurus pertama dari Iblis Pedang Seratus Bayangan. Namanya... Bayangan Meridian."
Ha-neul menegakkan punggung. Namanya saja sudah terdengar mengerikan.
"Jurus ini adalah dasar dari semua teknik Iblis Pedang. Prinsipnya sederhana: kau tidak menyerang musuh, tapi menyerang titik-titik meridian mereka. Satu tusukan tepat di titik akupuntur tertentu bisa melumpuhkan, bahkan membunuh, tanpa perlu luka besar."
"Kedengarannya... kejam."
"Memang. Tapi efektif. Apalagi untuk orang dengan kekuatan terbatas sepertimu. Kau tidak bisa mengalahkan musuh dengan kekuatan kasar, jadi kau harus cerdik. Serang kelemahan mereka."
Ha-neul diam. Ia memang sudah siap menjadi iblis. Tapi mendengar penjelasan ini, ia jadi sadar—jalan yang akan ia tempuh benar-benar gelap.
"Masih mau?" tanya Hyeol-geon, seolah membaca pikirannya.
Ha-neul mengangguk mantap. "Aku mau."
"Bagus. Sekarang, ambil pedang kayumu."
Ha-neul meraih pedang kayu usang di sampingnya—satu-satunya pedang yang ia miliki. Gagangnya sudah retak, bilahnya penuh penyok. Tapi cukup untuk latihan.
"Berdiri. Kuda-kuda rendah. Pedang di depan dada."
Ha-neul mematuhi.
"Tusuk ke depan. Cepat. Tapi jangan asal. Bayangkan ada titik sebesar biji wijen di depanmu. Tusuk tepat di titik itu."
Ha-neul menusuk. Ujung pedang kayu menembus udara, sedikit goyah.
"Lagi."
Tusuk.
"Lagi."
Tusuk.
"Lagi. Seribu kali lagi."
Satu jam kemudian, lengan Ha-neul sudah gemetar hebat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tapi ia terus menusuk. Tusuk demi tusuk, berusaha menjaga ujung pedang tetap stabil.
Hyeol-geon mengamati dalam diam. Kadang-kadang ia mengangguk pelan. Kadang-kadang mendengus tidak puas.
"Cukup."
Ha-neul berhenti, terengah-engah. Lengannya terasa seperti digergaji.
"Untuk hari ini cukup. Besok kita latihan lagi. Dan lusa. Dan seterusnya, sampai tusukanmu tidak goyah sedikit pun."
"Berapa lama?" tanya Ha-neul.
"Tergantung bakatmu. Murid-muridku dulu butuh tiga bulan untuk lulus tahap ini. Yang berbakat butuh satu bulan. Yang jenius..." Hyeol-geon tersenyum. "Seminggu."
Ha-neul menggenggam pedang kayunya erat-erat. "Aku akan jadi yang jenius."
"Heh. Sombong. Aku suka."
---
Keesokan harinya, saat Ha-neul sedang berlari di lereng gunung, ia berpapasan dengan seseorang yang tidak diinginkannya.
Kang Dae-ho.
Sepupunya itu sedang berjalan dengan dua pengawalnya, mungkin baru pulang dari tugas malam di pos penjagaan. Saat melihat Ha-neul berlari dengan baju basah kuyup, Dae-ho mengerutkan kening.
"Lho, lho, lho? Bukannya ini sampah klan?" Dae-ho menyeringai. "Lari pagi? Sejak kapan? Mau jadi atlet lari, Ha-neul?"
Kedua pengawalnya tertawa.
Ha-neul memperlambat larinya, lalu berhenti. Ia tidak mau mencari masalah, tapi juga tidak mau terlihat takut. Itu hanya akan memberi Dae-ho lebih banyak amunisi.
"Hanya ingin sehat," jawabnya datar.
"Sehat? Untuk apa? Mau umur panjang jadi sampah?" Dae-ho melangkah mendekat. Ia mengamati Ha-neul dari atas ke bawah. "Tapi ada yang berbeda... kau kelihatan... sedikit lebih segar? Atau hanya keringat?"
Ha-neul diam.
Dae-ho memicingkan mata. Ada sesuatu di sorot mata sepupunya ini yang mengganggunya. Biasanya, Ha-neul akan menunduk, menghindari kontak mata. Tapi sekarang... ia menatap balik. Tidak menantang, tapi juga tidak takut.
"Heh." Dae-ho mendengus. "Sudah, pergi sana. Jangan sampai ketemu lagi. Kehadiranmu saja sudah bau."
Ha-neul berbalik dan berlari lagi. Tapi di belakangnya, ia mendengar Dae-ho berkata pada pengawalnya, dengan suara cukup keras untuk didengar.
"Ada yang aneh dengan sampah itu. Awasi dia."
Ha-neul menggertakkan gigi. Ia tidak butuh perhatian Dae-ho. Tapi rupanya, perubahan sekecil apa pun bisa memicu kecurigaan.
"Tenang." suara Hyeol-geon terdengar. "Kau tidak melakukan kesalahan. Justru ini bagus. Kalau kau bersikap terlalu takut, itu lebih mencurigakan."
"Aku tidak suka dia memperhatikanku."
"Memang tidak enak. Tapi suatu hari nanti, kau akan bersyukur dia memperhatikanmu. Karena saat kau sudah kuat, kau ingin dia tahu siapa yang menghancurkannya."
Ha-neul tidak menjawab. Ia terus berlari, lebih cepat dari sebelumnya.
---
Malam harinya, saat latihan tusukan, Ha-neul bertanya pada gurunya.
"Guru, kau bilang segel ini dipasang oleh seseorang. Kau punya tebakan siapa?"
Hyeol-geon diam sejenak. "Aku punya beberapa teori. Tapi belum bisa kupastikan. Yang jelas, level kultivasi orang itu sangat tinggi. Di atas level ayahmu. Mungkin bahkan di atasku saat masih hidup."
"Itu berarti... musuh yang sangat kuat."
"Iya. Tapi kau tidak perlu khawatir sekarang. Fokus pada langkah pertama. Selesaikan satu per satu. Saat kau sudah mencapai puncak, baru kau cari jawabannya."
Ha-neul mengangguk. Ia kembali menusukkan pedang kayunya ke depan.
Satu tusukan. Dua tusukan. Tiga tusukan.
Dan di dalam hatinya, satu nama terukir dalam-dalam: nama orang yang menghancurkan hidupnya.
Suatu hari, ia akan menemukannya.
Suatu hari, ia akan membuatnya membayar.