Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Beracun di Penthouse
Layar hologram di apartemen penthouse Shaneen memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang dingin. Di depannya, peta digital Sektor 4—wilayah pelabuhan tua yang terbengkalai—berkedip merah.
"Don mengira dia cukup cerdas untuk bersembunyi di balik tumpukan kontainer karat itu," gumam Shaneen sambil menghisap cerutu tipisnya. Asapnya menari-nari di depan monitor.
Damian melangkah maju, meletakkan tablet di meja. "Informan kita mengonfirmasi, Nona. Don sudah menyuap dua kepala keamanan di dermaga barat. Dia berencana menukar chip ilegal itu dengan persenjataan berat dari pasar gelap. Dan yang lebih buruk... dia sudah mengantongi jadwal rute perjalanan Michael untuk besok malam."
Shaneen menyeringai, sebuah senyum yang bisa membuat nyali pria manapun menciut. "Dia mencari celah keamanan Michael? Lucu sekali. Dia tidak tahu bahwa celah keamanan terbesar Michael adalah aku, dan aku adalah dinding yang tidak akan bisa dia tembus."
Shaneen mematikan cerutunya. "Siapkan tim bayangan. Kita tidak akan membunuh Don di sana. Belum saatnya. Aku ingin dia merasa berhasil mendapatkan chip itu, tapi buat isinya menjadi sampah digital yang akan melacak setiap langkahnya ke markas pusat mereka."
Operasi Senyap di Pelabuhan. Tengah malam di Dermaga Sektor 4. Bau garam laut dan karat memenuhi udara. Don berdiri di bawah lampu remang-remang, dikelilingi oleh belasan anak buahnya. Sebuah koper perak diletakkan di atas kap mobil.
"Cepat tukar! Sebelum orang-orang Miguel menyadari ada yang hilang dari gudang mereka," perintah Don kasar.
Ia tidak menyadari bahwa di atas tumpukan kontainer setinggi sepuluh meter, sesosok wanita dengan pakaian taktis hitam dan topeng mawar sedang mengintai. Shaneen memegang sniper dengan peredam suara, namun ia tidak membidik kepala Don. Ia membidik kabel listrik utama dermaga.
PFT!
Lampu pelabuhan padam seketika. Kegelapan total menyergap. Shaneen bergerak seperti hantu, turun menggunakan kabel sling dan menukar isi koper itu dalam hitungan detik. Sebelum anak buah Don menyalakan senter, Shaneen sudah menghilang kembali ke kegelapan, meninggalkan Don dengan kemenangan palsu.
Satu jam kemudian, Shaneen baru saja menginjakkan kaki di apartemennya. Napasnya masih sedikit memburu, pakaian taktisnya masih menempel ketat di tubuhnya, dan aroma mesiu tipis bercampur bau laut masih tertinggal.
"Nona, Michael Miguel ada di lobi. Dia baru saja masuk ke lift," lapor Damian cepat.
Shaneen terbelalak. "Sekarang?! Kenapa tidak ada peringatan?!"
"Dia menggunakan protokol darurat SM Corporation untuk membajak sistem lift gedung ini," sahut Damian sambil dengan sigap menyembunyikan peralatan tempur Shaneen.
Shaneen tidak punya waktu. Ia merobek pakaian taktisnya, membiarkannya jatuh ke lantai, dan segera menyambar jubah tidur sutra tipis berwarna pink. Ia menyemprotkan parfum stroberi secara membabi buta ke udara dan menyambar kotak permen mint-nya.
Denting lift terdengar. Shaneen mengacak rambutnya, lalu duduk di sofa dengan pose lemas seolah baru terbangun dari mimpi buruk. Pintu terbuka, dan Michael melangkah masuk. Auranya begitu mengancam, jas hitamnya masih rapi, namun matanya berkilat tajam menyisir seisi ruangan.
"Michael? Kenapa malam-malam begini..." Rengek Shaneen, mencoba mengucek matanya yang sebenarnya sangat waspada.
Michael tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, melewati Damian—yang berdiri tenang sebagai CEO Tizon Tech yang sedang "bertamu"—dan langsung berdiri di depan Shaneen.
Michael membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari leher Shaneen. Ia tidak mencium bau stroberi. Dia mencari apa yang dia temukan di gaun Shaneen sebelumnya: Jejak Nikotin.
"Rambutmu basah oleh keringat, Shaneen. Dan ruangan ini..." Michael mengendus udara, matanya beralih ke asbak kristal yang sudah dibersihkan Damian namun masih menyisakan hawa hangat. "Bau stroberimu tidak bisa menutupi bau asap yang baru saja kau embuskan."
Michael mencengkeram dagu Shaneen, memaksanya mendongak. "Katakan padaku, apakah Damian kesini untuk membicarakan bisnis properti jam satu pagi, atau kau baru saja kembali dari Sektor 4 setelah bermain-main dengan musuh?"
Shaneen jantungnya berdegup kencang. Michael sudah sangat dekat dengan kebenaran. "Sektor 4? Michael, kamu bicara apa? Aku cuma... aku tadi mimpi buruk dan Damian datang membawakanku dokumen yang harus ditandatangani besok pagi!"
Michael tertawa dingin. Tangan satunya meraba saku jubah tidur Shaneen dan menemukan sesuatu yang keras. Sebuah pemantik api perak dengan inisial O.T.
"Gadis manja tidak membawa pemantik api kuno milik ayahnya ke mana-mana kecuali dia membutuhkannya untuk membakar sesuatu," desis Michael. "Siapa kau sebenarnya, Shaneen? Apakah kau gadis yang menangis saat kujentik dahinya, atau kau adalah wanita bertopeng yang baru saja menggagalkan perampokan musuh di dermaga?"
Michael mencengkeram dagu Shaneen lebih erat, matanya mengunci tatapan gadis itu dengan intensitas yang mematikan. Di tangannya, pemantik api perak dengan inisial O.T berkilat dingin di bawah lampu redup apartemen.
"Kenapa diam, Shaneen?" desis Michael, suaranya rendah dan berbahaya. "Biasanya kau punya seribu alasan manja. Tapi sekarang... matamu bicara hal lain. Matamu tidak menunjukkan rasa takut."
Damian melangkah maju satu langkah, auranya berubah waspada. "Tuan Miguel, saya rasa Anda terlalu lelah. Nona Shaneen sedang tidak sehat—"
"Diam, Damian dan keluarlah sekarang juga!" potong Michael tanpa menoleh. "Urusanmu sebagai CEO Tizon sudah selesai. Sekarang ini adalah urusan antara seorang pria dan tunangannya yang punya terlalu banyak rahasia."
Damian mengerti kodean tangan dari Majikannya. Bertanda bahwa ia harus keluar dari ruangan tersebut.
Michael kembali menatap Shaneen, hidungnya kini hanya berjarak satu inci dari bibir Shaneen. "Katakan padaku... kenapa nafasmu berbau strawberry tapi ujung jarimu berbau mesiu?"
Shaneen tahu dia tersudut. Jika dia terus berakting manja, Michael akan menggeledah apartemen ini dan menemukan pakaian taktisnya yang masih basah di balik pintu kamar mandi. Dia harus bertaruh. Dia harus menyerang balik dengan cara yang Michael tidak akan sanggup tolak.
Tiba-tiba, Shaneen tertawa pelan. Bukan tawa manja, tapi tawa rendah yang sangat sensual.
"Kau mau tahu kenapa aku punya pemantik itu, Michael?" Shaneen meraih tangan Michael yang memegang pemantik, menariknya mendekat ke dadanya. "Karena aku merindukan ayahku. Setiap kali aku merasa hancur karena tekanan perjodohan ini, aku membakar satu batang cerutu hanya untuk mencium aroma kehadirannya. Kau puas?"
Sebelum Michael sempat menjawab, Shaneen menarik kerah jas Michael dengan kasar, memaksa pria itu menunduk, dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang liar dan menuntut.
Ini bukan ciuman gadis manja. Ini adalah serangan.
Michael tertegun, namun instingnya merespons seketika. Ia membalas ciuman itu dengan posesif, mencengkeram pinggang Shaneen hingga tubuh mereka tidak menyisakan jarak. Di dalam ciuman itu, Michael merasakannya. Bukan hanya rasa manis dari permen stroberi, tapi ada jejak pahit tembakau pekat yang tertinggal di lidah Shaneen.
Shaneen melepaskan tautan mereka, napasnya memburu, matanya kini berkilat dengan emosi yang campur aduk. "Kau ingin bukti kalau aku bukan gadis manja? Ini buktinya. Aku merokok, Michael. Aku punya sisi gelap yang tidak ingin kutunjukkan padamu karena aku takut kau akan membenciku seperti ayahku membenci kelemahanku."
Shaneen membuang muka, matanya mulai berkaca-kaca—sebuah akting masterpiece yang digabungkan dengan kejujuran sebagian. "Sekarang pergilah. Pergilah kalau kau tidak bisa menerima tunanganmu yang ternyata tidak seputih yang kau bayangkan."
Michael membeku. Jejak pahit di lidahnya adalah bukti nyata bahwa Shaneen merokok, tapi itu justru mengaburkan kecurigaannya tentang "Perempuan Gila". Pikirannya kini terbagi: Apakah dia merokok karena dia seorang pembunuh, atau dia merokok karena depresi akibat tekanan hidupnya?
Michael mengusap bibirnya yang masih terasa panas. Ia menatap Shaneen yang kini tampak rapuh lagi, meringkuk di sofa.
"Aku tidak membencimu karena kau merokok, Shaneen," ucap Michael, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Aku hanya benci saat kau membohongiku."
Michael menaruh pemantik api itu di meja, "Tidurlah. Besok adalah pesta pertunangan kita. Aku ingin kau tampil sempurna, dengan atau tanpa bau stroberimu."
Begitu pintu lift tertutup, Shaneen langsung tegak berdiri. Ia menghapus air mata palsunya dengan kasar.
"Hampir saja," gumam Shaneen sambil meludah ke samping, mencoba membuang rasa pahit cerutu yang sengaja ia sesap sesaat sebelum Michael datang tadi sebagai rencana cadangan.
"Nona, Anda mempertaruhkan segalanya dengan ciuman itu," Damian mendekat, memberikan air mineral.
"Kau melihatnya?"
"Maafkan saya nona,"
"Itu satu-satunya cara untuk memberinya 'jawaban' atas bau rokok itu tanpa harus membongkar identitas nagaku," sahut Shaneen dingin. "Dia sekarang mengira aku adalah pecandu nikotin yang sedang depresi. Biarkan saja. Itu lebih baik daripada dia tahu aku baru saja mematahkan leher anak buah Don."
Shaneen menatap jendela, matanya berkilat jahat. "Besok, di pesta pertunangan... saat Michael mengira dia sudah mengenalku sepenuhnya... saat itulah pertunjukan yang sebenarnya dimulai."